Hidup memang akan selalu sulit dan penuh dengan rintangan. Namun, saat Denisa merasa sendiri. Maka ada beberapa orang yang akan selalu berada di sampingnya.
Siang merupakan waktu di tengah hari. Tepatnya! siang hari merupakan waktu dimana tubuh seseorang sudah menghabiskan setengah dari tenaga mereka dalam melakukan aktifitas di dalam kantor.
Setelah rapat selesai. Misshel segera menghampiri Timonty rekan kerjanya, dan juga merupakan sahabat baiknya. Mereka memang sering makan siang di luar kantor. Di sebuah cafetaria yang tidak jauh dari MORINE CORPORATION tempat mereka bekerja.
Melihat sahabatnya terlihat kebingungan mencarinya di tengah padatnya pengunjung cafetaria, siang itu. Timonty malambaikan tangannya kearah Misshel. Dengan cepat penglihatan Misshel menangkap isyarat yang Timonty berikan.
Misshel segera menghampiri sahabatnya. Kemudian menarik kursi, lalu mendudukkan diri tepat berhadapan dengan Timonty. Tangannya meraih gelas yang berisi choco hazelnut dingin, yang sebelumnya sudah Timonty pesankan untuknya. Kemudian menyesapnya perlahan. Hingga tenggorokannya yang tadinya kering, kini basah kembali.
Timonty sudah hafal minuman dan makanan kesukaan Misshel.
"Seger bener, nikmat mana lagi yang kau dustakan." Timonty tertawa, melihat Misshel begitu menikmati choco hazelnut dingin dengan banyak boba di dalamnya.
"Thanks ya, Tim!" Misshel tersenyum.
Timonty mengangguk.
"Eh, waktu kamu masih rapat tadi. Ada kejadian yang menarik perhatian para karyawan loh!"
"Apaan?" tanya Misshel penasaran.
"Itu, pacarnya Mr. Leon, siapa namanya... duh! aku lupa. Marah-marah sama salah satu office boy. Kasihan banget, si OB sampai keliatan ketakutan gitu," jelas Timonty yang masih mengunyah makanannya.
Misshel menghela nafas kasar. Ia merasa sangat geram dengan sikap Denisa. Selain bersikap yang kurang pantas kepadanya. Ternyata sikap semena-mena Denisa, berlaku kepada orang lain juga.
"Denisa Tan maksut kamu, Tim," jawab Misshel dengan tepat.
"Aku lupa, pokoknya kekasihnya CEO kita. Katanya dia pablik figur. Tapi kok kelakuannya amit-amit!" sahut Timonty bergidik.
"Apa karena dia artis sekaligus pacar seorang, CEO? jadi dia bersikap seenak jidatnya. Jujur, aku kasian banget ngeliat ekspresi takut campur malu OB tadi, Shel. Berasa pengen kutampol p****t si Denisa." Emosi Timonty menggebu.
"Memangnya kesalahan OB itu, apa?" tanya Misshel. Ia tampak antusias mendengar cerita Timonty.
"Aku denger-denger, OB tadi salah membawakan pesanan Denisa. OB itu sempat meminta maaf juga, tapi Denisa malah tambah marah. Macam orang kesurupan! hii, kayak mak lampir," jelas Timonty.
Misshel mengangguk.
"Aku juga geram dengan sikap Denisa. Kalau dia bukan pacar Mr. Leon, udah aku jambak sampai rontok tuh rambut."
"Hah! kamu punya masalah juga sama dia?"
Timonty terkejut mendengar perkataan sahabatnya. Mengingat Misshel, sahabatnya tidak pernah benci bahkan sampai menyimpan dendam kepada orang lain.
Misshel menceritakan semua kejadian yang ia alami, sebelum rapat tadi. Timonty yang tak tau menau ikut kesal dengan sikap Denisa terhadap Misshel.
"Kok bisa sih! Mr. Leon punya pacar kayak gitu," celetuk Timonty.
"Sudahlah, makan saja dulu. Perutku sudah minta jatahnya nih," protes Misshel, menyudahi pembicaraan.
Perutnya sudah mulai keroncongan. Lalu dengan santai ia menikmati makan siangnya.
***
"Sayang, udah selesai rapatnya?" tanya Denisa begitu Leon melangkah masuk ke dalam ruangan CEO. Di ikuti Mario yang berjalan membelakangi Leon.
"Kau masih disini Denisa? aku kira kau sudah pulang," tanya Mario dengan wajah dinginnya.
"Iy-iya kak," Denisa terlihat bingung menjawab pertanyaan Mario.
Mario melangkah menuju meja kerja Leon. Lalu kemudian mengambil benda pipih miliknya yang ketinggalan di atas meja. Sejurus kemudian ia berbalik berhadapan dengan Leon.
"Selamat atas keberhasilanmu meyakinkan klien. Kau memang berbakat dalam segala hal." Mario tersenyum menepuk pundak Leon.
Leon melemparkan senyuman sebelum akhirnya menjawab, "Terima kasih kak, semua ini tak lepas dari dukungan serta kerja keras kak Mario. Hingga kita berhasil sampai pada puncak keberhasilan," lanjut Leon berbalik memuji Mario.
Mario menggangguk. Sebelum akhirnya ia melangkah keluar meninggalkan Leon bersama Denisa.
Melihat Mario menghilang di balik pintu. Denisa berdiri menghampiri Leon yang masih berdiri menatap kearah Mario pergi.
"Sayang, aku rindu sekali saat-saat berdua seperti ini." Denisa memeluk mesra d**a bidang Leon Abrizam Morine, Ia bergelayut manja.
Leon melingkarkan tangannya di Pinggul Denisa kemudian tersenyum manis.
"Maaf akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Tapi setelah ini, aku akan berusaha meluangkan waktu untukmu. Walau mungkin hanya untuk sekedar makan bersama."
Denisa berdecak.
"Ck, sesibuk itukah kamu sakarang. Jika aku bisa memilih. Aku ingin menjadi sekertarismu saat ini. Setiap waktu, satiap hari bisa bersama. Tanpa terhalang banyaknya jadwal dalam dunia keartisan." Denisa bersungut kesal.
Leon menatap mesra kedua manik mata kekasihnya. Dengan Ketampanannya, siapa pun pasti akan jatuh hati kepada seorang Leon Abrizam Morine. Apalagi Leon merupakan keturunan dari keluarga terpandang.
"Ngomong-ngomong, sekertarismu itu lumayan cantik. Aku jadi nggak tenang melihat kamu kerja bareng dia." Denisa menampakkan kecemburuan yang sedang menggerogoti batinnya.
Leon tertawa mendengar ucapan Denisa. Sejurus kemudian, tangannya memencet lembut hidung mancung kekasihnya.
"Tenang saja, kekasihmu ini bukanlah lelaki hidung belang. Aku pasti setia, menjaga hubungan kita," ucap Leon percaya diri.
Leon memang tipikal pria yang setia pada satu wanita. Akan tetapi, jika wanita itu mengecewakan dia sedikit saja. Tidak ada kata maaf untuk selamanya.
"Apa kau yakin, tidak akan tergoda wanita manapun. Sekalipun cantiknya melebihi bidadari yang turun dari langit?" Denisa menatap tajam kedua manik mata Leon.
"Tentu saja, akan tetapi aku tidak yakin. Jika bidadari itu tidak jatuh cinta kepadaku." Canda Leon percaya diri, senyumnya tampak mengembang.
"Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mendekatimu. Kau hanya milikku! milik Denisa Tan," ucap Denisa dengan senyum licik menghiasi wajahnya seakan ia yang berkuasa atas kekasihnya.
"Apa kau meragukan kesetiaanku? Sebagai seorang artis, bukankah banyak pria tampan di sekitarmu. Bisa jadi, kamu yang jatuh cinta kepada pria lain sesama artis," tanya Leon dengan serius.
Tidak jarang Denisa beradu akting dengan lawan jenis yang tak kalah tampan dan menarik, dari Leon. Denisa tertawa mendengar itu.
"Jadi seorang Abrizam Morine cemburu dengan beberapa lawan mainku. Ayolah sayang, itu hanya rekan kerja. Percayalah! kekasihku hanya kamu, Leon Abrizam Morine." Denisa meyakinkan kekasihnya, "oh iya, kapan kamu akan memperkenalkanku kepada keluargamu?" sambung Denisa.
Dengan perlahan Leon melepaskan tangannya, yang sebelumnya membalas pelukan Denisa.
"Aku hanya menunggu saat yang tepat. Pasti nanti, aku akan memperkenalkanmu kepada keluargaku," jawab Leon tampak tenang.
Meskipun dia tidak begitu yakin, neneknya akan merestui hubungannya dengan Denisa Tan.
Hellen Morine lebih menyukai gadis yang gaya hidupnya sederhana. Bukan dari kalangan konglomerat atau pun artis. Mengingat begitu banyak wanita jaman sekarang. Hanya mengincar kekayaan keluarga Morine saja.
to be continued...