EPISODE 27

1857 Kata
“Nggak usah lah, kita bonceng bertiga” tiba tiba devan nyeletuk. “lagi pula gue lagi nggak bawa motor ninja, karena nggak boleh kebut kebutan lagi sama mama. Mama takut anak satunya kecelakaan lagi kayak anaknya yang lain,” katanya, yang kini memang tengah menggunakan motor maticnya yang ada di rumah.               Aku memicingkan mata. “Tapi kan boncengan bertiga juga berbahaya b**o, kan berisiko kecelakaan.”               “kan supermarketnya di depan simpang merah doang.” Bantah devan               “kan kemarin kak bagas malah kecelakaan di depan gerbang sini, bahkan nggak sampai simpang sana. Kalo kita tau tau jatoh bareng di depan sana gimana dong, kendaraan lagi banyak banyaknya.” Protesku, yang tentu saja sangat logis.               Devan menelan ludah. Aku melihat tangannya meremas kemudia motornya, mungkinkah ia merasa terluka dengan ucapanku?               Sebelum aku sempat bicara lagi, terdengar suara hana bicara. “ya udah, biar gue sama tami berangkat naik angkot, nanti sepulang dari super market, tami boncengan sama lo ke rumah sakit,” usul hana. Aku pun menoleh ke arahnya, tidak menyangka kadang kadang ia sebijak ini. Meski akhirnya aku masih harus bersama devan, tapi… mungkin inilah solusi yang terbaik dan memang mungkin aku dan devan tidak terhindarkan lagi untuk bertemu.  Terlebih lagi, aku juga bisa hemat ongkos untuk ke rumah sakit. Namun, aku malah boros dalam uang jajan. Mungkin nanti aku akan beli minyak goreng atau stok detergen buat di rumah, biar dapat piujian dari mama. Biar dianggap anak tanggap dengan perabotan dan persediaan di rumah yang hampir habis, sehingga akum akin disayang dan ditambah lagi uang sakunya. Dan juga bonus aku bis acari jajan di supermarket. Well, nggak papa deh. Mendengar ucapan hana, devan pun sepakat untuk mengikuti usulan tersebut. Akhirnya aku dan hana benar benar naik angkot dan turun di persimpangan, kemudian menyeberang melalui zebra cross untuk untuk mencapai super market yang ada di seberang lampu merah. Sementara devan, menaiki motornya. Sesampainya di super market, kami menyebar ke berbagai sudut. Hana langsung melucur ke bagian snack, seperti yang sudah dibilangnya padaku tadi, bahwa ia hendak mencari camilan untuk menemaninya belajar untuk persiapan ujian semester minggu depan. Mendengarnya seperti itu, aku jadi insecure sendiri. Bahkan meski ujian semester sudah dekat, aku belum melakukan persiapan apa apa untuk menghadapinya. Melainkan aku hanya sibuk memikirkan hubunganku yang tidak jelas bersama kakak beradik bagas dan devan ini. Tidak seperti hana yang berburu snack, aku melenggang menuju deretan keperluan rumah tangga untuk berusaha berlatih menjadi anak perempuan satu satunya di rumah yang teladan dengan tiba tiba membelikan bahan bahan untuk kebutuhan dapur dan yang lainnya tanpa disuruh oleh bunda. Meski padahal ini hanya untuk alasan saja agar aku bisa menjauhi devan. Meski akhirnya…. Aku masih harus bersama devan juga karena ulah hana. “Lo mau nyari apaan sih? Pake segala sok mau pergi sendiri, emang kalo kebutuhan rumah nggak bisa dibeli nanti pas pulang dari rumah sakit ya? Kan habis dari rumah sakit pasti gue anter. Dan rumah kita pun deketan.” Devan tiba tiba sudah berada di sampingku. “kok lo di sini sih?” tanyaku kaget, mendapatinya sudah berjalan dengan posisi yang begitu dekat denganku. “lo emangnya mau cari apa? Beliin titipan buat nyokap lo? Apa buat makanan lo sendiri buat jaga di rumah sakit nanti?” tanyaku dengan nada sewot. “Emang gue tadi bilang lagi nyari sesuatu ya?” tanyanya, berlaga lupa ingatan. Ih, belum juga tua. Wait, belum juga menginjak usia dewasa, udah main pikun aja nih anak. Aku menoleh ke arahnya. “iya…. Lo sampe nawarin kita bonceng bertiga. Otak lo agak gangguan deh kayaknya.” “oh, itu. Gue emang nyari sesuatu. Tapi bukan barang.” Katanya. “Terus? Apaan kalo bukan barang? Wangsit? Udara?” tanyaku, yang entah kenapa kini sibuk menyibukkan diri dengan menelusuri produk produk minyak yang terpajang. Sok sok memilih berdasarkan komposisi dan nilai gizi, padahal aku juga tahu mama biasanya pakai yang mana. Hanya saja, aku menghindari menatap muka devan. Aku juga mencari sibuk menemukan kata kata relevan yang kiranya bisa membuatku tenang. Meski akhirnya aku mengeluarkan kata kata nyeleneh dari mulutku. Merespons kalimat tanyaku, devan terkekeh pelan. Aku yang melihatnya hanya tertawa, bergerak agak menjauh darinya. “Ih, apaan deh ketawa ketawa? Awas kesurupan setan pasar loh” kataku. “Mau tau nggak gue nyari apa?” tanyanya. “Nggak. Lagian nggak penting juga. Buat apa gue peduli lo nyari apaan,” ucapku. Aku melihatnya manggut manggut. Entah mengerti atau dia sedang ingin manggut manggut saja karena gabut membuntutiku. Ketika beberapa detik kami hanya terdiam, maka ia pun berbicara. “gue nyari alasan.” Seketika aku menoleh ke arahnya. “hah? Alasan? Alasan apa? Alasan bolos? Kan udah cabut sekolahnya. Alasan apa lagi?” tanyaku heran. Aneh deh nih anak. Dia terlihat menggeleng. “alasan bisa sama lo lah Tam…” ucapnya, yang membuat jantungku serasa tersengat. s****n nih devan! Kenapa sih dia bilang seperti ini? Apa maksudnya coba? Aku tidak bereaksi dan hanya memegang botol minyak goreng yang berada di hadapanku begitu lama, tanpa segera memasukkannya ke dalam keranjang yang kubawa. Hingga akhirnya, aku mendapat teguran dari ibu ibu yang berdiri di sebelahku. “Dek, jadi diambil nggak minyak gorengnya? Kalo nggak jadi, tolong minggir sebentar. Saya mau ambil minyak goreng itu,” tegur wanita yang kira kira berusia sepantaran dengan mamaku juga mama devan. Menyadari aku menghalangi jalan, maka aku pun bergeser ke arah lain, untuk memberikan ibu ibu yang tengah membawa troli berisi belanjaan banyak itu, agar bisa menjangkau minyak goreng yang akan diambilnya kebutuhan rumah tangga. Well, aku tidak seharusnya di sini mengganggu orang sedang melaksanakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, bukannya lagi kabur nggak jelas tapi ujung ujungnya gagal seperti yang sedang kulakukan sekarang.               Aku pun berpindah ke display produk lain untuk mulai mecari sesuatu. Apa tadi ya? Oh iya, detergen. Saat itu, aku berupaya untuk melupakan apa yang dikatakan Devan tadi. Namun gagal, karena Devan yang terus membuntutiku, malah membuatku terus terngiang akan kalimatnya. Yang tanpa bisa ku tahan, akhirnya aku pun menanyakan maksud dari kalimatnya itu. “Maksudnya apa, nyari alasan buat sama gue?” tanyaku, tanpa menoleh ke arahnya.               Devan mengedikkan bahu. “Ya gitu deh.”               “Nggak usah aneh aneh deh. Nggak mempan gue sama bercandaan lo,” balasku, yang mencoba terlihat biasa biasa saja, meski sebenarnya dalam dadaku, aku berusaha meredam detak jantung. iya.. iya, detak jantung itu otomatis dikendalikan oleh otak lewat otot polos, jadi aku nggak bisa mengendalikannya sembarangan kayak mengendalikan gerakan anggota tubuh lain.               “Emang nggak aneh aneh kok. Siapa yang aneh aneh?” katanya. Yang membuatku makin dilanda kebingungan. Maka, aku pun menyerah dan memilih tidak membahasnya lagi.               Di sela sela mencari kesibukan, aku pun mengambil satu bungkus detergen merk terkenal yang biasa digunakan di rumah, ukuran cukup kecil, kemudian membawanya bersama minyak goreng yang sebelumnya sudah berada di tanganku, untuk ke kasir.               Saat menuju kasir, rupanya hana juga sudah selesai. Ia menghampiri kasir satunya dengan membawa keranjang belanja berisi beraneka ragam snack mulai dari keripik kentang, stick cokelat, wafer, biskuit, permen, kacang kulit, kacang polong, sampai camilan dari rumput laut.               Saat itulah aku teringat untuk mengambil camilan itu juga. “ngambil di sebelah mana Han, norinya?” tanyaku pada Hana, agar bisa lebih cepat menemukan camilan itu tanpa berlama lama mencari dan menghabiskan waktu.               “di sebelah kanan situ, deketnya kulkas es krim,” jawabnya sambil menunjuk ke arah sesuai dengan yang dideskripsikannya. Aku pun menatap devan yang berada di sebelahku, “titip dulu ya dev, biar nggak diserobot orang antriannya.”               Devan pun mengangguk. Kemudian aku berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh Hana. Setelah menemukan snack rumput laut gurih yang membuat air liurku keluar setiap melihatnya, aku segera mengambil snack itu. Tiba tiba, pikiranku pun melayang ke suatu waktu di mana kak bagas menyadari bahwa aku menyukai snack ini, tanpa aku bilang kepadanya bahwa aku sangat menyukai makanan ini. Ia hanya menganalisis dari kebiasaanku makan snack ini sampai berbungkus bungkus saat sedang bersamanya, juga aku yang hampir tidak pernah lupa untuk membeli snack ini setiap kami ke minimarket jika sedang jalan bareng.               Aku pun mangambil dalam jumlah lebih. Untuk berjaga jaga kalau saja kak bagas nanti benar benar siuman ketika aku tiba di rumah sakit. Aku akan memberikannya kepadanya, mengingat saat mencicipi punyaku waktu itu, ia juga bilang kalau rasa dari snack ini sangat enak.               “Udah?” devan bertanya begitu aku kembali ke kasir. Saat itu, pas sekali antrian sudah bergeser untuk giliranku. Di kasir sebelah, hana rupanya sedang mendapat gilirannya, di hadapannya mbak kasir sedang melayani belanjaan jajannya yang banyak dan hampir mirip orang belanja bulanan itu.               Setelah menyelesaikan pembayaran, aku, devan, dan hana pun berjalan keluar. Aku dan devan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan kepada Hana, yang akan melanjutkan perjalanan ke rumahnya dengan menggunakan angkot. Tadinya devan hendak menunggu sampai hana mendapatkan angkutan umum. Namun ternyata, tepat saat kami keluarg gerbang, angkutan umum jurusan ke rumah hana berhenti tepat di saat yang bersamaan.               Maka, setelah hana benar benar sudah naik ke angkot, aku dan devan akhirnya memulai perjalanan menuju rumah sakit. Devan membawakan belanjaanku dan menaruhnya di gantungan yang terletak di bagian depan motor maticnya. Seperti yang sudah dikatakannya tadi, ia sama sekali tidak membeli atau mencari benda apapun. Melainkan hanya mencari cari alasan. Aku tahu, ini adalah sindrom yang dimiliki devan. Yaitu sindrom untuk membuat orang tidak nyaman dan membuat orang suka gugup tanpa alasan jelas.               Karena tadi saat di sekolah aku sudah menolak untuk memakai helmnya, maka devan sama sekali nggak menawariku untuk memakai helm. Beruntungnya, rumah sakit tempat kak bagas dirawat tidak harus melewati jalan protokol jika ditempuh dari sekolah kami. Karena pada saat kejadian, pihak yang menolong kak bagas waktu itu memilih rumah sakit yang memang letaknya paling dekat dengan lokasi kejadian, yaitu sekolah kami. Karena itu, kami tidak perlu terlalu khawatir meski salah satu penumpang tidak menggunakan helm. Karena selain jarak yang dekat, kami tidak melewati banyak pos polisi seperti saat kami melewati deretan jalanan senayan, bundaran HI, atau semanggi.               Selain itu, kami juga tidak perlu terlalu khawatir meski devan yang belum genap berusia tujuh belas tahun dan belum memiliki surat izin mengemudi, mengemudikan kendaraan bermotor. Karena selama kami menaati rambu rambu dan nggak bikin masalah, devan nggak bakal dihentikan atau ditilang. Yang jadi masalah buatku adalah, ketika devan malah ingin mengorbankan dirinya demi memberikan helmnya kepadaku.               Well, sejujurnya, aku bicara lugas, kasar, dan agak kasar saat menolak tawarannya tadi adalah untuk menghindarkannya dari berkorban demi aku. Karena ada rasa trauma dalam diriku. Setelah melihat kak bagas merelakan dirinya demi menyelamatkanku. Tentunya aku tidak mau devan ikut mengambil risiko yang sama. Meski kelihatannya sangat sepele, yaitu dengan mengalah memberikan helm untukku. Well, kebanyakan formatnya seperti itu. Di mana laki laki sok berkorban kepada seorang Wanita. Untuk konteks kecelakaan di jalan, memangnya laki laki kebal kecelakaan, sampai mengalah memberikan helm untuk cewek? Peluang kami untuk terluka atau mati sama. Jadi, menurutku salah kalau salah satu mengalah. Yang benar adalah dua duanya memakai helm.               Yah, karena aku nggak bawa helm, tinggal berdoa saja. Semoga perjalanan kali ini selamat dan tidak sampai membuatku dirawat di rumah sakit mendampingi kak bagas, apalagi kalau sampai nyawaku melayang. Bisa nangis nangis mama, papa, dan kakak kakakku yang badung itu.                                                                                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN