EPISODE 26

2172 Kata
Tepat saat aku menyudahi kalimatku yang panjang lebar, seluruh kelas terlihat memberikan tepuk tangan. Aku sendiri tidak menyangka kenapa aku bisa berbicara panjang lebar seperti tadi. Aku sendiri sampai sampai mengira aku habis kerasukan arwah mantan juara kelas terdahulu di sekolah ini. Pak Yono tersenyum dan bertepuk tangan, “wah… hebat sekali pendapat kamu tami. Lainnya apakah ada yang ingin menambahkan, atau tidak setuju dengan pendapat tami? Coba bapak ingin tau.”               Beberapa detik terlewati dengan hening. Hingga akhirnya, satu cowok berbadan cukup tinggi, yang sepertinya ikut tawuran bersama kakak kelas beberapa waktu lalu, mengacungkan tangan. Aku menelan ludah. Jangan jangan ia sebal dengan pendapatku dan ingin memasukkan namaku ke dalam daftar orang pencarian yang akan dia tandai dan proses bersama teman teman se gengnya. Mungkin aku akan disandra dan diancam karena tidak mendukung aksi yang menurut mereka adalah aksi patriot, karena bersifat membela sekolah.               “Ya, silahkan. Coba perkenalkan dulu siapa nama kamu.” Pak yono mempersilahkan galih, si cowok bertampang garang yang mengangkat tangannya tadi. Galih pun menoleh ke arahku. Tatapannya agak tajam dan membuatku ngeri. Berbagai gambaran tiba tiba terbersit di kepalaku. Bayangan bayangan seram seperti yang ada di film film mafia atau thriller, dan berpadu dengan desas desus yang selama ini tersebar. “Ehmm…” dengan gayanya yang seperti geng santuy itu, dia berdehem, kemudian mulai bicara. “menurut saya, tawuran tidak sepenuhnya negative. Tawuran melatih kita untuk tanggap dalam situasi, juga rasa persaudaraan terhadap satu kelompok. Karena jika ada satu kelompok yang dilukai, otomatis kita akan beramai ramai membantu.” Aku sama sekali nggak setuju dengan pendapatnya. Well, kalo tanggap dan melatih untuk lihai dalam strategi perang, seharusnnya kita belajar main game online aja. Yang lebih taktis. Atau ikut kompetisi yang lebih menghasilka  dan bermanfaat. Lebih peka? Dengan mereka mudah termakan hoaks tanpa mengecek masalahnya terlebih dulu dan cepat terpancing emosi untuk langsung nyerang, itu b**o namanya. Bukan peka! “Jadi itulah pendapat saya,” lanjutnya yang tidak terlalu panjang sepertiku karena mungkin tidak dapat menemukan argument yang tepat untuk menyangkal argumenku. Karena ya memang perbuatannya tidak ada bagus bagusnya kok menurutku. Dia nggak tahu ya betapa bahanya tawuran. Kak bagas yang nggak ikut ikutan tawuran aja sekarang terbaring nggak berdaya di rumah sakit. Huh… lagi lagi aku keinget kak bagas. Bisa bisa setiap menit setiap detik yang ada di setiap sel otakku adalah out put tentang kak bagas nih. Pak yono mengangguk ngangguk, lalu beliau bersiap mengutarakan pendapatnya sendiri. Setelah sebelumnya juga memuji dan memberi penghargaan berupa tepuk tangan kepada galih, karena bagaimana pun telah berani mengutarakan pendapatnya. Ya, setiap orang memang memiliki pandangan berbeda beda dari kacamatanya masing masing, apalagi negara kita adalah negara demokrasi jadi siapa pun berhak berpendapat sesuai dari sisi mana memandang suatu permasalahan yang ada. Baik berargumen langsung seperti ini, berkicau di media sosial seperti f*******:, i********:, twitter, blog, atau bahkan melalui sebuah karya seperti karya novel, film, puisi, mau pun lagu. Maka, pelajaran pun dilanjutkan dengan pak yono membahas pandangannya dan dikaitkan dengan teori yang akan kita bahas pada bab pelajaran kali ini. Aku, berkat dipancing berpikir untuk berpendapat tadi, menjadi agak bisa berpikir karena teralihkan dari kekhawatiran yang keterlaluan terhadap kak bagas. Ditambah lagi, baru saja aku melihat pesan balasan dari mama kak bagas bahwa meski belum ada kemajuan terkait keadaan kak bagas sejak semalam hingga sekarang, namun tidak ada tanda tanda keadaan memburuk atau mengkhawatirkan. ****                             Hari ini berlangsung cukup padat. Otakku mulai segar sejak pelajaran ppkn tadi. Karena isinya berdiskusi. Dan seperti biasanya, cara mengajar pak yono memang lumayan friendly dan masuk untuk gaya mengajar yang disukai oleh kebanyakan siswa, termasuk aku. Karena tidak menekan dan tidak terlalu menuntut hafalan seperti pelajaran lainnnya yang juga sebenarnya tidak terlalu perlu banget menghafal. Seperti pelajaran sejarah misalnya.               Sebenarnya esensi belajar dari sejarah adalah kita memahami asal usul dan sebab akibat suatu peristiwa untuk kita analisis, pelajari dan bagaimana memetik pelajaran dari sebuah peristiwa tersebut untuk dimanfaat pada masa sekarang sehingga tidak mengulangi peristiwa atau kesalahan yang sama yang dapat menyebabkan kerugian besar seperti di masa lalu.               Atau bahkan, kita bisa menemukan solusi atau inovasi lain yang ternyata bis akita kembangkan di era sekarang. Bukannya hafalan tanggal perang diponegoro atau hafalan siapa nama bapak hayam wuruk. Oke, itu juga penting. Namun, untuk ap akita menghafal semua itu, jika esensinya saja kita bahkan tidak paham sama sekali?               Maka, aku sangat senang ketika ada seorang guru seperti pak yono, yang meski usianya tidak lagi muda, tapi cara mengajarnya lumayan asyik dan cocok untuk era sekarang. Ibaratnya revolusi sih untuk cara mengajar siswa.               “Tam! Mau ke mana? Langsung pulang?” Hana, yang melihatku buru buru mengemasi buku dan bersiap siap untuk melangkah keluar kelas dengan begitu cepat bahkan sampai hamper lupa mengucap perpisahan kepadanya, menepuk bahuku dari belakang dengan tangan kanannya yang mengenakan jam tangan bergambar betman. Yap, bukan hello kitty. Karena hana memang absurd. Kesukaannya dari dulu memang agak nyeleneh. Mulai dari bando spiderman. Bayangkan, kok ya dia nemu aja bando spiderman?               Aku mengangguk, kemudian menjawab singkat aja. “Iya han, aku mau ke rumah sakit deh. Lihat keadaan kak bagas.”               “Naik apa? Nggak sama devan?” tanyanya, kemudian membawa pandanganku untuk melirik devan yang tengah berada di bangkunya, juga sedang berkemas.               Plis deh han. Bisa nggak sih, sekali aja nggak nanyain aku harus ini itu sama bagas melulu? Aku bosen dan jadi bingung kan jawabnya. Nggak tau gimana jelasinnya ke kamu. Karena aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang harus ku jelaskan, sebab aku sendiri juga bingung apa yang terjadi antara aku dan devan. Baiklah, mungkin aku mengulang ulang soal ini. Tapi, ini semua karena aku frustrasi tentang apa yang terjadi antara aku dan devan. Semuanya jadi aneh.               Aku menghela napas, kemudian menggeleng. “Aku naik angkot aja. Mau mampir ke satu tempat juga soalnya.”               “oh, mampir ke mana?” ya tuhan, hana… plis deh. Kenapa kamu bawel banget ya? Banyak banget nanyanya udah kayak pengacara.               “Ya ada deh. Mau ke tempat temen aku, sama beli sesuatu titipan mama. Nggak bisa kalo bareng dia. Nanti yang ada ribet. Dia kan cowo tapi lumayan ceriwis, tar aku masih muter muter cari sesuatu, dia ngeluh dan ngomel lagi, bikin sebal dan jadi nggak konsen nyarinya. Kalo nggak dapet, yang dimarahi mama aku, bukan dia.” Ungkapku panjang lebar sebagai alasan, yang detik kemudian langsung kusesali karena ia malah berinisiatif untuk menawarkan menemaniku belanja.               “Ke supermarket ya? Ya udah, sama gue aja yuk! Gue juga lagi mau nambah stok makanan buat belajar nih. Beberapa hari lagi kan udah mau mulai ujian semester. Jadi, kalo ngerangkum ngerangkum gitu aku butuh camilan banyak banget,” jelasnya. Seolah aku benar benar mau supermarket. Dan kalau pun aku mau ke supermarket, aku juga belum tentu ditemani orang. Apalagi orang yang ribet dan bawel kayak hana ini. Berisik sebenarnya.               “Ehm… bukan ke supermarket sih,” aku berusaha mencari cari alasan untuk mencegahnya ikut. Benar benar nih, aku udah mengupayakan supaya terhindar dari devan agar dia nggak mengetahui kalau aku ke rumah sakit buat jenguk kak bagas, karena kemungkinan besar ia akan mengajakku pergi bersamanya saja. Entah sekarang pulang sekolah langsung seperti ini, atau nanti dulu sekalian pulang dulu supaya dia bisa mengambilkan baju ganti atau keperluan lain untuk mamanya.               Well, aku memang agak GR sih. Tapi, ya itulah yang semestinya terjadi. Kalau devan nggak nawarin kan b******k banget dia jadi orang. Tanpa sadar, aku melirik devan yang sepertinya sudah selesai berkemas dan hendak melangkah keluar kelas. Maka, aku pun cepat cepat merangkul hana, untuk segera berjalan menjauh dari sana. Entah kemana, yang penting lenyap dulu dari pandangan devan.               Hana, yang tiba tiba saja kuseret tanpa aba aba terlebih dulu, seketika memekik keras. “loh, ada apa?” tanyanya, namun aku hanya mengisyaratkan gesture untuknya bungkam, dengan menaruh satu telunjuk kanan tanganku di bibir. Maka, seperti seorang hana biasanya, ia menurut saja dan langsung diam. Mengikuti langkahku, tanpa protes sedikit pun.               Kami berjalan dengan Langkah Langkah cepat sambil sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikan devan tidak mengikuti langkahku. Karena seharusnya dia berjalan menuju tempat parkir yang berada di belakang ruang ini.               Aku pun segera menuju gerbang. Yang berdasarkan prediksi dan logika, aku akan sampai jauh lebih dulu karena aku langsung berjalan dari kelas menuju gerbang kan, tanpa ambil motor. Namun, baru beberapa saat setelah aku sampai di gerbang, aku melihat motor devan tiba tiba saja terlihat hendak menuju gerbang.               What? Cepat banget tuh anak? Pake ilmu the flash? Gercep banget!               Maka ketika aku tidak menemukan tempat lagi untuk bersembunyi atau menghindar, karena memang gerbang lagi rame ramenya oleh siswa siswa pejalan kaki, pengendara sepeda kecil, juga pengendara motor seperti devan. Maka aku hanya pura pura ngobrol sama hana sambil berusaha terlihat menoleh ke arah lain agar devan tidak bisa melihatku, atau paling tidak… hanya melihat tadi dia mengira aku sedang sibuk, sehingga ia tidak berani mengganggu atau macam macam.               Namun sialnya, aku malah mendengar suara berat yang menyebalkan itu memanggil namaku. “Tam! Lo mau langsung pulang?” suara itu, aku tau dari devan. Namun karena tidak menyangka ia akan memanggilku meski aku sudah menunjukkan tanda tanda menghindarinya, apalagi setelah kejadian tadi pagi sebelum kami di uks, dia juga akan merasakan hal yang sama dan mewujudkannya dalam sikap serupa. Hampir sama sepertiku. Namun, sepertinya dia enjoy enjoy saja. Karena saat aku masih belum menjawabnya, dia malah mengulang seruannya lagi agar aku menoleh ke arahnya, mungkin.               Maka, dipanggil panggil seperti itu pun… akhirnya aku merasa tidak enak dan akhirnya mau tidak mau mendongak dan menatapnya. Aku menelan ludah. Duh, jawab apa ya?               Jawab langsung pulang, kayaknya bakal nggak enak banget kalau aku tidak terlihat khawatir terhadap keadaan kakaknya sampai tidak cepat cepat menyempatkan pergi ke rumah sakit. Apalagi untuk hari ini, aku tidak ada jadwal les. Satu dari sedikitnya hari yang aku bebas tanpa les. Karena les yang kuikuti berlangsung tiga hari dalam seminggu. Tiga hari dalam lima hari aktif sekolah. Sehingga, hari bebas seperti ini hanya ada dua hari saja. Dan kemarin, hari bebas itu sudah lewat. Sehingga besok besok aku sudah tidak ada waktu lebih lagi untuk bisa menjenguk kak bagas ke rumah sakit, karena mama pasti melarang dan menyuruhku langsung ke tempat les lalu pulang.               Namun jika aku menjawab bakal ke rumah sakit sekarang, seperti yang sudah kujelaskan tadi, devan pasti akan bertanya apakah aku berangkat ke sana naik ojek, angkot, busway, metro mini, atau taxi, bahkan bajaj.               Dan mungkin karena aku terlalu lama menjawab, si hana lah yang menjawab, tanpa repot repot meminta izin padaku. “Tami mau jenguk kak bagas katanya. Tapi, dia mau mampir ke tempat lain.”               s****n! Hana…. Awas aja, ngomong lagi gue pecel lo! Umpatku dalam hati.               “mau ke mana? Bareng gue aja. Gue juga mau cari sesuatu,” tuh kan? Apa ku bilang. Sebrengsek brengseknya dan senyebelin nyebelinnya seorang devan, dia nggak akan lupa nilai nilai sopan santun atau boy material seperti ini.               “Um,… gue sebenarnya,” gue menggigit bibir sebentar, berpikir untuk mencari alasan yang tepat untuk mengelak. Tapi sia sia.. karena setelahnya, devan malah melepas helm nya dan menyerahkannya kepada ku.               “apa nih?” tanyaku, menatap helm model sport yang diberikannya kepadaku. “helm ini berat. Nggak suka gue. Apa lagi bagian mulutnya ketutup, bau mulut lo nempel di situ. Ih, nggak mau!”               Well, aku tidak tahu aku kerasukan apa, sampai aku tidak berpikir panjang untuk menyemprotkan kata kata itu. Maksudku, meski pun setiap kata yang keluar dari mulutku barusan adalah benar adanya, dan juga devan sudah mengerti bagaimana sikapku dan omonganku yang ceplas ceplos begini, namunt tetap saja. Tampaknya kurang tepat jika kita menolak perlakuan baik atau niat baik orang lain dengan kata kata frontal seperti itu. Bukannya bilang berterima kasih dulu. Duh tami… kamu kan udah diajarin sopan santun sama mama? Kenapa bisa menguap begitu saja karena dilanda kegugupan begini?               What? Gugup? Enggak! Tentu saja nggak gugup. Aku cuma cari cara untuk terhindar darinya.               Devan hanya mengedikkan bahunya, kemudian memakai helm nya lagi. “ya udah kalo nggak mau,” balasnya, yang untung saja, devan bukan orang yang baperan. Kalo baperan, mungkin helm itu bukannya berada di kepalanya, melainkan sudah melayang untuk menampar mukaku hingga aku pingsan kemudian dilarikan ke ruang kesehatan untuk diobati. Dan kali ini, karena aku benar benar sakit dan cidera. Bukan pura pura seperti pagi tadi, saat aku lupa tidak membawa baju untuk pelajaran jasmani.               “terus lo mau naik apa sekarang?” tanya devan, dengan suara yang agak kurang jelas karena sudah kembali mengenakan helm cowok super alay dan sok kerennya itu.               “Um, naik angkot? Bareng hana. Dia katanya juga mau nyari barang di supermarket. Jadi ya bareng dia aja,” aku menjelaskan pada devan. Meski tadinya aku berpikir untuk menolak ajakan hana untuk berbelanja bersama karena risih dengan sikapnya yang bawel, dan juga tadi hanyalah ide selintas yang ku ucapkan untuk menghindari devan, namun kini benar benar justru menjadi tamengku demi menghindari devan yang sudah ada di depan mata. Bukan hanya persepsiku seperti tadi.               “Nggak usah lah, kita bonceng bertiga” tiba tiba devan nyeletuk.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN