EPISODE 18

2598 Kata
“Ini salah gue, Tam.” Devan menunduk. Dari matanya, aku melihat ada bulir bulir air mata mulai menetes. Devan yang selama ini sepengetahuanku tidak pernah menangis. Kini pertahanannya runtuh karena melihat Kak Bagas dalam kondisi kritis. Aku bergerak mendekat ke arahnya. “Kita punya porsi salah masing masing, Dev..” Suaraku terdengar bergetar, sementara Devan terlihat menggelengkan kepalanya. Manyangkal pernyataanku. “Gue akarnya. Kalo gue nggak bohong sama lo. Kalo gue nggak sensi sama abang gue sendiri. Nggak bakal ada konflik ini. Kak Bagas nggak mungkin kecelakaan.” Aku terdiam. Masih sakit hati atas kebohongan yang dilakukannya. Namun tidak kuasa melihat rasa bersalah dan penyesalannya yang teramat sangat. “Dev…” aku berusaha merangkai kalimat. “Gue juga nggak bisa ngontrol emosi. Drama. Sampai akhirnya ada kejadiannya kayak gini. Kita semua khawatir dan sayang sama kak Bagas.” Aku mendongak menatapnya. “Ayo kita berdoa buat kebaikan Kak Bagas.” Devan masih membisu tanpa kata kata. Aku mendekat lagi ke arahnya. “Dev…” Deva malah terlihat semakin terguncang. Kulihat matanya mulai menampakkan bulir bulir air mata. Detik berikutnya, aku tidak sanggup untuk membiarkannya, hingga akhirnya aku meraihnya ke dalam pelukan. Devan menangis terguncang. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Rasa menyesal? Bersalah? Marah? Aku tidak tahu. “Dia kakak gue Tam. Gue nggak mau dia ngalamin ini semua.” Devan merintih. Napasnya tersengal. Dalam dadaku, aku juga merasakan rasa terpukul. Beragam pengandaian muncul di kepala. Andaikan saja aku tidak sedrama tadi. Andaikan aku lebih berhati hati. Andaikan andaikan andaikan…. Hanya kata itu yang bisa kupirkan. Aku berjanji. Kalau setelah ini Kak Bagas bisa Kembali sehat dan bisa tertawa ceria seperti biasanya. Aku akan memberinya kesempatan lagi. Aku harap, semuanya Kembali seperti sedia kala. **** Aku Kembali menyusuri lorong yang didominasi warna putih. Beberapa suster tampak lalu lalang membawa daftar catatan rekam medis pasien, Sebagian juga terlihat mendorong tempat tidur pasien mau pun kursi roda. Hatiku masih nyeri mendapati apa yang terjadi. Sampai sekarang, belum ada kabar tentang perkembangan kondisi kak bagas. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku dan keluarga bagas benar benar merasa berada di ujung harapan. Doa doa senantiasa terus kami panjatkan tiada henti. Mama kak bagas sudah pulang lebih dulu. Baru saja mama menghubungiku untuk menanyakan perihal kepulanganku. Pasalnya, sampai sekarang, Ketika jarum jam sudah menunjuk pukul tujuh malam, aku belum beranjak dari rumah sakit. Bahkan niatan untuk pulang pun tidak ada. Devan Bersama papanya sedang berbicara di dalam ruangan tempat kak bagas dirawat. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tidak tahu. Aku memilih duduk di bangku Panjang rumah sakit sambal sesekali menengok keadaan kak bagas dari jendela. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu ruangan kak bagas terbuka. Rupanya, Devan dan papanya sudah selesai bicara. “Tami. Kamu nggak pulang? Biar devan yang antar. Om mau di sini jagain Bagas.” Papa kak bagas bicara sambil memandang ke arahku. “Ayo Tam,” Devan yang baru saja menyusul keluar setelah papanya, bicara kepadaku. “Tapi Om..” aku hendak memotong. “Bagas pasti segera siuman. Nanti om kabari devan juga kamu ya.” Papa devan berucap dengan kalimat menenangkan. “iya. Tam. Ayo pulang dulu. Besok kita ke sini lagi.” Devan berusaha membujukku juga. Aku pun menghela napas, menyerah. “Kabarin Tami ya, Om.” Ucapku, masih khawatir. “Iya…” balas Papa Devan. Akhirnya dengan Langkah gontai, aku pun melangkah Bersama devan untuk pulang ke rumah. Meninggalkan kak bagas dengan sejuta harap, bahwa ia akan segera siuman dan Kembali. Suasana gelap rumah sakit menjadi latar utama perjalananku menuju tempat motor devan diparkir. Resah masih mengungkung diriku. Aku dan devan berjalan dalam diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibir kami. Rasa marah, kesal dan kecewa masih mengikuti. Ketika sampai di tempat parkir dan berhenti tepat di dekat motor devan diparkir, kami berhenti. Devan memberikan helm nya kepadaku. Aku menerimanya. Mataku tiba tiba memanas. Teringat biasanya kak bagas lah yang memberikan helm nya kepadaku di setiap kami jalan bareng sepulang sekolah atau pun saat akhir minggu. “Kenapa tam?” suara devan memecah kotak lamunanku. Aku menggeleng, mencoba tidak cengeng lagi. Percuma. Tangisanku tidak akan menyelesaikan masalah di antara kami. Tangisanku tidak akan sekonyong konyong membangunkan kak bagas yang kini sedang terbaring di rumah sakit. Aku mengembuskan napas, kemudian mengurlurkan tangan untuk menerima helm dari tangan devan, lalu memakainya tanpa bicara lagi. Devan yang melihatku seperti itu, ikut bungkam. Tidak cerewet seperti biasanya, apalagi sampai mengataiku dengan ocehannya yang biasanya menyebalkan. Ia menghidupkan motor dan aku mulai naik ke boncengannya. Saat itu lah air mataku yang tadi sudah mulai surut, kini mengalir lagi tak terbendung. Akibat ingatan ingatan yang menyerang kepalaku tentang kak bagas yang biasanya juga membawaku dalam boncengannya. Saat keluar rumah sakit, kami mulai bergabung dengan kendaraan di jalanan Jakarta. Devan meliak liukkan motornya dalam diam. Hanya deru mesin menemani degup jantung dan napas kami yang saling beriringan dan mungkin tengah memanjatkan doa yang sama pada satu nama, yaitu kak bagas. Semilir angin malam yang dingin menerpa. Aku menyembunyikan tanganku ke dalam kungkungan tubuhku demi suhu yang lebih hangat. Malam ini benar benar dingin dan kelam. Aku tidak pernah mengalami malam seburuk ini dalam hidupku. Akhirnya, bersama sesak yang mendera dan air mata yang perlahan mongering karena angin, kami melesat menuju rumah kami. Sesampainya di rumah, aku memasuki rumah sambil menunduk. Mama, yang sepertinya sudah menungguku sedari tadi, langsung melangkah mendekat untuk menyambutku. Mungkin sudah mendapatkan kabar dari Mama Kak Bagas, mama merentangkan tangannya untuk memelukku, membawaku dalam hangat pelukannya. Dan lagi lagi, membuatku tak sanggup membendung air mata. Tangisku tumpah ke bajunya. “Sudah… tenang Tam. Kita berdoa bareng.” Mama menepuk nepuk bahuku, mencoba meredam kekalutanku Aku hanya bisa menangis tersedu, Mama kian mengeratkan pelukan. “Semoga semua segera membaik ya. Sekarang kamu mandi, terus istirahat. Besok mama juga mau jengukin ke rumah sakit ya. Semoga waktu itu, kak bagas udah siuman,” kata Mama, aku pun menurut dan akhirnya segera naik ke kamarku untuk melepaskan segala penat. ****               Sekolah yang biasanya terasa biasa saja. Kini seperti membiru. Pagi ku tidak secerah biasanya. Tidak ada pesan dari Kak Bagas. Baik itu ajakan makan bareng di kantin, jajan bareng pulang sekolah, atau sekedar mengantarku pulang.               Lagi lagi aku sebal kepada dua kakak adik bersaudara itu. Bisa bisanya mereka menyembunyikan identitas mereka dariku. Aku merasa dibodohi, dikelabui, dan juga dipermainkan. Kenapa sih mereka harus berbohong? Memangnya mereka sedang melakukan penyamaran? Sedang menjadi buronan polisi? Atau Latihan acting? Kepalaku rasanya mau pecah saja memikirkan alasan mereka, dari yang paling masuk akal sampai yang paling nyeleneh. Semuanya tidak ada yang bisa ku terima.               Aku masih menenggelamkan kepalaku di atas meja dalam sikuku, Ketika sebuah tangan menoel pundakku. Aku tahu itu tangan milik siapa. Siapa lagi kalau bukan temanku yang super nyebelin, aneh, tapi lama lama bikin aku sayang dan kangen juga? Ya, dia adalah the one and only Hana. Semalam aku sempat menelponnya karena saking tidak kuatnya menahan sedih juga kesal. Kami curhat sampe malam. Bahkan sampai lupa mengerjakan PR. Untung saja, aku mendapat sebaran jawaban dari grup wa hehe. Sehingga pagi tadi aku tinggal menyalinnya saja. Tidak perlu repot repot berpikir.               “Udah ada kabar soal kak bagas?” hana bertanya. Rautnya terlihat seperti prihatin. Jelas saja, semalam ia habis mendengarku menangis tersedu sedu tiada henti. Pasti dia tidak tega.               Aku menghela napas berat, lalu mengembuskannya. Setengah mendengus, lalu menggeleng dengan wajah yang mungkin terlihat loyo. “Belum,” ucapku lesu. Ya, memang belum. Sedari pagi pagi buta tadi aku menunggu pesan, atau pun telepon masuk ke ponselku. Namun, tidak ada sama sekali.               Ya, pagi buta. Aku hanya bisa terlelap beberpa jam saja. Selebihnya aku begadang karena tidak bisa tidur memikirkan nasib kak bagas. Juga didera rasa bersalah yang tidak habis habis.               “Ya udah, ditunggu aja. Aku bantu doa,” kata Hana.               Detik berikutnya, aku menangkap bayangan Devan memasuki kelas. Tampangnya bisa dibilang tidak jauh berbeda dariku. Letih lesu lunglai. Kami bertatapan sesaat, lalu karena aku lebih dulu menunduk, dia akhirnya melanjutkan langkahnya untuk menuju ke bangku tempat dia duduk. Aku mendesah pelan. Rupanya memang belum ada kabar apa apa tentang kondisi kak bagas.               Tiba tiba, kurasakan Hana menyikut lenganku dari samping. Aku langsung menoleh ke arahnya. “ ada apa?” tanyaku.               “kalian masih marahan? Kok diem dieman gitu sih?” tanya hana kepadaku. Duh kenapa pake ditanya sih? Aku males bahasnya. Aku juga tidak tahu kami ini lagi ngapain. Entah marahan, musuhan, atau biasa saja. Tapi kalau pun dipikir pikir, dibilang bersikap biasa saja juga tidak. Jatuhnya malah jadi aneh. Ya, hubunganku dengan Devan ini cenderung aneh banget tau! Nggak ngerti deh aku.               Habisnya Devan juga nggak memberikan penjelasan. Tidak pula meminta maaf atas apa yang dia lakukan kepadaku. Well, mungkin kalian akan menganggapku drama. Tapi, coba posisikan diri kalian sebagai aku. Sebagai seorang sahabat yang selama ini menaruh percaya kepada sahabatmu, eh ternyata selama ini kau dibohongi. Dan ketahuannya pun juga karena kepergok, keceplosan, bukan niat jujur karena menyesali perbuatannya. Entah persahabatan ini hanya dari satu sisi saja. Entah  hanya aku yang menganggap hubungan ini sebagai hubungan pertemanan atau sahabat. Sementara Devan tidak menganggapku sedekat itu, sehingga merasa tidak perlu dan tidak ada unsur kepentingan apa pun bagiku untuk mengetahui seluk beluk kehidupan pribadinya. Atau memang Devan terlalu introvert sehingga tidak membuka perihal masalah pribadinya ke orang lain, dan sedihnya …. Aku baru sadar kalau memang aku dianggap orang lain. Loh, kok sedih sih? Memangnya kamu mau dianggap apa sama Devan, Tam?  “Nggak tau ah. Jangan bahas itu deh, Han!” aku berkata pada Hana. Hana menghela napas. Sepertinya paham dengan perasaanku sekarang. Tidak seperti biasanya, yaitu Hana yang kepo dan cerewet banget, Hana tidak bertanya soal itu lagi dan memilih membahas yang lain. “Eh, nanti olahraganya apa ya? Dapat bocoran dari anak kelas sebelah nggak?” tanyanya, dengan wajah penuh semangat. Aku menggeleng. “nggak nyari tahu juga. Ujung ujungnya sama aja. Dilakuin juga, dan meski dapat bocoran sekali pun, gue tetep nggak bisa segala bentuk dan macam olahraga. Yang paling gampang kayak senam aja gue kaku. Lari yang udah belajar dari kecil aja gue nggak kuat,” jawabku Panjang lebar. Lagian pertanyaannya nggak penting banget. “Iya tahu… tap ikan gue cuma penasaran aja Ta. Biasa aja kali,” katanya. Ya memang sih. Aku yang lebay mungkin. “Ya udah lah. Jalanin aja.” “Kayak hubungan ya?” celetuknya. Hmm… kayak yang punya hubungan sama orang aja. Oh iya nih. Jadi baru kepikiran. Selama ini, aku selalu rebut dengan hubunganku dengan kak bagas atau pun devan. Hmmm iya, meski pun aku dan devan tidak ada apa apa. Tapi kan…. Ya itu lah, kami agak aneh. Nah sementara Hana, aku nggak pernah dengar dia terlibat sesuatu bersama cowok. Kecuali terakhir kali dia pernah bilang padaku kalau dia naksir satu cowok. Yang sampai sekarang bahkan tidak jelas bagaimana kemajuan dari pernyataannya yang sempat mengejutkan ku waktu itu. Aku hanya mengedikkan bahu saja. Beberapa detik berikutnya, bel masuk sekolah berbunyi. Ah ya, aku sampai lupa kalau aku sedang di sekolah. Aku datang ke sini untuk menuntut ilmu. Bukan untuk memikirkan yang bukan bukan. Apa pelajaran pertama hari ini ya? Aku mengingatnya lebih keras. Sial! Begitu besar pengaruh kejadian kemarin terhadap kelangsungan hidup dan pola pikirku. Sudah dibebani tugas sekolah yang segitu beratnya, sekarang masih harus ditambah beban aneh aneh yang tidak seharusnya ku pikul. Aku dan Hana bersiap untuk menyambut pelajaran pertama. Wah pelajaran matematika. Rasanya aku ingin masuk UKS saja. Tidur yang nyenyak di sana. Beberapa detik kemudian, Bu Widya, guru matematika baru yang katanya baru saja lulus kuliah s2 di Malang, berjalan memasuki ruangan. Sepatunya sangat tinggi sehingga membuat tubuhnya yang sebenarnya kecil, terlihat lebih tinggi. Mungkin ini salah satu trik untuk mengakali siswa siswinya. Pasalnya, lucu saja jika gurunya terlalu kecil dibandingkan dengan siswanya. Mungkin akan sulit menampilkan kewibawaannya sebagai guru, dan akhirnya berujung tidak dihormati oleh murid murid yang ia ajar. Maka, dengan berdandan seperti itu, hal itu bisa menjadi salah satu cara agar ia lebih dihormati. Ketua kelas menyerukan aba abanya untuk kami berdiri dan bersiap menyambut kedatangan guru dan mengucapkan selamat pagi. Bu widya tersenyum, kemudian membalas sapaan kami dengan senyum tersemat di wajahnya. “Selamat pagi anak anak. Perkenalkan saya bu widya, guru matematika baru kalian. Senang bertemu kalian semua. Siswa siswi yang penuh semangat dan bibit bibit unggul dengan sejuta mimpi yang akan diwujudkan.” Katanya. Wah, guru ini lumayan menarasikan semangat dan motivasi ya, aku jadi teringat sosok motivator terkenal berkepala botak yang biasanya ada di stasiun televisi. Siapa ya Namanya? Mario teguh. Ya, dia. Bapak bapak itu. “Selamat pagi Bu…” jawab anak anak dengan suara lantang. Ya… masih pagi, energi yang berasal dari sarapan pagi yang mereka makan tadi belum habis terbakar. “Oke, saya langsung mulai saja pelajarannya. Atau kalian masih ada sesuatu yang ditanyakan?” Aku memicingkan mata. Menanyakan sesuatu? Memangnya dia sempat menjelaskan apa, sampai kami menemukan topik untuk ditanyakan? Sebelum pikiranku berkelana semakin jauh. Salah satu anak laki laki yang duduk di deretan bangku belakang mengangkat tangan lalu mengajukan pertanyaan. “Dulu sekolah di mana Bu?” tanyanya. Bu widya tersenyum, lalu ia menjawab. “Saya SD di Menteng, lalu SMP juga di sana, SMA di sekolah ini…” Saat menyebut bahwa ia adalah alumni sekolah ini juga, para murid berseru antusias. Well, memangnya apa hebatnya? Bu widya pun tersenyum. Lalu melanjutkan menguraikan Riwayat hidupnya. Nggak penting sih. Tapi anak anak suka suka saja jika waktu semakin terulur dan malah tidak jadi pelajaran. Maka tidak ada yang protes. Ya iya lah, kalau sampai ada yang rese protes, langsung dimusuhi anak satu kelas haha. “Saya melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Malang,” katanya, seperti yang dirumorkan sebelumnya. “Kok jauh Bu?”  tanya salah satu anak lagi. Aku hendak menyahut “Karena nggak diterima di Jakarta,” namun… aku ingat bahwa dia adalah olah yang paling bertanggung jawab dan memegang kendali atas nilai mata pelajaran matematika ku, mulai detik ini. Jadi aku tidak berani macam macam dan hanya bungkam saja. Dia tersenyum lagi. Duh, senyum senyum terus Bu. “Karena biayanya murah. Di sana juga ada Eyang. Bosan juga di Jakarta dari kecil. Jadi mau cari suasana baru,” jelasnya. Hmmm betulan atau tidak ya? Selanjutnya satu anak perempuan di bangku paling depan, Bernama Rina, bertanya lagi “Terus kok sekarang balik ke Jakarta lagi?” Ya karena di Jakarta lebih gampang cari duit lah! Selorohku di dalam hati. Nggak usah dijelaskan lah. Bu widya pasti tersenyum lagi. Kalian juga sudah hafal kan? Masih dengan suara yang kalem, dia menjawab “Karena di sini ada orang tua. Jadi Kembali ke tanah kelahiran,” tuturnya. Hmmm jawaban diplomatis. Duh, tunggu dulu deh. Kok aku kesannya sinis banget ya? Bagi kalian, mungkin aku kelihatan jahat banget ya? Tapi ya… begini lah aku. Kalian tidak suka, ya sudah. Aku tidak mau ambil pusing. “Sudah menikah belum bu?” tanya Aldi, cowok paling tengil dan playboy di kelas. Seluruh penghuni kelas hamper semuanya tertawa. Hana juga, kecuali aku sih. Karena udah bisa ditebak pertanyaan itu bakal muncul dari mulut sampah anak anak yang nggak bisa direm atau milah milih pertanyaan mana yang layak dan sesuai tempat. Dan ternyata, bu widya masih lajang. Hmmm, mangsa empuk buat guru olahraga kami yang masih muda dan terkenal godain cewek cewek. Duh kok banyak guru genit ya di sekolah ku. Katanya sekolah unggulan? Tapi kok begini? Jadi risih sendiri lama lama. Sesi pun berlanjut dari yang awalnya perkenalan, sampai ke cerita cerita pengalaman hidup. Hingga akhirnya bu widya mungkin tersadar bahwa ia harus menyelesaikan penjelasan satu materi ke murid muridnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN