Dua tiga suapan tak terasa sampai makanan di piring Denisa habis tak tersisa. Denisa memang selalu manja saat makan bersama Leon. Ia sering kali minta untuk di suapi Leon kekasihnya. Denisa merasa beruntung memiliki kekasih yang tampan, kaya dan mapan. Terlebih Leon termasuk pria yang sangat sabar dan pengertian menghadapi dirinya.
"Akhirnya habis juga, jangan sampai telat makan Denisaku." Leon mencubit lembut kedua pipi kekasihnya. "Nanti kalau sakit gimana? nggak enak loh sakit. Nanti aku juga yang repot," ucap Leon.
Mengingat Denisa hanya tinggal sendirian di sebuah apartemen. Jikalau Denisa benar sakit. Siapa lagi kalau bukan dia yang akan merawat dan menjaga Denisa.
Leon melihat jam berwarna hitam yang melingkar sempurna di tangannya. Jarum jam menandakan tepat pukul 9. Itu artinya 1 jam lagi rapat akan segera di mulai. Mengingat masih banyak tugas yang belum ia selesaikan. Leon harus menyelesaikan semuanya sebelum rapat. Kalau tidak, pekerjaannya akan bertambah menumpuk.
"Udah kenyang, habis ini kamu mau kemana?" tanya Leon tersenyum. Terlihat ia mengusap mulutnya menggunakan tisu.
Denisa mengedikkan bahunya.
"Nggak tau, enaknya kemana ya?" Jawabnya bingung. "hmm.. kalau aku nemenin kamu dikantor aja gimana sayang?" Denisa tersenyum penuh arti.
Leon terdiam. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu lalu mengangguk setuju.
"Boleh saja, tapi nanti aku ada rapat. Apa kamu mau menungguku sendirian di ruang CEO, sampai rapat selesai?"
Denisa tampak mencibir.
"Menunggu! aku paling nggak suka kalau di suruh nunggu. Tapi aku juga bingung mau ngapain. Kalau kembali ke apartemen palingan juga rebahan aja. Kan nggak asik! palingan rapat nggak sampe 2 jam kelar." Batin Denisa menerka.
"Ya udah, aku ngikut aja! daripada di apartemen sendirian. Bosen!" jawab Denisa meng-iyakan.
***
Mario masih menunggu kedatangan Leon. Terlihat semua dokumen yang sedari tadi menumpuk di atas meja tepat dihadapannya. Nampaknya telah selesai di baca olehnya. Mario mendengar suara seorang wanita yang tengah tertawa lirih dari arah pintu.
"Dari mana saja kalian? apa kalian lupa ini jam kerja." Ucap Mario tegas.
Ia tahu betul siapa yang baru memasuki ruangan. Meskipun ia belum juga melepas pandangannya dari berkas yang sedang ia baca.
Denisa tampak mencibir dan membuang muka malas. Ia tau betul, Mario tak suka bila Denisa sering datang ke kantor. Apa lagi pada saat jam kerja. Ia memaksa Leon keluar. Menurut Mario, tentunya itu akan sangat mengganggu pekerjaan Leon.
"Kak Mario sudah lama menunggu? oh ya, sorry aku nggak sempat menghubungi kakak. Aku tadi keluar sarapan sebentar."
Leon melangkah mendahului Denisa yang berhenti setelah mengetahui keberadaan Mario. Leon menghampiri meja kerjanya. Menarik kursi, lalu mendudukkan diri.
"Pekerjaanmu masih banyak. Lagi pula sejak kapan kau sarapan hingga dua kali. Bukannya sebelum berangkat kita sudah sarapan," ucap Mario ketus.
Mendengar ucapan Mario, Denisa merasa kesal. Ingin rasanya ia meremas rambut tuan berwatak kaku itu. Tangannya menggepal menahan emosi. Leon kan seorang CEO. Menurut Denisa, Leon bebas mau keluar kapan saja.
Leon melihat kekasihnya yang tampak kesal. Lalu kemudian mengalihkan pandangan ke arah Mario yang berada tepat, duduk di hadapannya.
"Bagaimana menurut kak Mario? sapertinya semua dokumen sudah kau baca." Leon mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mario mengangguk beberapa kali.
"Its okey, selanjutnya kita bahas dalam rapat nanti."
Denisa duduk di sofa dalam ruangan itu. Ia memperhatikan Leon dan Mario, tengah sibuk membicarakan pekerjaan mereka. Meskipun Denisa tidak tau menau. Hal apa yang mereka bicarakan. Denisa begitu antusias mendengarkannya.
"Permisi mister, rapat akan segera di mulai." Misshel mengingatkan.
Leon hanya mengangguk. Mengisyaratkan jika ia sudah mengerti.
Lalu kemudian Misshel melangkah menuju pintu.
Baru saja ia melangkah kan dua langkah kaki. Langkahnya terhenti karena Denisa.
"Tunggu! bawakan aku secangkir kopi hitam dan beberapa buah. Hmm.. Oh iya tolong belikan aku cemilan yang berbumbu pedas juga. Menunggu hal yang akan membosankan," perintah Denisa kepada Misshel.
Permintaannya seperti orang yang sedang ngidam saja!
"Baiklah! aku akan buatkan anda secangkir kopi hitam. Tapi maaf, untuk buah dan camilan saya tidak bisa belikan sekarang. Mungkin anda bisa pesan sendiri melalui gofood," jawab Misshel menyarankan.
"Kenapa kau balik menyuruhku, apa kau tidak becus bekerja disini!" Denisa menatap Misshel sinis.
Misshel sangat geram mendengar kata-kata Denisa. Punya masalah apa Denisa dengannya. Apa karena kejadian tadi pagi? Misshel kan tidak sengaja. Mentang-mentang Denisa kekasih CEO perusahaan ini. Lantas Denisa berkata seperti itu kepadanya!
"Maaf, tak sepantasnya anda berkata seperti itu. Perihal becus tidaknya saya bekerja disini. Biar Mr. Leon yang menilai. Saya akan bawakan kopi hitam untuk anda. Untuk yang lain, silahkan anda memikirkannya sendiri. Mengingat saya harus mengikuti rapat beberapa menit lagi." Tegas Misshel dengan senyuman yang sulit di artikan.
Leon dan Mario memperhatikan sikap Denisa yang kurang pantas kepada Misshel. Mengingat keberadaan Denisa saat ini adalah seorang tamu. Tak sepantasnya ia semena-mena terhadap karyawan.
"Misshel, kau tidak perlu repot-repot membuatkan kopi untuk Denisa. Kau siapkan saja berkas untuk rapat sebentar lagi. Aku akan menyuruh salah satu OB untuk menuruti kemauannya," ucap Leon.
Mendengar itu, Denisa melotot marah kearah Leon. Niatnya mempermainkan sekertaris kekasihnya kini gagal. Ia menghela nafas dalam. Dadaanya kembang kempis menahan emosi.
"Baik mister." Kini Misshel tersenyum puas melihat Denisa yang tampak kesal. "Permisi Nona." Kemudian Misshel melangkah keluar ruangan.
Denisa membuang muka malas. Tak mengindahkan sapaan Misshel sedikit pun.
Mario melihat jam berwarna hitam yang melekat sempurna di tangannya.
"Baiklah, sudah waktunya rapat." Mario mengingatkan, Ia segera berdiri dari tempat duduknya .
"Kak Mario duluan, aku akan segera menyusul"
Mario mengangguk mengerti. Lalu kemudian ia melangkah keluar ruangan. Tanpa menghiraukan Denisa yang duduk di sofa yang ia lewati.
"Sayang! kenapa kamu terus saja membela sekertarismu itu. Sebenernya pacar kamu aku apa dia!" Denisa bersungut-sungut kesal. Nampaknya rasa cemburu tengah menggerogoti hatinya.
"Ayolah Denisa, ku harap kau mengerti. Rapat sudah akan segera di mulai. Kita bicarakan ini nanti. Sebentar lagi Office boy segera kesini. Kamu tinggal minta saja apa yang kamu butuhkan. Aku tinggal dulu ya," Leon mengecup lembut kening Denisa.
"Baiklah! jangan buatku menunggu terlalu lama. Itu sangat membosankan!" ucap Denisa dengan wajah memelas.
Leon tersenyum. Tangannya mengusap lembut rambut lurus berwarna hitam legam milik kekasihnya. Sebelum ia benar-benar meninggalkan Denisa sendirian di ruanggannya.
Waktu terkadang terlalu lambat bagi mereka yang menunggu. Dan yang pasti akan sangat lah bosan. Bisa jadi kegelisahan akan datang menerpa.
***
to be continued