Trish duduk dengan kaki menyilang di depan meja bar. Matanya yang sayu menatap gelas bir di tangannya lalu menenggaknya hingga habis tak bersisa. Ia mendesah kecewa ketika mengambil botol birnya dan mendapati isinya sudah kosong. Tangannya terangkat, memanggil seorang bartender dari balik meja itu. “Satu botol lagi, Mas!” pintanya dengan suara yang serak. Sembari menunggu, Trish mengedarkan pandangannya ke ruang yang cukup sesak itu karena dipenuhi orang-orang yang tengah melenggak-lenggakkan tubuhnya mengikuti irama lagu. Trish mengangguk-anggukkan dagunya, mengikuti irama music yang berdentum. Semakin larut, lautan manusia di dalam ruang itu semakin liar. Hanya tertinggal Trish yang tetap setia duduk di meja bar, hanya menonton riuhnya dunia malam. Seorang pria muncul dan

