Aile turun dari taksi setelah membayar tarifnya. Ia mendongak, menatap gedung apartemen di mana Asra tinggal. Gadis itu mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Sejujurnya, ia benar-benar gugup dan tak siap untuk melakukan hal ini. Idenya saja baru muncul tadi sore, lalu berkutat di dapur bersama ibunya dengan dua kali percobaan yang gagal. Aile ingin menyerah, namun ibunya tak mengizinkannya untuk memikirkan itu dan terus bersabar mendampingi putrinya itu memasak. Untungnya, di tiga kali percobaan, rasa hasil masakan Aile sudah dirasa lumayan oleh ibunya. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tujuh malam. Semoga Asra belum makan malam. “Oke, ayo masuk!” komado Aile pada dirinya sendiri dan melangkahkan kakinya memasuki pintu gedung

