Misshel masih sering ngedumel namun jari jemarinya tak berhenti menari di atas keyboard. Sesekali netranya melirik kearah jam tangan yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
"Yes! Akhirnya selesai juga," leganya lalu menghela nafas. Tugasnya selesai tepat pada waktunya.
"Yuk pulang," ajak Timonty menghampirinya.
"Oke! Tapi aku ke kantor Ceo bentar ya," jawabnya sambil merapihkan meja kerjanya.
"Hmm..." Timonty mengangguk memperhatikan Misshel yang mulai berjalan membawa tugas yang Mario berikan.
Sesampainya di depan ruang Ceo. Dengan santainya Misshel mengetuk pintu lalu membukanya.
"Permisi." Terlihat rikuh Misshel mendorong pintu seraya membawa dokumennya.
Mario mengangguk akan tetapi tak melihat sedikit pun kearah Misshel.
Misshel paham Mario dingin sedingin es batu. Kedua netranya menyapu ruangan itu yang mana sudah tak melihat keberadaan Nesa Rayne disana. Membuatnya merasa lega saat itu juga. Takkan ada drama perdebatan jika wanita paruh baya itu sudah pergi.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan Mario."
"Dimana Leon?" tanya Mario tanpa melihatnya. Tangan beserta kedua indra penglihatannya di sibukkan dengan benda pipih miliknya.
"Maaf. Saya tidak tau dimana keberadaannya sekarang," jawab Misshel jujur.
Mario menaikkan salah satu alis matanya lalu meletakkan benda pipihnya ke atas meja. Seakan ia tak percaya dengan apa yang Misshel katakan. Yang sebagaimana mestinya sekertaris itu selalu tahu keberadaan sang ceo.
"Kau sekertarisnya. Harusnya kau tau." Mario menatapnya dingin.
Misshel menunduk. "Mr. Leon hanya bilang mengantar Denisa ke apartemen. Hanya itu saja. Selebihnya saya tidak tau."
Mario mengeryit, "Oke, pergilah."
Misshel mengangguk lalu keluar meninggalkan Mario yang masih terduduk di meja kerja sang ceo.
Mario terdiam melihat Misshel menghilang di balik pintu. Tangannya mengelus dagunya tampak memikirkan sesuatu.
"Denisa," gumamnya dengan seringai licik. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Yang pasti Mario tak suka Leon dekat dengan Denisa Tan.
Namun disisi lain Mario terlihat lebih tenang dari biasanya. Setelah mendengar berita tentang hubungan Leon di media sosial. Apa yang tengah ia rencanakan sebenarnya?
Pun Leon akhirnya memutuskan pulang setelah menghabiskan waktunya seharian dengan sang pacar. Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pandangannya jauh lurus kedepan namun tak henti terus memikirkan. Apa yang akan terjadi nanti? Omanya pasti akan sangat marah besar.
Setibanya Leon lalu memarkirkan mobil pribadinya. Berusaha tetap tenang walaupun sedikit bergetar. Menarik nafasnya dalam lalu ia keluarkan dengan perlahan. Sejenak bayangan Denisa dengan senyum mengembang terlintas dalam ingatan Leon. Membuatnya tersenyum namun, ketika ia menoleh kearah pintu piasnya berubah. Yang pasti Omanya telah menunggunya pulang. Sejurus kemudian ia turun dari mobil lalu melangkah masuk kedalam rumah.
Ruang utama terlihat sepi. Leon lanjut melangkah sambil membawa jas hitam miliknya. Malam sudah semakin larut ia pikir Omanya pun sudah tidur. Tetapi saat Leon melewati ruang keluarga, langkahnya terhenti.
"Dari mana saja?"
Leon menoleh kearah pusat suara. Dimana Hellen Morine tengah terduduk di atas sofa. Bersamaan itu Mario yang baru selesai mandi mendudukkan diri di samping Nesa Rayne yang juga ada disana. Leon menelan ludahnya serat. Perasaannya langsung tak enak.
"Oma. Oma belum tidur?" tanya Leon berjalan menghampirinya. Sejurus kemudian mencuim punggung tangan Hellen Morine dengan takzim.
"Dari mana saja kamu? Selarut ini baru pulang." Hellen Morine bersikap dingin.
Sikap Hellen Morine yang seperti ini lah yang tengah Nesa dan Mario tunggu. Mengingat Leon cucu yang amat Hellen sayangi. Selalu mendapat pembelaan dari sang Oma. Akan tetapi Nesa lebih menanti Hellen Morine meluapkan emosinya.
Leon masih terdiam. Ia sangat tahu jika sang Oma pasti sudah melihat kabar yang menghebohkan tentang dirinya.
"Kemana lagi. Pasti kencan sama artis itu," timbrung Nesa mengingatkan. Ia sudah tak sabar melihat emosi Hellen Morine meledak.
Mario menarik sudut bibirnya sebelah. Merasa puas menyaksikan Leon tersudut.
Leon menghela nafas kembali lalu mendudukkan diri di samping sang Oma. "Oma. Leon sudah pernah bilang, kan? Siapa pun pilihan Leon. Leon sangat berharap Oma merestui--"
"Dan Oma pernah bilang, kecuali artis," sahut Nesa mengingatkan namun dengan penekanan.
Leon tercekat menatap sang Oma lekat. Yang mana Hellen Morine tak memandangnya sedikit pun.
"Oma, sudah malam. Mari ku antar ke kamar." Leon mengenggam kedua tangan sang Oma yang terlihat semakin keriput.
Nesa langsung berdiri, "Leon. Kamu tau, kan? Oma tak pernah suka jika cucu-cucunya menggandeng seorang artis. Tapi apa yang kamu lakukan? Hari ini, kau sama saja dengan melempar kotoran tepat di wajah Oma."
"Tante!" gertak Leon.
"Apa?! Kau mengelak? Oma sudah tau, bahkan seantero nusantara tau," lanjut Nesa menggebu.
Leon sadar ia salah. Tetapi ia tak terima jika Nesa dan Mario ikut campur dengan urusannya. Leon tau pasti mereka tengah menertawakannya saat ini.
"Leon nggak bermaksut mempermalukan Oma!" tampiknya lalu mengalihkan pandang kearah Hellen Morine yang masih saja tak berubah. Sikap dingin sang Oma membuat dafanya terasa sesak. "Oma. Maafkan Leon. Leon tau Oma marah. Oma boleh menghukum Leon apa saja. Leon akan terima." Lalu bersimpuh mencium kedua kaki sang Oma. Yang mana dengan cepat Hellen Morine menggeser kakinya membuat Leon tercekat.
Nesa tersenyum licik pun dengan Mario. Bagi mereka Leon saat ini hiburan mereka yang paling seru.
Leon terpaku kaku dadanya semakin terasa sesak. Melihat sikap Oma-nya yang berubah drastis dalam hitungan jam.
"Lihatlah! Bahkan Oma tak sudi kau sentuh, Leon." Semangat Nesa menyindirnya.
"Jangan begitu, Bu. Kasian Leon," sahut Mario dalam kepura-puraan. Saling melirik seolah memberi isyarat dengan Nesa, ibunya.
"Oma, maafkan Leon," panggil Leon mendudukkan diri kembali di samping Hellen Morine. Namun wajah Leon seketika masam melihat sang Oma membuang muka. "Oma, tolong bicaralah. Caci maki Leon sesuka hati Oma. Lampiaskan kemarahan Oma sekarang kepada Leon. Oma, ku mohon jangan diam seperti ini," pintanya terdengar pilu.
Nesa serta Leon bertambah girang saja melihat Leon mengemis maaf. Mereka yakin Hellen Morine tak akan pernah memaafkan kesalahan Leon kali ini.
"Apa Ibu terhibur?" tanya Mario lirih.
Nesa tersenyum lalu menjawab, "Sangat terhibur. Rasanya tak ingin semua ini cepat usai."
Mario mengangguk beberapa kali, "Kita sepemikiran. Lihatlah wajahnya yang menyedihkan itu."
"Benar. Momen yang paling aku tunggu," jelasnya dengan senyum semakin lebar.
"Apa kau tak tau? Betapa cemasnya Oma memikirkanmu," ungkap Hellen Morine akhirnya bersuara.
Membuat kedua mata Nesa membelalak tak percaya. Lalu sqling pandang dengan Mario heran.
"Oma, memaafkan Leon?" Leon memastikan.
"Memangnya kamu salah apa?" sahut Hellen Morine tersenyum dengan tenang mengalihkan pandangannya kearah Nesa serta Mario. Yang mana mereka terlihat syok dengan perubahan sikapnya.
Nesa tak habis pikir mertuanya akan memaafkan Leon begitu saja. Terlebih kesalahan fatal yang Leon buat. Sangat Mustahil menurut Nesa Rayne juga Mario.
Leon tersenyum nafasnya terasa lega. "Oma. Tentang Denisa--"
"Antarkan Oma ke kamar. Penglihatan Oma sudah mulai buram. Tak semestinya Oma masih terjaga selarut ini." Hellen Morine berdiri di bantu dengan cucu kesayangannya.
"Maafkan Leon. Gara-gara menunggu Leon--"
"Tak apa. Antarkan Oma ke kamar sekarang," titahnya.
"Mari, Oma."
Sejenak Hellen Morine tersenyum kearah Nesa Rayne yang seketika membuang muka.
Leon paham dengan apa yang terjadi. "Oma."
Hellen Morine mengangguk berlalu meninggalkan Nesa bersama Mario di ruang keluarga.
Nesa mendesah. "Apa yang wanita tua itu lakukan? Dengan begitu mudah dia memaafkan?!"
Mario menggeleng kepala. "Sepertinya tidak."
Nesa mengeryit, "Apa maksutmu?"
"Apa Ibu tak menyimak percakapan mereka? Aku rasa ada yang aneh." Mario mengelus dagunya yang halus. "Oma selalu memotong setiap Leon berbicara. Bahkan Oma sama sekali tak menyebut nama Denisa," lanjutnya semakin curiga.
"Sebab wanita tua itu sudah memaafkannya, Mario." Kekehnya merasa itu hal wajar.
"Nggak. Sama sekali tak wajar," sahut Mario tetap dengan kecurigaannya.
Mario yakin ada hal yang tengah Hellen Morine sembunyikan dari mereka. Membuat Mario semakin penasaran serta dengan caranya akan menggorek kebenaran yang ada.
Bersambung...