Kehaluan Timonty

1101 Kata
Misshel meneguk minuman dinginnya lalu mengelap bibirnya menggunakan tisu. Seketika ia ingat akan Timonty, sahabatnya yang memang sudah menunggunya untuk makan siang bersama. Bahkan Misshel belum sempat memberi kabar pada sahabatnya itu. Terlebih Misshel harus segera menyelesaikan sebuah dokumen yang sebelum jam istirahat harus juga selesai. ''Maaf, Mr. Saya ijin ketoilet dulu.'' Tanpa berpikir panjang Misshel ingin menghubungi Timonty di sana. Leon terlihat mengangguk setuju sambil melanjutkan makan siangnya. Sejurus kemudian Misshel segera mengayunkan kakinya masuk kedalam toilet sekedar mencuci tangan lalu, mencoba menghubungi Timonty. ''Hallo Shel. Kamu dimana? dari tadi aku tungguin kamu lho, ya. Tapi aku makan duluan, soalnya udah laper banget aku,'' cerocos Timonty di balik sambungan telepon. Misshel teesenyum tipis. ''Sorry, Tim. Aku baru sempat menghubungi kamu. Ini aku sama Mr Leon.'' ''Apa!' ''Iya. Nanti saja aku jelasin ke kamu. Maaf ya, kamu jadi makan sendiri.'' Misshel merasa bersalah pada sahabatnya yang memang selalu makan siang bersama pada jam istirahat. ''Iya nggak apa. Tumben sekali Mr. ajak kamu makan siang?'' Misshel terdiam. Haruskah ia bercerita kepada Timonty saat ini juga? dan Misshel rasa tidak perlu. Misshel segera menoleh kearah sampingnya seseorang tengah berdeham serta mengamati dirinya. ''Jadi ini? sekertaris kesayangan Oma Hellen?'' Denisa menunjukkan tatapan tidak sukanya kepada Misshel. ''Oh, bukan saja Oma. Leon pun selalu saja membelamu.'' Misshel memutar bola matanya malas. Bahkan ia tidak ingin berdebat saat ini. Misshel masih tidak mengerti. Bagaimana bisa Denisa terlihat tenang sementara Oma Hellen kemungkinan tidak merestui hubungannya bersama Leon? Misshel menggeleng kepala. Membuat Denisa memicingkan kedua matanya. ''Aku dengar. Oma tidak suka jika Leon berhubungan dengan seorang artis.'' Dengan santai Misshel segera mengakhiri sambungan telepon. Kemudian memasukkan benda pipihnya ke dalam tas. ''Apa!'' Denisa tidak terkejut, hanya saja menurutnya Misshel sudah lancang dengan ikut campur walau sekedar bertanya ataupun mengingatkan sesuai fakta. ''Bahkan aku merasa kasian kepada Leon. Harus pusing-pusing mencari jalan keluar dan hanya sendirian. Ya. Aku rasa seseorang yang egois tengah memaksa dirinya untuk memikirkannya sendiri.'' Seringai terlihat jelas di pantulan kaca wastafel, dimana kini Misshel kembali mencuci tangannya lagi lalu memandangi pantulan dirinya di depan cermin. ''Lancang! berani sekali kau berkata begitu kepadaku! Apa kau lupa. Siapa aku? Aku kekasih bosmu. Aku pun punya hak untuk kau hargai. Bahkan kau harus takut padaku.'' Denisa mulai tersulut emosi. Ia tidak habis pikir jika Misshel seberani ini. Misshel berdecih lalu menjawab, ''Takut? bahkan aku tidak takut kepada siapa pun. Selama ini aku memang diam karena menghargaimu sebagai pacar Leon. Tetapi, untuk apa menghargai orang yang tidak bisa menghargai orang lain?" Misshel sembari merapikan rambutnya yang tidak berantakan. Tanpa melihat kearah Denisa Tan yang kini tengah sibuk mengatur nafasnya, dadanya kembang kempis sebab berdetak dengan cepat. Sebisa mungkin menahan amarah yang tidak terarah. "Kau--" "Kendalikan emosimu. Lebih baik pikirkan hubunganmu yang saat ini di ujung tanduk." Misshel kini saling berhadapan dengan tatapan Denisa yang penuh kebencian. "Leon sudah menungguku, permisi," lanjut Misshel yang sempat bersenggolan bahu Denisa ketika melewatinya. "Kurang ajar! Sekertaris gak tau diri! Awas saja. Berani-beraninya melawan Denisa Tan," gumam Denisa seraya dengan cepat membasahi wajah cantiknya. Emosi yang ia tahan sedari tadi membuat wajahnya terasa panas saja. Sejenak Denisa terdiam dan baru menyadari apa yang di katakan oleh Misshel. Tentang hubungannya yang tengah di ujung tanduk. Benak Denisa pun bertanya-tanya. Apakah Misshel tau segalanya? *** "Apa?!'' Timonty tidak menyembunyikan keterkejutannya. ''Denisa juga ada di sana? dia sempat mengumpatmu juga? lalu, apa kau masih mau membantu masalah mereka?'' tanya Timonty, seketika Misshel menatap sahabatnya itu dalam diam seakan memikirkan sesuatu. Mengetahui apa yang tengah Misshel pikirkan, Timonty pun melanjutkan, ''Kalau aku jadi kamu, tanpa berpikir pun akan ku tolak.'' ''Mau ku juga begitu, tapi... kamu tau sendiri,'kan? betapa baiknya keluarga Morine kepadaku, bahkan selama ini mereka lah yang membiayai sekolah Kenan.'' ''Lantas? apa yang akan kamu lakukan?'' Dalam benak Timonty pun ingin membantu sahabatnya itu. Namun bagaimana caranya ia pun tidak tau. ''Itu yang saat ini aku pikirkan.'' Misshel memijat pelipisnya perlahan. Mengingat sikap Denisa terhadapnya dan cinta Denisa yang rumit. Sesaat ia tersenyum licik bahkan merasa puas. Seakan memang pantas Denisa menjalani kisah cinta yang tidak direstui. Namun Leon, Misshel tidak mungkin mengabaikannya. ''Suruh saja Mr. Leon memutuskan hubungan mereka. Kelar semua urusan. Kamu juga tidak perlu pusing-pusing lagi,'' usul Timonty sebagai jalan keluar. ''Sialnya Leon mempertahankan hubungan mereka,'' ucap Misshel dengan nada cepat. Ia pun ikut pusing dengan kondisi perusahaan yang sedang tidak baik-baik saja. Walau pihak keluarga Morine berusaha menutupi dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tentunya Misshel sudah tau. Misshel pun tidak habis pikir dengan Leon, yang pada situasi perusahaannya yang terancam bangkrut masih saja lebih memikirkan Denisa Tan. Taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat saat lampu merah. Misshel yang duduk sejajar dengan Timonty tengah memandang kearah luar jendela. Begitu pun dengan Timonty memandang kearah luar dengan arah yang berbeda. Memandangi pengguna jalan yang lain, seketika kedua mata Timonty membulat. Tidak yakin dengan apa yang ia lihat, dengan sesekali mengusap kedua matanya. Berusaha memastikan bahwa ia tidak salah lihat. ''Shel, Shel lihat itu!'' Timonty menggoyang lengan sahabatnya tanpa melepas pandangannya dari sesuatu yang ia lihat tadi. Membuat Misshel seketika terhenyak bingung dengan apa yang terjadi dengan Timonty yang mendadak bersikap heboh. Seketika Misshel menoleh kearah Timonty. ''Ada apaan sih?'' ''Itu! lihat orang yang ada di dalam mobil itu!'' Tangan Timonty menunjuk pada sebuah mobil yang berhenti sejajar dengan taksi yang mereka tumpangi. ''Apaan?'' Bahkan Misshel tidak melihat apa-apa, lampu hijau menyala dan semua pengguna jalan menjalankan mobil mereka kembali. ''Itu. Di dalam mobil itu tadi, aku lihat Denisa dengan Mr. Mario,'' jawab Timonty yakin. Ia sudah memastikan jika itu mereka. Ya. Tidak salah lagi. Seketika tawa Misshel memecah kehebohan Timonty yang menurutnya salah. Bagaimana tidak. Selama ini Mario Arsalan menunjukkan rasa tidak suka nya terhadap Denisa. Begitu pun sebaliknya, Denisa juga tidak suka dengan sikap Mario dan malah cenderung takut ketika berhadapan dengan Mario saat datang ke Morine Corporation. ''Mustahil.'' Misshel menggeleng tidak percaya. ''Tidak mungkin mereka berada di mobil yang sama. Apa lagi duduk sejajar seperti kita.'' ''Tapi, tadi itu--'' ''Kamu mungkin salah lihat.'' ''Enggak! aku nggak mungkin salah. Itu benar mereka.'' Timonty bersikeras, iya yakin yang ia lihat di mobil itu Mario Arsalan dan Denisa Tan. Sayangnya Misshel tidak sempat melihat sebab mobil itu terlanjur jalan menjauh. ''Mungkin kamu terlalu memikirkan Denisa, Tim. Jadinya kamu yang kayak melihat dia pada orang lain.'' ''Maksut kamu, aku menghalu?'' Timonty menggaruk rambutnya yang tidak gatal. ''Bisa jadi.'' Misshel mengangguk membenarkan. Pasalnya Mario dan Denisa selalu terlihat seperti kucing dan tikus. Yang menurut Misshel sangat mustahil untuk bersama seperti apa yang di katakan Timonty, sahabatnya. Sayangnya Misshel lupa jika berawal dari sebuah kebencian, bisa tumbuh benih cinta yang tidak pernah terduga oleh siapa pun. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN