Gara-gara Denisa

1365 Kata
Leon merenung dengan sembari memegang bolpoin di tangan kanannya. Tatapannya lurus kedepan namun pikirannya entah kemana. Misshel masuk kedalam ruangan CEO serta terlihat heran melihat Leon yang masih saja terdiam tak menyapa dirinya sama sekali. Misshel tidak sedang ingin meminta tanda tangan sang Ceo. Dia juga masuk dengan tangan kosong. Tidak seperti biasa Misshel yang selalu super sibuk dengan beberapa berkas dokumen yang selalu ia bawa ketika menemui Leon. Memang Leon lah yang sempat meminta dirinya untuk menemuinya pada jam makan siang. ''Mr. Leon!'' panggil Misshel dengan nada keras untuk yang ketiga kali. Bukan makssut untuk membentak. Hanya saja memang Leon masih tidak bergeming untuk menyahut, sampai Misshel harus sedikit berteriak dan akhirnya Leon pun terhenyak serta langsung menatap kearah dimana kini Misshel tengah berdiri. Yaitu tepat di depan meja seberang Leon duduk. ''Maaf, sudah membuat kaget.'' Misshel menunduk merasa bersalah. Leon tersenyum lalu berkata, ''Tidak apa. Duduklah.'' Misshel pun mendudukkan diri. Batinnya bertanya-tanya untuk apa Leon memanggil dirinya pada jam istirahat. Sementara Timonty tengah menunngunya untuk makan siang bersama di tempat biasa. ''Apa kau sudah makan siang?'' Misshel menggeleng pelan. Mana sempat ia makan sementara Leon meminta datang tepat waktu. ''Kalau begitu, ayo kita makan siang bersama. Ada sesuatu yang ingin aku biacarakan nanti.'' Leon pun berdiri segera melangkah keluar ruangannya. Sementara Misshel masih terduduk heran, apa yang ingin dibicarakan oleh Leon nanti. Langkah Leon terhenti menyadari sekertarisnya masih duduk tidak mengikutinya. Ia pun berbalik dan menghela nafas. ''Misshel.'' ''Eh, iya.'' Misshel seketika berdiri lalu mengikuti kemana Leon pergi. Batinnya masih penasaran lagi heran. Tidak biasanya ia melihat Leon merenung seperti halnya tadi, saat ia masuk untuk menemuinya. Apa Leon tengah dalam masalah? kalau memang iya, lantas apa? kini pikiran Misshel fokus pada Leon, Ceo sekaligus sahabat baiknya. Beberapa hari belakangan ini memang Leon tidak bercerita apa pun dengan dirinya. Bahkan di dalam mobil pun Leon belum membuka percakapan lagi. Hingga mobil yang Leon kemudi memasuki kawasan parkir di sebuah restoran yang bahkan, Misshel belum pernah memasukinya. Restoran itu cukup besar serta terlihat mewah. Leon turun dari mobil begitu juga Misshel yang setia mengikuti di belakangnya. Memilih meja makan nomor 4 yang dekat dengan dinding kaca transparan. Membuatnya leluasa melihat pemandangan taman yang berada di luar. Leon terlihat tenang tak ada tanda-tanda kecemasan seperti halnya orang yang tengah ada masalah. Bahkan sesekali Leon tersenyum kepada Misshel dan mengulurkan daftar menu untuknya kemudian memilih makanan serta minuman. ''Sebenarnya, apa yang ingin Mr. bicarakan?'' Dengan ragu Misshel memberanikan diri. ''Maaf, jika aku lancang. Tapi, aku benar-benar bingung.'' Leon tersenyum sembari menatap Misshel. Ia ingin berbicara namun bingung memulai dari mana. Sementara Misshel bertambah heran dengan Leon yang kini malah terdiam dan menatap dirinya. Membuat Misshel berpikir jika ada yang salah dengan penampilannya. ''Kamu tahu sendiri' kan? Oma tidak setuju, jika aku menjalin hubungan dengan seorang artis.'' Misshel mengangguk mengerti, lalu bertanya, ''Apa, Oma sudah tahu hubungan kalian?'' ''Belum. Dan itu yang membuatku bingung. Bagaimana cara agar Oma, bisa menerima Denisa. Aku ingin kamu membantuku juga soal ini.'' Tegas Leon meminta bantuan Misshel pada akhirnya. Membuat Misshel Candra mengernyitkan dahinya seketika. ''Aku?'' Misshel menunjuk kearah dirinya sendiri tepat di depan hidungnya yang mancung. ''Benar.'' Leon mengangguk. ''Aku rasa hanya kamu yang bisa membantu masalahku ini. Terlebih, Oma juga dekat denganmu.'' ''Tapi---'' ''Aku yakin kamu bisa. Rasanya kepalaku mau pecah tiap kali memikirkan masalah ini. Denisa bersikeras menuntut untuk segera terbuka dengan hubungan kita. Sementara Oma... please, Misshel bantu aku.'' Leon memohon dengan sungguh, membuat Misshel tidak tega melihatnya. Tapi apa yang harus Misshel lakukan? Misshel terdiam tengah memikirkan sesuatu. Hingga seorang Waiters membawa pesanan mereka dan menghidangkannya di meja. ''Selamat menikmati makan siangnya, Tuan, Nyonya.'' Kemudian Waiters itu berlalu pergi setelah Misshel mengangguk serta membalas senyum Waiters tadi. ''Maaf Mr. Leon. Sepertinya akan sulit untuk mengambil hati Oma Hellen. Emh, maksutku, kemungkinan besar Oma akan tetap menolak Nyonya Denisa. Buktinya sampai saat ini pun, Oma kekeh memperingatkan Tuan tentang itu.'' ''Pasti akan ada cara untuk merubah keputusan Oma. Aku akan segera jujur dan meyakinkan bahwa Denisa tidak seperti artis yang Oma pikirkan.'' Leon mengembuskan nafasnya lalu menyesap cappucino dingin miliknya lewat sedotan. Alih-alih agar pikirannya pun ikut dingin seiring menelan minuman dingin itu, tetapi tetap saja sama. Masih di tempat yang sama. Denisa yang kebetulan masuk ke dalam restoran itu bersama dengan dua rekannya yaitu Abel dan Lola. Seketika menatap tajam kearah dimana Leon dan Misshel duduk menikmati makan siangnya. ''Denis, kita duduk di sebelah sana yuk!'' ajak Lola yang melangkahkan kakinya kearah meja yang ia tunjuk, diikuti oleh Abel. Namun tidak dengan Denisa yang berjalan berlawanan malah menghampiri Leon dan Misshel saat ini. ''Loh! Denisa mana?'' tanya Abel begitu menyadari bahwa Denisa tidak ikut duduk bersama mereka. ''Iya. Dimana dia?'' timpal Lola dengan kedua netranya menelisik keseluruh sudut restoran, Dimana ia melihat Denisa tengah melipat tangan di depan dadanya dan berdiri di samping meja Leon. ''Astaga. Leon ada disini dengan sekertarisnya. Wah! bakal ada perang dunia nih. Jelas Denisa cemburu, tuh!'' Abel tahu jika Denisa tidak suka dengan Misshel. ''Hust! ngomong apa sih kamu? mana mungkin Denisa melakukan itu, itu artinya dia akan mempermalukan dirinya sendiri. Secara ini tempat umum.'' Lola berharap Denisa menjaga sikapnya serta bisa menahan emosinya yag memang mudah tersulut. Leon menyadari kehadiran Denisa, namun tidak dengan Misshel yang menikmati makanan yang ada di piringnya. ''Aduh. Nggak pernah makan seenak itu, ya?'' sindir Denisa membuat Misshel perlahan menoleh kearahnya namun tetap menguyah makanannya. ''Sayang, kamu juga disini? duduklah aku akan pesan makanan untukmu.'' Leon hendak memanggil Witers namun Denisa menghentikannya. ''Tidak perlu. Aku nggak akan makan semeja dengan dia. Kamu nikmati saja makan siang berdua. Lagi pula aku kesini dengan teman-temanku.'' Tatapan tajam Denisa masih tidak lepas dari Misshel. Namun Misshel tidak peduli dan tetap melajutkan makan siangnya tanpa merasa terganggu. Bukan takut. Hanya saja Misshel tidak ingin berdebat apalagi di depan Leon. Terlebih gara-gara Denisa, Misshel jadi ikut terlibat dalam masalah yang sebenarnya Misshel pun tidak mau tau. Namun terpaksa harus tau. Leon pun melihat Abel dan Lola yang sempat terlihat melihat kearahnya. ''Oh, kamu sama mereka. Ajak gabung sini aja, biar tambah rame.'' Misshel menatap kearah Leon sebentar lalu melanjutkan makannya lagi. Mengerti jika Denisa tidak akan pernah mau makan bersama dengan Misshel, Leon pun tersenyum kearah kekasihnya itu. ''Ayolaah sayang, tidak setiap hari kita bisa makan bersama.'' ''I know but, mereka sudah menungguku disana. Dan yang pasti mereka juga tidak mau, semeja dengan dia!'' Senyum sinis terlukis di wajah cantik Denisa. ''Selamat makan sayang, i love you.'' Bisik Denisa setelah mencium pipi Leon dan berlalu meninggalkannya untuk bergabung bersama Abel dan juga Lola yang sudah menunggunya. Lagi pula, bukan inginku makan siang dengan kekasihmu! Misshel menghela nafas yang sebenarnya sangat jengkel mendengar kata-kata Denisa yang seakan jijik kepadanya. Namun ia juga senang mendengar Denisa menolak untuk makan semeja dengannya. Ia pun juga tidak suka dengan sikap Denisa, yang ada nanti Misshel akan tersulut emosi ditambah kata-kata Denisa yang seenak jidatnya serta mengumpat sesuka hatinya. Bahkan Misshel tidak habis pikir dengan Leon yang masih saja mempertahankan hubungannya. Terlebih cintanya yang memang tidak direstui. ''Kasihan,'' gumam Misshel dengan nada lirih. Sesekali ia melihat Leon yang terus saja memperhatikan Denisa yang tengah bersenda gurau bersama kedua temannya. Tidak jauh dari meja mereka. Denisa Tan tidak pernah menutupi rasa tidak sukanya terhadap Misshel. Jika saja Leon tidak ada disana, pastinya ia akan mengumpat Misshel habis-habisan tanpa ampun. Walau sebenarnya pun Misshel tidak melakukan kesalahan. Ketidak sengajaan Misshel kemarin yang membuat Denisa seakan tidak bisa memaafkan. Dan terlebih kedekatan Misshel, dengan Leon dan Oma Hellen. Yang sangat mustahil bagi Hellen Morine bisa menerima Denisa dengan setulus hati layaknya anak sendiri. Seperti halnya kasih sayang Hellen Morine kepada Misshel. Sial! Denisa mengaku kalah jika menyangkut dengan Oma Leon. ''Lupakan saja apa yang dikatakan Denisa. Seiring berjalannya waktu. Aku yakin, dia akan berubah.'' Terlihat jelas Leon sangat mencintai Denisa. Tapi aku tidak yakin, bahkan bisa jadi dia akan tambah besar kepala jika sudah di terima di keluarga Morine. Misshel terlihat tetap tenang walau sebenarnya terpaksa tenang dan tersenyum. Bebannya bertambah dengan permintaan Leon yang menurutnya juga tidak mudah. Kalau bukan kebaikan keluarga Morine, Misshel pasti akan menolak bahkan tidak peduli. Belum lagi membagi waktu antara pekerjaan dan merawat Kenan yang antah kenapa sering jatuh sakit. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN