Artis Banyak Gaya

1012 Kata
Sungguh! Leon tak bisa memastikan bahwasannya Denisa Tan akan di terima oleh nenek-nya nanti. Terlebih dia seorang artis yang tengah naik daun, pastinya pun sang nenek tidak asing ketika melihatnya nanti. "Apa harus? Aku menyuruh Denisa untuk menyamar tatkala bertemu, Oma. Sial! Ide bodoh macam apa, ini!" gumamnya sambil mendengus kasar. Alih-alih menyelesaikan dokumen yang sempat terhenti sebab memikirkan Denisa yang terus mengusik jalan pikirannya kini. Hasilnya pun nihil bertambah kepalanya terasa pening. Leon meletakkan bolpoin yang sedari tadi hanya ia mainkan lalu meraih ganggang telpon untuk menghubungi Misshel, sekertarisnya. "Iya, Mr.Leon. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Misshel di balik sambungan telpon. "Masuklah, ke ruanganku." "Baik, Mr." Leon menutup sambungan telponnya. Tidak butuh waktu lama untuk Misshel sampai di ruangan CEO mengingat ruang kerjanya hanya berbatas dinding tembok pemisah, tepat sebelah ruangan Leon. "Masuk." Leon mempersilahkan Misshel masuk setelah mendengar pintu di ketuk. "Ada yang bisa saya bantu, Mr," tanya Misshel dengan penuh kesopanan. "Atur kembali pertemuanku dengan klien Greenwich Hotel. Aku akan keluar untuk 1 jam kedepan. Dan satu lagi, kerjakan dokumen ini dan berikan kepadaku, setelah aku kembali," titah Leon sembari menyodorkan dokumen kepada Misshel kemudian berlalu pergi setelah Misshel menerimanya. Misshel mengembus nafas perlahan lalu kemudian kembali di ruangannya sendiri. Membuka dokumen yang ia bawa tadi lalu membacanya sepintas. "Dokumen ini, kan, seharusnya Mr.Leon sendiri yang menyelesaikan? Kenapa harus aku, sih! Mana yang satunya belum kelar," keluhnya namun tetap juga harus ia kerjakan. Belum lagi Misshel harus menggeser jadwal Leon yang jauh-jauh hari sudah ia tata serapi mungkin. Hal yang sangat jarang Leon lakukan dengan merubah tatanannya untuk 1 jam ke depan. "Memangnya. Dia mau kemana?" gerutunya yang mulai penasaran. Leon masuk kedalam lift untuk turun menuju lantai dasar. Berjalan terburu-buru menuju mobilnya yang ia parkirkan. Tidak masalah untuk dirinya tidak menggunakan sopir pribadi. Berbeda jauh dengan kakak sepupunya, Mario Arsalan yang selalu di antar sopir pribadi kemana pun dia pergi. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mansion keluarga Morine. Dengan segera berjalan menuju taman dengan menuruni undakan kecil lalu berhenti. Tepat sekali tebakannya, Hellen Morine sang nenek tengah duduk santai sembari membaca majalah terbitan hari ini. "Oma," panggilnya seraya mencium punggung tangan neneknya yang tampak mulai keriput. "Leon. Bukankah seharusnya, kamu ada di kantor?" Hellen Morine terlihat heran menatap cucunya yang tiba-tiba saja datang menghampiri dirinya. "Hmm, entah kenapa aku sangat merindukan, Oma." Leon tersenyum penuh arti mencoba menetralisir rasa gugupnya dengan sekedar bercanda. Hellen Morine menggeleng seakan sudah hafal dengan tingkah cucunya yang satu ini. Ia pun tersenyum serta menghela nafasnya. "Katakan saja. Apa tujuanmu menemui Oma, pada saat jam kerja seperti ini? Apa ada masalah, di kantor?" ucap Hellen Morine sambil mengerutkan dahinya yang berbaur dengan garis halus alaminya. Meskipun usianya sudah semakin senja, kharismatik seorang Hellen Morine tidak pernah luntur. Perasaan gugup kini tengah menggerogoti keberanian Leon. Ia masih juga ragu untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Denisa Tan, kekasihnya. Leon menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya lagi secara perlahan. Terlihat sang nenek yang duduk di hadapannya kini menatapnya semakin heran. "Apa tujuanmu menemui ku, hanya untuk berdiri mematung di hadapan ku?" celetuk Hellen Morine yang terlihat tidak sabar dengan Leon yang tak kunjung menjawab. "Oma, apakah Oma senang, jika aku mempunyai kekasih?" ucap Leon akhirnya dengan berhati-hati. Hellen Morine tertawa seketika melepas kacamata yang tengah ia kenakan. Yang menurutnya pertanyaan Leon tidak seharusnya di pertanyakan kepada dirinya. "Leon, Leon, Nenek mana yang tidak akan senang jika cucunya memiliki seorang kekasih. Apa kau sedang membuat lelucon untuk, Oma?" Hellen Morine mengusap air mata di sudut matanya akibat tertawa. Lalu kemudian mengenakan kacamatanya kembali seperti semula. Leon tersenyum lalu ikut mendudukkan diri di samping sang nenek. Dengan sedikit melirik bacaan apa yang tengah berada di pangkuan sang Nenek. "Asal kekasihmu bukan dari kalangan konglomerat yang berfoya dengan harta kekayaan orang tuanya. Ataupun dari kalangan artis ternama yang selalu menuntut hidup glamour dengan terlalu banyak gaya. Seperti cover majalah yang Oma baca ini!" Hellen Morine melempar majalah yang sempat ia baca ke atas meja. Hingga membuat Leon tercekat ketika melihat sampul majalah itu merupakan Model serta aktris cantik yaitu Denisa Tan, kekasihnya. Sial! "Tapi, Oma, apa alasannya Oma melarang Leon untuk berhubungan dengan seorang artis. Dan tidak semua artis," Belum selesai Leon bicara Hellen Morine memotongnya. "Turuti saja apa kata, Oma. Semua juga demi kebaikanmu." Hellen Morine beranjak dari tempat duduknya meninggalkan cucunya begitu saja. Ia tetap bersikeras dengan keputusannya itu. "Bagaimana pun juga, aku mencintai Denisa. Aku yakin, dia tidak seperti yang Oma pikirkan," gumamnya seraya menatap lekat sampul majalah kekasihnya di atas meja. *** Waktu pertemuan klien sudah di geser sesuai kemauan Leon. Dan kini klien dari Greenwich Hotel sedang dalam perjalanan menuju Morine Corporation, dimana rapat akan segera di selenggarakan. Sementara Leon belum juga terlihat batang hidungnya hingga membuat Mario Arsalan tersulut emosinya, yang memang tempramen. "Bagaimana bisa Leon seceroboh ini!" teriak Mario sambil menghentakkan tangan ke atas meja. Bersamaan itu Misshel memejamkan kedua matanya kaget. Ia pun tak menyangka jika Leon akan seterlambat ini kembali ke kantor. Hingga akhirnya ia lah yang menjadi sasaran ke marahan Mario Arsalan di dalam ruangan CEO. "Dan kau. Kenapa hanya diam saja! Cepat telpon Leon! Suruh dia kembali dengan cepat." Wajah Mario tampak merah padam tangannya mengepal dengan sangat kuat. Ia tidak mau menghandle pekerjaan Leon saat ini. Misshel segera meraih gagang telepon kemudian menekan beberapa nomor pribadi Leon dengan cepat. "Tidak perlu. Aku sudah ada di sini," ucap Leon dengan tersenyum seakan tak punya dosa. Misshel menghela nafas lega akhirnya Leon datang tepat pada waktunya. Sementara Mario mendengus kesal seakan ingin memporak porandakan apa saja yang saat ini berada di depan matanya. "Dari mana saja kau! Selalu saja keluar kantor pada jam kerja. Apa seperti ini cara kerja CEO pilihan, Oma!" sindir Mario yang memang tidak setuju dengan keputusan Hellen Morine menjadikan CEO di Morine Corporation. "Maaf, kak. Aku tadi pulang sebentar menemui, Oma." Masih dengan sikap tenangnya Leon melihat Misshel yang saat ini menunduk. Ia tahu bahwasannya Misshel takut dengan sikap kakaknya, Mario Arsalan. Dengan tergesa mereka berjalan menuju lobi guna menyambut kliennya lalu kemudian masuk kedalam ruang rapat yang di selenggarakan di ruang tertutup. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN