Devan menatapku dengan tatapan seperti… tatapan iba? Apa pun itu, ia selanjutnya yang ia lakukan adalah mengangguk. Kemudian berjalan mendahuluiku di depan, namun tidak terlalu jauh. Ia membimbingku menju ke kamar bagas yang terletak di blok bertuliskan salah satu dari nama nama bunga, yaitu bunga flamboyan.
Sesampainya di tempat, devan menoleh ke belakang untuk mengintip keadaanku. Mungkin mengecek raut juga gesturku. Setelah memastikannya, ia pun kembali menghadap ke depan lalu membuka knop pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Di tempatku, aku berdiri dengan degup jantung bertalu. Harap rasanya semakin kencang kupanjatkan kepada Tuhan.
Detik demi detik berlalu. Kemudian Devan keluar ruangan, sambil memanggil namaku. “Tam,” panggilnya dengan suara halus, jauh dari kesan urakan atau menyebalkan seperti biasanya.
Mendengar namaku dipanggil olehnya, aku pun menoleh. Di sana, Devan menjulurkan kepalanya lantas berseru kepadaku. “Sini masuk, Tam! Barusan gue lihat tangan kak bagas gerak gerak.” Katanya seraya melambaikan tangan dan mengangkat kedua alisnya, sebagai isyarat agar aku mendengarkannya dan ikut masuk ke dalam ruang rawat inap kak bagas.
Mendengar perkembangan dari kondisi kak bagas, maka tanpa disuruh dua kali pun aku segera berjalan untuk masuk ke dalam ruangan itu. Melihatku sudah bergerak, devan kembali lagi ke dalam. Begitu memasuki ruangan, pandanganku langsung tertuju pada kak bagas yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tangannya diinfus, kakinya ditutup oleh selimut putih bergaris garis khas rumah sakit, sementara kepalanya dililit oleh perban seperti dalam sinetron, hanya saja perbannya lebih benar dan nggak ngawur kayak yang aku lihat di televisi. Aku menatap mata kak bagas yang terpejam rapat. Mulutnya juga diam tak bersuara. Hanya dadanya yang terlihat sedikit naik turun karena melakukan aktivitas bernapas.
Mataku berpusat pada bagian yang tadi dikatakan oleh devan, bahwa ada gerakan ringan pada bagian itu, yaitu jari jari kak bagas. Yang artinya ada kemajuan dari kondisi kak bagas yang semula tidak ada gerakan sedikit pun. Yang membuatku was was apakah ada bagian yang tidak berfungsi dari tubuhnya.
“Tadi beneran gue lihat gerak tangannya Tam. Tangan kirinya.” Devan bersuara saat melihatku mengamati tangan kak bagas, namun masih belum terlihat adanya gerakan lagi seperti yang tadi sempat dikatakan olehnya.
Gue ternsenyum ke arah Devan. Supaya cowok itu tidak panik dan merasa bersalah karena menganggapku kecewa berlebihan. Aku pun menoleh kepadanya. “Nggak papa, Dev. Makasih berkat lo akhirnya gue berani masuk ke sini.” Aku menelan ludah, kemudian lanjut bicara. “Gue duduk di sini aja. Gue mau nemenin kak bagas sampe nanti.”
Devan terdiam. Ia melirik jam dinding yang kebetulan tergantung di dinding ruangan. Jarum jam menunjuk angka setengah enam sore. Mungkin aku bisa di sini sekitar dua jam lagi, sebelum kembali pulang ke rumah karena besok masih harus masuk sekolah.
Devan menghela napas. “oke, nanti jam setengah delapan atau sekitar itu kita pulang ya? Gue anterin lo,” katanya. Kemudian terlihat hendak mengucapkan sesuatu lagi. “Ntar habis ini gue cariin makan juga deh. Gue udah mulai laper. Mau jalan jalan dulu di luaran kayaknya ada tukang bakso enak. Lo mau nitip apa?” tanya devan.
“Samain aja sama lo.” Gue meraih tas untuk merogoh dompetku yang terletak di dalam sana. Lalu mengambil selembar uang dua puluh ribuan untuk diberikan kepada devan. Kenapa aku buru buru memberikan uang itu kepadanya sekarang, karena kalau aku menunggu nanti untuk menggantikan uangnya, kemungkinan besar devan akan menolak. Karena tidak ingin dibayari atau memiliki hutang kepada teman, maka aku sebisa mungkin melakukan kebiasaan ini jika titip makanan ke orang lain.
Mengenali kebiasaanku, devan mengulurkan tangan kanannya untuk menerima uang itu dariku.
“Ya udah gue cabut dulu.” Katanya, kemudian menatap sekeliling, lalu beralih menatapku lagi. “Lo… nggak papa gue tinggal sendiri di sini?” tanya devan.
Gue mengangguk dan tersenyum tipis, berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak apa apa. “nggak masalah. Thanks ya, udah mau dititipin.”
“Pedes nggak baksonya? Lo mau komplit? Ada request khusus tambah apa atau nggak pake apa gitu?” tanya devan lagi.
Aku berkerut, bukankah biasanya devan hafal dengan gayaku memakan bakso karena kami sering jajan bareng dan dia sering mengomentari nyinyir keunikan dari style ku memakan bakso, yang katanya tidak normal dan tidak sesuai umum, kenapa dia tanya lagi sekarang? “Lo nggak inget? Gue kalo makan bakso biasanya gimana? Tanyaku.
“Ya… inget sih. Nggak pake seledri, bawangnya dibanyakin, pake kecap dikit aja, minta tambah sawi yang banyak. Pake bihun sama mie kuningnya super dikit. Terus sambelnya dua sampai tiga sendok dan nggak pake saos,” katanya, menyebutkan kebiasaanku dan menghafalnya tanpa celah sedikit pun.
Aku agak terkesima. Well, aku memang mengira bahwa seharusnya dia ingat bagaimana aku biasanya meracik baksoku. Namun, aku tidak menyangka ia bakal ingat sedetail ini. Karena aku pun tidak akan mengingat bagaimana cara devan atau hana meracik bakso favorit mereka. Mungkin yang bisa aku ingat hanyalah devan tidak suka pedas dan menyukai kecap, sementara hana tidak suka bawang goreng, tapi suka banget sama rasa pedas. Dia kalau ngambil sambel bisa sampai lima sendok sendiri. Aku jadi kasian sama penjual baksonya, apa lagi kalo cabe lagi mahal. Bisa rugi abang abangnya. Rugi jalur sambel.
“Gila, gue nggak nyangka lo ternyata hafal banget ya Dev.” Aku berseloroh kepada devan.
Devan hanya mengangkat bahunya, berusaha terlihat biasa saja. Mungkin tidak ingin dilihat bahwa ini salah satu sikap perhatiannya. Wait, kok jadi perhatian? Bisa aja memang kebiasaan devan menghafal kebiasaan orang orang di sekitarnya. Apa lagi, setahuku kan otak devan memang cukup encer dibandingkan otakku.
“Ya hafal aja karena biasa lihat lo makan bakso depan gue. Gue juga inget hana biasanya pesen apaan,” balasnya seolah itu adalah hall umrah yang tidak perlu diherankan. “Ya udah gue cabut dulu. Bye.” Devan berkata kemudian menghilang dari balik pintu ruangan.
Setelah Devan pergi, aku kembali mengalihkan perhatianku kepada kak bagas yang terbaring tepat di sampingku. Hening. Tidak ada suara selain detak jarum jam dan deru napasku, juga suara suara sumbang dari luar yang masih bisa menembus padatnya kaca jendela.
Detik itu juga… aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku tidak tahu harus memohon apa lagi. Seingatku, aku sudah merapal berbagai permohonan kepada tuhan untuk kesembuhan kak bagas. Aku sudah mengungkapkan penyesalan bahkan berbagai janji kalau seandainya doaku dikabulkan oleh sang kuasa. Karena aku tidak lagi memiliki keinginan apa pun kali ini. Keinginanku hanya satu, yaitu melihat kak bagas membuka matanya, tersadar, tersenyum lagi kepadaku, dan aku akan memperbaiki semuanya. Apa yang kami punya. Lebih tepatnya, kami akan memperbaiki segala yang pernah rusak, dan memulainya dari awal lagi sebagai sepasang kekasih.
Well, pengenalan lagi agar lebih dekat mengerti satu sama lain lebih dalam lagi mungkin. Karena seperti yang aku telaah sekarang, hubungan kami berjalan terlalu cepat dan terlalu awal sejak kami saling mengenal. Jika dihitung hitung, kami memulai hubungan asmara ini sekitar satu bulan setelah masa orientasi sekolah. Pendek sekali bukan? Dan kisah kami hingga kini sudah berlangsung setidaknya sekitar dua bulan sejak kami benar benar jadian.
Tanganku secara impulsive bergerak menyentuh tangan kak bagas. Aku merasakan suhu dingin saat aku menyentuh kulitnya. Perlahan aku menggenggamnya semakin erat. Berharap bisa menyalurkan energi maupun segala yang kurasakan kepadanya, agar semuanya tersampaikan. Bahwa jauh di lubuk hatiku, aku masih menyanyanginya dan masih memaafkannya.
Lama kelamaan, genggamanku semakin menguat. Namun, tentu saja genggaman itu hanya dari satu sisi. Tidak dari dua arah seperti biasanya kak bagas membalas genggamanku. Dimana kami saling mengambil andil untuk saling menautkan jari satu sama lain. Baik saat berjalan bersama, maupun saat sekedar duduk santai saat berdua.
Mengingat hal hal kecil itu, tiba tiba saja, tanpa aku sadari, air mataku menetes. Ya, kalian mungkin sudah bosan. Tapi lagi lagi aku tidak bisa mengendalikan mau pun meredam tangisku. Seandainya saja aku tidak ceroboh dan lebih bisa menghargai apa yang aku punya. Bukannya malah terpancing emosi sesaat dan mengempas apa yang sudah aku miliki lalu kemudian menyesal.
Satu tanganku ikut mengusap telapak tangan kak bagas. Berharap dapat memberikan kehangatan dan intuisi yang bisa ia rasakan di alam bawah sadarnya. Bahwa ada yang menunggunya di sini. Ada aku, devan, mama mau pun papa kak bagas.
“Kak, maafin aku ya. Nggak seharusnya hal semestinya menimpa aku karena kecerobohan dan keenggak waspaan aku, menimpa orang lain. Yaitu kamu. Kalo kamu denger ini, aku menyesal banget hari itu. Aku berharap banget kamu cepet sadar dan kita bisa jalan bareng lagi.” Namun, setelah beberapa kata kusampaikan, aku merasakan kalimat dan keinginanku barusan terlalu egois dan hanya berpusat pada keinginanku saja.
Bagaimana kalau kak bagas ternyata tidak menginginnganku lagi? Bagaimana kalau ternyata kak bagas berubah menjadi membenciku karena sudah membuatnya terluka? Bagaimana kalau perasaan kak bagas kepadaku berubah jadi muak dan jijik?