Misshel Candra

1402 Kata
Di lain tempat. Tepatnya di rumah sederhana Misshel Candra. Gadis cantik yang merupakan sahabat Leon serta sekertaris Leon yang juga dekat dengan keluarga Morine. Misshel terpaku menatap Hellen Morine yang datang secara tiba-tiba untuk menemui dirinya. Rasanya Misshel tak percaya, sebab memang sudah lama Hellen Morine tak mengunjungi dirinya dan begitu sebaliknya. Ada apa gerangan yang membuat Oma Leon datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu? Apa Misshel melakukan kesalahan? Atau terjadi sesuatu dengan Leon? Yang pasti Hellen Morine terlihat tenang menandakan semuanya tentu baik-baik saja. "Oma." Bahkan Misshel sempat tercekat saat membuka pintu tadi. "Silahkan masuk, Oma. Maaf, rumahnya kotor dan berantakan." Misshel dengan cepat membersihkan sofa yang memang sudah bersih menggunakan tangannya, mengibaskan tangannya be erapa kali. Sebelum Hellen Morine mendudukkan diri. Bagaimana pun juga Hellen Morine orang terpandang, Misshel merasa sungkan bila di datangai Oma Leon yang selama ini banyak sekali membantu keluarganya. "Misshel. Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu saja merendahkan diri seperti ini." Hellen Morine mendudukkan diri, ia hafal betul dengan sikap Misshel yang memang selalu saja merendah serta sopan kepada dirinya. Hellen sudah menganggap Misshel seperti cucunya sendiri. Ia kerap kali meminta Misshel untuk tinggal bersama keluarga Morine. Namun, selalu saja Misshel menolak kebaikannya dengan alasan tidak ingin merepotkan keluarga Morine lebih jauh lagi. Sudah di terima bekerja sebagai sekertaris Ceo di perusahaan Morine Corporation. Sudah lebih dari cukup baginya. Bahkan, Misshel tidak tau bagaimana cara untuk membalas budi baik Hellen, Oma Leon ini. Semenjak kedua orang tua Misshel meninggal sebab kecelakaan dua tahun silam. Hellen Morine lah yang membiayai segala kebutuhan serta pendidikan Misshel sampai lulus kuliah beserta adiknya. Ayah Misshel merupakan sopir pribadi Hellen Morine selama belasan tahun. Sementara ibu Misshel sempat menjadi ART di keluarga Morine juga. Semenjak kecelakaan itu, Hellen Morine merasa bertanggung jawab atas Misshel dan adiknya tanpa embel-embel apa pun. Misshel hanya tersenyum serta ikut mendudukkan diri di sebelah Hellen Morine, yang kini tengah mengelus rambut lurus berwarna kecoklatan milik Misshel. rasanya ia ingin sekali memboyong Misshel dan juga adiknya. Rasanya pun ia tidak tega melihat mereka hidup hanya berdua dengan tidak adanya jaminan keamanan, apalagi kemewahan di rumah yang memang sederhana. Rumah peninggalan kedua orang tua Misshel. Bahkan sangat jauh, tidak seperti yang ada di keluarga Morine yang keamanan pasti dan cctv siaga di setiap sudut di rumah mewah itu. Hellen Morine merasa khawatir. Hatinya terasa tersayat, takut. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada mereka berdua. Hellen Morine menggeleng pelan, tidak ingin itu benar terjadi, ''Misshel. Dimana adikmu?'' Kedua netranya menelisik ruang tamu yang tidak begitu luas. Dimana biasanya Kenan, adik Misshel selalu belajar diruang tamu, ''Sejak tadi, aku tak melihatnya?'' ''Kenan. Dia sudah tidur, Oma. Tadi bilangnya pusing. Habis minum obat langsung di pakai tidur.'' ''Pusing kenapa?'' Hellen Morine terlihat begitu khawatir, ''Sudah periksa ke dokter?'' ''Belum.'' Misshel menggeleng, ''Rencananya, kalau besok pagi belum juga membaik, baru Misshel antar ke dokter.'' Misshel pun tidak menutupi rasa cemas terhadap adik kesayangannya. ''Kenapa kamu tidak menghubungi Oma? atau tidak. Kamu juga bisa meminta Leon untuk mengantar ke dokter.'' Hellen benar-benar merasa cemas. Hal seperti ini juga yang selalu ia khawatirkan. Namun Misshel tidak pernah menghubungi mereka. Apa pun yang terjadi, ia tidak ingin merepotkan ataupun menjadi beban bagi keluarga Morine. Terlebih Nessa Rayne, Mama Mario sangat tidak menyukai jika Hellen selalu membantu dirinya. Walau Nesa tidak secara terang-terangan mengatakan rasa tidak sukanya. Namun, Misshel tau dari cara wanita itu memandang dirinya. ''Oma tidak perlu cemas. Kenan baik-baik saja. Dia sudah minum obat dan pasti rasa pusingnya akan hilang. Kenan hanya kecapek'an saja, Oma.'' Misshel terlihat lebih tenang, berusaha meyakinkan Oma Leon. ''Oma harap, kalian mau ikut tinggal bersama Oma. Disana kalian tidak akan kesulitan jika mau pergi kemana pun. Oh, iya. Oma akan memanggil dokter pribadi Oma untuk datang kesini.'' Hellen Morine pun mengeluarkan ponselnya guna menelpon dokter pribadi keluarga Morine. ''Tapi, Oma--'' Belum selesai Misshel berbicara, Hellen Morine memberi isyarat agar Misshel nurut kepada dirinya. Misshel mengembuskan nafasnya pelan. Ia tidak mungkin bisa menolak lagi apa yang di kehendaki Oma Leon. "Kita tunggu Dokter Arya, dia sudah bersiap datang ke sini," ucap Hellen Morine. Misshel mengangguk, "Terima kasih, Oma. Bahkan terima kasih saja tentunya tidak sebanding dengan kabaikan Oma selama ini." "Jangan bilang seperti itu, Oma tulus ingin membantu kamu dan Kenan. Misshel." Hellen terhenti sejenak membuat Misshel yang tadinya menunduk, kini menoleh serta menatap lekat kedua manik Hellen Morine. "Oma mohon, kalian mau tinggal bersama Oma. Oma yakin. Kenan tidak keberatan jika kamu pun menerima tawaran, Oma." Misshel masih diam. Kini ia menunduk tengah memikirkan sesuatu. "Apa lagi yang memberatkanmu menerima tawaran, Oma? Leon pun setuju jika kalian tinggal bersama kami. Semua demi kabaikan kalian, Misshel." Tak pernah jemu Hellen meyakinkan Misshel tetapi selalu saja, Misshel menolak. "Oma." Tangan Misshel terulur mengenggam tangan Hellen Morine yang tampak keriput. "Untuk saat ini, Misshel belum bisa meninggalkan rumah ini. Dimana Misshel dan Kenan di besarkan di rumah ini oleh Mama dan Papa. Misshel harap, Oma bisa mengerti." Hellen Morine paham. Bagaimana pun juga ia tidak bisa memaksa. Sesekali ia mengangguk mengerti serta menghela nafas. "Pintu rumah selalu terbuka untuk kalian. Suatu saat nanti, entah kapan itu. Oma harap kamu akan tinggal bersama kami. Dengan begitu Oma akan lebih tenang, kedua orang tua kalian pastinya akan senang di alam sana melihat kalian tinggal dengan Oma," tutur Hellen dengan tersenyum. Begitu pun dengan Misshel membalasnya dengan senyuman. "Oh, iya. Mengenai Leon, apa kamu tau? Siapa pacar Leon saat ini?" tanya Hellen, membuat Misshel kaget namun berusaha menutupinya. Denisa Tan. Artis papan atas yang sempat bersikap semena-mena kepada dirinya, kekasih Leon. Siapa yang tidak tau? Semua karyawan di kantor juga tau tentang hubungan itu. Akan tetapi tidak mungkin untuk Misshel mengatakan sesuai fakta. Terlebih Leon juga sudah menceritakan semuanya kepada dirinya. Misshel bingung. Berbohong nanti dosa, jujur pun dia kasihan dengan Leon. Rasanya jadi serba salah. Hellen mengernyitkan dahinya heran, "Misshel, kenapa diam saja? Apa kamu tau?" "Kalau tentang itu..." Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, yang ternyata Dokter Arya sudah datang. Membuat Misshel menghela nafas lega, ia tidak perlu melanjutkan obrolan yang membuatnya serba salah. Ia pun malas jika mengingat Denisa. "Silahkan masuk, Dok." Misshel mengantar Dokter Arya ke sebuah kamar. Di mana Kenan tengah tertidur. Badannya masih demam namun sudah tidak terlalu tinggi. "Bagaimana, Dok? Kenan baik-baik saja'kan?" tanya Misshel yang berdiri di samping Dokter itu. Sementara Hellen pun berdiri di sisinya juga. "Tidak apa-apa, saya akan memberikan obat penurun panas serta vitamin. Dua jam lagi, kamu bisa memberikan obat itu untuk di minum Kenan. Oh, iya. Ini kartu nama saya, di situ juga ada nomor telepon. Jika butuh sewaktu-waktu, kamu bisa hubungi saya," tutur dokter Arya dengan sopan. Tangan Misshel terulur menerima kartu nama itu. "Terima kasih, Dok. Terima kasih, Oma." Misshel sedikit menundukkan tubuhnya. Setelah memberi obat, dokter Arya pun pulang. Namun belum dengan Hellen Morine. Setelah memastikan keadaan Kenan, ia pun kembali duduk bersama Misshel di ruang tamu. Dengan harapan Misshel akan memberi informasi tentang pacar Leon, cucunya. Yang Leon janjikan akan memperkenalkan juga kepada dirinya. Namun Hellen sudah tidak sabar untuk mengetahui, siapa pacar Leon. "Jadi, siapa pacar Leon?" tanya Hellen Morine kembali. Perasaan bingung kembali menggerogoti Misshel, "Misshel belum tau pasti, Oma. Cucu Oma itu banyak sekali penggemarnya. Banyak juga wanita yang datang ke kantor dan mengaku pacar Leon." Misshel mencoba menutupi, sekalipun ia tidak suka Denisa Tan. Ia melakukan ini hanya demi Leon. Yang jika saja Hellen Morine tau pacar Leon Denisa Tan, pastinya ia tidak akan setuju dan meminta Leon untuk mengakhiri hubungannya. "Apa kamu yakin? Tidak tau siapa pacar Leon?" Hellen merasa ragu, terlebih Leon dan Misshel. Mereka sahabat di tambah Misshel sekertaris Leon di kantor. "Maafkan Misshel yang terlalu fokus dengan pekerjaan, Oma. Sampai hal seperti ini pun Misshel tidak tahu." Misshel nampak memelas, berharap Oma Leon percaya kepada dirinya. "Oma senang, kamu selalu mengutamakan pekerjaan. Oma hanya penasaran saja. Dengan siapa Leon berhubungan? Semoga saja firasat Oma selama ini tidak benar. Bagaimana pun juga, Oma hanya ingin yang terbaik untuk masa depan Leon." Hellen menghela nafas berharap semua kan baik-baik saja. Wanita mana yang akan menolak Leon Abrizam Morine seorang Ceo tampan dan kaya raya. Dimana sebagian besar wanita yang mengejarnya hanyalah demi harta semata. Hellen Morine tidak ingin Leon salah memilih pendamping hidup. Ia harus turun tangan untuk hal ini. "Aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana jadinya? Jika Oma Hellen tau bahwa Denisa Tan lah, pacar Leon saat ini," batin Misshel ikut memikirkan hubungan backstreet Leon. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN