Aile baru pulang ke rumahnya jam setengah sembilan malam. Sengaja agar orang tuanya mengira dia sedari tadi ada di tempat Asra. Pulang cepat hanya akan membuat ibunya bertanya - tanya. Setelah ia pergi dari apartemen Asra, ia menghabiskan waktu di café langganannya dan berusaha menghilangkan jejak - jejak tangis di wajahnya. Aile turun dari taksi setelah membayar tarifnya. Tungkainya melangkah lunglai ke dalam rumah, namun memasang muka baik - baik saja setelah melihat ayah dan ibunya tengah nonton berdua di ruang tengah. “Eh, udah pulang, Sayang?” Kayla yang tak sengaja menoleh ke belakang melihat putrinya yang hanya diam berdiri mengamati mereka. Aile tersenyum tipis dan mendekati keduanya. “Kalau belum pulang, berarti Aile belum di sini, dong, Ma,” ujarnya terkekeh pelan. “Kamu da

