Semangat Denisa kembali seperti sedia kala. Yang mana perasaan kecewa dan rasa kesalnya menghilang begitu saja. Ia pun segera memakai segala atribut penyamarannya seperti biasa. Dimana agar tak ada satu pun orang yang tau terlebih media masa yang selalu saja mengorek informasi tentang kehidupan Denisa sekaligus kisah cintanya.
''Untuk apa memakai ini?'' Leon melepas topi yang Denisa kenakan.
''Menyamar'kan?'' jawab Denisa dengan ekspresi heran seraya menatap Leon yang mulai melepas perlahan tempelan hitam yang ia lekatkan di pipi kanannya.
''Mulai sekarang nggak perlu pakai beginian.'' Leon tersenyum sambil menata rambut Denisa yang sedikit berantakan sebab topi yang ia lepaskan tadi. ''Kan aku sudah berjanji. Untuk apa masih nyamar?'' lanjutnya.
''Hah! maksutnya? jadi, kamu serius?''
''Hmm..'' Leon mengangguk yakin.
Membuat senyum Denisa bertambah lebar. Dengan cerianya ia kembali memeluk Leon yang akhirnya menepati janji. Tak butuh waktu lama Denisa merias diri serta mengenakan pakaian terbagus yang ia miliki. ebenarnya tak perlu berlebihan namun saking senangnya Denisa ingin terlihat lebih cantik dibanding hari hari biasa, saat mereka masih menyembunyikan status hubungan mereka. Dimana Denisa sangat yakin akan begitu banyak sorot kamera yang tidak akan menyia-nyiakan momen mereka. Terlebih Leon seorang pemilik Morine Corporation. siapa yang tak mengenalnya?
Untuk kesekian kalinya Leon terpana melihat kecantikan Denisa. Terlebih memang Denisa jarang merias wajahnya ketika bertemu dengannya dikantor. Leon masih terpaku tanpa berkedip. Meneliti setiap inci penampilan kekasihnya yang sangat sempurna.
''Jadi, bagaimana?'' tanya Denisa tersenyum menambah kecantikannya lebih sempurna.
''Sempurna,'' jawab Leon tersenyum lalu melangkah mendekati Denisa.
Denisa membalas senyumnya lalu berkata, ''Aku tahu, aku cantik. Kalau nggak cantik mana mungkin kamu mau denganku? Mana mungkin aku bisa jadi model terkenal? Dan semua ini, tak lepas dari dukunganmu. Aku sangat beruntung memilikimu. Akan tetapi, semua belum sempurna jika masih seperti ini.''
Piasnya kembali meredup. Mengingat hubungannya yang masih juga belum mendapat kepastian. Mencoba merendahkan egonya setitik lebih rendah. Walau pada dasarnya memang lah keras kepala. Tahu sendiri kebiasaan Denisa'kan?
Senyum Leon pun mengembang. "Dan mulai hari ini. Semua akan tahu. Siapa pria yang singgah di hatimu. Begitu pun sebaliknya."
Namun wajah Denisa tampak biasa meskipun Leon telah menepati janji. Rasanya masih berat saja untuk melangkah. Nyatanya belum mendapat restu dari Hellen Morine lah yang masih menghantuinya. Seakan untuk bernafas pun berat.
"Ada apa? Apa belum cukup aku membuktikan janjiku?" Dahi Leon berkerut samar.
"Aku sedang memikirkan Oma."
Leon mengerti. Sejenak terdiam lalu tersenyum kembali. Menggandeng Denisa keluar aprtemen. Denisa yang sempat terhenyak pun nurut saja sambil menatap siluet Leon dari arah samping. Yang mana Leon terlihat tenang lalu keduanya masuk ke dalam lift.
"Kenapa terlalu memikirkan itu. Kamu tak sendiri, bukan." Leon memencet tombol lantai 1. "Apa pun yang terjadi nanti, kita akan tetap bersama." Lalu menoleh dengan tersenyum kembali meyakinkan gadis yang selalu membuatnya berpikir keras. Tak tik apa yang mampu meluluhkan hati sang Oma.
"Sungguh?" Senyum Denisa pun berkembang seiring pintu lift yang terbuka perlahan.
Mereka masih berdiri disana dan saling pandang serta tersenyum. Layaknya pasangan yang lagi kasmaran. Tak peduli banyaknya orang yang tengah menunggu mereka keluar dari lift itu. Beberapa dari mereka pun ikut tersenyum seakan paham dengan apa yang mereka rasakan. Hati Denisa Tan serasa berbunga-bunga. Sejurus kemudian mereka melangkah keluar melewati orang orang yang masih terpana menyaksikan mereka. Bak seorang artis berjalan diatas red karpet.
Tunggu. Artis? Bukankah Denisa memang lah artis. Dimana salah satu dari orang didepan lift tadi sempat mengambil gambar mereka tanpa mereka sadari.
Biar begitu Denisa tak peduli. Bahkan ia merasa bangga jika seluruh dunia akhirnya tahu. Mereka berlalu meninggalkan apartemen menuju sebuah restoran.
Restoran elit yang merupakan tempat Denisa biasa berkumpul dengan teman temannya. Begitu juga dengan Leon. Beberapa rekan bisnis, sahabat, bahkan keluarga mereka sering juga makan di tempat itu. Membuat Denisa semakin tak percaya saja.
Sebab untuk pertama kalinya ia mengumbar kemesraan bersama Leon di depan publik. Tanpa harus menyamar seperti sebelumnya. Tanpa harus mengenakan topi ataupun masker penutup wajah. Bahkan ia juga menggenakan kacamata hitam yang tentunya membuatnya sangat tak nyaman.
Bagaimana tidak! Belum lagi Denisa sering kali menggenakan kaos yang kedodoran. Terlihat lucu, tapi tak lucu bagi Denisa Tan.
"Sayang. Kamu serius makan siang disini?" tanya Denisa setelah turun dari mobil.
"Apa ada masalah?"
Denisa menggeleng lalu senyumnya mengembang.
"Lihatlah. Mereka semua melihat kearah kita," lanjutnya dengan raut sedikit keraguan.
Kedua mata Leon menyapu keadaan sekitarnya. Dimana memang banyak pengunjung restoran yang sengaja merekam keberadaan mereka. Ada juga yang langsung melakukan siaran langsung lewat salah satu akun media sosial milik mereka.
Leon paham. Denisa merupakan artis yang kisah cintanya sangat dinanti dimata publik. Bahkan Leon tak takut. Keputusannya sudah bulat. Ia akan menerima segala konsekuensinya nanti.
"Siapa yang tak kenal dengan Denisa Tan? Bahkan anak sekolah dasar saja, tau. Apa kamu lupa?" tanya Leon santai lalu mengerlingkan sebelah matanya.
Entah bagaimana bisa. Kerlingan mata Leon membuat ingatan Denisa kembali sempurna. Bahkan ia bingung kenapa ia bisa lupa bahwasannya dirinya ialah artis.
"Aku? Ah, iya astaga," kikuknya menggaruk pelipisnya tak gatal.
Sejurus kemudian Leon menggandeng Denisa berjalan menuju meja yang masih kosong. Sementara para pengunjung tak melepas pandangannya dari momen yang pastinya langka bagi mereka. Seorang Denisa untuk pertama kalinya berani memamerkan pacarnya.
Leon menarik kursi untuk Denisa. "Tenang saja, jangan panik."
Denisa mengangguk lalu mendudukkan diri. Bahkan ia rasanya masih tak percaya. Bukan kali pertama ia menjadi pusat perhatian. Tetapi tetap saja Denisa merasa aneh dan risih. Jelas saja. Sebelumnya tak ada yang menghiraukannya saat berkencan dengan sang pacar. Dimana penyamarannya sukses mengelabuhi beribu pasang mata serta awak media.
Media? Hei, tunggu. Bukankah di era sekarang ini apapun serba canggih. Tentu saja. Berita tentang Denisa Tan akhirnya menyebar meskipun baru hitungan menit. Bukan info dari Denisa atau pun Leon. Melainkan akun media sosial yang menyebar luaskan gosip tentang kedekatan artis sekaligus model, Denisa Tan bersama seorang Ceo berinisial L. Dan pastinya Leon Abrizam Morine.
Yang mana akun pribadi Denisa Tan juga di banjiri banyak komentar dari penggemar. Walau hanya berupa foto makanan yang baru ia unggah beberapa detik yang lalu.
"Astaga... secepat ini?" Denisa tak pernah menduga.
"Ada apa? Netizen?" tanya Leon menerka.
"Benar." Jawaban singkat dengan raut yang sulit di mengerti. "Mereka bertanya. Siapa cowok tampan yang sedang bersamaku?" Lalu ia meletakkan benda pipihnya diatas meja begitu saja. Tanpa merespon apapun pertanyaan yang menghujani kolom komentar tiada henti.
"Sudah pasti mereka cemburu denganku." Leon terkekeh terlalu percaya diri. Yang mana ia mengakui ketampanan yang ia miliki.
Faktanya. Denisa jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dimana pertemuan tak sengaja mereka berdua hingga bertukar nomor pribadi. Terkesan cepat namun pada akhirnya mereka menjalin hubungan secara tersembunyi selama ini.
Denisa tertawa renyah. Tangannya mencubit lembut pipi kiri Leon yang putih mulus. Semulus pantatnya bayi. Menggemaskan, bukan?
"Kenapa tertawa? Memang aku tampan'kan?" Balas Leon memencet lembut hidung Denisa yang mancung.
"Iyalah... secara pacar Denisa Tan nggak ada yang jelek."
"Jadi? Aku pacar yang ke berapa?"
Denisa menempelkan telunjuknya tepat pada bibirnya, terlihat jelas ia tengah memikirkan sesuatu.
"Ke berapa ya? Bentar aku ingat-ingat dulu. Kayaknya ke seratus--"
"Apa?!" Leon tak menutupi rasa terkejutnya.
Denisa tertawa terbahak. "Makanya dengerin dulu. Orang belum selesai ngomong juga. Ke seratus tapi ... nolnya yang dua di belakang itu dihapus."
Leon seketika nyengir. Dunia yang baginya terasa gelap seketika terang kembali. Meskipun kenyataannya ia tahu jika wanitanya hanya bercanda. Sebesar itukah cinta sang Ceo?
Denisa masih saja tertawa dengan lelucon yang ia buat sendiri. Sukses membuat Leon terbelalak serta tampak kaku. Namun seketika berubah seakan bernyawa kembali.
"Eh! Apa itu?" Tunjuk Leon mengejutkan Denisa.
"Apaan?" Denisa mencari yang Leon maksut sesuai arah telunjuk sang ceo.
Dengan cepat Leon mengecup pipi wanitanya itu gemas.
"Ih, curang!" protes Denisa Tan.
Leon mengerlingkan sebelah matanya lalu terkekeh geli. Rasanya ia sukses membalas wanitanya. Yang mana mereka seakan lupa dengan banyaknya pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya dengan sang artis. Seakan sang ceo pun lupa dengan apa yang sesungguhnya menjadi penghalang hubungan cintanya dengan Denisa Tan.
Momen yang paling istimewa. Bahkan mereka tak ingin waktu cepat berlalu. Hingga setelah makan siang. Mereka masih melanjutkan kebersamaannya. Tak ada yang mengusik kebahagiaan mereka hari ini. Leon mematikan ponselnya sejak keluar dari kantor. Sedangkan Denisa mengheningkan suara ponsel miliknya.
"Dimana dia!" Geram Mario tak bisa menghubungi Leon.
"Tenanglah, Mario. Kendalikan emosimu." Nesa Rayne duduk disampingnya.
"Dia meninggalkan kantor begitu saja. Bagaimana aku bisa tenang?!"
