Penolakan Denisa

1122 Kata
"Sayang..." Leon dan Misshel bersamaan menoleh ke arah pintu. Pun bersamaan wajah Denisa Tan yang tadinya tersenyum ria saat menyapa, seketika berubah datar nan dingin setelah menyadari keberadaan Misshel di ruangan kekasihnya. "Panjang umur," sahut Misshel lirih dengan tatapannya yang biasa saja. "Hai, kok kesini nggak bilang-bilang?" tanya Leon lalu berdiri menghampiri Denisa yang masih berdiri saja di depan pintu. "Emang kenapa? Nggak suka, aku kesini?" Denisa ketus. "Bukan begitu. Kan kita janjian ketemu nanti siang." "Terus?" "Jadi, aku nggak kepikiran kalau kamu kesini pagi ini." Denisa memeluk mesra Leon sembari menatap sinis ke arah Misshel. Dengan malas Misshel memutar bola matanya serta mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sayang... Aku kangen sama kamu. Walaupun setiap hari udah ketemu, tetap aja. Bawaannya tuh pengennya deket sama kamu terus," ujar Denisa manja. Bahkan ia sengaja mengeraskan volume suaranya. Entah kenapa seketika Misshel pun bergidik mendengarnya. "Oh, iya. Kebetulan kamu sudah disini, ada yang harus kita bicarakan." Leon tersenyum menatap Denisa namun Denisa membalas tatapannya penuh tanda tanya. "Bahas tentang apa?" Denisa nampak tak sabar. "Kita duduk dulu, baru bicara." Leon menuntun kekasihnya kearah dimana Misshel duduk. Lalu kemudian Denisa pun terpaksa duduk di kursi kosong di dekat Misshel. Misshel pun terpaksa senyum kearah Denisa yang tengah menatapnya sinis. Leon mengembuskan nafas serta geleng kepala melihat kekasih dan sahabatnya itu. Sebab mereka terlihat seperti kucing bertemu tikus yang siap menerkam di detik itu juga. Lalu bagaimana untuk bekerja sama jika seperti itu? "Ehem!" Leon berdeham dan keduanya bersamaan menoleh kearahnya. "Bahas soal apa, sih? Kenapa mesti ada dia?" sahut Denisa terang-terangan membuat Misshel seketika mencibir. "Bukannya kamu meminta untuk segera bertemu dengan Oma Hellen?" tanya Leon. "Betul. Tapi apa hubungannya dengan sekertaris, kamu?" "Aku meminta Misshel untuk membantu kita. Sebab Oma juga sangat dekat dengan Misshel," jelas Leon. "Tapi--" "Tapi apa lagi?" "Memangnya kamu sendiri nggak bisa mengatasi masalah kita berdua saja?" Walau ragu Denisa tetap saja menolak dengan adanya Misshel disana. Apa lagi ikut campur dengan percintaannya yang rumit. Jelas Denisa tidak suka tetapi kembali lagi. Ini atas perintah dari Leon yang memaksa Denisa mau tidak mau harus mau pada akhirnya. Apa lagi Misshel. "Kamu tau sendiri'kan? Oma itu ... ah, masa iya harus ku ulangi lagi? Kan kamu sudah tau." "Jadi ceritanya kamu nyalahin aku sekarang?" "Maaf sayang," ucap Leon yang tiba-tiba tersulut emosi sendiri, "Bukan begitu maksutku--" "Udahlah aku pergi aja!" Denisa berdiri sontak membuat Leon tercekat bergegas berdiri dari duduknya menghampiri Denisa serta menggenggam kedua tangan kekasihnya itu. "Gitu aja udah marahan. Mana bisa membuat Oma yakin," ucap Misshel heran. "Apa kau bilang!" sahut Denisa. "Sayang, sabar. Percaya sama aku, Misshel akan membantu kita. Ya, bukannya aku nggak bisa meyakinkan Oma tapi, dengan bantuan Misshel nanti aku rasa akan lebih mudah. Tapi lebih baik kamu harus berusaha mengambil hati Oma." Leon terlihat serius seraya mendudukkan Denisa kembali, sementara Leon menarik kursi kebesarannya agar sejajar dengan kekasih itu lalu duduk berdekatan. "Bagaimana bisa aku mengambil hati Oma? Ketemu aja nggak pernah," celetuk Denisa yang masih terlihat kesal. "Maka dari itu, Misshel akan membantu kita." "Huufft... Dia lagi." "Sepertinya aku tak di kenankan berada disini. Lebih baik aku pergi saja, permisi." Misshel berdiri hendak melangkahkan kakinya namun Leon menahannya. "Tunggu, Shel." Tangan Leon terulur menggenggam lengan Misshel. "Aku berharap kamu sudi membantuku," lanjut Leon. Kedua mata Denisa melotot tepat ke arah dimana tangan kekasihnya menyentuh perempuan lain, "Sayang! Ngapain juga kamu memohon sama dia? Biarin aja dia pergi. Dan lepasin! Apa-apaan main pegang tangan segala." Denisa memaksa Leon melepas genggamannya dengan kasar. "Aduh!" keluh Misshel. "Astaga, Denisa. Dalam situasi rumit seperti ini masih saja kamu tak percaya denganku?" Leon pun merasa kesal, ia merasa usahanya sia-sia belaka. Selalu saja Denisa mempersulit apa pun cara yang menurutnya bisa dipermudah. "Aku percaya tapi..." "Bahkan aku pikir kamu nggak serius dengan hubungan kita," sahut Leon membuat Denisa tercekat tiba-tiba perasaan takut menyambut di relung jiwa. "Sayang, bukan begitu---" "Aku berjuang siang malam memikirkan hubungan kita. Bagaimana baiknya agar Oma bisa menerima kamu? Dan setelah ketemu kamu malah ... ah, sudah lah. Percuma saja aku ngomong pasti kamu tetap seperti ini." Leon membuang muka menghela nafasnya berat. Seketika Denisa pun terdiam dengan kedua mata nanar. Seakan ia menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan. Sementara Misshel yang merasa tak di hargai sama sekali oleh Denisa pun dengan cepat keluar dari ruangan Ceo meninggalkan mereka, ia tak tahan mendengar perdebatan yang malah memaksanya ikut campur. Untuk apa aku membantu orang yang bahkan tak inginku bantu. Buang-buang waktuku saja dari kemarin. Misshel kesal bergegas kembali lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. "Sayang maafkan aku. Bukan maksutku seperti itu, hanya saja ... Aku nggak suka sama sekertaris kamu yang sok pintar itu. Sok baik mau membantu tapi ujungnya nanti demi uang," ungkap Denisa seraya memeluk Leon dari belakang. Masih tak habis pikir Leon menyunggar rambutnya kearah belakang dengan kasar. "Astaga Denisa... Aku yang memintanya dan aku lebih tahu bagaimana Misshel. Lagi pula harusnya kamu fokus dengan bagaimana tujuan kita, bukan malah terus saja membahas tentang Misshel. Okey! kalau kamu nggak suka, nggak mau dibantu. Terus mau kamu gimana?" Seakan pasrah Leon tak mau ambil pusing dengan sikap Denisa. Leon yang biasanya sabar seakan habis batas kesabarannya. Kini ia mulai abai tanpa membalas pelukan Denisa dimana bulir air mata kekasihnya terus saja membasahi kedua pipinya. "Aku nggak tau," rengek Denisa bingung dan semakin mengeratkan pelukannya. Leon menarik nafasnya dalam kemudian mengeluarkannya kembali sambil memejamkan kedua matanya. Mau marah juga percuma ia tak mungkin bisa marah kepada Denisa. Tapi harus bagaimana lagi? Apa yang harus Leon lakukan? Dengan perlahan ia melepaskan pelukan Denisa lalu berbalik hingga keduanya saling berhadapan. Menatap serta menghapus air mata yang membasahi kekasihnya itu dan kemudian menenggelamkan kepala Denisa kedalam dadanya. "Maafkan, aku," ucap Denisa. "Sudahlah lupakan saja," sahut Leon lalu mengecup kepala Denisa, kekasih yang teramat ia sayangi sekenanya. "Jangan marah lagi, aku takut." Denisa mengeratkan kembali pelukannya sembari mencebikkan bibirnya lucu. "Mana ada aku marah?" "Itu tadi?" ujarnya dengan mendongakkan wajah. Menatap Leon yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum. "Tadi itu bukan marah, cuma kesal aja sedikit," ungkap Leon tiba-tiba terkekeh geli. "Ih! Apa bedanya? Sama aja kesal sama marah!" protes Denisa, "Lagi pula ngapain ketawa, nggak ada yang lucu." Denisa berbalik kesal lalu mengendorkan tangannya namun dengan cepat Leon memeluknya dengan erat yang akhirnya Denisa tersenyum kemudian membalas pelukan Leon Abrizam Morine, kekasihnya. "Jadi, kapan Misshel membantu kita? Ya. Asal dia tulus aja sih bantunya, tanpa embel-embel apa pun. Asal kita bisa cepat bersatu juga, nggak apa-apa deh di bantu dia," tutur Denisa akhirnya. "You are sure?" Denisa mengangguk, lalu menjawab, "Ya. Aku yakin. Memang kenapa? Apa kamu berganti meragukanku?" "Tidak sedikit pun." Leon mengecup kening Denisa penuh kasih sayang. Terlihat raut wajah tampan Leon begitu bahagia setelah mendengar jawaban Denisa yang akhirnya luluh. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN