Aku agak terantuk ke depan Ketika devan mengerem motornya mendadak di tempat parkir rumah sakit. Roda motornya bahkan hendak menabrak dinding pembatas. Anak satu ini memang benar benar bar bar. Sudah sampai gerbang rumah sakit bukannya memelankan laju motornya, ia malah enak enak saja ngepot di jalur menuju parkiran motor yang berada di basement bangunan ibarat valentino rossi yang meliuk liuk lincah di lintasan balap.
Valentino rossi sih enak, dia seorang professional terlatih melakukan aktivitas berbahaya dengan perlengkapan kelas atas, yang kalau ada apa apa juga dicover asuransi dan untuk mendapatkan gelar juga gemerlap karier balap yang nantinya menghasilkan pundi pundi uang. Lah ini, udah nggak dicover asuransi, nggak menghasilkan uang, nggak terlatih, dan nggak pakai pengaman selengkap valentino rossi lagi.
Dan yang paling penting, dia nggak sendirian! Ada aku yang berada di boncengannya. Jadi kalau nyungsep, aku bakal nyungsep juga. Seharusnya dia memikirkan itu dan berhati hati Ketika berkendara di jalanan.
Aku menuruni motornya dengan wajah bersungut. “Kenapa ngebut ngebut sih?” omelku kepada devan, bersamaan dengan gerakannya melepas helm.
“ya karena bisa ngebut. Kebetulan nggak macet,” jawabnya enteng. Seolah punya nyawa Sembilan. Emangnya ruba di serial Naruto? Eh, itu ekor Sembilan ya? Bukan nyawa. Terus yang nyawa apa dong? Oh… siluman di film kera sakti. Duh, gini gini aku nonton film lawas itu lho. Karena mama suka nonton siaran ulangnya yang kemarin diputar di salah satu stasiun tv. Dan serial jadul itu lumayan oke juga, aku jadi ikut ikutan kecanduan nonton.
Aku mendengus. “Ya tau sepi. Tapi kan siapa tau ada keselip atau apa di jalan, kan bahaya. Ini tuh jalanan. Bukan tempat trek trekan.”
“kan nggak jatuh. Buktinya bisa sampe sini dengan selamat. Lo masih hidup dan bisa ngomel ngomel.” Devan membalas ucapanku sembari mulai melangkahkan kakinya.
Aku pun ikut berjalan menuju salah satu pintu untuk menuju Lorong yang menghubungkan parkiran dengan ruang rawat inap kak bagas. Aku menatap ke arah devan yang menganggap enteng omonganku.
“ya bersyukur tadi nggak kenapa kenapa. Bukannya malah lo ulangi lagi nanti kalo naik motor, karena ngerasa kali ini lo nggak pa-pa dan berasa jago.” Aku berusaha menjelaskan esensi dari apa yang aku khawatirkan.
“takut banget gue kenapa kenapa,” ujarnya.
“idih… GR!” seruku, namun tetap membuat pipiku memanas. “Lo lupa ya, kalo lo lagi bonceng gue? Gue ada di sana loh… di bawah kendali lo atas kemudi dan motor itu. Dan sama kayak manusia yang lain, gue punya nyawa yang bisa cabut sewaktu waktu.”
“Iya…” devan mengacak rambutnya, terlihat frustrasi karena ku tidak berhenti berhenti mengomel. “tumben sih lo cerewet banget? Ngalah ngalahin nyokap aja! Cepet tua lo!” katanya, sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.
“mending cepet tua dari pada cepet mati,” ucapku. Kemudian melengos dan berjalan mendahuluinya. Ngapain juga berjalan beriringan devan. Aku kan sudah tau dan sudah menghafal kamar tempat kak bagas dirawat. Sama seperti yang dikatannya tadi, kalo bisa ngebut, kenapa nggak dilakukan? Untuk menghemat waktu. Lagi pula ini ngebut yang lebih aman, karena pakai kaki, bukan motor. Langkah ku pun mengayun dengan cepat menuju satu blok lagi.
Diam diam aku menyadari bahwa suasana kali ini sangat berbeda dengan suasana kemarin. Kemarin begitu mencekam dan menegangkan. Serasa seluruh dimensi menciut dan mendesak teramat kuat. Menghasilkan ketegangan yang mencekam karena seluruh harapan bertumpu demi satu nyawa yang sedang digantungkan oleh nasib.
Aku berjalan menyusuri Lorong dengan Langkah Langkah yang mulai memelan. Setiap Langkah demi Langkah, kuiringi dengan setiap panjatan doa kepada sang kuasa. Berharap Ketika sampai di sana, tiba tiba aku mendapatkan kabar gembira bahwa kak bagas telah sadarkan diri. Karena itu lah semakin lama Langkahku semakin pelan. Hingga akhirnya devan yang tadinya berada di belakangku karena aku lebih dulu berjalan tanpa menunggunya, sampai menyusulku.
Ia berhenti di sampingku, memandangku dengan tatapan aneh bin heran. “lo kenapa? Kram?” tanya devan, mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apa katanya? Kram? Aku aku terlihat seperti orang yang menahan sakit? Nggak mungkin kan akting untuk adegan pura pura sakit di sekolah siang tadi terbawa sampai sekarang, karena aku terlalu menghayati peran sebagai tami yang sedang sakit?
“Tam? Lo kesambet?” tanya devan, Ketika aku belum juga menjawab pertanyaannya.
Aku menoleh ke arahnya. Kemudian entah kenapa mimik wajahku berubah menjadi pilu. Well, aku tahu aku tidak bisa melihat wajahku sendiri dan tidak ada cermin di sini. Namun dengan menggerakkan otot wajah seperti ini, aku bisa merasakan dan memprediksi bagaimana wajahku terlihat sekarang.
“Gue… gue takut Dev,” kataku, dengan suara lirih dan sedikit gemetar.
Di tempatnya, devan menatapku. Namun, sorot matanya tidak lagi menjengkelkan seperti tadi. Melainkan ada campuran antara rasa penasaran terkait apa yang kurasakan dan ada dalam pikiranku, juga rasa khawatir dan tidak tega. Begitu lah yang kutangkap dari raut dan sorot matanya yang mendadak jauh dari menyebalkan seperti seharian ini.
“takut kenapa?” tanyanya, dengan suara lirih agar aku tidak tertekan dan merasa tertuntut, namun juga tidak kehilangan ketegasan.
“gue takut saat gue sampai di sana, kak bagas belum juga sadar. Padahal gue berharap banget bisa ngelihat dia sadar hari ini. Supaya gue lega dan nggak kepikiran lagi sama keadaan dia. Gue seharian ini udah kayak orang gila mikirin dia terus. Takut dia kenapa kenapa dan nggak bisa balik lagi…”
“husshh,… lo nggak boleh ngomong kayak gitu. Gitu gitu dia abang gue, gue nggak mau ada malaikat lewat dan nyatet semua omongan lo barusan,” ucapnya, yang seperti tidak serius.
Meski begitu, aku tetap melanjutkan. “Gue juga nggak mau. Dan saking nggak maunya, itu lah yang gue rasain dari semalam sampai detik ini. Dan gue kayaknya nggak sanggup kalau harus nunggu dan harap harap cemas kayak gini lebih lama lagi. Gue bisa gila. Gila di umur muda.” Jelasku.
Mata devan memicing. “emang kalo gila di masa tua, lo mau? Gue sih enggak.”
Iya juga ya. Tua pun, aku harus sehat secara fisik dan mental dong. Aku menghela napas demi menjernihkan pikiran, kemudian bicara lagi dengan otak yang semoga sudah lebih waras. “duh gue jadi ngelantur ya. Pokoknya gue nggak bisa gini terus.” Aku menggigit bibir bawahku. Lalu mencari mata devan, dan menguncinya begitu aku mendapatkannya. “Lo… bisa jalan lebih dulu? Gue jalan di belakang lo deh. Nanti lo juga duluan masuk ke kamar kak devan. Baru kabari gue gimana keadaan di dalam. Ya?” aku memohon pada devan.