Denisa pun memutuskan menemui Leon kembali setelah memastikan situasi sudah aman. Seperti yang diinformasikan seorang OB, tadi. Benar saja. Hellen Morine sudah tidak ada disana. Ia mendapati Leon yang masih sibuk di meja kerjanya. Alih-alih ingin mencari perhatian namun Denisa berubah pikiran. Bersamaan dengan Misshel memasuki ruangan Ceo.
"Heh! Kau sengaja mengerjaiku, kan?" celetuk Denisa.
"Apa?" sahut Misshel.
"Pakek berlagak nggak tau. Kau sengaja nyuruhku sembunyi di gudang. Kalau nggak sengaja ngerjain aku, lalu apa namanya!" lanjutnya membuat kedua mata Leon membola.
"Gudang? Apa kamu serius?" Leon ikut bertanya.
"Benar. Aku memang menyuruhnya sembunyi di dalam gudang. Dimana aku rasa gudang tempat yang paling aman. Tempat yang tidak mungkin Oma Hellen memasukinya." Misshel menjelaskan tanpa rasa bersalah.
"Bener-bener nggak masuk akal. Dasar gila!" umpat Denisa seraya geleng kepala. Sementara Leon masih tak percaya jika kekasihnya berada di tempat yang tak pernah ia duga.
"Aku tau. Kamu tadi keluar gudang dan berada di ruang OB. Lepas itu, kamu masuk ke toilet dan asal kamu tau. Saat itu Oma juga mau pergi ke ruang OB--".
"Sok tau," sahut Denisa dengan seringai sinis.
"Oma tadi memang pergi kesana," ucap Leon. Tak bermaksut membela Misshel namun ia berkata yang benar adanya.
"Jadi. Kamu masih saja membela dia?" Denisa geleng kepala. Pacarnya bahkan tak berpihak kepada dirinya.
Misshel terlihat tenang lalu berjalan kearah meja kerja Leon. Selanjutnya meletakkan dokumen yang ia bawa ke atas meja.
"Bukan begitu. Berbicara apa adanya, apa itu salah? Nyatanya Oma memang pergi kesana," jawab Leon.
"Permisi. Saya mau lanjut kerja," pamit Misshel berlalu melewati Denisa yang menatapnya penuh kebencian.
Sebisa mungkin Denisa menahan amarah yang mungkin takkan berguna jika ia luapkan. Raut kesedihan ia tampakkan di depan Leon. Yang mana bulir beningnya kini pun membasahi kedua pipinya.
Leon yang masih terdiam pun perlahan mendekat. Serta ingin menghapus air mata itu. Namun Denisa menolak.
"Jangan sentuh aku."
Leon tak mengerti kenapa Denisa seperti itu. Dimana ia melihat baju Denisa kotor. Disaat itulah ia baru memahami apa yang tengah kekasihnya rasakan.
"Kenapa? Kenapa selalu seperti ini? Kenapa aku harus bersembunyi. Seakan aku ini aib yang bahkan di tempat umum pun tak boleh ada yang tau," ungkapnya meluapkan segala isi hati yang kian terasa sesak.
Leon menatap penuh arti, seakan ia mampu memahami. "Maafkan, aku."
"Aku tak butuh kata maaf." Denisa menatap nanar kedua mata Leon. "Aku hanya butuh pengakuan. Karena aku milikmu. Milikmu, Leon."
Leon pun mengangguk. Seketika ia merasa dirinya itu pengecut dan tiada berguna. Terus menyembunyikan hubungan cintanya tidaklah baik untuk mereka sendiri.
"Dan mulai detik ini juga. Aku nggak mau sembunyi lagi. Aku bukan maling. Aku juga punya perasaan. Apa kamu lupa? Kamu juga sudah berjanji tetapi, bahkan sering." Bibir Denisa sampai bergetar.
Seketika Leon memeluk kekasihnya yang kini berderai air mata karena kesalahannya. Salahnya yang membiarkannya merasa takut. Salahnya yang terlalu sering membuat air mata itu keluar dari mata indah seorang Denisa. Salahnya yang tak juga memberi tahu Denisa kepada sang nenek.
"Kamu nggak tahu. Betapa takutnya aku di dalam gudang." Denisa semakin mengeratkan pelukannya, bahkan tubuhnya sampai bergetar kedinginan.
"Maafkan aku. Setelah ini takkan ada lagi kata sembunyi. Aku janji." Leon mengecup kening kekasihnya lalu mengelus rambutnya.
"Buktikan."
Leon mengangguk pelan. Misinya sekarang segera mempertemukan Denisa dengan sang Oma.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Leon demi menebus kesalahannya.
Leon tak ingin hal buruk terjadi lagi kepada kekasihnya. Yang mana kejadian tadi sangat membuat kekasihnya terpukul. Ia sangat berharap tak akan terjadi sesuatu kepada Denisa, setelah kejadian ini. Baru kali ini Leon melihat Denisa sampai bergetar, takut. Ia takkan menyalahkan Misshel atas semua yang terjadi. Dimana Misshel sebenarnya hanya ingin membantunya. Leon yakin sahabatnya tak mungkin sejahat itu.
Sejurus kemudian Leon menginjak pedal gas. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen dimana Denisa tinggal. Sesekali ia menoleh kearah kekasihnya yang tengah tertidur dan tampak lelah.
***
"Shel. Setelah aku pikir-pikir. Apa tadi nggak berlebihan? nyuruh Denisa ngumpet di gudang." Timonty sambil mengunyah makan siangnya.
Timonty merasa iba setelah melihat Denisa didepan lift bersama Leon. Dilihatnya Denisa berbeda seperti biasanya, Denisa yang sok galak dan judes. Kini lebih terlihat seakan Denisalah yang telah teraniaya.
"Enggak. Dia fine aja tadi."
"Tapi yang aku lihat tadi, kek beda banget gitu. Kayak orang takut. Pokoknya nggak seperti biasanya," ucapnya.
"Kamu kayak lupa aja. Dia'kan artis. Jagolah kalau cuma ekting begitu aja. Apalagi Leon anaknya nggak tegaan. Udah, masuk tuh dalam perangkap." Misshel menyesap minuman dinginnya. Dimana mereka tengah makan siang di tempat biasa.
Timonty mengangguk paham seraya menyendok makanannya kembali. Denisa hanya ekting, masuk akal juga menurutnya.
"Kamu tau nggak. Aku pun capek terpaksa ngikut urusan mereka. Apa kamu nggak mikirin perasaanku juga?" ledek Misshel akhirnya.
"Iyalah. Aku bisa ngerti," jawab Timonty namun tak begitu jelas sebab ia sambil menguyah makanan yang penuh dalam mulutnya.
Paham bagaimana bila dirinya berada di posisi Misshel saat ini. Timonty tak berani membahasnya lagi.
"Tim. Nanti temenin aku cari baju, yuk?"
"Untuk Kenan?" tebak Timonty yang tidak meleset. Ia tahu betul tidak mungkin Misshel beli baju untuknya sendiri kalau tidak kepepet.
"Hmm. Beberapa bajunya sudah tak layak pakai. Rasanya cepet banget adikku tumbuh besar. Dan aku bertambah tua saja." Misshel merasa geli.
"Apanya yang tua? Kita masih gadis wei!" protes Timonty sangat tak terima. "Nikah juga belom. Baru juga umur tujuh belas tahun," lanjutnya menolak tua.
Misshel pun tak kuasa menahan tawa. Tangannya memegang perutnya menahan tawa dengan suaranya yang keras.
"Nyatanya, teman kita sudah banyak yang menikah, Tim. Sementara kita? Malah sedikit pun nggak mikirin itu." Misshel mengelap mulutnya menggunakan tisu. Makan siangnya sudah ia habiskan tanpa tersisa namun entah kenapa rasanya masih saja lapar. Sejurus kemudian ia menyesap minumannya yang masih setengah gelas.
"Targetku menikah dengan Leon," celetuk Timonty membuat Misshel tersedak.
Misshel terbatuk-batuk seraya tangannya menutup mulut. Berharap ia salah dengar. Yang mana Timonty sukses membuatnya terkejut saat ini. Sebuah rahasia yang Misshel pun baru mengetahuinya.
"Pelan-pelan, Shel."
"Kamu tadi bilang apa?" Misshel kembali memastikan.
"Pengen menikah dengan Leon," ulangnya percaya diri.
"Apa?!" Misshel masih terkejut walau ia sudah mendengar untuk yang kedua kalinya. Rasanya sulit dipercaya, bukan. Seorang Timonty diam-diam menyukai Leon Arbizam Morine. Seorang Ceo sekaligus sahabat Misshel.
"Kok heboh gitu, sih. Jangan berpikiran macem-macem, ya. Aku nggak ada niatan sedikit pun merebut Leon dari Denisa," protes Timonty ngotot.
Namun Misshel terdiam tak habis pikir. Mencoba menelan ludahnya yang terasa dingin sedingin es batu. Bahkan ia tak menuduh sahabatnya seperti apa yang sempat Timonty katakan.
"Lalu? Apa maksutmu dengan ingin menikah dengan Leon? Kamu nggak lagi bercanda'kan, ya?"
"Enggak. Nggak salah. Aku dulu punya mimpi kepengen nikah muda, tapi nikahnya sama Ceo. Giliran udah dapet target, eh... ternyata udah keduluan Denisa," ungkap Timonty dengan pedenya.
"Nikah sama, Ceo? Jadi cita-cita kamu seperti itu?" Walau Misshel tahu itu sangat mustahil, ia tetap menangggapinya.
"Betul, Shel. Punya mimpi mah jangan tanggung-tanggung. Nikah sama Ceo'kan enak. Kita jadi ratu di rumah, suami yang kerja. Yang pasti kekayaan kita nanti nggak akan habis tujuh turunan."
"Boleh saja punya mimpi. Bahkan mimpi setinggi langit nggak ada yang larang. Tapi kalau nggak tercapai, pastinya akan sangat mengecewakan. Tetapi percayalah, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Walaupun memang, jodohmu bukan Ceo nantinya," tutur Misshel sambil mengemas benda pipihnya ke dalam tas.
Siapa pun pasti punya mimpi. Bahkan banyak yang bercita-cita setinggi langit, bebas saja. Tidak ada yang melarang. Timonty pun tidak salah. Jika memang pada akhirnya ia tak menikah dengan Leon, tak menjadi masalah untuknya. Menurutnya masih banyak target di dunia ini. Dan Ceo bukan hanya Leon seorang. Walaupun kecil kemungkinan untuk menikah dengan seorang pengusaha tampan, kaya dan mapan. Setidaknya akan menjadi pacuan semangat untuk dirinya sendiri. Sebab masa depan tak ada yang tahu.
"Walaupun nantinya jodohku bukan seorang Ceo. Ya, enggak apa-apa sih. Tapi kalau nanti ada Ceo yang tergila-gila sama aku beneran. Ya jangan salahin aku. Ya mungkin karna aku memang semenarik itu baginya." Timonty menertawai dirinya sendiri yang ia rasa lucu.
"Bisa aja kamu, Tim." Misshel pun ikut tertawa.
Sementara Leon telah sampai di apartemen lalu menyelimuti Denisa yang semakin tertidur pulas. Ia menatap lekat wajah cantik Denisa Tan yang terlihat polos dikala tidur.
"Leon..." ucap Denisa yang masih memejamkan mata. Mungkin ia tengah bermimpi.
Leon pun tersenyum lalu mengenggam tangannya. Membuat Leon semakin tak tega meninggalkan kekasihnya sendiri disana. Apartemen yang Leon belikan untuk Denisa tidaklah biasa. Leon pasti akan memberikan yang terbaik untuk kekasih tercinta. Termasuk mobil pribadi Denisa merupakan pemberian Leon juga. Bahkan ia ingin menyewa bodyguard namun Denisa menolak. Sebab apartemen beserta mobil mewah itu sudah sangat cukup baginya.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu," bisiknya lalu mengecup kening Denisa.
Leon memutuskan untuk tetap disana. Dimana ia sangat mengerti jika Denisa sangat menginginkan dirinya untuk selalu bersamanya. Mengingat hubungannya yang ... ah, sudahlah. Kali ini Leon akan tetap berada disana.
Hingga beberapa jam kemudian Denisa perlahan membuka mata. Seketika senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Dimana ia melihat Leon yang tengah tertidur di sofa tak jauh darinya. Denisa pun perlahan bangun lalu berjalan perlahan nyaris tak ada suara. Mendekati Ceo tampan yang merupakan kekasihnya. Denisa mendudukkan diri di atas lantai sambil meneliti siluet wajah yang membuatnya jatuh cinta. Dari hidungnya, matanya, bibirnya, alisnya, bahkan semua yang ada pada Leon, Denisa menyukainya tanpa terkecuali.
Bagaikan pangeran yang selalu hadir dalam mimpi Denisa. Pandangan Denisa tak beralih sedikit pun darinya. Baginya Leon lebih dari kata sempurna.
Leon yang masih berpikir Denisa masih terlelap pun bermaksut memastikan keadaan kekasihnya. Yang mana saat ia membuka kedua mata Denisa memasang senyum manisnya didepan matanya. Bahkan sangat dekat.
"Sayang. Kamu udah bangun?" tanya Leon sedikit terkejut.
"Hmm..."
"Aku pikir kamu langsung pulang, tadi. Ternyata kamu masih nungguin aku." Denisa tak menutupi rasa bahagianya.
Leon tersenyum lalu mendudukkan diri.
Sementara Denisa pun berdiri serta mendudukkan diri disamping Leon.
"Kenapa kamu menungguiku? Dan bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Karena kamu, lebih berharga dari pekerjaan itu." Leon mencolek hidung Denisa, membuat Denisa semakin senang tiada tara dengan apa yang baru ia dengar.
Terlebih tidak setiap hari bahkan sangat jarang Leon menghabiskan waktunya seharian bersama Denisa.
"Lalu? Apa kamu mau pulang sekarang juga?" kali ini Denisa terlihat sedih. Sebab Leon tengah mengenakan sepatunya kembali.
"Menurut kamu?" tanya Leon balik.
Membuat Denisa seketika mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah. Cepat pulang sana. Lagian aku udah biasa sendiri."
"Ngambek nih?"
"Nggak!"
Leon bertambah gemas saja. Ia kemudian mendongakkan wajah Denisa yang cemberut serta sempat menunduk. Mencium bibir Denisa dengan lembutnya yang seketika rasa kecewa Denisa memudar seiring kedua mata mereka yang saling memandang.
"Mau kah makan siang denganku?" tanya Leon seketika membuat Denisa tersenyum kembali.
"Jadi, kita mau pergi makan? Aku kira kamu mau pulang." Denisa memeluk Leon yang juga tersenyum memeluk dirinya.
"Tadinya aku mau pulang. Tapi, setelah aku pikir ... ada cewek cantik yang belum makan siang. Dan pasti dia sekarang lapar." Leon terkekeh sengaja meledek Denisa meski kenyataannya dirinya sendiri juga lapar.
Denisa ikut tertawa dalam dekapan ternyaman yang ia rasakan. Yang mana hanya Leon lah yang selalu memberi perhatian sekaligus yang paling mengerti. Hanya Leon harapan Denisa saat ini. Dengan hidup bersamanya akan sangat membuatnya selalu bahagia.
Bersambung...