Timonty tampak berjalan tergesa-gesa dari arah lift. Ia bahkan terlihat panik dengan cepat menghampiri Misshel yang tengah sibuk dengan secarik kertas yang berada di hadapannya. Setelah sampai di depan Misshel, Timonty berupaya mengatur nafasnya yang seakan habis lari maraton. Dadanya kembang kempis ia pun langsung meraih segelas air putih milik Misshel lalu kemudian, meneguknya sampai habis tak tersisa.
Misshel yang menyadari keberadaan Timonty pun melongo dengan apa yang sahabatnya lakukan.
"Kamu habis ngapain sih, Tim?"
"Shel. Itu..." Timonty masih mengatur nafasnya, "Nyonya Hellen... Dia ada dibawah." lanjutnya.
"Hah!" sahut Misshel terkejut.
Misshel pun segera beranjak dari duduknya menuju ruang Ceo. Dimana Denisa masih berada disana. Ia segera masuk tak peduli dengan apa yang tengah Leon lakukan bersama Denisa didalam.
"Permisi, maaf jika menganggu."
Denisa yang berada di pangkuan Leon pun tercekat segera berdiri seraya merapikan bajunya. Leon yang juga terkejut menjadi salah tingkah.
Misshel yang sempat melihat mereka tengah asik berciuman pun seketika menunduk malu sendiri.
"Lancang! Kamu ya," bentak Denisa garang.
"Maaf, sekarang bukan saat yang tepat untuk menyalahkanku."
"Apa maksutmu! Kau main masuk begitu saja dan tak mau di salahkan?" Denisa tidak terima.
"Sebenarnya ada apa, Shel?" tanya Leon.
Seketika Denisa menoleh kearah Leon kesal lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. Menatap Misshel kembali sebab ia sangat merasa terganggu.
"Oma ada disini. Ikutlah denganku aku tau tempat yang aman untukmu." Misshel terlihat panik, bahkan lebih panik dari Denisa yang memang tenang saja setelah mendengar alasan Misshel yang tiba-tiba datang mengusik.
"Apa?! Kenapa akhir-akhir ini Oma sering datang ke sini?" Leon menyugar rambutnya seraya berdiri dari duduknya.
"Jangan buang-buang waktu. Oma akan segera tiba disini. Dan mungkin sekarang sudah berada di lift. Ayo ikuti aku," titah Misshel kepada Denisa. Misshel pun melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Nggak!" bantah Denisa, membuat Misshel seketika berhenti serta Leon mengernyitkan dahinya. "Aku bisa sembunyi disini. Dibawah kolong meja kerja Leon, misalnya. Ngapain repot-repot ngikutin kamu," lanjutnya dengan membuang muka.
"Disini nggak aman. Buruan nggak ada waktu lagi."
Denisa tetap acuh. Gengsinya lebih besar dari pada kebaikan hubungannya dengan Leon.
"Lebih baik kamu ikut Misshel, sekarang. Dia benar. Oma sangat jeli, kamu pasti akan ketahuan nanti." Leon membujuk Denisa.
"It's oke. Aku akan ikut tapi aku yang akan jalan duluan dan kamu, di belakangku." Denisa mulai berjalan melewati Misshel yang masih menatapnya heran.
Leon pun geleng kepala melihat kekasihnya yang masih saja keras kepala. Kini ia merasa tak enak kepada Misshel yang berusaha membantunya akan tetapi sikap Denisa kepadanya malah sebaliknya. Dan benar saja, selang beberapa menit setelah Denisa keluar bersama Misshel. Hellen Morine membuka pintu lalu kemudian masuk dengan senyuman.
"Selamat pagi, Cucu Oma."
"Oma. Kenapa nggak kasih tahu Leon kalau mau kesini? Tau gitu tadi bisa barengan dari rumah." Leon pura-pura terkejut dengan kedatangan Omanya saat ini.
"Oma dengar, beberapa hari yang lalu ada seorang artis datang kesini." Hellen Morine mendudukkan diri. "Apa benar? Dan siapa, Dia?" lanjutnya seraya menatap lekat sang cucu.
Leon menelan salivanya, berusaha menutupi keterkejutannya atas apa yang dikatakan neneknya. Membuatnya sadar bahwasannya banyak mata-mata yang tengah mengintai dirinya.
"Siapa? Leon nggak ngerti siapa yang Oma maksut."
"Apa lagi, Oma," sahut Hellen Morine sambil mengedikkan bahunya.
"Oh, apa mungkin teman Misshel." Akhirnya Leon menemukan ide.
"Teman Misshel?" tanya Hellen Morine.
"Benar. Dia juga seorang artis dan sering juga datang kesini."
"Mungkin." Hellen Morine kembali mengedikkan bahunya lagi.
Leon pun merasa sedikit lega bersamaan neneknya yang sepertinya percaya. Dalam pikirannya kini tengah memikirkan Denisa. Dimana Misshel menyembunyikannya.
"Kau gila! Menyuruhku bersembunyi di dalam gudang? Benar-benar nggak waras," oceh Denisa tak terima.
"Dimana lagi? Hanya disini tempat yang paling aman. Apa kamu takut dengan tikus dan kawan-kawannya?" ledek Misshel.
"Siapa bilang. Mereka yang malah takut sama Denisa Tan," sahut Denisa sombong. Ia terlihat meneliti setiap sudut ruangan dengan tatapan aneh.
Misshel yang memperhatikan Denisa menahan tawa sedari tadi. Dimana akhirnya ia bisa memberi pelajaran kepada Denisa sebab selalu saja menolak kebaikannya serta selalu saja keras kepala.
"Kalau begitu. Aku lanjut kerja dulu. Hati-hati disini banyak tikus genit." Misshel pun melangkah meninggalkan Denisa.
"Heh tunggu!" Suara Denisa membuat Misshel berhenti lalu berbalik kearahnya kembali.
"Aku nggak mau disini. Lebih baik aku bersembunyi di toilet saja. Ah, atau di ruangan OB. Ya. Disana lebih baik dari pada disini. Mana kotor lagi! Kau lupa aku siapa? Bahkan gajimu nggak akan cukup untuk membeli ganti bajuku, kalau kotor. Apa kau mau tanggung jawab?" Denisa tersulut emosi.
Akan tetapi Misshel tampak tenang saja. Merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Tak peduli dengan status Denisa yang merupakan seorang artis yang tengah naik daun juga kekasih Leon. Yang pasti apa pun yang Denisa kenakan pastilah harganya tak hanya ratus ribuan. Namun Misshel tetap tak peduli. Kapan lagi bisa memberinya pelajaran?
"Tetap saja disana nggak aman. Oma bisa saja semaunya ketoilet, ketempat OB. Hanya tempat ini yang nggak pernah Oma jamah."
"Sok tau banget," gerutu Denisa.
"Jelas tau lah. Bahkan aku tau apa pun yang Oma suka," jawab Misshel bangga.
Denisa mengenduskan nafasnya kasar seakan tak percaya. Tak butuh lama Misshel pun benar-benar meninggalkan Denisa bersembunyi di dalam gudang hanya sendirian.
"Heh! jangan tinggalin aku sendiri." Kali ini Denisa terlihat takut. "Dasar sialan! Awas aja akan ku balas nanti."
Misshel tetap saja diam walau sebenarnya mendengar apa yang di katakan Denisa. Menutup pintu gudang namun tidak menguncinya. Sejurus kemudian ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan ekspresi senyam senyum disepanjang ia berjalan. Membuat Timonty sangat heran melihat Misshel yang masih terkekeh geli setelah mendudukkan diri.
"Shel. Kamu kenapa? Apa jangan-jangan kamu kesambet?" tanya Timonty. Rasa penasarannya lebih besar dari pentingnya pekerjaannya sekarang.
Namun Misshel bertambah geli mendengar pertanyaan Timonty.
"Shel. Kamu masih waras, kan?"
"Kau pikir aku gila. Kamu tau nggak, sekarang Denisa ada dimana?" Misshel balik tanya kali ini ia menahan tawa.
"Dimana emang?" Timonty sudah tak sabar.
"Dia ada di gudang," jawab Misshel.
"Apa?! Seorang Denisa berada di gudang? Apa nggak salah denger, aku? Kok bisa?"
"Bisalah. Kenapa enggak. Aku yang nyuruh dia sembunyi disana. Biar tau rasa dia." Seringai licik Misshel tunjukkan, seakan ia puas dengan apa yang baru ia lakukan.
Timonty melongo seakan tak percaya. Denisa artis sekaligus kekasih Ceo berada di dalam gudang. Timonty pun tak bisa membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi. Ia juga heran bagaimana bisa Misshel mendapat inisiatif untuk memberinya pelajaran. Yang mungkin Timonty sendiri tidak akan berani melakukan itu.
"Apa, Leon juga tau?"
"Dia..." Misshel lalu menggeleng.
Timonty selanjutnya hanya nyengir lalu berkata, "Hebat kamu, ya. Berani banget. Bener aja biar kapok dia. Emang orang kek begitu, harus dikasih pelajaran. Mana kesempatan kayak gitu nggak akan datang untuk yang kedua kali."
Misshel mengangguk lalu terkekeh kembali. Sejurus kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda kembali hanya untuk menyelamatkan Leon yang hampir saja kepergok oleh Hellen Morine.
Sementara Denisa yang masih di dalam gudang merasa tak tahan. Beberapa kali menggaruk bagian kulitnya yang terasa gatal. Netranya tertuju pada tumpukan buku yang berdebu. Dimana ada seekor tikus kecil yang memang tak bergerak diantara celah tumpukan buku. Entah tikus itu mati atau memang tengah mengintai Denisa. Yang pasti Denisa tidak takut.
"Itu tikus, kenapa diam aja?" gerutu Denisa lalu memberanikan diri untuk mendekat.
Dimana jarak Denisa sangat dekat namun tiba-tiba saja, ia mendengar sesuatu terjatuh dari arah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apa ada orang?" Denisa berusaha tetap tenang. Namun tak berselang lama ia pun berteriak dengan sangat lantang.
"Sialan! Dasar tikus kurang ajar!"
Emosi Denisa tersulut bersamaan tikus tadi tiba-tiba saja melompat di atas kepalanya. Denisa pun merengek-rengek ingin cepat keluar dari sana sebab badannya terasa gatal semua. Tikus yang pastinya kotor dan banyak kuman. Denisa merasa jijik. Di tambah bau debu yang sangat menyengat. Ia pun dengan cepat menghubungi Leon.
"Sayang. Angkat dong!"
Panggilannya beberapa kali tersambung namun Leon tak kunjung menjawab. Nampaknya Hellen Morine masih bersama Leon di dalam ruang Ceo.
"Siapa yang telpon?" tanya Hellen Morine kepada Leon.
"Ah, itu... Temen Leon, Oma." Dengan cepat Leon mengheningkan ponselnya.
"Kenapa nggak di angkat. Siapa tau penting."
"Biarkan saja. Paling cuma curhat tentang ceweknya," sahut Leon memberi alasan.
"Lalu cewek kamu, mana? Masa kalah sama temen kamu itu." Hellen morine membenarkan kacamatanya lalu membaca koran kembali.
Leon terdiam sejenak. Dimana suara hatinya ingin sekali jujur tentang hubungannya dengan Denisa. Namun perasaan takutnya lebih besar dari keinginannya itu. Ia teringat ketika Hellen Morine jelas-jelas tak suka dengan model majalah dimana Denisa Tan lah yang menjadi model sampulnya. Membuat Leon mengurungkan niatnya kembali.
Hellen Morine yang menyadari cucunya tak kunjung menjawab pun menoleh kearah Leon sejenak lalu melanjutkan membaca lagi.
"Kenapa diam saja?" tanya Hellen Morine membuat Leon langsung memandang sang nenek. "Bukannya, kamu sudah ada pacar?" lanjutnya.
"Hmmm... Oma pasti akan menyukainya, nanti. Dia merupakan teman Misshel juga," jawab Leon walau sedikit ragu.
"Teman Misshel? Siapa? Oma juga tahu beberapa teman Misshel, selain Timonty. Tetapi, kenapa Misshel tidak pernah bercerita dengan Oma? Tentang temennya yang juga dekat denganmu."
"Mungkin Misshel ingin aku sendiri yang memperkenalkannya kepada Oma, nanti." Leon tersenyum.
Hellen Morine menghela napas lalu berkata, "Lalu, tunggu apa lagi? Kenapa tak juga mengenalkan gadis itu kepada Oma.
"Dia masih sibuk. Sama halnya Leon yang selalu sibuk dengan pekerjaan kantor." Leon berdiri mendekati Hellen Morine lalu berlutut dihadapannya dengan mengenggam kedua tangan Omanya yang tampak mulai keriput itu. "Oma. Siapa pun dia. Leon mohon, Oma merestui hubungan kita."
Hellen Morine mengernyitkan dahinya, menatap lekat Leon, cucu kesayangannya dengan seksama. Yang mana kedua netranya kini berkaca-kaca hingga bulir bening menetes begitu saja.
"Oma menangis?" tanya Leon panik menyadari sang nenek meneteskan air mata.
"Ah, tidak. Oma hanya mengingat kedua orang tuamu saja." Hellen Morine mengusap pipinya. "Mereka pasti bahagia di Surga, sana. Melihat putranya yang kini menjadi pemimpin Morine Corporation. Dimana Ayahmu dulu juga menduduki posisi yang sama. Tetapi sayang, kecelakaan itu--"
"Oma, jangan dilanjutkan." Leon mengusap kedua pipi sang nenek. Ia pun merasa sedih jika neneknya bersedih. "Mereka pasti bahagia disana."
Sekuat hati Hellen Morine menahan air matanya, menatap bangga Leon sang cucu lalu kemudian memeluknya penuh kasih sayang.
"Sial! Sebenarnya Oma Leon sudah pergi belum, sih!" Denisa sangat kesal. Berusaha sabar menunggu tetapi juga tak ada kabar.
Denisa pun nekat keluar dari dalam gudang. Berjalan pelan dengan kedua matanya menatap awas kedepan. Dimana ia melihat ruang OB, lalu masuk kedalamnya.
"Nah. Mending disini dari pada di gudang. Mana berdebu dan banyak tikus," gumamnya lalu mendudukkan diri.
"Mbak Denis? Yang artis itu, bukan?" tanya salah satu Office boy yang kebetulan disana.
"Bukan!" Ketus Denisa. "Eh, coba kamu pergi ke ruangan Ceo sekarang. Oma Hellen masih disana apa enggak."
OB itu memicingkan kedua matanya mencoba memahami perintah Denisa. Ia pun baru menyadari penampilan Denisa yang sedikit berbeda dari Denisa seorang artis yang pernah ia lihat di televisi. Dimana Denisa yang sekarang terlihat sedikit kotor dengan rambutnya yang berantakan.
"Heh! Apa lihat-lihat! Buruan sana," bentak Denisa mengejutkan OB itu.
"Iya... sabar napa," jawab OB itu sejurus kemudian pergi meninggalkan Denisa sendiri.
Denisa berjalan kearah toilet yang mana ia melihat dirinya dari pantulan cermin. Betapa terkejutnya Denisa dengan apa yang ia lihat.
"Ya Tuhan... Ini sangat memalukan."
Dengan cemberut pun kesal Denisa mencuci kedua tangannya yang memang kotor. Selanjutnya mencuci mukanya yang juga banyak kotoran terutama debu yang menempel. Belum lagi badannya yang terasa gatal. Ah, rasanya Denisa ingin mandi saat itu juga.
"Semua ini, gara-gara sekertaris kurang ajar itu. Awas saja. Aku aduin ke Leon, nanti. Pokoknya dia harus dipecat, titik."
Bersambung...