Aku pun menggeleng. “Enggak. Kakak nggak perlu jalan sama aku. Maksudku, kakak harus sembuh karena memang kakak harus ngelanjutin hidup. Kakak harus sadar untuk orang orang yang kakak. Keluarga, temen temen, guru. Bukan buat aku. Karena aku sebenernya bukan siapa siapa buat kakak. Kita baru kenal dan aku nggak berjasa apa apa di hidup kak bagas. Jadi aku mohon, kakak sembuh. Itu udah cukup buat aku. Sekali pun kita nggak sama sama lagi. Aku nerima apa pun yang terjadi nanti dan keputusan kakak nanti, asal kakak sadar dan sembuh. Ceria dan berprestasi kayak sebelumnya. Aku ikut seneng. Itu yang terpenting sekarang.”
Aku terus menangis, mempererat genggamanku. Yang tanpa sadar, akhirnya membuatku merasakan adanya gerakan lemah dari tangan yang kugenggam. Ya, tangan kak bagas. Tangan kak bagas bergerak. Bergerak lemah seperti yang dikatakan devan tadi.
Aku terkesiap, menatap wajah kak bagas yang ternyata masih memejam matanya dan tidak terlihat adanya gerakan apapun dari urat wajahnya. Namun, aku secara spontan menggenggam tangannya semakin erat. Ada bulir bulir bahagia dan kelegaan dalam dadaku. Mungkin ini yang dirasakan devan tadi saat melihat gerakan kecil dari tangan kakaknya. Gerakan yang teramat berarti bagi kami yang menantikan perkembangannya.
“Kak bagas! Kakak denger omongan aku? Iya?” aku mencoba berbicara kepadanya. Meski ia belum sadar, namun aku pernah dengar bahwa mungkin alam bawah sadarnya dapat mendengar apa yang orang orang sekitar ucapkan jika pasien koma seperti kak bagas kita ajak berkomunikasi. Baik melalui sentuhan maupun lisan, seperti yang sedang aku lakukan saat ini.
Aku mengusap air mataku, tak kuasa menahan rasa senang. Harapan harapan terus bertumpuk dan doa doa tidak henti hentinya aku panjatkan kepada tuhan agar Ia mendengar doaku.
Aku tidak sekali pun melepas tangan kak bagas sampai akhirnya devan tiba dengan membawakan dua bungkus bakso yang ia beli di salah satu gerobak bakso yang mangkal depan rumah sakit. Aku menangkap bola mata devan yang mengarah ke tanganku yang sedang berada di atas tempat tidur kak bagas, dalam posisi sedang menggenggam tangannya.
“Sori. Lo… mau makan sekarang?” tanya devan, ada seperti getar suara gugup saat dalam suaranya.
Aku pun melepaskan genggamanku pada tangan kak bagas, lalu menoleh ke wajahnya yang tertidur tenang. Kemudian beranjak dari kursi, untuk menyambut kantong plastik yang sedang dipegang oleh devan. Aku menengok ke arah jam dinding, rupanya sudah menunjuk angka enam petang.
Aku pun mengangguk. “Yuk, makan bareng.” Aku berucap kepada devan, yang masih berdiri di tempatnya semula.
Kami pun akhirnya mengeluarkan bakso dari plastik, lalu menuangkannya ke mangkok yang kebtulan sudah disiapkan oleh mama devan, untuk persediaan alat makan jika sedang menunggu kak bagas. Oh iya, saat ini aku dan devan hanya berdua, karena nanti jam delapan, mama kak devan akan menginap di sini untuk menjaga kak bagas. Sementara aku dan devan sudah harus pulang pada jam tersebut karena besok masih harus masuk sekolah pagi.
Malam itu pun, aku dan Devan menghabiskan bakso bersama. Kami tak banyak bercengkrama. Hanya sesekali berbincang soal bakso yang lumayan enak, pedagang yang kata devan cukup ramah, kejadian ia berpapasan dengan suster cantik jelita yang kelihatan masih sangat muda kayak murid SMA, sampai kepada mata pelajaran esok hari, mengingat kami adalah teman sekelas. Selanjutnya, usai orang tua devan dan kak bagas datang, aku berpamitan kepada mereka untuk pulang. Tentunya diantar kembali oleh devan dengan menaiki motornya. Untuk perjalanan pulang, mungkin karena sudah aku maki maki dan aku wanti wanti berkali kali agar lebih berhati hati, hari itu dia membawa motornya dengan kecepatan normal dan terkesan lebih awas. Aku bersyukur. Semoga gaya berkendaranya yang seperti itu tidak hanya berlangsung saat itu atau saat bersamaku saja. Melainkan aku berharap ia akan terus berhati hati seperti itu agar ia selalu selamat.
CHAPTER 15
Setelah sepanjang minggu bersekolah dari mulai hari senin hingga jumat, tiba lah hari libur. Hari ini adalah hari minggu pagi. Aku menemani mama berbelanja bahan makanan dan bumbu untuk kami masak masak guna mengisi waktu di hari minggu.
Aku menyukai aktivitas ini. Mungkin udah kodratnya cewek kali ya, Sukanya belanja. Aku mengikuti mama berjalan menyelip nyelip di antara ibu ibu pengunjung pasar di daerah kebayoran. Ini adalah salah satu pasar tradisional paling besar dan paling lengkap di Jakarta. Cari semuanya ada di sini. Mulai dari bahan bahan masakan, perabotan rumah tangga, produk produk kecantikan, sampai oleh oleh dan retail retail pakaian.
Aku dan mama menyusuri lorong untuk keluar ke area depan, di mana merupakan tempat orang berjualan ikan segar membuka lapak dagangan mereka. Aku paling suka bagian ini, karena sambil belanja aku sekaligus membayangkan betapa lezatnya daging daging ini diolah. Aku menyusuri ibu ibu berbadan lumayan gemuk yang tengah memotong motong ayam untuk memisahkan bagian paha, d**a, sayap, dan juga kepala. Kemudian aku melihat bapak bapak menggunakan celemek plastik lumayan lebar untuk menutupi area perut dan pinggangnya hingga ke bawah agar tidak terkena cipratan cipratan saat dia memotong motong daging.
Aku berjalan sembari menengok ke bawah, menghindari becek yang berada di jalanan agar tidak mengenai kakiku yang kini hanya mengenakan sandal jepit. Mama membimbingku hingga akhirnya kami sampai di penjual ikan segar langganan kami. Seperti namanya ikan segar, maka ikan ikan itu masih hidup dan terletak dalam bak bak besar yang dialiri air bersih nan bening. Melihatnya saja bisa menimbulkan sensasi segar.
Aku iseng berjongkok di salah satu bak yang berisi ikan ikan berukuran sedang berwarna putih dengan corak oranye. Mungkin ikan emas? Aku tidak tahu persis namanya. Yang pasti mereka tidak galak seperti ikan lele, jadi aku berani mencelupkan tanganku ke dalam bak mereka, untuk sekedar merasakan dingin air di sana. Rasanya sungguh menyenangkan.
Di sampingku, mama berbincang dengan mas mas penjual, memberitahukan ikan apa yang hendak mama beli untuk diolah menjadi masakan kami, kemudian membicarakan harganya.
Ini adalah bagian terakhir dari petualangan dan penjelajahan kami di pasar pagi ini. Karena baik di tangan mama mu pun di tanganku, kami sudah membawa tas anyaman dan kantong kresek warna merah tebal berisi belanjaan kami yang di antaranya berisi daun bawang, tomat, bumbu bumbu dapur seperti kunyit, bawang merah dan bawang putih, ketumbar, oh iya.. juga cabai dan bahanbahan pelengkap lain seperti lobak untuk bikin kimchi, serbuk cabai, dan juga tahu, salah satu makanan murah kesukaanku.
Kami akhirnya beranjak dari penjual ikan dengan membawa lima ekor ikan dalam kantung plastic tebal tebal yang di dalamnya ikannya masih bergerak gerak. Kami berjalan ke arah parkiran, tempat papa menunggu. Ya, papa mengantar kami belanja tapi malas untuk ikut turun. Akhirnya beliau menunggu di mobil sambil merokok dan bermain hp. Biasanya malah sambil makan nasi uduk, lalu nanti kalau masakan sudah matang, papa makan lagi. Jadi lah sepagian papa udah makan sebanyak dua kali. Itulah salah satu factor kenapa perut bapak bapak kebanyakan buncit.
“udah Ma?” papa bertanya ketika melihat mama dan aku mendekat sambil membawa belanjaan kami yang seambrek. Beliau pun segera loncat dari duduknya, kemudian menghampiri kami lalu membuka pintu bagasi mobil dan memasukkan semuanya ke dalam sana. Papa menatanya sedemikian rupa agar tidak ada yang jatuh dan tumpah nanti kalau mobil berjalan dan sampai bergoyang goyang kalau melewati lubang di jalanan.
Usai menata, papa menutup rapat pintu bagasi, kemudian membuka pintu mobil membiarkan aku dan mama masuk ke dalam. Setelah itu papa menghidupkan mesin mobil lalu kami menempuh perjalanan untuk kembali ke rumah. Minggu pagi jalanan ibu kota tidak terlalu padat, karena tidak ada orang ngantor. Di beberapa titik, aku melihat orang orang bersepeda dan lari pagi.
Diam diam aku teringat saat Kak bagas mengajakku lari pagi di hari minggu tepat sebelum tragedy kecelakaan yang menimpanya berlangsung. Awalnya aku malas malasan, namun beruntung aku menyetujui ajakannya tersebut. Kalau tidak, aku yang sudah menyesal dan merasa sangat bersalah ini, akan bertambah tambah lagi rasa bersalahnya.
Saat itu kami bertemu di gelora bung karno. Aku naik ojek, karena aku tidak mau dia menjemputku. Emang benar benar deh, kalau diingat kesel juga. Kak bagas nggak menjemputku, karena memang pada bulan bulan itu dia sedang tinggal di rumah neneknya. Padahal kalau saja aku tahu rumah dia yang sesungguhnya adalah tepat di depan rumahku, aku kan tidak perlu naik ojek dan menghabiskan ongkos mahal mahal, kita bisa berangkat bareng.
Namun, rasa kesalku tentu saja hanya sekelumit rasa kecil yang tidak sebanding dengan rasa rindu dan harapku untuk kesembuhan kak bagas. Dalam benakku, aku menguntai ingatan di mana saat itu aku tiba di gelora bung karno dan menghampiri kak bagas yang sudah menungguku di gerbang nomor lima. Saat itu aku mengenakan kaos dan celana pendek. Sementara kak bagas mengenakan setelan jersey bola dan celana training selutut yang biasa ia gunakan untuk ekskul bola. Membuatnya tampak keren dan ganteng. Sementara aku, mungkin tampak seperti anak kecil, karena ia langsung tertawa saat melihatku, kemudian menyentuh kunciran rambutku dengan gemas.
“Lucu kamu,” katanya waktu itu.
“Ish.. jangan dipegang pegang gitu. Aku berasa kayak badut,” balasku. Menyingkirkan tangannya, yang dengan sigap malah ia bawa dalam genggamannya. Kami berjalan bersama untuk pemanasan ringan sebelum memulai lari.
Aku mencebik. Meski aku tidak mengelak kalau saat itu kata katanya manis juga, membuat pipiku memanas. Sudah panas kena sinar matahari, makin panas lagi karena darahku mendadak dipompa sedemikian kencang oleh jantungku. Efek kak bagas memang sering begitu.
Aku dan bagas berlari lari kecil mengitari area gelora bung karno. Kak bagas berusaha menyamai tempoku dengan tidak berlari terlalu kencang. Padahal aku tahu, untuk ukuran anak futsal dia akan berlari lumayan kencang dan mengambil putaran lumayan banyak. Sementara denganku, aku hanya kuat sekitar satu setengah putaran saja. Itu pun masih berhenti beberapa kali. Duh, aku kan memang benar benar payah kalau urusan olahraga. Namun kak bagas dengan telaten mengikuti tanpa protes sedikit pun.
“Capek huhu,” aku mengeluh sambil memegangi pinggangku, ketika kami menyelesaikan satu setengah putaran.
Kak bagas ikut berhenti, kemudian tersenyum. Ia mengajakku untuk berjalan menuju salah satu spot di bawah pohon di sisi jalur lari. “duduk sini dulu ya, aku beliin minum di situ.” Kak bagas bicara sambil menunjuk salah satu minimarket yang berada di dalam area stadion gelora bung karno. Lebih tepatnya, indormaret. Toko sejuta umat.
Aku pun mengangguk dan duduk di tempat yang dipilihkan kak bagas. Tak butuh waktu lama, kak bagas berlari kecil menuju indomaret yang juga ramai dikunjungi orang orang yang habis lari dan kehausan lalu mencari minum di sana.
Aku menunggu. Di sekitar ada beberapa pengunjung yang baru datang, ada yang sedang melakukan pemanasan, ada yang berlari banyak putaran sampai aku bisa mengingatnya. Wow hebat sekali dia ya. Selain itu, ada pula yang sudah selesai dan menuju pintu keluar. mungkin ia sudah mulai olahraga jam lima pagi?
Selang beberapa menit, kak bagas kembali dengan membawa dua botol air mineral alias aqua. Aku tersenyum kemudian mengangkat satu tangan untuk mengambil salah satu dari air mineral tersebut. Namun, kak bagas lebih dulu membukakan tutup botolnya sebelum benar benar ia berikan kepadaku. Such a gentle man banget deh.
“makasih.” Ucapku, yang dibalas oleh kak bagas dengan senyuman manisnya. Ia pun duduk di sampingku lalu membuka tutup botol air mineralnya sendiri, lalu meneguknya. Sekali teguk, kami bisa menghabiskan lebih dari setengah botol bervolume 600 ml ini.
Kami pun berbincang sambil mengamati manusia manusia yang lalu lalang. Matahari mulai menyengat, tapi tidak terlalu di tempat yang kak bagas pilihkan untuk kami beristirahat.
“Itu cewek tinggi banget ya. pengen deh tinggi,” aku menggumamkan kalimat ketika mendapati satu cewek lumayan tinggi. Mungkin serratus tujuh puluh sentimeter?
Kak bagas mengikuti arah pandangku, lalu kembali menatapku. “Kenapa? Kamu udah bagus kok segini. Tinggi tinggi amat nggak bagus Tam,” komentarnya.
Aku mencibir. “kak bagas takut aku salip ya tinggi ya?” tanyaku.
Mata kak bagas melebar, mungkin tidak mengira dengan kalimat yang keluar dari mulutku. Ia bahkan tertawa. “Kok kamu bisa mikir gitu? Ya enggak lah…” ia mengelak.
“Oh ya? masa? Emang tinggi kak bagas sekarang berapa ya?” tanyaku dengan nada terkesan menantang.
Kak bagas masih tertawa renyah. “kira kira berapa hayo?”
“Ih, males deh tebak tebakan gini” protesku. “Nggak efektif. Aku kan bukan meteran Kak,” balasku sambil bersungut.
Kak bagas sontak tertawa. “176 Tam, makanya kamu jangan tinggi tinggi. Eh tapi kalo kamu mau nyoba tinggi, coba deh bisa atau enggak nyusul aku. Menurutku sih nggak bakal bisa,” katanya dengan nada menantang.
Aku melirik ke arahnya. “Wah nantangin nih, oke deh. Lihat aja dua tahun lagi aku bakal tinggi.”
“Oke.. let see.”
Let see. Kini, aku menggumamkan kata itu.
Orang orang di jalan masih berlarian. Mobil yang kami kendarai meluncur berpacu dengan waktu. Sama seperti kami yang seiring waktu menunggu kak bagas sadarkan diri.
Ini adalah minggu ke dua sejak kak bagas dirawat di rumah sakit. Namun, sampai sekarang belum ada tanda tanda kak bagas akan sadar. Hatiku semakin hari semakin pilu. Aku juga merasa makin tidak enak untuk menampakkan diri di hadapan orang tua kak bagas. Pasalnya, tentu saja mereka tahu bahwa kak bagas mengalami kecelakaan gara gara menyelamatkanku. Sehingga mungkin melihatku dapat menimbulkan luka pada mereka.
Sekitar hampir dua puluh menit berlalu hingga akhirnya mobil kami berhenti di depan rumah. Aku lebih dulu turun untuk membuka pagar. Karena kami hanya keluarga biasa, pagar rumah kami tentu saja masih manual, bukan otomatis seperti pagar orang orang kaya yang ada di sinetron atau drama korea.
Setelah pagar terbuka, papa melajukan mobilnya hingga masuk ke garasi. Setelah itu beliau membuka bagasi dan mengeluarkan belanjaan. Aku membantunya membawa belanjaan belanjaan itu ke dapur. Tidak sabar untuk mengolah. Saat berjalan menuju dapur rumah kami, aku melewati kamar kamar kakakku. Dan tebak, mereka tentu saja masih molor.
Bukan hanya kak rere yang sudah kebiasaan bangun siang. Tapi kak yogi pun, yang biasanya lebih rajin dan terbiasa bangun pagi, kali ini juga ikut ikutan bangun siang. Semua karena semalam keduanya begadang menonton pertandingan sepak bola uni eropa. Sebenarnya papa juga ikutan. Namun, papa tertidur pulas di tengah tengah pertandingan berlangsung. Jadi, beliau masih bisa bangun pagi dan mengantarkan mama dan aku belanja, seperti yang dilakukannya pagi ini.
Sementara kak yogi dan kak rere begadang nonton sampai pagi karena mereka bertaruh tim siapakah yang berhasil membawa piala pulang. Dan… kak Rere memenangkan taruhan karena semalam, maksudku tadi dini hari, Italy berhasil menang melalui adu penalty. Yang akhirnya membuat kak Yogi membayar uang sejumlah seratus ribu ke kak rere, serta harus mentraktir kak rere dan aku bakso serta es krim. Aku senang senang saja ikutan.
Lagi pula katanya kami akan makan bakso yang ada di persimpangan. Dan rasanya sudah terbukti enak karena sudah menjadi langganan kami juga.