Keinginan Kenan

1305 Kata
Kini giliran Timonty yang terdiam dengan pikirannya yang sulit di tebak. Antara yakin dan salah lihat. Ia sendiri menjadi bingung tak berujung. Benar apa yang dikatakan Misshel, tidak mungkin Mario bersama Denisa. Namun, sangat memungkinkan apa yang tidak mungkin di dunia ini menjadi mungkin, bukan? Itulah yang membuat Timonty kini mengerucutkan bibirnya, ia kembali melirik kearah Misshel yang kemudian Misshel pun menatapnya heran. "Ada apa, Tim? Pakek monyongin bibir segala." Misshel terkekeh kemudian. "Nggak ada yang lucu. Kamu harus percaya, aku nggak salah lihat tadi." "Oalah. Masih saja mikirin itu?" Misshel pikir sahabatnya sudah lupa, ternyata malah sebaliknya. Misshel menggeleng serta tersenyum. "Kalau memang mereka benar bersama, apa itu artinya mereka pacaran?" "Hust! Ngomong apa sih. Jangan suudzon gitu Tim, nggak baik." Walau Misshel sempat tercekat dengan kata pacaran yang keluar dari mulut sahabatnya itu. "Ya, siapa tahu. Bisa jadi'kan?" Masih saja ngeyel tidak mau mengalah, Timonty merasa maha benar saat ini. "Lagi pula, kalau memang iya kasihan sekali Ceo kita. Dikhianati oleh pacar dan sepupunya sendiri," lanjut Timonty tanpa memperhatikan Misshel. Ia melihat jauh ke depan. Dimana sudah hampir sampai di gang tepat jalan masuk menuju rumahnya. Semua yang di katakan Timonty tetap saja menurut Misshel tidak benar. Tidak ada bukti dan Misshel pun tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. Mana bisa ia percaya begitu saja? Dan akhirnya Timonty turun dari taksi tepat di depan gang. ''Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan semua bisa terjadi tanpa kita duga,'' ucap Timonty lalu krmudian menutup pintu taksi. Membuat Misshel terpaksa kembali memikirkan hubungan Leon dengan Denisa. Tentang bagaimana caraya ia membantu Leon. Meyakinkan Hellen Morine yang mungkin akan sulit ia lakukan. Misshel menghela nafas lalu mengeluarkan dengan berat. Yang tak lama kemudian taksi sudah berhenti di depan rumahnya dan terlihat Kenan tengah duduk di teras tengah menunggu kedatangannya. ''Kenan,'' sapa Misshel heran melihat adiknya merenung. ''Kakak.'' Kenan beranjak dari duduknya memeluk kakaknya, rindu. Ia merasa jenuh serta kesepian hanya sendiri dirumah. ''Sudah makan?'' Misshel memastikan. Kenan hanya menggeleng pelan. ''lhoh, kenapa belum? kakak sudah memsankan makanan untukmu bukan? Apa makanan itu belum datang?'' Misshel kerap kali memesankan makanan untuk adiknya via gofood, sebab ia tidak sempat pulang untuk sekedar menyiapkan makan siang untuk Kenan. ''Sudah datang''' sahut Kenan. ''Lalu?'' ''Aku tidak lapar.'' Tampak sedih terlihat di raut wajah Kenan. ''Kalau begitu, ayo kakak suapin?'' Lembut Misshel membujuk. Kesehatan Kenan belum pulih benar, ia tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Masuk kedalam rumah. Misshel meletakkan tas kerjanya di sofa. Diatas meja terlihat sebuah bungkusan platik yang pasti itu makan siang Kenan yang ia pesan dan masih utuh. Kenan mendudukkan diri di sofa begitu pun dengan Misshel. ''Aku ambilkan sendok dulu, ya? Tunggu disini.'' Misshel beranjak setelah Kenan mengangguk. Tidak lama Misshel kembali dengan membawa seendok, sebotol air mineral lengkap dengan obat magh yang harus Kenan minum secara rutin. Menuangkan air kedalam gelas setelahnya menyuapi Kenan yang mungkin sudah lapar hanya saja ditahan. Seperti itulah jika Kenan tengah sakit. Ingin selalu diperhatikan serta Misshel harus super sabar merawat adik kesayangan. ''Jadi, kapan kita pindah kerumah Kak Leon?'' tanya Kenan dengan mulut penuh. Walau tidak jelas Misshel tetap bisa mengerti. Sejenak Misshel membeku mendengar apa yang Kenan katakan. Dari mana Kenan tau tentang itu? sedangkan ia tidak ingat jika dirinya pernah membicarakan hal itu dengannya. Hingga suara Kenan kembali menyadarkan imajinasinya. ''Kakak, ak?'' Kenan membuka mulutnya yang sudah kosong, lalu Misshel pun segera menyuapi lagi. ''Makan yang banyak biar cepat pulih,'' tutur Misshel dan Kenan pun mengangguk. ''Iya. Tapi kapan kita pindang kerumah Kak Leon?'' tanya Kenan kembali yang memang ia sudah menunggu jawabannya. ''Untuk apa pindah? apa Kenan sudah tidak betah tinggal di rumah kita sendiri?'' ''Bukan begitu. Lebih asik lagi jika didalam rumah ada banyak teman. Jadi, aku tidak akan merasa kesepian jika Kakak belum pulang. Kata Kak Leon, di rumahnya banyak orang selain Kak Leon dan Oma Hellen,'' celoteh bocah kelas 5 SD dengan polos. Misshel pun hanya terdiam memahami setiap kata yang Kenan ucap. Dan ia sangat paham bahwa Kenan sangat membutuhkan teman. Mengingat ia juga sering pulang malam karena harus lembur. Atau pulang terlambat dengan alasan tertentu. ''Tapi, asal Kenan tau. Lebih nyaman tinggal di rumah milik sendiri, dari pada tinggal bersama orang lain.'' Misshel harap Kenan bisa mengerti. ''Mereka bukan orang lain. Kak Leon menatakan bahwa kita merupakan bagian keluarga mereka,'' protes Kenan yang selalu menyebut nama Leon. ''Kak Leon?'' ''Iya.'' Kenan mengangguk semangat, seakan ia senang nama itu disebut. ''Kapan Kak Leon datang?'' ''Tadi pagi. Setelah Kak Misshel berangkat kerja, Kak Leon datang menjengukku. Bahkan Kak Leon membawakanku hadiah,ini.'' Kenan menunjukkan sebuah mainan robot yang terletak didalam kardus di atas meja yang mana Misshel baru menyadari benda itu disana. Misshel melihat kearah mainan itu lalu tersenyum kembali kearah adiknya, menyuapi Kenan serta memastikannya kenyang. Mungkin Leon menjenguk Kenan setelah Hellen Morine memberi tahunya trntang kondisi Kenan. Itu yang saat ini Misshel pikirkan. Tapi, kenapa Leon tidak memberi tahunya waktu makan siang? Tentangnya berkunjung serta menjenguk Kenan. Bahkan Kenan sempat sekolah. Misshel jadi bingung sendiri. "Kamu suka, mainan itu?" Terlihat bungkus itu seperti sudah sedikit terbuka yang pasti Kenan pun sempat membukanya. Misshel pun tau mainan itu pastinya mahal. "Suka. Bahkan kalau di kasih lebih banyak lagi, Kenan mau." Kenan tertawa riang membuat Misshel ikut senang melihatnya. "Tapi, itu mainan mahal. Gaji Kakak satu bulan saja kurang buat beli mainan serupa." "Kakak nggak perlu khawatir. Kak Leon sudah janji, jika datang kesini lagi, dia akan bawain mainan lebih banyak lagi. Dan andai saja..." "Apa?" Misshel penasaran. "Andai kita pindah kesana. Pastinya akan lebih seru lagi jika setiap hari bisa bermain dengan Kak Leon," lanjut Kenan penuh harap. Misshel terdiam lagi. Bukan hanya Kenan, adiknya. Ia pun merasa kesepian semenjak kecelakaan nahas merenggut nyawa kedua orangtuanya. Menolak tawaran keluarga Morine dan lebih memilih tinggal dirumah sederhana bersama adiknya. Ia pikir itu keputusan terbaik. Namun Kenan malah berharap sebaliknya, merasa kesepian dan ingin tinggal bersama keluarga Morine. Haruskah Misshel harus menuruti kemauan adiknya? "Tapi, apa Kenan tidak kasihan dengan Kak Leon? jika uangnya akan habis untuk membeli mainan untuk kamu, bagaimana?" Misshel berharap Kenan mengurungkan niatnya itu. Kenan diam seakan memikirkan sesuatu. Sebelum akhirnya ia menatap Misshel dengan ragu, Kenan berkata, "Kak Leon bukannya bos besar? Pasti uangnya banyak. Tidak mungkin akan habis jika hanya untuk membeli mainan.'' Misshel melongo tak percaya. ''Darimana Kenan tau? kalau Kak Leon seorang bos?'' sementara Misshel juga tidak pernah bercerita apa pun tentang posisi jabatan Leon. ''Aku tau. Buktinya Kak Leon mobilnya bagus. Bajunya juga bagus. Bahkan pakai jas berdasi kayak bos di televisi yang pernah Kenan lihat. Pasti benar'kan kataku?'' Kenan tersenyum penuh arti melihat Kakaknya yang kini ikut tersenyum sembari mengelus rambut Kenan. ''Kenan. Apa yang kamu katakan memang benar. Orang berpakaian formal, berdasi, cenderung mengarah seperti bos. Tetapi, tidak semua orang yang berpakaian seperti itu adalah bos.'' Terlihat Kenan memahami apa yang dikatakan kakanya dengan sesekali mengangguk. ''Tapi benar'kan? Kak Leon itu bos?'' tanya Kenan. Misshel mengangguk, ''Benar. Tapi bukan berarti kita bisa meminta apa pun yang kita mau kepada Kak Leon. Itu tidak boleh dan tidak baik. Emh, maksutku, jangan berharap lebih dari kebaikan orang lain. Sebisa mungkin jangan pernah merepotkan orang lain. Kamu mengerti'kan?'' ''Iya. Aku tidak akan berharap sama Kak Leon. Sudah dikasih hadiah ini saja, Kenan sudah senang.'' Terlihat jelas Kenan sangat menyukai pemberian Leon. ''Anak pintar.'' Misshel mencium kepala Kenan sekenanya. Bangga dengan adiknya yang mulai tumbuh besar dengan pemahaman yang baik. Walau sedikit waktu kebersamaan karena pekerjaan Misshel selalu berusaha untuk secepatnya pulang demi Kenan, adik tersayang. Apa pun yang membuat Kenan bahagia, pasti akan aku lakukan. Tetapi untuk yang satu itu, aku masih merasa berat meninggalkan sejuta kenangan dirumah ini. Maafkan kakak, Kenan. Belum bisa membuatmu bahagia. Bulir bening mengalir membasahi kedua pipi Misshel, sembari melihat punggung Kenan menghilang di balik dinding. Memejamkan kedua matanya merasakan perih. Merasa bersalah dengan keputusannya yang akhirnya ia pun memilih untuk tetap bertahan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN