Dan tebak, pelajaran matematika yang biasanya menguras segenap energi dan pikiran, hari ini justru membuatku mengantuk. Yap, aku mengantuk sejak bu widya bahkan baru memulai menggambar garis tiga dimensi dari tabung dalam materi kami. Garis yang seharusnya satu, kini tampak bertambah banyak dan melengkung lengkung. Mungkin ini efek dari tidur hanya dalam waktu sebentar semalam. Jadinya, tidak memenuhi porsi tidurku yang biasanya.
Aku hendak menjatuhkan kepalaku, saat Hana menyenggol sikuku. “Tam.. tuh, kamu dilihatin Bu widya tuh,” ujarnya.
Aku pun langsung melebarkan mata selebar lebarnya. Lalu, aku mencoba menatap kea rah bu widya yang melirik ke arahku. Aku hanya menunduk tersenyum, kemudian berdiri, untuk meminta izin ke kamar mandi, untuk membasuh muka. Hmmm sekalian tidur di kloset duduk enak kali ya.
Aku pun berjalan penyusuri koridor sekolah yang tampak lumayan sepi saat jam pelajaran sedang berlangsung. Aku terus melangkah, sesekali aku melemparkan pandangan ke kelas dua belas. Kelas dimana aku biasanya curi curi lihat saat sedang ke toilet. Ya, kelas siapa lagi kalau bukan kak bagas.
Aku menunduk lagi, Kembali mengaruhi kesedihan ini. Lalu, mempercepat Langkah ke kamar mandi. Berharap tidak ada yang menangkapku dalam kondisi seperti ini. Aku membuka pintu toilet. Beruntungnya, sedang tidak ada orang. Oh, ada sih. Satu orang lagi di WC. Jadi kami tidak berpapasan, dan tidak ada yang melihat wajahku yang sedang lumer oleh air mata ini.
Aku pun segera masuk ke bilik toilet. Untuk apa? Ya… untuk apa lagi kalau bukan untuk menangis lagi. Duh, padahal aku tahu ini tidak akan menyelesaikan maslaah. Tapi… sesak saja dadaku rasanya kalau dipaksa menahan tangis. Jadi, aku mengeluarkannya saja agar lega dan tidak tersiksa.
Entah berapa menit berlalu, hari ini aku lupa mengenakan jam tanganku yang biasa ku pakai di pergelangan tangan kiriku yang kecil. Yang suka merosot ke bawah atau ke atas setiap tanganku bergerak gerak. Entah mungkin karena aku terlalu aktif atau bagaimana, sampai sampai tubuhku tidak menimbun lemak. Sepertinya setiap selesai makan, kaloriku langsung terbakar bergitu saja karena gerakku yang terlalu aktif, melebihi penari atau pebasket.
Aku keluar toilet setelah membasuh muka dan berkaca cukup lama untuk memastikan benar benar bahwa mataku tidak sembab dan terlihat habis menangis. Aku tentu saja tidak ingin ditanya macam macam oleh teman teman yang lain. Well, kebanyakan mereka sih sudah tahu kejadian yang menimpa kak bagas dan aku, oh dan juga devan. Desas desus gossip sudah ibarat lambe turah yang bisa mengetahui dan menyebarkan gossip gossip ter hot. Jadi, bukan rahasia lagi mereka berasumsi atau bahkan lagi menjadikan kejadian kemarin sebagai obrolan sambil mengunyah camilan.
Mulut mulut haus! Dengusku. Entah kenapa aku jadi jengkel, padahal sesekali aku juga begitu. Bergosip dengan hana soal pacar baru kakak kelas, soal putusnya teman sekelas yang sebelumnya berantem, baik karena hal sepele maupun orang ke tiga.
Aku berjalan ke koridor. Baru beberapa Langkah, pandanganku menangkap sosok Hana yang berjalan mendekat ke arahku sambil membawa dua totebag kain yang jumlahnya ada dua, di tangan kanan, juga di tangan kirinya. Loh kok, ada tote bag ku juga. Aku melebarkan mata, mengamati tote bag itu lamat lamat, apa benar punyaku? Ngapain hana membawanya?
“Tam! Kamu lama banget ke toiletnya? Sampe pelajaran matematikanya bu widya kelar loh! Bu widya sampe mau nyuruh anak anak buat liat kamu. Takutnya kamu pingsan di kamar mandi!” Hana mencerocos sebelum aku sempat bertanya kepadanya.
“Loh kok cepet?” aku bertanya bingung.
“Ih! Bukan pelajarannya yang cepet! Tapi kamunya yang keenakan di kamar mandi!” serunya. “ kamu ngapain sih di dalem sana? Boker ya? Apa nguras kamar mandi?” tanyanya, mencerocos tanpa bisa direm.
“ada ada aja sih kamu! Mana mungkin aku nguras kamar mandi? Kamar mandi rumahku sendiri aja aku nggak pernah mau nguras. Apalagi kamar mandi sekolah! Enak dong bapak yang tukang bersih bersih kerjaannya berkurang jadi lebih ringan gara gara aku!” balasku.
“ Ya kan amal Tam… dapat pahala loh. Dosa kamu kan udah banyak banget, jadi kali aja kamu lagi ritual tebus dosa.” Katanya dengan suara lebih rendah dan pelan. Selanjutnya, tangannya yang satu terulur di hadapanku. “Nih… berat tau! Bilang apa hayooo?”
“ makasih bebeb… sayang banget deh sama kamu. Udah gemoy, baik lagi!”
“bisa bisanya nongkrong di kamar mandi. Tidur ya kamu? Untung ga kesambet. Kan rumornya kamar mandi pojok situ angker. Banyak setannya.. hihhhh” katanya sambil bergidik.
Well, Mam Tsana, guru Bahasa inggris kami, memang pernah bercerita di tengah pelajaran. Iya, waktu pelajaran. Jadi hampir semua guru guru di sekolahku tuh hobi banget bercerita cerita daripada ngajar. Ya kecuali guru matematika sama fisika sih. Boro boro cerita, jam pelajaran dull dipakai untuk mengajarkan dan menerangkan materi aja, masih suka kurang? Apalagi kalau ditambah cerita cerita, bisa bisa kami nggak istirahat atau bahkan harus tinggal di sekolah sampai malam untuk menyelesaikan pelajaran.
Oke, kembali ke Mam Tsana… jadi Mam Tsana pernah bercerita, kalo ada dulu, di salah satu Angkatan lama, ada yang pernah bunuh diri kamar mandi. Bunuh dirinya pake silet untuk meraut pensil. Murid itu mulanya meminta izin ke kamar mandi waktu jam pelajaran, kemudian tidak kembali dalam waktu yang lama. Dan setelah diperiksa, ternyata sudah meregang nyawa di kamar mandi tersebut.
Setelah mendengar cerita itu, banyak di antara anak anak yang iseng mencari fakta dengan browsing artikel artikel dengan kata kunci yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dan ternyata, benar adanya. Kejadiannya sekitar dua puluh tahun lalu, di kamar mandi cewek. Karena mengetahui kebenaran cerita tersebut, banyak dari anak anak, terutama murid cewek yang selalu mencari teman untuk barengan ke kamar mandi, karena nggak berani kalau ke toilet sendirian.
Kecuali aku… karena memang aku bahkan gak percaya setan. Beneran. Diajak nonton film horror, aku ga suka. Bukannya karena takut. Tapi, justru karena aku gak ada takut takutnya.. makanya aku mikir sia sia nonton film genre itu. Ditonton sampe melotot pun aku gak takut sama sekali, beneran. Abang abangku aja sampe bingung. Oh iya, Kak Rere sih yang paling takut setan kalau di rumah. Dia malah suka temenin aku kalo habis nonton film horror. Aneh banget emang tuh kakak satu.
Aku mengangkat bahu. “Yuk buruan ganti baju,” ajakku, sebelum kamar mandi sekolah yang kami gunakan untuk ganti baju, penuh sesak oleh cewek cewek.
Kalau gini, jadi iri sama cowok cowok. Mereka mana perlu ribet cari kamar mandi buat ganti. Ganti di kelas pun oke, tinggal lepas kaos, terus ganti celana, yang di dalamnya sudah memakai kolor pendek. Eh aku juga pake celana pendek di dalam rokku sih, tapi atasnya enggak pake kaos dobel, Cuma tank top tanpa lengan. Dan kalo dibuka di kelas, jadi pemandangan indah dong! Emangnya anak SD, yang ganti baju bareng bareng di kelas?
Hana mengikuti langkahku, dengan mempercepat langkahnya. Biasanya kalo di belakang kak bagas atau pun devan, aku yang selalu kepayahan menyamai dan menyusul Langkah mereka. Mungkin karena kebiasaan jalan sama cowok, langkahku jadi kebawa kecepatan mereka kali ya. Jadi sekarang, hana yang terlihat kewalahan dalam mengikuti langkahku yang ternyata cepat ini.
Kami masuk kamar mandi saat beberapa anak sudah mulai mengganti kemeja seragamnya dengan baju olahraga. Terlihat beberapa pasang mata melirik ke arahku Ketika aku membuka pintu dan masuk bersama Hana. Aku melengos saja, apa sih mau mereka? Kok tatapannya sinis gitu? Nyapa kek, kan kita teman sekelas. Benar benar menyebalkan.
Aku pun mengeluarkan semua pakaianku dari tote bag yang tadi dibawakan oleh hana. Aku mengeluarkan kaos, lalu celana olahraga. Ya, celana.. harusnya celana. Tapi kok, yang ada di situ cuma malah mukenah sih? Aku mulai panik, lalu mengobrak abrik ke dalam tas lagi. Dan semakin panik ketika tidak menemukannya. Aku berinisiatif untuk mengangkatnya lalu membalik balikkan tas itu agar isinya semua.
Dan benar, bahkan sampai kosong pun, celana olahragaku yang seharusnya berada di dalam sama tetap tidak muncul. Dan aku yang tadi sudah panik, kini jadi semakin panik.