Backstreet

1035 Kata
"Apa yang kau lakukan dalam rapat tadi! Apa kau tak berpikir idemu itu akan berakibat buruk untuk Morine Corporation. Apa kau memang menginginkan perusahaan ini jatuh bangkrut?" emosi Mario semakin tersulut tatkala selesai rapat. Sedangkan Leon, masih terdiam di kursi kebesarannya dengan pikiran yang tidak sejalur dengan apa yang di katakan Mario Arsalan. Pikiran Leon terganggu dengan apa yang di ucapkan sang nenek. Bahwasannya Hellen Morine tidak akan setuju jika Leon berhubungan dengan seorang artis. Seketika pun Leon tidak bisa konsentrasi saat berhadapan dengan klien-nya saat rapat yang sangat menguntungkan perusahaan Morine Corporation untuk kedepannya. Memaksa Mario Arsalan untuk mengambil alih tugasnya, sementara Leon lebih banyak merenung hingga membuat Mario jengkel. Bahkan lebih dari kata jengkel. "Maafkan aku, Kak. Entah kenapa kepalaku tiba-tiba saja terasa pusing." Alasan Leon menutupi yang sebenarnya. Dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan hubungannya dengan sang kekasih. Leon sangat mencintai Denisa tidak mungkin untuknya meninggalkan ataupun memutuskan hubungannya begitu saja. Mario pun mengetahui tentang hal itu namun, ia tak mau tau. "Apa kau lupa? Perusahaan kita nyaris bangkrut dengan caramu yang seperti itu. Dan selalu saja, Oma menyalahkan aku atas semua kesalahanmu. Disini kamu CEO-nya, bukan aku! Dan mana tanggung jawabmu mengembalikan kejayaan Morine Corporation." Bahkan Leon hanya diam dan tidak lagi menjawab. Pikirannya terpaku pada Denisa Tan, sang kekasih hati yang cintanya miris serta terancam tidak di restui oleh Hellen Morine. Nenek Leon sendiri. Apa salahnya jika menjalin hubungan dengan seorang artis? Leon pun tidak habis pikir. Apa yang membuat sang nenek menggaris bawahi, tidak akan menerima alasan apa pun dari cucunya. Akan tetapi, Leon tidak akan pasrah dengan apa yang neneknya katakan. Ia yakin pasti akan ada jalan keluar untuknya bisa bersatu dengan Denisa Tan, sang kekasih hati. *** Dengan langkah terburu-buru. Gadis berperawakan tinggi dengan tubuh ideal, menggunakan dress berwarna putih yang terbalut jaket berwarna hitam. Stelito berhak kaca setinggi 7 centimeter menghiasi kakinya yang jenjang, memakai kacamata hitam serta mengggunakan masker penutup wajah. Terlihat ia menghampiri dimana Leon duduk sendirian di sebuah cafe yang memang tengah ramai pengunjung. Ia mencium pipi kanan serta pipi kiri Leon, yang juga meresponnya dengan baik serta tulus. Bahkan keduanya terlihat sangat mesra sekali. Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Denisa Tan. Denisa Tan datang sesuai keinginan Leon dengan menutup wajahnya agar tidak ada media yang meliput hubungan mereka berdua. Pastinya juga agar sang nenek tidak akan tau terlebih dulu siapa kekasihnya yang sebenarnya. "Sayang, mau sampai kapan kita akan seperti ini? Kenapa tidak jujur saja dengan hubungan kita? Apa kamu nggak capek sembunyi terus seperti ini? Mau sampai kapan kau akan menyembunyikan aku dari nenek kamu? sementara kak Mario... juga sudah tau, siapa aku.'' Denisa memberondong Leon dengan pertanyaan. Pastinya ia pun merasa lelah, terus bersembunyi dari pantauan Hellen Morine yang bisa saja memata matai Leon tanpa lelah demi masa depan cucu kekayangannya. Demi kebaikan keluarga Morine. Leon tersenyum. Tangannya turulur menggenggam kedua tangan kekasihnya dengan tatapan lembut. Ia pun tau pasti, akan ada saatnya titik jenuh dalam hubungan mereka yang tidak mau di publikasikan. Mengingat kekasihnya memanglah seorang artis yang tengah naik daun. Siapa pun pasti akan mengenali Denisa. Namun, seluruh karyawan kantor juga sudah tau dengan hubungan mereka yang memang, Denisa tidak pernah menyamar jika datang ke Morine Corporation. Mereka tidak perlu khawatir rahasianya akan bocor. Sebab Leon yakin seluruh karyawannya bisa di percaya. ''Sabar, ini semua juga demi kebaikan kita. Demi hubungan kita agar tetap bisa bersama. Percayalah, aku pasti akan bisa meyakinkan oma.'' Denisa Tan mengerucutkan bibirnya lucu. Rasanya ia ingin mengakhiri semua ini. Tak tahan jika harus bersembunyi terus menerus, dia bukan maling. Kenapa harus menemui pacar sendiri seperti ini? bukan keinginannya dan ia hanya terpaksa. Bukan juga keinginan Leon tetapi hanya demi hubungannya agar selalu terjalin dengan komunikasi baik tanpa tereskpos media. Mereka pun ingin bebas bertemu setiap saat tanpa menutup-nutupi. Entah sampai kapan? Rasanya Denisa pun ingin menyerah. ''Bahkan. Untuk berjabat tangan dengan Oma Hellen, sekali saja. Belum pernah,'' sindir Denisa. Bersikeras menyudutkan Leon agar secepatnya mengenalkan dirinya kepada nenek Leon. Bahkan tidak pernah bosan Denisa mengingatkan. Betapa ia ingin di akui sebagai kekasih CEO Morine Corporation. ''Cepat atau lambat pasti Oma akan bisa menerima hubungan kita. Aku yakin, jika Oma sudah bertemu dengan mu secara langsung. Ia merubah semua pemikirannya yang buruk.'' ''Tidak mungkin,'' potong Denisa tidak percaya. ''Kenapa tidak?'' ''Dengan cara backstreet seperti ini?'' Denisa menggeleng kepala. ''Tidak selamanya, aku akan cari waktu yang tepat untuk mempertemukan kamu, dengan Oma." Tangan kanan Leon terulur menggenggam lembut kedua tangan kekasihnya. "Percayalah." Leon berusaha meyakinkan Denisa. Ia berharap Denisa juga akan memperjuangkan hubungan mereka. Aku percaya, tetapi aku tidak yakin nenekmu akan menerimaku. Denisa tersenyum walau terasa berat. Cinta Leon yang begitu tulus untuknya membuat dirinya bertahan disini. Leon selalu mendukung apa pun yang dilakukannya. Sebuah apartemen mewah juga di berikan untuknya tepat di hari ulang tahunnya kemarin. Bahkan apartemen itu atas nama Denisa Tan. Ia sangat merasa beruntung menjalin hubungan dengan Leon. Bagaimana tidak? Leon pewaris tunggal Morine Corporation, walaupun sering kali Mario Arsalan kakak sepupunya pun turut membantu. Yang menurut Denisa, Mario Arsalan itu ganteng tapi sayang galaknya minta ampun. Tiba-tiba bulu kuduk Denisa meremang mengingat Mario Arsalan yang selalu memperlihatkan ketidak sukaannya, kerap kali setiap bertemu Leon. Bahkan Mario menganggap Denisa sebagai benalu saja. Sial! Denisa mendengus kesal, emosinya bersungut mengingat akan hal itu. Leon mengernyitkan dahinya heran, "Ada apa? Apa kamu tidak percaya jika aku bisa meyakinkan, Oma?" "Ah, bukan begitu." Denisa Tan tidak menutupi rasa terkejutnya. Sial! Ia begitu terpaku memikirkan sikap Mario Arsalan hingga ia lupa dengan kekasihnya yang sedari tadi memperhatikan dirinya. "Sayang, percayalah.  Hubungan kita akan baik-baik saja, okey!" Denisa tersenyum serta mengangguk. Bagaimana pun juga ia mencintai Leon Abrizam Morine. Selama berhubungan dengannya, ia tidak merasa kekurangan suatu apa pun. Meski terkadang jadwal yang sangat padat membuat mereka sulit untuk sekedar bertemu. Rasa kurang diperhatikan oleh pacar sendiri kerap kali muncul di benak Denisa, membuatnya merasa bosan dengan hubungan ini. "Ya sudah. Mari kita makan. Sini, aku suapin? Ak...!" Seperti biasa Leon tak jemu untuk memanjakan kekasih hatinya. Denisa tersenyum manja senang bukan main. Bagaimana tidak. Denisa memang selalu saja manja setiap saat bersama Leon. Leon super perhatian setiap saat bertemu hingga membuat kebosanan yang sempat menggerogoti batin Denisa lenyap begitu saja. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN