Di sampingku, rupanya mama ikut duduk. Beliau meraih salah satu toples yang berisi kacang, lalu membukanya. Tangannya terulur untuk menawariku camilan tersebut. Aku pun mengulurkan tangan untuk mengambil segenggam kacang dari dalamnya, lalu memakannya sambil terus menatap ke arah layar televisi.
Saat aku tengah tengah hanyut dalam adegan mengharu biru Naruto, tiba tiba mama bicara.
“barusan mama habis ngobrol sama ibu ibu.” Mama bersuara lumayan pelan, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku menoleh ke arah mama. “ngomongin apa ma?” tanyaku.
“bagas,” sahut mama, yang seketika menghasilkan efek seperti hantaman palu godam di kepalaku. Dan juga tusukan pedang thanos di jantungku. DEG. Kak bagas? Apa yang mereka bicarakan?
Aku hendak bertanya karena penasaran. Namun, ternggorokanku tiba tiba terasa tercekat. Dan sulit sekali bersuara.
Beruntungnya, atau malah sialnya, tanpa menunggu aku mengeluarkan suara untuk bertanya lebih lanjut, mama kembali meneruskan ceritanya. “bagas masih belum sadar sampai sekarang. Udah dua minggu, dan keluarganya kayaknya mulai resah dan lelah secara fisik dan emosi”
Aku menelan ludah. Terus? Apa poinnya ngobrolin masalah itu dengan ibu ibu komplek?
“tersebar juga kalo bagas begitu karena nyelametin kamu,” kata mama. Yang otomatis membuat tanganku meremat.jermari. Resah kembali datang.
Aku menghela napas, lalu menoleh ke arah mama. Rupanya kejadian ini tidak hanya meresahkan keluarga kak bagas juga aku yang terlibat. Namun juga memberikan efek kepada mama, selaku orang tuaku. Lambat laun, omongan omongan dari orang lain pasti bermunculan tanpa bisa dikontrol. Awalnya bisa jadi penasaran dan peduli, namun lama kelamaan juga bersifat negative yaitu pergunjungan yang tentunya tidak nyaman di telinga mama.
Hening sejenak, hanya ada suara dari siaran televisi yang menayangkan ocehan khutbah no jutsu dari Naruto. Sementara kami hanya tenggelam dalam resah dan pusaran pikiran.
“Maafin aku ya ma.” Akhirnya hanya kalimat itu yang bisa lolos dari mulutku.
Kini giliran mama yang menoleh ke arahku, beliau mengulurkan tangannya untuk membelai punggungku dan satu tangan lagi menyisir rambutku. “kamu nggak perlu minta maaf. Bukan mau kamu semua musibah ini kejadian, Tam.”
Aku termenung. Tidak berhenti merasa bersalah, namun juga merasa sedikit lebih baik dengan adanya kalimat tersebut dari mama.
“Teru mama tadi gimana? Ada mamanya kak bagas juga?” aku bertanya lagi.
“nggak banyak yang bisa mama perbuat atau membela. Karena memang nggak ada yang perlu dibela. Kejadian ini murni musibah, jadi nggak ada yang bisa disalahkan atau dibela. Mamanya bagas sama devan, tadi nggak ada. Mama cuma berharap omongan omongan nggak enak nggak sampai telinga mamanya bagas dan malah membuat dia sedih dan kepikiran. Bebannya udah berat, harusnya coba dialihkan. Bukan diperparah dan dipanasin dengan omongan kayak gini. Di saat kayak gini, cuma harapan dan doa lah yang bisa kita kasih. Mama harap semuanya segera membaik, bagas bisa sadar dalam waktu dekat tanpa ada kurang suatu apa pun.” Mama berucap dengan suara lembut dan menenangkan, di sana tersirat berjuta tulus dan harap, yang semoga saja didengar oleh sang kuasa.
Aku tidak ingat kapan pernah meminta sesuatu sedalam dan sungguh sungguh seperti aku meminta kak bagas segera sadar dan bisa kembali di tengah tengah keluarganya. Ya, keluarganya dan teman temannya sudah cukup. Tidak perlu kembali kepadaku. Asal dia dan orang orang yang dia sayangi dan sudah lama terlibat dalam hidupnya hingga menjadikannya seperti sekarang bisa kembali, itu sudah cukup
“kita terus beroda aja, tam. Jangan pernah putus dan ragu sama kuasa Tuhan. Sering sering juga jengukin dia. Cuma itu satu satunya yang bisa kita lakukan sekarang ini. ” mama berucap sambil memandang ke arahku. Lalu, aku pun merentang kan ke dua tanganku untuk balas memeluknya.
****
Setelah berlama lama di kamar mandi, selain untuk merawat diri memakai lulur dan ditutup dengan body butter lembut milik mama…., alasanku berlama lama di kamar mandi adalah untuk bisa bebas menangis tanpa ada yang tahu. Ya, membiarkan air mata ini tumpah dan luruh bersama air dari shower yang mengguyuri tubuhku dari ujung rambut atas sampai ujung kaki. Menghasilkan sensasi rasa yang bermacam macam. Dari dingin yang berubah menjadi segar, kemudian tetesan tetesan air yang menyatu dengan tubuhku sedikit sedikit membuat aku mulai merasa lebih baik dan tidak terlalu tertekan seperti tadi saat mama membahas masalah perihal kecelakaan yang dialami kak bagas dan keterlibatan diriku yang digosipkan oleh ibu ibu komplek.
Setelah kurang lebih sekitar lebih dari setengah jam menguasai kamar mandi, aku keluar. Begitu keluar, udara baru terasa dingin menerpa kulit. Kemudian terpikir, kalau aku berada di dalam lebih lama lagi, mungkin aku bisa terkena hipotermia tanpa sadar dan membeku karena kedinginan.
Aku melangkah ke kamarku yang berada di lantai dua, sambil menggigil. Saat membuka pintu, pandanganku langsung dihadapkan pada jendela yang mengarah keluar, yaitu menghadap ke balkon dan jalan seberang. Tepatnya berseberangan dengan rumah seberang, yang tak lain adalah rumah kak bagas dan devan. Dan kebetulannya lagi, kamar rumah itu yang berhadapan dengan rumah ini, adalah kamar milik devan.
Dalam beberapa kesempatan aku sering mendapatinya duduk di balkon sambil memainkan gitar, seperti yang pernah aku ceritakan beberapa saat setelah pertemuan pertama kami yang meninggalkan kesan menyebalkan. Selain itu, hari hari berikutnya, baik secara tidak sengaja atau pun aku sengaja mencuri lihat keluar, yaitu ke arah kamarnya, aku tidak jarang mendapati devan sedang mondar mandir di dalam kamarnya. Semuanya bisa terekam dan terpantau dari jendela kami yang transparan, terumata di malam hari ketika devan menyalakan lampu kamarnya, tapi lupa menutup tirai jendelanya.
Duh, bener bener ceroboh ya. Untung yang terlihat aktivitas aktivitasnya yang cenderung biasa aja dan nggak terlalu privasi. Kalau sampai pas ganti baju terus dia lupa menutup tirainya, kan jadi kelihatan dari kamarku.
Untungnya aku selalu menutup tirai dan hanya menyisakan celah kecil untuk mengintip keluar. sehingga tidak memberikan banyak ruang pandang bagi pihak pihak dari luar untuk menembus pandang dan melihat pemandangan apa yang ada di dalam kamarku. Well, kalau sampai kelihatan dan aku pas ngelakuin hal hal aneh atau sedang berpose cantik pakai baju mini, kan keenakan yang lihat!
Kali ini, aku mengintip kamar devan yang lagi lagi jendelanya tidak tertutup oleh tirai. Terlihat bayangan devan tengah duduk di depan meja belajarnya, entah apa yang sedang ia tekuri. Buku? Komik? Komputer? Aplikasi edit foto? Game? Ponsel? Film bokep?
Aku bergidik sendiri membayangkannya. Aku sendiri pernah beberapa waktu lalu pinjam laptop kak rere untuk tugas kelompok, karena waktu itu laptoku lagi terserang virus setelah dicolok berbagai flash disk untuk minta film bajakan yang kusimpan, oleh anak anak satu kelasku. Atau bahkan anak anak dari berbagai kelas juga? Pokoknya, beberapa hari setelah itu, laptopku tidak bisa nyala karena mungkin kebanyakan virus dari berbagai sumber yang tidak diketahui pasti dalangnya yang mana, jadi oleh papa dibawa ke tukang servis laptop yang ada di dekat rumah, sehingga selama beberapa hari aku harus meminjam laptop kak rere, karena kebetulan dia yang nggak terlalu sibuk seperti kak yogi, sehingga kami bisa menggunakannya secara bergantian.
Suatu hari aku membawa laptop itu ke sekolah, setelah sebelumnya digunakan oleh kak rere. Saat di sekolah, aku sedang sibuk mengerjakan hal lain, atau seingatku lagi asyik makan cilok bakar yang baru saja aku beli abang abang luar sekolah, sehingga aku membiarkan temanku membuka dan menyalakan laptop supaya bisa memulai mengerjakan tugas kelompok kami terlebih dahulu sehingga dapat mempercepat waktu pengerjaan dan kami tidak pulang terlalu sore, atau bahkan malam.
Waktu itu, yang ku serahi tanggung jawab untuk memegang laptopku ada berlian, si ketua kelas cowok. Iya cowok, namanya saja yang berlian. Tapi dia cowok. Cowok tulen kok bahkan, bukan abal abal, apalagi KW. Dengan tenang, sambil bercanda canda seperti biasa, dia menekan tombol power yang terletak di sebelah pojok atas laptop.
Namun, yang terdengar bukan bunyi nada power windows untuk membuka. Melainkan tidak ada suara, karena ternyata laptop itu sedang dalam mode sleep. Rupanya kak rere lupa atau malas mematikannya setelah menggunakannya semalam.
Dan karena mengira yang terjadi adalah seperti biasa, maka berlian dengan santainya menyentuh bagian mouse pad, menggerakkan, juga menekan tangannya. Tepat pada saat itu lah, suara yang tidak familiar bagi kami terdengar.