Alarm yang tergeletak di atas nakas tepatnya di samping tempat tidur Misshel, saat ini berdendang ria. Bahkan 10 menit yang lalu alarm itu sudah berbunyi serta berhenti untuk kemudian berdendang kembali setelah 5 menit berlalu. Masih dalam keadaan menutup mata, tangan Misshel meraih alarm yang berisik itu dengan serta merta mematikannya. Perlahan kedua netranya melirik kearah alarm yang jarum pendeknya menunjuk pada angka 5 sementara jarum panjang itu menunjukkan tepat diangka 10. Yang artinya Misshel sudah sangat kesiangan untuk mempersiapkan segala hal. Dimana ia harus menyiapkan sarapan serta bekal untuk Kenan. Belum lagi menyiapkan segala sesuatu keperluan untuk dirinya sendiri. Sial!
"Kak Misshel, nanti pulang malam lagi?" tanya Kenan yang sudah terlihat rapih menggunakan seragam sekolah. Memperhatikan kakaknya yang terlihat sibuk memasukkan nasi goreng ke dalam wadah bekalnya.
''Kurang tau. Tapi sepertinya enggak.'' Kini Misshel mengulurkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telor ceplok kepada adiknya, ''Sarapan dulu ya? kalau tambah bilang kakak,'' lanjutnya kemudian lekas mencuci peralatan masak yang kotor di wastafel dapur.
Kenan mengernyitkan dahinya heran melihat kakaknya yang menjadi super sibuk pagi ini. ''Nanti Kenan ada jadwal les privat di rumah Kak Rina. Kalau Kakak pulang lebih awal, apa bisa jemput Kenan?'' sesendok nasi goreng Kenan masukkan kedalam mulutnya, mengunyah dengan perlahan tanpa melepas pandangan dari sang kakak yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
''Pasti! Kalau Kakak pulang awal pasti jemput, Kenan.'' Misshel menoleh serta tersenyum kearah Kenan lalu mengelap kedua tangannya yang basah menggunakan kain bersih.
''Benarkah?'' Raut wajah Kenan seketika lebih bersemangat. Mengingat Kakaknya yang super sibuk dengan pekerjaannya hingga hampir tak ada waktu untuk sekedar menjemputnya dari sekolah.
''Tentu! Habiskan sarapanmu, Kakak bersiap dulu, okey!''
''Siap!''
Bertambah lahaplah Kenan dan secepatnya menghabiskan sarapannya. Hari ini Kakaknya akan mengantar serta menjemputnya nanti. Ini merupakan momen yang langka untuknya hingga rasanya Kenan merasa sangat bahagia. Andai setiap hari pastinya ia lebih bersemangat menjalani hari yang ia rasa sepi dan hanya sendiri di rumah yang sederhana.
Tak ada waktu untuk Misshel bersantai, mengingat waktu yang memang ia bangun kesiangan tadi. Dengan cepat meraih tas serta ponselnya di atas nakas. Keluar kamar lalu mengenakan stelitto berwarna hitam satu-satunya yang ia miliki. Bukan tak mampu untuk membeli lagi, hanya saja ia malas untuk sekedar berbelanja. Mengingat setelah kerja ia harus cepat pulang sebab Kenan sudah pasti menunggunya di rumah.
Usai memastikan tidak ada yang tertinggal ia mengunci pintu utama. Kenan duduk di teras rumah menunggunya keluar sejurus kemudian mereka berangkat bersama menggunakan taksi yang sudah Misshel pesan, lima menit sebelumnya.
"Kakak jangan sampai telat ya, nanti?" Kenan memastikan kembali.
Misshel tersenyum, lalu menjawab, "Iya. Selesai kerja, Kakak langsung jemput Kenan."
"Yes! Janji, ya." Kenan menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji." Misshel menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Kenan.
"Tos!"
"Tos. Asyiik... Kakak jemput Kenan."
Misshel tersenyum. Betapa bahagianya ia melihat adiknya begitu riang hari ini. Hari ini memang tidak ada jadwal tambahan apa pun untuk Leon. Itu artinya Misshel bisa pulang lebih awal dan memiliki banyak waktu untuk bersama Kenan.
"Bekalnya di habisin. Jangan pergi kemana-mana sebelum Kakak jemput di tempat les," pesan Misshel sebelum Kenan turun tepat di depan sekolah.
"Baik, Kak." Kenan mencium punggung tangan Misshel setelahnya melambaikan tangan lalu berjalan menuju kelasnya.
Misshel pun melanjutkan perjalanan menuju kantor setelah memastikan Kenan menghilang di balik dinding. Rutinitas Misshel setiap pagi namun tak selalu bisa menjemput Kenan setiap harinya.
"Shel. Aku pikir kamu bakal terlambat," celetuk Timonty dengan mengekor sahabatnya itu dari depan lift menuju ruang kerja Misshel.
"Huft! Aku pun buru-buru, Tim. Secepat kilat jadi koki bahkan mandi aja... Ah, sudahlah nggak penting." Misshel mengibaskan tangan lalu mendudukkan diri di kursi kerjanya.
Timonty mengangguk mengerti ia bahkan sudah hafal. "Ya sudah. Selamat bekerja," ucap Timonty lalu kembali ke meja kerjanya sendiri.
"Okey!" sahut Misshel.
Morine Corporation memang terlihat baik-baik saja dimata para karyawan. Namun tidak dimata Misshel Candra, bahkan ia merasa ada kejanggalan yang belum bisa ia mengerti. Kehadiran Mario Arsalan yang mana sering terlihat di ruang staff keuangan. Untuk apa? Bahkan posisi Mario di perusahaan juga tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Beberapa kali Misshel memergoki namun mereka hanya mengobrol biasa. Seakan tak terjadi apa pun yang bisa Misshel curigai. Namun semakin lama gerak gerik mereka terbaca oleh Misshel. Aneh. Tapi belum tau pasti.
"Shel!"
Misshel segera mendongak kearah suara yang memanggilnya, "Ya, Mr. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ke ruanganku sekarang," perintah Leon yang terlihat baru datang.
"Baik."
Misshel segera mengikuti dengan pikiran yang masih ada pada Mario Arsalan bersama staff keuangan itu, Maharani. Seperti dekat namun raut wajah mereka terlihat serius kala itu.
Apa mereka saling menyukai? Misshel mengangkat bahunya masih tak mengerti.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan cara untuk rencanaku kemarin?" tanya Leon setelah memastikan Misshel mendudukkan diri di seberang meja kerjanya.
Misshel mengernyitkan dahinya, "Rencana?"
"Ya. Rencanaku untuk mempertemukan Oma dengan Denisa."
Astaga. Secepat ini? Bahkan Misshel belum sempat memikirkannya lagi.
"Untuk sekedar mempertemukan mereka mudah saja. Tapi untuk Oma menerima..." Misshel menggeleng, "Tidak bisa dipastikan.
"Memang benar. Please, Shel! Bantu aku," pinta Leon kembali, "Kalau bisa secepat mungkin. Ayolah bantu aku."
Misshel mengangguk namun ia tidak yakin. Baru kali ini ia melihat Leon terlihat kebingungan. Mungkin artinya, Leon ingin menjalin hubungan serius dengan Denisa Tan. Tetapi Denisa itu, selalu bersikap tak sopan dengan Misshel yang membuatnya malas untuk membantu. Bisa di bilang, Misshel nggak ikhlas.
"Kalau menurutku, Denisa sendiri yang harus bertindak."
"Tapi?"
"Denisa harus pandai mengambil hati Oma Hellen. Ya, walau itu tidak mudah. Kalau seperti aku, hanya berperan sebagai pemanis saja. Tidak bisa lebih. Apa lagi untuk memaksa, Oma, itu sangat tidak mungkin."
Leon terlihat menelaah setiap apa yang di katakan Misshel, sekertaris sekaligus sahabat baiknya. Sesekali ia juga mengangguk.
"Pulang kerja kita bicarakan ini bersama Denisa," titah Leon.
"Kita?"
"Ya. Denisa juga harus tau kalau kamu ikut serta membantu." Tujuan Leon agar Denisa tak melulu menyalahkan Misshel.
"Maaf, tapi aku beneran nggak bisa."
"Kenapa?" Alis Leon saling bertaut.
"Aku sudah janji jemput Kenan. Dan harus aku tepati," jawab Misshel apa adanya tak menutupi suatu apa pun dari Leon. Dan Leon pun memahami itu.
"Hmm... utamakan Kenan. Aku juga bisa antar kamu untuk menjemputnya nanti."
"Terima kasih, tapi... lebih baik nggak usah. Aku bisa sendiri lagi pula, bukannya hari ini kamu ada janji sama Denisa?"
Leon terhenyak hampir-hampir ia lupa, "Astaga. Untung kamu ingatkan kalau tidak pasti Denisa bisa ngambek lagi."
Misshel nyengir antara kasihan dan tega. Kasihan dengan Leon namun tega dengan Denisa. Apakah mereka bisa menyatu?
Biarin aja ngambek toh memang Dianya aja yang terlalu manja! batin Misshel kesal tiap kali membicarakan Denisa. Namun kembali lagi ke masalah awal. Kebaikan keluarga Morine yang memaksanya untuk tetap bersikap baik kepada Denisa, terlebih Leon sahabatnya sendiri rangkap sebagai bos Misshel wajib di bantu.
Bersambung...