"Bodoh!" Nesa menatap tajam putranya itu. "Ini kesempatanmu untuk melancarkan semua rencana kita. Dan satu lagi. Bocah ingusan itu sudah masuk ke dalam kandang buaya, atas kemauannya sendiri."
"Apa maksutmu, Bu?"
Nesa mengerutkan dahinya serta memicingkan kedua matanya. "Nenekmu saat ini, pasti kebakaran jenggot setelah mendengar kabar itu."
Mario baru ingat. Bahwasannya cinta saudara sepupunya itu dengan Denisa tak akan pernah mendapat restu dari sang nenek.
"Astaga. Bagaimana aku bisa lupa? Biar tau rasa si Leon." Seringai kebencian menghiasai wajah Mario yang juga tampan.
Sebenarnya Mario tidaklah jahat. Bahkan dulu ia selalu membela Leon dikala di ganggu teman sekelasnya. Namun hanya karena dendam sang ibu. Ia berubah seratus sembilan puluh derajat. Sangat tak peduli bahkan begitu benci dengan Leon, sepupunya sendiri. Hanya saja ia pandai menutupi kebenciannya dengan kebaikan yang dibuat.
"Tidak usah terlalu pusing memikirkan perusahaan. Lempar saja pekerjaanmu kepada sekertaris itu." Nesa pun kenql dengan Misshel. Namun ia juga membencinya.
Apapun bahkan siapa pun yang dekat dengan Leon ataupun Hellen Morine. Nesa serta Mario pasti membencinya juga. Terdengar kejam tapi memang begitulah mereka.
"Ide bagus." Lalu Mario memanggil Misshel.
Tak lama Misshel masuk ke ruang Ceo. Dimana Nesa kini meragukan kemampuannya.
"Bawa Dokumen ini. Selesaikan dalam waktu dua jam. Aku tunggu," perintahnya tanpa mau dibantah.
Misshel melihat tiga dokumen yang tertumpuk di atas meja. Hanya tiga dokumen, bagi Misshel hal yang kecil.
"Baik."
Misshel melangkah mendekati meja kerja ceo lalu mengambil dokumen itu.
"Bukan itu." Kini Mario yang menyahuti. "Tumpukan yang sebelah." Lanjutnya.
"I... ini?" Tunjuk Misshel memastikan.
"Mana lagi? Nggak ada yang lain'kan?" Timbrung Nesa.
Misshel seketika merasa kesal namun ia tahan. Meraih tumpukan dokumen itu lalu kemudian berlalu pergi tanpa permisi. Bersamaan itu Nesa menatap sinis Misshel yang tak menoleh sedikit pun lagi kearahnya.
Takut. No! Misshel sama sekali tidak takut. Ia tahu benar mereka tak menyukai dirinya. Mau protes pun percuma saja. Hanya buang tenaga hasilnya capek otak, capek hati. Yang mana bahkan mereka tak punya hati.
"Gila aja. Kerjaan setinggi gunung harus selesai dalam dua jam? Dia kira sulap, apa!" gerutu Misshel meletakkan tumpukan yang ia bawa dengan kasarnya ke atas meja.
"Di kiranya aku ini bodoh! Misshel di kadalin."
Misshel pun membuka salah satu dokumen itu lalu mengerjakannya. Nqmun tak semua ia kerjakan. Hanya beberapa saja. Yang mana pekerjaannya sendiri lebih penting dan harus ia selesaikan.
"Leon juga. Ceroboh banget. Yang ada pasti Shel, tolong... cuma kamu yang bisa membantuku. Males banget. Ceweknya aja kek gitu. Apa nggak malu, jika pada akhirnya memang akulah yang bisa membantu." Gerutu Misshel kali ini tentang hubungan Leon dengan Denisa yang berani mengumbar kemesraan di depan publik.
Bahkan beberapa teman Misshel yang ngefans dengan Leon. Mengorek kebenaran berita yang tengah menyebar luas itu kepada dirinya.
Mereka kira aku ini, emaknya? batin Misshel meletakkan benda pipihnya kembali.
Bersambung...