EPISODE 17

1037 Kata
Aku berlari, terus berlari, tanpa tahu arah. Dalam Langkah Langkah itu, aku mendengar Kak Bagas memanggil manggilku. Aku terus berlari keluar gerbang, tanpa diduga sebuah mobil berjalan ke arahku dan …. Yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak pernah kubayangkan. Aku melihat Kak Bagas terkapar di atas aspal. Aku menoleh ke arah mobil yang tadi hampir menyerempetku. Ternyata Kak Bagas tadi sempat menyusulku dan buru-buru menarikku. Sementara dirinya justru terjatuh dan tersentak ke depan. Membuatnya tertabrak, alih-alih menghindar. Dan brengseknya, mobil yang tadi menabrak Kak Bagas, kini melesat jauh alias kabur. “Kak Bagas!!!” Aku berteriak kencang. Mataku membelalak menyaksikan segala yang terjadi di depanku. Segalanya terjadi begitu cepat seperti putaran film. Kak Bagas sudah terkapar setelah benda keras itu menabrak tubuhnya. Ia terjatuh di aspal dengan darah mengalir dari kepala dan langsung tak sadarkan diri. Aku segera bangkit. Melolong, menjerit, dan apa pun yang bisa ku lakukan demi mendapatkan bantuan. Hingga orang orang mulai dari satpam, warga, tukang fotokopi depan sekolah, abang bakso yang sedang nongkrong dekat gerobaknya, bapak tukang kebun… mendekat ke arah kami. Segalanya sempat ikut dilanda kebingungan. Sebelum akhirnya seorang guru datang dan dengan cekatan segera mengarahkan dan menginstruksikan segala sesuatunya.   Nuansa putih mempertegas keberadaan kami yang tengah gelisah menunggu kabar. Di sudut ruangan, Devan duduk bersama ke dua orang tuanya. Ayah Devan tampak sedang menenangkan ibunya yang tengah menangis tersedu sedu. Tepat setelah kejadian tadi, guru, entah siapa tepatnya aku tidak tahu, beliau langsung menelpon ambulans, sementara Devan langsung menghubungi ke dua orang tuanya. Suasana begitu panik dan mencekam, karena keadaan Kak Bagas penuh sekali dengan darah. Aku sendiri tidak dapat berkutik karena shock. Bahkan saat kakiku melangkah ikut naik kendaraan menuju rumah sakit, aku seperti melayang tak menapak tanah. Seolah nyawa dan tubuhku tidak menyatu. Bahkan sampai sekarang, hingga lidahku terasa kelu. Tidak jauh berbeda dari kedua orang tuanya, Devan pun terlihat sangat terpukul dan khawatir. Mungkin ia merasa bersalah, entahlah. Karena seperti Devan, aku juga merasa demikian. Sedikit berjarak dari mereka, aku duduk sudut sebuah bangku panjang, yang letaknya paling dekat dengan pintu kamar operasi.      Aku menatap pintu itu. Sampai kapan kegelisahan ini akan berlangsung? Hatiku sudah tidak tahan, air mataku terus turun, mongering, kemudian turun lagi. Diam diam aku mengingat momen momen bersama Kak Bagas. Saat itu Kak Bagas sedang mengantarku pulang. Hari itu matahari bersinar sangat terik meski sudah sore. Aku dibonceng sambil berpegangan ke seragam Kak Bagas. Kami menyusuri jalanan mulai dari jalan panjang arteri, berlanjut lewat pondok indah, lalu bawah patal senayan, sampai berakhir di blok M. Entah apa yang sedang diagendakan Kak Bagas. Dia sedang kebanyakan uang saku untuk beli bensin atau apa. Tapi, aku senang senang saja dibuatnya. Mengingat jarang jarang aku menyusuri jalanan ibu kota seperti itu. Angin terasa begitu menyegarkan tubuh yang panas karena keringat. Kak Bagas menghentikan motornya begitu kami sampai di lampu merah. Beberapa manusia silver tampak berpose di zebra cross, kemudian disusul oleh para pengamen dengan dandanan ala anak punk. Entah kenapa, firasat ku buruk. Jalanan itu tidak terlalu ramai, hanya ada dua