EPISODE 20

1172 Kata
“Kenapa tam?” aku mendengar suara Hana bertanya, rupanya dia sedang mendekat ke arahku. Aku menoleh ke arahnya, kemudian menjawab dengan mimik wajah yang pastinya resah. “Gue lupa bawa celana, gimana dong?” keluhku. Yang juga ungkapan sedih dan putus asa. Aku berdecak. Benar benar deh, kejadian semalam atau kemarin, mengacaukan semua segi dalam hidupku. Mulai dari perasaan, jam tidur, nafsu makan, sampai dengan kelengkapan sekolah. “Yah gimana dong, pinjem anak kelas lain aja!” Hana nyeletuk. Dia malah bertanya dan menawarkan solusi konyol dan ngawur ala dia. Membuatku bukannya mendapat solusi, malah semakin bingung saja dibuatnya. Duh kenapa aku s**l sekali? Gini banget sih dunia ke aku hari ini. Sebel deh jadinya. “Duh pinjem ke mana? Mana mau sih mereka bajunya dipinjem buat keringetan. Ya gue juga nggak mau sih,” omelku. Well, hana tidak salah apa apa. Tapi karena sebal, aku jadi menumpahkan emosi kepadanya. Maaf ya han, please ngertiin aku hari ini aja. Eh, kamu udah sering ngertiin ya? Hehe, oke maaf maaf. Balik lagi, kalian ada yang punya solusi kah? Jangan diem aja dong lihat aku kesusahaan dan ditimpa kesialan kayak gini. Kalian nggak mau kan kesialan kayak gini menimpa kalian juga kelak? Teman teman yang lain menatapku kasian tanpa berusaha mencari solusi. Atau mungkin, mereka malah mensyukuri kejadian ini? Duh tami.. kenapa kamu jadi berprasangka buruk sama mereka sih? Yang terpenting sekarang adalah mencari solusinya. “Pura pura mules aja, kalo sakit… kan dibolehin ga ikut olahraga tuh,” salah satu cewek dengan tampilan boyish yang sedang memasukkan baju ke dalam ranselnya, tiba tiba bicara.               Dia Finda, cewek lumayan pendiem dan nggak terlalu suka berteman dengan yang lain. Mungkin karena sifatnya yang agak tomboy. Dia lebih suka berteman dengan anak laki laki. Well, memang lebih asyik sih berteman dengan anak laki laki sebenarnya. Nggak ribet sana sini. Simple aja gitu. Nggak jaim dan nyinyir juga. Mereka juga nggak sok sok gaul nongkrong di kafe mahal demi bisa selfie cantik. Nongkrong di warteg asal kenyang, itu lah tujuan mereka.               “Oh iya. Gue pura pura sakit aja deh. Bener. Thanks ya fin.” Aku mengucapkan terima kasih kepada Finda. Ia hanya mengedikkan bahu. Benar benar khas anak tomboy cool gitu nggak sih? Iya. Udah gitu cerdas lagi.               Aku pun tersenyum riang. Alih alih sedih, aku malah senang karena nggak usah panas panasan dan bisa tidur di UKS. Duh enaknya. Sekali kali gini nggak apa apa lah ya. Toh nggak ikut pelajaran olahraga satu kali aja nggak bikin kita nggak naik kelas kan? Kalau pun nilai olahraga ku nanti nggak bagus bagus amat, kan aku nggak bercita cita jadi atlet atau guru olahraga.               Memang cita citaku apa? Ya, meski belum tahu apa, kan yang jelas aku nggak mungkin menjadi guru olahraga. Ya tidak usah ku ceritakan lagi lah sejarah dan riwayatku di pelajaran olahraga ini seperti apa.               Ketika teman teman keluar dari kamar mandi sekolah dengan pakaian olahraganya masing masing dan bersiap mengikuti pelajaran olahraga di tengah sinar matahari yang sedang terik teriknya menerpa, aku memasang Langkah gontai dan wajah kusut  supaya terlihat benar benar sakit. Hana, tanpa dikode atau pun diminta, langsung digap mendekat ke arahku dan meraih lenganku seolah olah aku benar benar lemah dan butuh pertolongan dan bimbingan untuk berjalan.               “sini tam, deket aku. Kamu pura terseok seok gitu kek.” Hana berinisiatif, idenya muncul tiba tiba seperti pemeran sinetron atau teater yang tengah melakukan improvisasi. Wajahnya begitu serius seolah menganggap hal ini sebagai ajang untuk menunjukkan bakatnya. Dia semangat sekali berakting, mengalahkanku yang sebenarnya adalah orang yang membutuhkan adegan ini.               “Aku kan acting nggak enak badan. Bukan keseleo,” protesku padanya. Ya masa aku disuruh jalan sok sok pincang pincang juga sih? Kan capek! Udah gitu jauh lagi. Aku dan hana masih harus jalan untuk menemui Pak Joko, guru olahraga kami yang sudah siap di tengah lapangan olahraga dengan peluit dan topi kebesarannya yang sepertinya tidak pernah dicuci itu. Ya, kabarnya sih gitu. Ada yang iseng mencuri bau dari topi itu saat topi itu terjatuh di dekat lapangan dan ada anak yang mengambilnya, lalu muncul rasa penasaran untuk membaui bagian dalam topi berwarna merah tua ke hidungnya. Ya, aku tau sih. Kurang kerjaan banget memang. Ya, tapi karena kejadian itu lah isu itu menyebar dan menjadi perbincangan terkenal di kalangan siswa siswi SMA ku.               “Ya kalo bisa acting dua duanya, kenapa harus Cuma satu? Mending dua penyakit sekalian aja. Biar lebih meyakinkan dan terlihat mengenaskan. Jadi Pak Joko nggak banyak tanya lagi dan malah kasihan ke kamu. Ujung ujungnya kamu dibolehin nggak ikutan olahraga tanpa ditanya tanya deh. Untung untung kalo gara gara kasihan, kamu jadi dikasih nilai sesuai kkm sama Pak Joko. Padahal, kalo kamu ikutan olahraga, bisa bisa nilai kamu di bawah KKM. Ini kamu nggak ikut, malah dapat nilai batas minimal kelulusan. Enak banget kan?” katanya, seolah baru saja menguliahiku perumpamaan brilian.               Aku menatapnya yang kini tengah memamerkan giginya karena begitu bangga dengan pemikirannya yang absurd itu. Namun, meski absurd absurd begitu, rupanya ia berhasil juga untuk menimbulkan satu harapan dalam kepalaku. Iya juga ya, kalo aku dikasih nilai tanpa usaha susah payah dan malah lebih bagus dari kalau aku usaha mati matian sampai punggung rasanya mau patah, karena harus diulan ulang tapi nggak berhasil berhasil, mending aku menuruti sarannya saja. Dikasih untung, nggak dikasih ya nggak apa apa. Nggak rugi juga kan, aku sudah menjabarnya pada kalian tadi.               Jadi ya apa salahnya mencoba? Sekalian.               Aku pun menuruti saran Hana untuk berpegangan padanya, supaya ia bisa memapahku ke tempat pak joko berada. Yang tidak lain adalah tempat anak anak berkumpul karena sudah waktunya untuk pemanasan.               Hana dan aku berjalan pelan pelan, kami sangat menjiwai acting kami. Sepertinya kalo ada sutradara main ke sekolahku, atau kalau aku ikut casting yang sering diadakan di mal mal saat aku lagi hang out sama teman teman, sepertinya aku sudah langsung dinobatkan sebagai pemeran utama dalam salah satu series terkenal atau film besar. Ck, coba saja. Hanya saja aku kurang beruntung. Kurang factor alam. Sehingga jarang berkesempatan bertemu tokoh tokoh di belakang film layer lebar atau industry hiburan serupa.               Apalagi dilihat lihat, tampangku sangat oke loh. Lebih cakep dari artis artis yang sering nongol di tv. Ya… kalo gak oke, mana mungkin kak bagas suka dan tergila gila sama aku sampe rela ngorbanin dirinya demi nyelametin aku. Hehe, sombong dikit gak papa kali ya. Emang bener kok. Meski begitu, aku sedih sekali karena bucinnya sampai membahayakan nyawa.               Aku melangkah lagi. Belum sampai banyak Langkah, aku dan hana berpapasan dengan devan yang juga baru saja keluar dari kamar mandi, yaitu kamar mandi cowok yang terletak tepat di sebelah kamar mandi cewek tempatku dan hana berganti baju tadi. Maksudku, tempat hana dan anak yang lain berganti baju. Aku tidak, karena kan lupa bawa baju olahraga. Devan, yang sudah terbalut oleh baju olahraganya, berhenti dan menatap aku juga hana dengan tatapan penuh tanda tanya.               Bukan mukanya dipenuhi tanda melengkung tanda baca tanya, tapi raut mukanya seperti menyiratkan pertanyaan di kepalanya. Ia menatapku dan hana bergantian,               “Lo kenapa Tam?”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN