“Bangun bangun bangun!” mama berseru lantang ketika mendapati dua anak laki lakinya masih balapan ngorok dan ngiler.
“Yogi… Rere… ayo bangun! Bantuin mama bersih bersih rumah. Mumpung hari minggu. Yogi bantu nyuci, Rere bantu nguras kamar mandi! Yuk…” Mama mengetuk pintu kamar kakak kakakku.
Aku tentu saja tidak menyia nyiakan ini untuk mengambil kesempatan untuk menggoda kakak kakakku. Dan target pertamaku adalah kak rere. Aku langsung membuka pintu kamarnya, lalu lompat di atas tempat tidurnya, bukan hanya di atas tempat tidurnya, melainkan aku naik ke punggungnya. Agar ia terkejut ketika tiba tiba menerima berat badanku.
HAP! Kak rere berjengit, tapi dia masih belum bangun. “Bangun! Bangun! Bangun!!!!” aku berteriak.
“Tami!!! Pelan pelan kalo bangunin kakaknya! Kak kakaknya marah kamu dipiting baru tahu rasa kamu.” Mama mengingatkanku. Tapi aku tidak peduli. Aku masih terus mengonyak ngoyak tubuh kak rere, dan tidak akan berhenti sampe kakakku yang bebal ini bangun.
“Ayo bangun Kak! Pacar kakak dateng tuh..!” dan kata pamungkas itu pun adalah ide brilian, karena yang selanjutnya terjadi, Kak Rere seperti disengat listrik dan langsung membuka kedua matanya.
Aku tahu bahwa itu adalah jurus jitu yang bisa dipakai untuk kak rere.
Sambil membuka matanya, kak rere berusaha bangkit. “Mana Dina!” serunya, menyebut nama pacarnya yang menurutku agak agak bitchy itu. “Tam! Minggir tam! Kamu ngapain sih? Nggak nyadar apa badan kamu ini berat, kamu udah gede!” serunya. Namun aku juga tidak menyingkir.
“Tam… ih. Awas aja kamu.” Maka kak rere pun mengeluarkan tenaganya yang mulai terkumpul setelah bangun, maka dia pun mendorongku dan membuatku terguling di tempat tidur.
“Mana pacar aku?” tanya kak rere, seperti orang linglung.
“Bohong. Nggak ada, wekkkk,” aku berucap sambil menjulurkan lidah kepada kak rere.
Kak rere pun melebarkan matanya yang sudah lebar itu, untuk melotot kepadaku, dan tanpa menunggu lama, dia langsung menghambur ke arahku. Tangannya terulur untuk menggelitiku.
“Au, ampun ampun!” aku berteriak.
“Nggak ada ampun! Kamu tuh ganggu doang!” omelnya, lalu satu tangannya bergerak untuk membungkam mulutku yang berusaha mengadu ke mama.
“Mama! Mama! Tolong! Kak Rere Ma! Pa!” aku berteriak sekuat tenaga meski suaranya sudah tidak jelas lagi karena dibekap.
“Rere! Udah udah! Mama emang yang mau kamu bangun. Adik kamu Cuma bantuin doang.” Akhirnya mama mengambil peran hehe. Yeay! Aku pun kembali menjulurkan lidahku, ketika kak rere melepaskanku. Yang langsung membuat kak rere kembali menerjangku untung menyerangku.
“Iya iya kak! Ampun.. aku nakal!” seruku sembari menghalau serangannya.
“Nah gitu! Bilang kak rere ganteng! Cepet.” Kak rere memberi titah, sembari masih mencekal tanganku.
“Kak rere ganteng.” Kataku tanpa memprotes, karena aku sudah capek. Maka, ia pun mencubit pipiku satu kali, baru akhirnya melepaskanku.
Aku pun baru bisa bernapas lega ketika akhirnya kak rere benar benar melepaskanku. Tenagaku rasanya habis. Udah belum makan, tapi udah bergulat begini. Enak kak rere bangun tidur udah aku ajak olahraga gratis. Harusnya aku dikasih uang jajan nih, bukannya dicubitin. Bener bener nih kakak satu ini.
Mungkin mendengar keributan aku dan kak rere di kamar sebelah, kak yogi yang tadinya masih tertidur pulas, kini ikut terbangun. Aku tahu dari mendengar suaranya merapikan tempat tidurnya sendiri. Memang ya, dua kakakku ini bedanya jauh banget. Udah kayak langit dan bumi. Kak yogi tanpa disuruh oleh mama, dengan santai dan senang hati membereskan kamarnya sendiri. Sejak dulu dan sudah menjadi kebiasannya hingga sekarang. Beda dengan kak rere yang males banget. Jangankan merapikan tempat tidur, merapikan baju aja dia ogah. Semua pasti harus diteriakin dulu oleh mama.
Akhirnya setelah kak rere benar benar terbangun dan mengampuniku, dalam artian tidak menganiayaku lagi, dan memutuskan untuk keluar kamarnya untuk melakukan aktivitas dan kewajibannya di akhir pekan seperti yang dikatakan mama saat membangunkannya tadi, aku pun ikut keluar dari kamarnya. Ya iyalah, mana boleh aku tinggal di kamarnya lama lama. Kakak ku yang satu ini pelit dan sensi banget. Prinsip territorial sangat berlaku untuknya. Berbeda dengan kak yogi yang lebih selow dan memperbolehkanku masuk dan tinggal di kamarnya meski dia sedang tidak ada di dalam kamarnya. Seperti beberapa waktu lalu aku sering menceritakan kepada kalian bahwa aku masuk ke kamar kak yogi saat dia pergi dan berujung pada menggeledah lemarinya yang ia gunakan untuk menyimpan buku buku serta koleksi komik komiknya, yang kebetulan punya selera sama dengan kesukaanku (well, ya iyalah, aku kan tahu soal manga dari kak yogi, dan kesukaanku juga dipengaruhi oleh seleranya. Jadi ya tentu saja selera manga kami mirip). Makanya, saat kak yogi gak ada pun, aku boleh melihat lihat lemari penyimpanannya untuk mencari komik yang belum sempat aku baca, dan membacanya atau membawanya ke sekolah. Pamer lah ya istilahnya. Giliran ada yang mau pinjem, nggak aku kasih hehe.
Begitu aku keluar dari kamar kak rere, aku mengintip ke kamar sebelah yang tidak lain adalah kamar kak yogi. Benar saja, keadaan kamar sudah rapi. Berbanding terbalik dengan keadaan kamar kak rere yang masih berantakan seperti kapal pecah. Well, aku tidak tahu kenapa semua ruangan yang berantakan dan amburadul dikaitkan dengan kapal pecah. Akhirnya aku pun ikut ikutan memakai istilah itu meski pun aku sendiri tidak pernah menyaksikan gimana kondisi aslinya dari kapal pecah itu sendiri.
Aku pun menuju ke dapur untuk melanjutkan tugasku di hari minggu yaitu membantu mama. Dari tempatku berada, suara lagu girls generation terdengar menggema di seantero ruangan kami. Kalian tahu kenapa? Kalau kedua kakakku bangun di hari libur seperti ini, itu artinya lagu kesukaan mereka yang kebanyakan merupakan girl group korea selatan, akan diputar. Seperti sekarang, lagu mister mister dari girls generation sedang berdengung menyemaraki aktivitas hari minggu keluarga kami.
Sesampainya di dapur, mama sudah mengeluarkan satu per satu belanjaan kami dari kantung pelastik yang menampungnya. Sebagian untuk diproses, sebagian lagi untuk disimpan menjadi persediaan alias cadangan makanan. Haha, udah kayak tanaman aja punya cadangan makanan. Well, prinsip itu kan memang yang dilakukan oleh semua makhluk hidup termasuk tanaman, hewan, dan manusia seperti kita ini. Hanya istilahnya saja yang berbeda.
Aku melihat mama sedang mencuci dan membersihkan ikan yang tadi kami beli. Di atas meja, sayur sayuran sudah dikeluarkan dari keranjang tapi belum diproses. Aku pun mendekat dan meraih sayur sayuran itu lalu berniat itu mencucinya terlebih dulu. Namun sebelum itu, takut salah, aku pun bertanya dulu ke mama. Karena mungkin yang dipakai hanya seberapa dan sisanya disimpan dulu atau bagaimana, karena kalau sayuran akan disimpan, alangkah lebih baik nggak dicuci dulu. Karena kalau terkena air, justru akan membuat sayur sayur itu jadi gampang busuh karena kondisinya jadi lembap.
“Ma, ini sayur nya aku cuci ya? semuanya?” tanyaku, seperti yang sudah kujelaskan tadi.
Mama menoleh sejenak, kemudian melontarkan jawaban. “cabe tomatnya jangan semua tam. Ambil sepuluh atau lima belas aja, terus sisanya kamu masukin kulkas ya,” katanya, kemudian kembali berfokus kepada ikan ikan yang tengah ia bersihkan sisik sisiknya menggunakan pisau, di bawah kucuran air kran yang mengalir.
Aku pun akhirnya bergerak untuk memulai apa yang dikatakan oleh mama. Aku mulai mengeluarkan sayur saturant dan bumbu bumbu di antaranya cabai, tomat, kentang, dan bawang Bombay. Untuk kentang dan bawang Bombay kami membeli secukupnya dan akan memakai semuanya untuk masakan kali ini. Semuanya untuk membuat hidangan yang direquest oleh kakak kakakku, juga aku. Oh, juga papa tentunya. Kebetulan, kali ini kami kompak.
Aku mulai dari memisah kan cabai yang akan dipakai hari ini dan yang akan disimpan. Lalu menuju ke wastafel yang mana mama sudah selesai membersihkan ikan, lalu mulai mencuci dari sayuran yang besar besar terlebih dahulu. Yaitu kentang. Karena sayuran itu berasal dari umbi umbian, maka tanah langsung luruh dan larut bersama air hingga menjadikan air tersebut berwarna cokelat begitu aku membasuhnya dengan air. Setelah kentang, aku beralih bawang Bombay lalu yang terakhir cabai dan tomat.
Setelah itu aku pun membantu apa pun yang diinstruksikan oleh mama. Mulai dari memotong motong bahan masakan, lalu membantu mengambilkan ini dan itu, mengaduk aduk, menumis, menggoreng, sampai akhirnya mencicipi dan berdiskusi soal rasa, hingga akhirnya membantu membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak.
Lagu lagu girls generation masih terus mengalun saat masakan yang akum asak bersama mama hampir matang. Sepertinya sudah satu album atau bahkan lebih mengalun sejak tadi. Kini lagu the boys mengalun, aku cukup tahu lagu ini karena pernah menggunakannya untuk music senam.
Hehe, iya bukan untuk music dance. Karena aku memang nggak bisa ngedance dan bukan anak dance. Jadi aku menggunakannya untuk senam, itu pun karena tugas olahraga di mana murid murid harus berkelompok dan membuat gerakan senam, menghafalkannya dengan latihan, lalu menampilkannya setelah diberi jatah waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk mendalami gerakan.
Yap, kenapa aku sebut mendalami, karena tugas kami bukan hanya sekedar menghafal seperti yang kebanyakan aku tahu dari tugas anak anak sekolah lain. Melainkan kami juga membuat ulasan setiap gerakan gerakan dan apa manfaatnya bagi tubuh, dan itu harus bersumber pada sumber yang kongkrit dan terpercaya. Lalu, kami mempresentasikannya di kelas.
Nah, aneh kan? Kelas olahraga tapi ribet pakai acara presentasi presentasi segala, udah kayak kelas ekonomi.
Setelah masakan matang, aku membantu menyiapkan piring dan wadah, kemudian membantu mama membawanya ke meja makan untuk kami sarapan pagi ini. Bersamaan dengan itu, kak rere juga sudah melakukan tugasnya mencuci baju, kak yogi juga sudah selesai menguras kamar mandi sekalian mandi. Jadi sekarang giliran kak rere yang mandi setelah dia menjemur baju.
Sementara papa juga sudah selesai mencuci mobil yang sekalian ia kerjakan sambil menyirami bunga di taman, yang letaknya tidak jauh dengan teras atau pelataran tempat kami memarkir mobil. Untuk nyapu nyapu, sekalian nanti sore saja.
Setelah semuanya mandi dan membersihkan diri tipis tipis, kami berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan yang telah aku dan mama masak. Ya, aku sebut tidak semuanya mandi dan sebagian hanya membersihkan diri tipis tipis, karena aku sendiri justru belum mandi. Setelah kak rere selesai mandi, kami langsung berkumpul di meja makan karena perut sudah lapar.
Dan tentu saja, hal itu menjadi bahan untuk kak rere julit. Well, mulut kakakku yang satu ini memang rembes banget. Ada celah dikit dia langsung berkicau. Seolah mendapat asupan untuk berjulit ria. Aku curiga dia punya akun twitter dengan menggunakan ava korea untuk sekedar julit dan mengeluh secara anonym di media sosial.
“ih, bau. Tami nih yang belum mandi. Mama kan udah subuh subuh tadi. Aku sama kak yogi juga udah. Kalo papa udah mandi bareng mobil tadi, kecipratan sabunnya. Kamu doang nih yang masih belum kena sabun,” ucapnya sembari mengambim piring. Tuh kan, apa kataku? Dia emang Sukanya ngajak berantem aku terus. Gimana aku mau hormat coba?
Aku menoleh ke arahnya, yang kebetulan duduk di sampingku. s**l banget memang kenapa aku tadi memilih duduk di sebelah sini, padahal di depan ada kursi yang dekat mama. Jadi aku tidak harus dekat dekat dengan kak rere. Namun mungkin memang nasib sialku pagi ini, harus berkali kali berurusan dengan kak rere.
“ih, hidung kak rere kali. Lainnya nggak ada yang protes kok. Atau kak rere sendiri, nyiup bau ketek sendiri? Yang masih bau padahal udah mandi? Hiyyy…” aku membalas, tak ingin kalah.
Lalu, tanganku yang hendak meraih piring untuk mengambil nasi, tiba tiba dihalangi olehnya. “jangan gerak gerak terlalu jauh tangannya, ntar baunya makin nyebar.” Kak rere berkata lagi. “yang jelas aku nyiumnya dari kamu ya. kalo aku habis mandi masih bau, nggak bakal banyak yang naksir selama di sekolah. Padahal aku sering lupa pake parfum.”
“Ih, aku juga banyak yang naksir kok.” Aku membalas. Kalo ngomongin taksir taksiran, jelas aku tidak mau kalah. Karena buktinya sudah ada. Bukti bahwa aku ditaksir banyak cowok, bahkan yang naksir aku bukan cowok kaleng kaleng. Salah satunya kak bagas. Cowok idaman sekolah yang ditaksir oleh hampir separuh murid cewek di sekolah. Bahkan aku berhasil membuat iri kak kikan, karena ia naksir kak bagas tapi kak bagas malah naksir aku haha. Kak rere harus tahu prestasiku yang satu ini. Supaya dia bungkam dan berhenti mengolok olokku.
Apa lagi jika tahu bahwa yang naksir aku lebih oke dari pada yang naksir dia. Aku ditaksir oleh kakak kelas berprestasi yang ganteng. Sedangkan dia, paling paling cewek cewek biasa atau adik kelas yang lagi mabok kakak kelas yang bandel dan suka melanggar peraturan. Terpengaruh oleh serial serial drama televisi atau kisah kisah w*****d bad boy. Padahal kak rere nggak ada keren kerennya sama sekali di mataku. Dan kalau yang naksir dia oke, buktinya pacarnya yang sekarang biasa aja.
Aku hendak membalas perkataan kak rere, ketika papa bersuara untuk mencegah kami melanjutkan percekcokan di tengah tengah aktivitas makan. “sudah sudah, rere… kamu jangan cari gara gara dengan mincing adek kamu dong.” Suara papa terdengar begitu berwibawa.
Kak rere mengela napas kecewa. Di depannya, kak yogi hanya terdiam sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Mungkin sudah maklum dan bosan melihat tingkah adik adiknya yang terus terusan berantem nggak ada habisnya.
Kembali ke piring yang akan ku ambil, karena tadi dihalangi oleh kak rere, maka kak rere lah yang mengambilkan piring untuku. Namun, aku tidak mengucapkan terima kasih. Tentu saja, kami kan masih dalam gencatan s*****a. Lagi pula aku sebenarnya tidak membutuhkan bantuannya. Aku bisa kok mengambil piring itu dengan tanganku sendiri, hanya kak rere saja yang terlalu banyak aksi sehingga menghalangiku.
Setelah semua mengambil nasi dan lauk pauk yang ada, kami pun akhirnya mulai menikmati santapan pagi itu.
“Enak yog?” mama bertanya kepada kak yogi yang duduk tepat di sampingnya.
Kak yogi mengangguk, seperti biasa kak yogi nggak pernah protes soal makanan dan selalu memuji masakan mama. Kemudian mama beralih ke kak rere. Beliau bertanya lagi. “ikannya enak, re? mama cariin yang agak kecil buat kamu. Biasanya kamu nggak suka yang terlalu gede.”
Kak rere melirik mama sebentar, kemudian bertanya “ikan yang masak mama kan?” tanyanya memastikan, kemudian bersuara lagi untuk menjawab. “enak.”
Iseng, aku pun menyahut. “ikannya yang bumbuin aku lho.”
“Hm…. Pantes agak kerasa amis. Yang bumbuin belum mandi sih,” katanya. Benar benar nggak objektif bukan? Tadi dia bilang karena mengira mama yang memasak. Giliran aku bilang bahwa aku yang mengolah ikannya, dia meralat pujiannya.
“ih.., padahal aku bohong. Yang bumbuin mama semua. Berarti kak rere bilang masakan mama nggak enak.” Akhirnya, aku menyerangnya.
“oh, kalo gitu enak.” Katanya enteng. “lidah aku emang otomatis turns out kalo tami yang masak. Beda sama mama, semuanya langsung berubah jadi enak.”
Aku memutar bola mata, sementara mama hanya tersenyum. Detik berikutnya, papa bicara. “kalian itu yang akur…. Nggak cape kapa berantem terus?”
“hmmm rere sih nggak capek.” Kak rere menjawab, ih bener bener yaa…
“dasar aneh,” aku menyahut. Sambil menyendok makananku dan mengunyahnya, aku melanjutkan “kasih kerjaan deh Pa, biar nggak gabut kak rere ini.”
Papa pun hanya tertawa. Kemudian kami melanjutkan lagi menyantap makanan sampai habis. Dan pertengkaranku dengan kak rere pun menguap begitu saja seolah tidak terjadi apa apa.
****
Kemarin aku dan hana sudah berencana untuk kerja kelompok mengerjakan tugas makalah geografi di rumah. Hana mungkin akan datang sekitar jam sepuluh atau sebelas. Maka setelah makan dan isi perutku udah agak turun, aku langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Biasanya kalau hari minggu gini aku bakal mandi siang banget, atau sekalian mandi di siang menjelang sore, agar mandinya bisa cukup satu kali aja, nggak perlu dua kali seperti di hari hari biasa saat sekolah. Yang mana kita mandi sebelum berangkat sekolah, dan satu lagi sepulang sekolah.
Saat aku hendak masuk ke kamar mandi, tiba tiba kak rere beringsut mendahuluiku secepat kilat. Lalu menutup pintu kamar mandi. Aku, yang tidak menyangka bakal didahului, hanya bisa diam dan bertanya tanya.
“loh kak, akum au mandi! Bentar lagi hana ke sini! Kak rere bukannya udah mandi?” aku setengah berteriak agar kak rere yang berada di dalam dan kini menyalakan air kran bisa mendengar ucapanku dari luar.
Tak butuh waktu lama, kak rere langsung menjawab, juga dengan suara yang lumayan lantang agar aku bisa mendengarnya dari luar. “bentar! Gue sakit perut!” serunya, yang kontan membuat mataku melebar.
“apa? Sakit perut? Pup dong? Ih… ogah banget! Aku kan mau mandi, tar masuk masih bau lagi!” selorohku.
Namun, kak rere malah diam saja. Ia sepertinya benar benar menikmati me time nya di wc sambil buang air.
Aku berdecak kesal. Lalu kembali ke ruang tv dan duduk di sofa. Masih dengan handuk yang terkalung di leher. Mama yang baru saja dari depan untuk bercengkrama dengan ibu ibu komplek, mendapatiku sedang duduk menonton kartun Naruto di televisi sambil menenteng handuk di bahu, langsung berkicau.
“katanya hana mau ke sini, kok nggak mandi mandi? Kasian nanti dia nunggu lama lama. Kamu harus belajar ngehargai waktu temen kamu dong….” Hmmm, mama memang benar. Tapi untuk sekarang nggak gitu konteksnya ma. Anak mama yang super nyebelin itu sekarang lagi menguasai kamar mandi untuk dijadikan tempat bertapanya mengeluarkan hasil hasil olah pabrik di perutnya.
Aku meraih remote untuk mengecilkan volume tv, kemudian menyahut mama. “kak rere lagi boker ma. Tau tau ngeduluin tami pas tami mau masuk. Sebel deh, nggak tadi tadi.” Aku bersungut.
“oh.. ya udah tunggu dulu aja.” Mama pun menyahit dengan enteng. Ya iyalah, memangnya harus menjawab apalagi? Menyuruh kak rere keluar? Nggak mungkin kan.
Jadi, beliau membiarkanku duduk di sofa depan tv untuk menunggu kak rere selesai. Bukan hanya itu, aku juga menunggu setelah bau bekas buang air sudah benar benar hilang sehingga aku tidak harus menghirup bau nggak enak itu. kalau di tengah tengah menunggu ternyata aku bakal didahului kak yogi atau papa yang tiba tiba kebelet dan minta duluan masuk ke kamar mandi, ya sudah. Berarti nasibku. Mungkin tuhan berkehendak aku mandi satu kali sehari saja.
Lumayan hemat air kan? Buat kelangsungan alam kita.
Aku pun melanjutkan menonton episode yang tanpa sadar sudah aku tonton mungkin sebanyak puluhan kali. Yaitu episode Naruto bertemu dengan edotensei dari hokage ke empat, yang mana adalah ayah Naruto. Ini adalah salah satu episode yang aku sukai dan berhasil menguras emosiku. Entah berapa kali pun aku menontonnya, aku tetap bisa dibuat nangis dengan episode ini. Mashashi kisimoto emang the best deh.