EPISODE 33

1792 Kata
Ya, suara yang kurang familiar. Atau mungkin, tidak familiar bagi kami para cewek cewek, tapi lumayan familiar bagi berlian, yang notabene seorang cowok? Karena suara itu.. adalah suara yang keluar dari video yang tiba tiba kembali meneruskan durasinya yang sempat terhenti karena sedang dalam mode sleep, dan kembali berjalan ketika laptop dinyalakan dan berlian tidak sengaja menyentuh tomblol spasi sehingga melanjutkan video tersebut. Video yang tidak lain adalah video film biru koleksi kak rere, yang habis dia tonton lalu lupa mematikannya karena mungkin buru buru membilas dirinya setelah mendapat pelepasan. Sial! Aku jadi malu sekali kan? Buru buru aku menyemprot supaya tidak dikira aku yang menonton video semacam itu. “eh, ini laptop abang gue!” aku berseloroh dengan nada dan wajah panik waktu itu. “tadi gue main ambil aja dari kamarnya. Kayaknya dia abis nonton ginian lupa dimatiin dan ditutup doang laptopnya karena buru buru mandi dan dipanggil Mama,” aku berucap dengan raut yang tanpa sadar menyiratkan rona merah, maksudku… aku merasa bakal kelihatan merah karena rasanya menghangat di area sekitar pipiku. “Ah bohong!” seru berlian dengan muka menyebalkan dan suara yang keras sekali. “Pasti elo nih tam, yang nonton!” lanjutnya sambil menunjuk nunjuk layar laptop, yang bodohnya belum ia tutup videonya. Aku hendak meletakkan jajan yang sedang ku nikmati lalu beralih untuk meraih laptop supaya berpindah ke tanganku dan segera menyembunyikan tontonan tidak senonoh itu, anak anak yang lain ikut menyahut, karena terpancing oleh suara lantang berlian. Mereka pun berseru seru bergantian sambil ikut menatap layar. “wah tami ternyata tontonannya bokep.” Seru anak anak yang lain, yang juga berada satu kelompok denganku. Ketika tanganku terulur untuk berusaha meraih laptop itu lagi supaya kembali ke tanganku, berlian dengan perawakannya yang lebih tinggi dan tangannya yang panjang langsung menjauhkan laptop itu dari jangkauanku. Aku mendengus sambil berteriak. “Ber! Kembaliin laptopku ih,” seruku sambil bergerak gerak berusaha mernjangkau berlian yang semakin jauh saja. Saat aku berusaha susah payah merebut laptop itu kembali, teman temanku yang lain justru bersorak sorak menggodaku. Seolah olah mereka suci dan tidak pernah kepo soal begituan saja. Well, aku memang agak kepo sih dulu waktu masih sekolah menengah pertama alias SMP, masih masa peralihan dan abg juga kan. Aku iseng ikut ikutan teman temanku untuk mengakses situs situs tertentu yang tentunya dilarang. Lalu, saat aku masih berusaha namun tidak berhasil juga, sebuah tangan tiba tiba merebut laptop itu dari tangan berlian. Rupanya itu adalah tangan milik Devan. Dan kalian tahu apa reaksi ku? Antara bersyukur tapi juga ingin menenggelamkan diri. Maluuuu!!!! Jelas devan akan berpikir macam macam, jahil, dan mengataiku tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Duh! Ku mohon, satu kali saja devan jadi baik dan tidak menyebalkan seperti biasanya. Plis… Detik berikutnya tangan devan turun. Aku tersenyum dan hendak bernapas lega begitu tangan devan terulur ke depan untuk memberikan laptop itu kepadaku. Bagus kan, dia tahu apa yang seharusnya dan patut ia lakukan. Yaitu membantu orang lemah ini. Alias melakukan kebajikan dengan mengembalikan benda itu ke pemiliknya, yang tidak lain adalah aku. Well, meski laptop itu sejatinya punya kak rer. Tapi kak rere kan kakakku, yang beli juga uang dari hasil kerja papaku. Jadi anggap saja itu milikku. Namun sayangnya, itu tidak mungkin terjadi. Devan yang seperti pahlawan super dan malaikat baik hanya aka nada di universe berbeda. Yaitu jika teori atau konsep dunia parallel mungkin berlaku dan nyata adanya, maka devan yang kubayangkan tadi ada di alternatif universe lain. Bukan di universe yang sedang aku tinggali sekarang. Karena itu, yang terjadi waktu itu adalah devan yang melebarkan mata bulatnya yang sudah lebar itu untuk menatapku. Raut wajahnya mengejek, seiring dengan kedua tangannya yang mundur dan menjauh. Kepalanya kemudian menunduk menatap layar. Senyum licik yang sepertinya sudah terpatri sejak lama di bibirnya, kini tertarik membentuk seriangaian. Diikuti tawanya yang menggema setelah melihat apa yang ada di layar laptop. Kemudian dia dengan suara tengilnya berbicara. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mengeluarkan serentetan kalimat ejekan kepadaku. “Tami! Jadi selama ini lo suka nonton ginian tam?” tanyanya, dengan suara yang aku bertaruh bisa terdengar seluruh penjuru sekolah. Pasalnya, waktu itu adalah jam pulang sekolah. Sehingga kami tidak berada di ruang kelas untuk mengerjakan tugas kelompok. Melainkan berada di gazebo gazebo yang tersebar di beberapa titik halaman sekolah kami. Maka, jika bicara dengan volume lumayan kencang, otomatis akan menyebar ke seluruh penjuru. Karena ruangan yang terbuka. “Woy guys! Ada yang mau nonton bokep gak? Nonton bareng yuk! Di laptop tami! Dia ngoleksi banyak bokep nih!” devan berseru kencang tanpa tahu malu. Jelas saja, dia kan lagi mempermalukanku. s**l s**l s**l! Aku menyumpahinya dalam hati. Dan kejadian itu aku ingat sampai sekarang, karena begitu memalukan. Dasar kak RERE! Bisa bisanya nggak hati hati kayak gini. Mending ketahuan mama lah! Dari pada aku yang jadi umpan ketahuan anak satu sekolah. Bisa dijadikan bahan olok olokkan sampai lulus nih, bahkan seumur hidup. Kemudian aku melotot ke arah devan juga meneriakinya. “Devan! Balikin, nggak!” teriakku padanya. Yang oleh anak anak lain malah disoraki ciye ciye… Sial! Dari mana ciye ciye nya? Adegan ini sama sekali nggak ada romantis atau manis manisnya sama sekali. Yang ada hanyalah adegan menyebalkan dan aku ingin membuat dirinya nyungsep sekarang juga. “Nah lo ngasih pilihan kan? Balikin atau enggak? Kalau gue milih enggak gimana?” tanya devan dengan nada super usil dan menyebalkannya. Kakiku mulai bergerak untuk mengejarnya. Ia pun ikut berlari. “Devan! Jangan dibawa lari lari laptop abang gue! Nanti rusak! Lo mau gantiin servis emangnya kalo rusak?” aku berteriak kencang. “Ih, alibi! Bilang aja ini laptop lo. Pake sok sok punya abang lo supaya nggak disangka nonton ginian hahahahah.” Ia tertawa, masih terus berlarian dan makin membuatku dongkol. “Eh bukan ya! lo kenapa sih? Mau minta ya?” aku membalikkan pertanyaannya. “Ye…. Gue mah punya banyak. Lebih hot dari ini.” Serunya. Benar benar tidak tahu malu. Tanpa sadar mengonfirmasi kebiasannya juga cowok cowok lain tentunya. Hiyyyy… dasar cowok, semua sama aja.   “Ih devan! Jorok tau! Ya udah kalo lo suka nonton dan punya lo lebih bagus ya udah! Ngapain bawa bawa laptop gue!” aku berteriak gemas dan geram level puncak, ibarat kalau ini balon, bakal meledak. Mendengar teriakan dan kalimatku yang terakhir, devan langsung membelalakkan matanya. Ia tersenyum senang seolah habis menemukan ilham untuk membalas perkataanku barusan dan makin mempermalukanku seperti yang dia mau. “tuh kan! Baru aja lo ngaku sendiri, kalo ini laptop lo” “Ih! Nggak gitu maksud gue. Tadi tuh biar cepet aja b**o! Capek gue ngomong sama lo deh!” aku berteriak, meledak dan sudah tidak bisa ku tahan tahan lagi. “devan! Siiin gue bilang!” “Iya iya gue balikin. Ayo nonton bareng.” Ia mendekat, yang langsung kusambut dengan pukulan karena kata kata tengilnya barusan. Buk Buk buk! Aku memukul bahu serta mencubit lengannya. Mendapat pukulan cukup keras dariku, devan mengaduh ria. “au au au! Iya iya! Jangan gerak terus! Tar laptop lo rusak tuh.” Devan berseloroh sambil melirik ke arahku, yang sudah memegang laptop. Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan dan penuh. Rasanya seperti habis bergulat melakukan lari marathon lima kilo meter. Capek banget. Perang dengan cowok cowok bandel memang selalu menguras tenaga. Apa lagi ditambah rasa malu yang mendera. Detik berikutnya aku menatap galak ke arah teman teman satu kelompokku yang tertawa tawa, ikut menyoraki, dan parahnya lagi.., beberapa dari mereka malah mengambil ponsel mereka dan mengambil story untuk mengabadikan dan menyebar luas kan momen kami barusan. Aku mendengus kesal, karena mereka bukannya mengerjakan tugas lebih dulu supaya waktu tidak terbuang sia sia, malah ikut bercanda canda ria. Padahal niatku tadi memberikan laptop terlebih dahulu kan untuk mempercepat waktu kerja. Nah, ini bukannya jadi cepat. Malah jadi makin lambat ditambah aku yang harus menanggung malu mulai saat itu, atau mungkin seterusnya.  “kalian tuh ya, nyebelin banget!” selorohku kepada mereka waktu itu. anggota kelompok kami ada setidaknya sekitar lima orang banyaknya. Namun, mereka malah tidakk malakukan apa apa. Gemas, aku pun duduk di pojok, tepatnya di pilar gazebo untuk menyendiri dan mengerjakan, juga bersandar di sana. Mengistirahatkan punggungku yang hampir saja lunglai dan copot sendi dan rangkaian tulang tulangnya gara gara kejar kejaran dan adu otot suara dengan devan tadi. Berlian, awal mula dari kejaduan ini, mendekat ke arahku lantas menepuk nepuk bahuku dengan lembut. Secara otomatis dan naluriah, aku menggerakkkan bahuku untuk menyingkir dari sentuhannya. “galak banget tam… Cuma bercanda kali,” katanya santai. Nggak pake minta maaf lagi.  Aku merengut tanpa berkata apa pun untuk membalasnya. Eh, dia malah memperagakan dan menirukan gerakanku sambil berbicara “Jangan sentuh aku! Aku jijik sama kamu. Aku jijik sama kamu mas!” katanya, menirukan salah satu dialog dan adegan terkenal dari salah satu sinetron yang tayang di salah satu stasiun televisi yang sedang digandrungi oleh banyak orang, terutama kaum ibu ibu, termasuk mamaku. Dan karena ibu ibu pada nonton, orang rumah yaitu anak dan suami, juga ikutan tahu dong. Apa lagi untuk mereka mereka yang Cuma punya televisi satu di rumah. Selain itu, adegan itu juga sangat viral dan banyak orang menirukannya serta banyak dijadikan meme di media sosial. Yaitu i********:, t****k, mau pun youtube. Apa lagi kalau bukan sinetron berjudul orang ke tiga yang dimainkan oleh naysila mirdan. Ya, anaknya jamal mirdad dan laudia kandau, pasangan suami istri yang sudah cerai. Yang dulu debut sinetron di rcti bareng sama kakaknya, yang Bernama nana mirdad dengan judul sinetron Liontin. Tenar banget deh pokoknya, dengan lagu soundtracknya yang dari band terkenal yaitu peter pan berduet dengan salah satu penyanyi solo legendaris Indonesia Bernama chrisye, well siapa yang tidak kenal chriye. Sosok penyanyi yang banyak menciptakan lagu lagu berkualitas dan tak lekang oleh waktu. Termasuk lagu ciptaannya yang jadi soundtrack sinetron liontin. Ini sinetron yang katanya terinspirasi oleh drama lain di luar negeri. Entah drama apa, aku juga tidak tahu. Yang jelas, sinetron ini cukup terkenal pada masanya sampai sampai aku dan teman teman cewek masa kecilku ikut memperagakan ulang salah satu adegan ikonic nya yaitu pertemuan adek kakak nana dan naysila secara tidak sengaja di lobi kantornya yang dramatis dan ikonic banget karena dibuat ala ala tabrakan, tapi bagus karena di latar belakangi oleh lagu, ekspresi, dan acting yang bagus antar pemainnya. Nah, naysila ini nantinya punya pacar namanya robi. Oh iya, di sinetron itu, nama naysila adalah indie. Nama indie juga mendadak trend waktu itu. nah yang jadi robby ini, beberapa tahun kemudian berperan menjadi suami naysila yang berselingkuh dengan orang ke tiga di rumah tangga mereka. Nah, adegan naysila waktu tahu suaminya selingkuh dan marah marah, dan nggak mau disentuh oleh suaminya ini lah yang viral dan akhirnya juga ditirukan oleh berlian. Maka melihatnya menirukan adegan ini,  membuatku sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN