“Lo kenapa Tam?” tanyanya seraya melihatku yang berupaya mengalihkan pandangan karena malas berinteraksi dengannya. Juga malas Menyusun cerita atau alasan, yang akhirnya malah ketahuan.
Devan kan terkenal rese banget. Bisa bisa rencanaku untuk bolos kelas olahraga gagal karena ulahnya yang usil dan kurang kerjaan dan hiburan, membongkar kebohonganku dan hana. Sehingga aku malah dihukum oleh Pak Joko. Seperti kasus anak lain yang tidak membawa baju olahraga saat jam pelajarannya.
Aku mendengus, ogah menjawab. Maka, seperti biasa, hana lah yang berceloteh panjang lebar menggantikanku. “Tami sakit, Dev. Badannya lemes, kepalanya pusing, tenggorokannya sakit, perutnya mual gak enak gitu, pingin muntah, terus kakinya pincang.”
Aku melotot ke arah Hana. Buset. Semua penyakit diborong olehnya. Ngeborong belanjaan yang diskon di mall mah enak. Lah ini ngeborong penyakit dong. Aku menyikut lengannya. Takutnya kan si Devan jadi curiga.
Namun, peringatanku tidak ditanggapi sama sekali oleh hana. Ia justru semakin lebay mendeskripsi setiap kesakitan yang dia karang, seolah aku menderita sekali. Devan pun menatapku khawatir. Aku jadi agak salah tingkah melihat respons dan reaksinya yang demikian. Anak ini kenapa sih? Bukannya biasanya ngatain ya?
“Ya udah sini gue anter.” Devan menawarkan.
“Loh kok lo yang nganter?” tanyaku, mendadak nyolot dan lupa harus aktic lemas. Yang seketika membuat devan membelalakkan matanya.
“Gue mau niat baik nggak boleh?” balasnya agak nyolot. “Udah sama gue aja”
“Loh loh nggak mau. Gue sama Hana aja. Lo ngapain sih ikut ikutan? Udah lo ke sana aja, olahraga” aku bersi kukuh menolak ajakannya. Pasalnya, ia memajukan Langkah kakinya yang panjang itu untuk mendekat ke arahku dan dari gerak gerik tubuhnya aku bisa melihat bahwa ia berniat untuk menarik lenganku.
“Iya devan, tami biar gue aja yang nganter dia ke uks. Lo sana deh, ke lapangan. Anak anak cowok lain udah mulai aktif tuh. Main bola. Ini kita Cuma mau lapor dulu kok ke Pak Joko, jelas Hana, tangan kirinya masih memapahku. Sok memapah sih, padahal Cuma megang doang. Karena ya, memang aku nggak kenapa kenapa.
“Ngapain pake ke sana buat lapor dulu?” tanya devan heran. “Udah sini, lo ke sana aja Han. Mulai olahraga. Dari pada lu nuntun si tami sampe kayak orang pincang gitu berdua. Mending gue aja yang si tami.” Ucap Devan, tanpa babibu, atau bahkan bertanya pendapat padaku yang notabene adalah yang bersangkutan atau dengan kata lain yang mengalami sakit. Ih, dia bener bener sotoy dan sok otoriter banget deh. Yang sakit siapa, yang merintah siapa. Pake mau ambil keputusan sendiri. Jelas jelas dia tadi nggak ada sangkut pautnya dan nggak terlibat. Eh malah sok mau ikut terlibat seenak dia. Siapa yang ngajakin dia coba? Bikin ribet aja deh. Padahal kan enak kalo sama Hana kita langsung acting ke pak joko, terus aku bisa bebas ke uks dan tidur, tanpa harus acting acting dulu di depan devan yang rese ini.
Tanpa menunggu responku, karena aku sedang melongo saja mendapati inisiatifnya, maka tau tau devan meraih tanganku dan secara tidak langsung membuat tangan hana yang sedang merangkulku di pinggang, terlepas begitu saja demi memberikan ruang atau celah kepada devan agar bisa meraih tubuhku sehingga bisa berada dalam kurungannya dan bisa untuk bertopang pada tubuhnya supaya bisa berjalan bersama ke uks.
Aku yang masih kaget dengan kelakuannya, maka hanya bisa terdiam saja mendapati perbuatannya kepadaku. Alias aku Cuma bisa pasrah. Dan aku tidak berkata apa apa juga, saat devan mulai mengarahkan tangan kiriku untuk merangkul dan memeluknya.
Loh, loh, Tami? Lo kok diem aja sih? Ga berontak, malah lebih parahnya, kurasakan pipi sialanku ini mulai memanas. Devan yang sepertinya menyadari hal itu, sedikit menoleh ke arahku. Membuatku menunduk dan malah merasakan jantungku sedikit berdebar debar. Duh, aku ini kenapa sih?
“Nggak usah gugup gitu kali, biasa aja.” Bibir devan yang s****n bin nyebelin itu nyeletuk, aku bisa menebak pasti dia sekarang lagi tersenyum tipis, terus kepalanya mendadak gede karena kepedean mampus. Hih…
Aku menoleh ke arah Hana. Di hadapanku, Hana juga hamper sama reaksinya denganku. Yakni mematung tanpa ada niat menolak, menyanggah, atau apa pun untuk menghentikan devan. Aku melotot ke arahnya, memberikan tampilan muka melas dan memohon sebagai isyarat agar dia bergerak membantah dan menyelamatkanku dari cowok jahil ini. Karena sebenarnya aku ragu dia akan membawaku ke UKS. Jangan jangan dia punya niat jahat untuk menggiringku ke kamar mandi dan menguncinya di dalam sana.
Aku menggeleng gelengkan kepalaku, mendapati pikiran aneh dan konyolku itu. Aku mendapati mata Devan melirik ke arahku. Namun aku buru buru mengalihkan pandangan kea rah Hana yang masih berdiri di sana tanpa kunjung cabut atau menolongku yang sedang di ambang kegagalan bersandiwara ini.
“Han, lo ngapain masih di situ?” tanya devan sembari kepalanya meneleng ke arah hana. Dan hana, seperti biasanya adalah hana yang kita kenal, dia selalu bersikap tiba tiba pinter dan tiba tiba nggak pinter. Disembur begitu saja oleh devan, dia langsung kicep dan langsung lupa sama nasibku.
“Oh. Itu. Ya udah deh, gue balik. Titip tami ya dev. Nggak pa-pa ya tam, sama devan. Gue tinggal dulu. Da…” ucapnya, sembari melambaikan tangan, tanpa menangkap sinyal sinyal keberatan yang berusaha ku sampaikan dari raut wajahku yang super ekspresif ini.
Kemudian, dia benar benar melangkah menjauh dari pandanganku untuk berjalan menuju lapangan olahraga tempat anak anak lain sudah berkumpul untuk melakukan pemanasan. Sementara aku dan devan masih berdiri di dekat kamar mandi.
“Udah, yuk.” Aku agak bingung ketika devan tiba tiba bicara. Ia kemudian seperti mengeratkan pegangannya terhadapku, lalu membawaku berjalan bersamanya. Kami melangkah pelan pelan seolah aku benar benar lemah tak berdaya. Di saat tubuhku bergerak begitu lamban karena sedang berpura pura sakit, lain halnya dengan jantungku. Apa yang bersarang dalam dadaku ini justru berdetak begitu cepat dan bertambah cepat setiap waktunya. Aku jadi khawatir bahwa organ ini akan loncat begitu saja keluar, atau bahkan aku sakit beneran akibat aritmia. Hmmm kalian tau kan aritmia? Itu lho, gangguan jantung karena kenaikan detak jantung yang tiba tiba. Yang super bahaya banget itu.
Maka, aku pun memutuskan untuk menyudahi kebohongan ini sebelum aku mati di pelukan devan, bahkan sebelum sampai ke uks. Mati dengan highlight berita “Siswa meninggal di pelukan temannya…” tidak lucu sama sekali.
Aku pun melepas rangkulan tangan devan dariku. Kemudian menggapai jarak untuk memberi jarak antara tubuhku dengan tubuhnya.
“Loh, kenapa?” devan bertanya kepadaku, rautnya tampak kebingungan. Karena aku melakukannya dengan mendadak.
Maka aku pun menghela napas sambil mendekat ke arahnya. “gue capek jalan begini. Gue nggak papa kok sebenernya. Gue lagi pura pura karena nggak bawa baju olahraga. Jadi lu jangan macem macem buat bocorin ini ya. Gue bakal bikin lo jadi sate kalo lo sampe bocorin ini.” Jelasku kepadanya panjang lebar.
Mata devan, yang awalnya ku kira bakal membelalak karena kaget, kini malah menyipit karena tertawa. Duh manisnya.
Loh loh, kenapa aku jadi memperhatikan tawa devan begini sih? Jangan jangan beneran ada yang salah sama otakku. Tawa devan berlangsung beberapa detik, kemudian ketika berhenti, dia menatapku lagi, setelah sebelumnya menoleh ke kanan dan kiri entah untuk apa. Padahal lagi jam pelajaran begini, koridor juga sepi karena semua murid murid dan guru di sekolah ini sedang berada di dalam ruangan. Baik ruang kelas maupun laboratorium untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Emangnya aku dan devan, yang malah berlama lama di sini?
Alih alih bicara untuk membalas perkataanku, dia malah mengulurkan tangannya untuk menggamit tanganku dan tau tau menarikku ke… aku bahkan tidak bisa berpikir karena terlalu terkejut.
Aku menahan napas selama dia menuntunku. Lalu saat aku kembali mengambil udara, aku dan devan sudah berada di dekat pilar di sisi ujung koridor. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Aku menatapnya penuh tanya saat dia mendesakku ke dinding, lalu mengurungku dengan lengannya.
“kenapa kita ke sini?” tanyaku, agak terbata.
Devan hanya menggerakkan kedua sudut bibirnya untuk membalas pertanyaanku. Bulu matanya terlihat lentik dari jarak sedekat ini. Masih tersisa senyum di wajahnya, “gue udah tau kalo lo pura pura.” Katanya. Kemudian, belum sempat aku bereaksi lagi, dia kembali bicara. “makanya, gue milih buat nganterin lo.”
Aku, setelah beberapa detik berusaha menormalkan denyut jantungku, kemudian membalas “Terus… lo lo mau apa?” tanyaku.