Setelah beberapa bulan. Tepatnya setelah Hellen Morine memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Ceo dan di gantikan oleh Leon. Untuk pertama kalinya, hari ini. Hellen Morine datang menemui Leon di kantor. Yang mana terlihat cucu kesayangannya tengah sibuk serta hanya fokus dengan laptopnya.
"Ternyata masih sama, ya? Tidak ada tatanan yang berubah sama sekali." Suara Hellen Morine yang tiba-tiba membuat kedua mata Leon yang tadinya fokus ke laptop sekarang menoleh kearah pusat suara.
"Oma! Sejak kapan Oma masuk? Astaga. Leon sampai tidak sadar." Leon memijat keningnya perlahan.
"Baru saja. Oma tiba-tiba rindu dengan suasana kantor. Oleh karena itu, Oma datang. Dan ternyata, kamu tidak merubah tatanan apapun di ruangan ini." Hellen Morine mendudukkan diri di kursi tepatnya di seberang meja kerja di mana Leon duduk saat ini.
"Leon rasa tidak perlu ada yang di rubah. Semua tatanan Oma, Leon pun suka."
"Ya." Hellen Morine mangangguk, "Sejak kecil kamu memang tidak pernah banyak komentar. Berbeda dengan Kakakmu, dia cenderung berlawanan dengan Oma."
Leon mengangkat bahunya, "Kenapa Oma tidak berbicara dengan Leon kalau mau datang ke kantor? Kan bisa berangkat bareng Leon."
Hellen Morine membenarkan kacamata yang ia kenakan, lalu berkata, "Oma tidak berencana. Makanya tidak bilang mau kesini tadi pagi. Oh, iya. Semalam Oma ke rumah Misshel, Kenan sakit. Apa kau juga sudah tau?"
"Belum." Leon menggeleng Misshel pun juga tidak berbicara apapun dengannya pagi ini. "Misshel hari ini juga masuk kerja. Jadi, Kenan di rumah dengan siapa? Coba aku panggil dia." Leon meraih ganggang telepon yang terletak di atas meja kerjanya.
"Tidak perlu. Biar Oma yang menghampirinya nanti. Oma juga meminta Misshel untuk tinggal bersama kita. Namun tetap saja dia menolak." Rasa kecewa terlihat di wajah itu.
Hari ini Denisa Tan juga datang ke kantor. Ia baru keluar dari lift lalu berjalan menuju ruangan Ceo. Di mana langkahnya terhenti dengan segera menunduk dan cepat mengambil sebuah berkas milik karyawan serta berpura-pura membacanya. Membuat karyawan yang tengah duduk di meja kerjanya heran. Dengan apa yang Denisa Tan lakukan. Karyawan itu pun sempat nyengir serta besar kepala. Bagaimana tidak seorang artis cantik menghampirinya dan berdiri di depan meja kerjanya.
"Mbak Denis cantik, boleh foto bareng nggak?" tanya karyawan itu dengan genit.
Namun Denisa Tan tidak menggubris. Ia sesekali melirik kearah depan dimana Hellen Morine berjalan dan sekarang masuk ke ruangan sekertaris Ceo.
Bahkan karyawan itu tahu, kenapa Denisa menghindar dari Hellen Morine. Yang dulu juga Ceo Morine Corporation, atasannya.
"Mbak Denis. Kalau nggak mau foto, minta tanda tangannya dong," pinta karyawan itu kembali.
"Ish! Nggak sopan! Kamu lupa? Aku ini pacar bos kamu." Tanpa memghiraukan karyawan itu, Denisa buru-buru berjalan menuju ruang Ceo. Dengan menunduk ketika melewati ruangan Misshel. Dimana Denisa sempat melihat Hellen Morine begitu akrab dengan sekertaris itu.
Hellen Morine tidak hanya membuat Leon terkejut. Namun Misshel pun tidak menyangka dengan kedatangannya pagi ini ke kantor.
"Oma."
"Bagaimana keadaan Kenan?"
Misshel tersenyum lalu berkata, "Kenan baik-baik saja. Bahkan hari ini dia mengikuti ujian. Oma sama siapa? Tante Nessa?"
"Syukurlah Kenan sudah membaik. Oma sendiri. Mana mau Nessa ke kantor bareng Oma. Yang ada dia milih pergi ke salon atau pergi jalan bersama teman sosialitanya." Hellen menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap anak mantunya itu.
Sementara Denisa cepat-cepat masuk kedalam ruangan Ceo. Dimana Leon pun terkejut dengan kedatangan kekasihnya bersamaan Oma-nya yang saat ini juga tengah berada di kantornya.
"Sayang!" Lirih, Denisa buru-buru menghampiri Leon yang kini berdiri menyambutnya.
"Denisa! Astaga. Oma ada di sini, kamu malah kesini?" Leon terlihat bingung, ia tidak ingin rahasianya terbongkar.
"Apa maksut kamu! Aku juga tidak tau kalau Oma kesini. Lagi pula aku sudah terlanjur di sini. Apa kau berniat mengusirku." Bibir Denisa mengerucut, ia merasa kesal. "Bukannya di sambut. Eh, ini malah di salahin."
"Bukan begitu. Oma baru saja keluar, kalau melihat kamu gimana?" Jelas Leon belum siap jika Oma nya tau, hubungannya dengan Denisa.
"Tenang saja. Oma nggak tau. Tadi Oma masuk ke ruangan sekertaris kamu. Untuk apa Oma menemui, dia?" Rasa penasaran Denisa lebih besar dari rasa khawatirnya. Padahal hubungannya terancam tidak mendapat restu. Masih saja dia merasa tenang.
"Oma tadi pamitnya pulang. Mungkin beliau mencemaskan keadaan Kenan."
"Kenan? Siapa dia?" Denisa semakin ingin tau.
"Kenan adik Misshel." Tidak lengkap dan Leon rasa tidak perlu semua di ceritakan kepada Denisa. Yang ada kekasihnya itu juga tidak akan peduli dengan Misshel. Apalagi adiknya, bahkan setelah kemarin Misshel tidak sengaja menabraknya. Sajak saat itu Denisa terang-terangan menu jukkan rasa tidak sukanya kepada Misshel.
"Oma terlihat lebih perhatian dengan sekertaris kamu itu. Sementara denganku, seakan akan aku ini ancaman untukmu." Cemburu nampak jelas di wajah cantiknya.
Dengan susah Leon menelan salivanya. Rasanya d**a Leon tertusuk mendengar keluhan itu. Rasa sesak kembali menyeruak di sela-sela dadanya. Wajar jika kekasihnya berbicara seperti itu. Semua ini salahnya. Kenapa tidak jujur dari awal tentang siapa kekasih hatinya yang amat Leon cintai. Namun, rasa takut kehilangannya lebih besar. Sebab sudah pasti neneknya tidak setuju jika dirinya berhubungan dengan seorang artis. Sempat terpikirkan olehnya untuk meminta bantuan Mario Arsalan, kakak sepupunya. Yang memang Mario tau kesulitan yang tengah Leon hadapi.
***
"Harus bagaimana aku? Oma jelas akan menyuruhmu untuk meninggalkan Denisa. Jadi tinggalkan saja dia sebelum semuanya terlalu jauh," saran Mario yang malah memberatkan Leon.
Rasanya Leon tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Berharap Mario bisa membantu, malah membuatnya tambah pening saja.
"Tapi aku yakin. Oma nanti akan menerima Denisa, Kak. Kalau kak Mario tidak bisa membantu. Biar Leon sendiri yang cari jalan keluar." Leon langsung berdiri dan berlalu keluar dari ruangan Mario Arsalan. Sejak dulu pun memang Mario tidak bagitu peduli dengan Leon. Namun Leon sebaliknya selalu peduli dengan Mario bahkan apapun kesulitan yang Mario hadapi, ia selalu ada untuk membantunya.
Seringai licik sempat terlukis di wajah tampan Mario, setelah Leon tenggelam di balik pintu. Seakan ia merasa menang atas kisah cinta Leon yang tidak di restui.
Alih-alih melanjutkan pekerjaannya. Fantasy Leon melambung tertuju kepada Hellen Morine. Beserta rencananya yang belum tentu akan berhasil. Ia bersikeras untuk mempertahankan hubungannya dengan Denisa dan akan segera memperkenalkannya kepada Oma-nya. Bagaimana pun juga, Leon adalah cucu kesayangan Hellen Morine. Ia akan memanfaatkan itu untuk meluluhkan hati sang nenek. Ya. Leon sangat yakin rencananya nanti akan berhasil. Walau kemungkinan berhasil sangatlah kecil.
Bersambung...