mobil dan kami satu satunya yang mengendarai motor. Salah satu anak cowok punk melangkah mendekat ke arah kami. Ransel ku di belakang, aku tidak mau repot repot mengeluarkan dompet dari dalamnya. Bisa bisa malah kena copet. Ya meski uangnya nggak banyak, tapi kan ada kartu kartu berharga di sana. Kartu pelajar, kartu perpus, juga kartu diskon gramedia atau voucher khusus pelajar hehe. Lalu, cowok punk itu dengan tampang garangnya semakin mendekat. Aku mencengkeram kain seragam Kak Bagas, tiba tiba jantungku berpacu lebih cepat. “Kak.” Aku bersuara. “Hm?” sahut Kak Bagas dengan suaranya yang begitu khas. Kemudian cowok punk itu mengulurkan tangan yang tengah membawa bungkus plastik untuk wadah uang hasil ngamennya. Aku makin merapat. Lalu saat cowok itu bersuara dan terkesan memaksa, bahkan hendak menyentuhku, Kak Bagas buru buru menancap gas. Aku dibuatnya terantuk ke depan. Dan karena laju motornya jadi lebih kencang, aku memeluknya sambil memejamkan mata. “Nggak usah takut, Tam” kata kak Bagas, yang akhirnya berhasil menenangkanku dan mataku pun kembali terbuka. Aku masih memeluknya, meski tidak begitu erat. Matahari makin ke arah barat. Dan sisa sore itu kami habiskan bersama dengan begitu manis. Membeli satu porsi cimol untuk dimakan berdua, es cendol, lalu berakhir di depan rumah kami yang letaknya berseberangan. Momen momen indah itu tiba tiba terasa sangat jauh. Kembali ke masa kini, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Dokter keluar mendahului, disusul perawat yang mendorong troli medis. Serentak, baik keluarga kak bagas mau pun aku berdiri dan menghampiri dokter usia paruh baya yang berkaca mata dan berperut buncit itu. Wajahnya tampak lelah, juga kalau aku tidak salah,terlihat prihatin. “Operasi berhasil,” Pak dokter akhirnya bersuara. Sesaat, kami semua dilanda kelegaan. Lalu, Pak Dokter kembali bicara, ia sempat menunduk sedikit dan seperti berusaha menata kata yang pas, juga nada yang sesuai. “Tapi, pasien masih mengalami koma.” “Kami sudah mengusahakan yang terbaik. Tinggal kita menyerahkan pada sang kuasa. Sebaiknya bapak dan ibu berdoa agar pasien segera melewati masa kritisnya dan segera kembali berkumpul bersama dengan keluarga,” ucap Pak Dokter. Ucapan itu seolah memiliki dua sisi. Kami dibuat lega karena operasi berhasil, tapi juga bersedih dan khawatir karena Kak Bagas belum sepenuhnya melewati masa kritis dan belum tersadar. Lagi, air mataku dan Ibu Kak Bagas kembali mengalir. Aku menunduk. Meremas tanganku. Aku benar benar tidak ingin kehilangan Kak Bagas. Apa lagi dengan cara seperti ini. Hatiku sungguh sakit. Di sampingku, Devan beranjak pergi. Ia berlari entah ke mana. Melihat rautnya yang cukup frustrasi setelah mendengar kabar tersebut, aku pun berinisiatif untuk menyusulnya. Aku berlari menyusul langkah langkahnya yang cepat dan panjang. Napasku tersengal, tapi aku enggan menyerah. Aku terus mengejar Devan yang menuruni tangga. “Devan!” panggilku. Devan tidak menjawab. Sementara aku masih terus mengejarnya. Entah kenapa terbit rasa khawatir ia hendak melakukan hal hal kurang baik. “Devan kamu mau ke mana sih?” “Udah lah, Tam! Bukan urusan kamu!” devan membentak. Namun, aku tidak menyerah dan berhenti begitu saja. Aku meraih tangan Devan. “Bukan urusan aku gimana?” aku balas membentak. “Jelas jelas aku ada di antara kalian. Aku terlibat di sini!” Devan menggertakkan gigi.   “Ini salah gue, Tam.” Devan menunduk.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN