EPISODE 25

2067 Kata
Aku pun mengetikkan kalimat yang sama persis dengan yang didektekan hana kepadaku. Kemudian menarik napas agak panjang sebelum akhirnya mengirimkan ke nomor ponsel mama kak bagas, yang diberikan mama kepadaku, mengingat mama kak bagas, yang juga mamanya devan, adalah tetangga dan teman mama sejak masa sekolah dulu.               Hmmm.. cukup awert juga ya pertemanan mereka. Apakah aku, hana, dan juga devan akan bertaman lama seperti pertemanan yang mereka jalin? Aku tidak tahu. Yang penting untuk sekarang, aku berfokus untuk melakukan dan menikmati apa yang aku bisa dan aku punya.               Setelah aku menekan tombol sent untuk mengirimkan pesan, tak lama setelah itu guru ppkn pun memasuki kelas. Anak anak yang tadinya masih tersebar di seantero kelas mau pun di luar kelas, kini masuk semuanya dan duduk di bangku masing masing, siap mengikuti pelajaran. Aku pun juga sama, sudah siap juga. Tapi bukan siap untuk menyimak pelajaran, melainkan siap untuk mengakhiri hari ini dengan menunggu bel pulang sekolah berbunyi dan menunggu saja selama pelajaran tentang kenegaraan ini berlangsung. Meski tidak tahu nantinya bakalan masuk ke otakku atau tidak, aku tidak peduli.               Pak Yono pun mulai membuka pelajaran mengucap salam. Yang dengan serempak dijawab oleh anak anak. Aku pun demikian, namun hanya ikut menyuarakan sekenanya saja. Tidak begitu keras dan bersemangat seperti yang lain.               Ketika aku dan yang lainnya hendak membuka buku catatan untuk mulai menyimak pelajaran, juga buku paket sesuai letak yang sudah kami pelajari bersama minggu lalu, tiba tiba saja tanpa pemberitahuan sebelumnya Pak Yono menyuruh kami untuk menutup semua buku.               Seluruh penghuni kelas pun kaget dengan isyarat yang dia berikan, Dion dan riko, yaitu anak anak yang duduk di bangku depan langsung melontrakan pertanyaan yang ada di benaknya, yang sekaligus mewakili apa yang sedang kami khawatirkan.               Pak yono hanya tersenyum, kemudian menjawab. “nggak pa-pa, santai aja. Nggak usah takut atau worry begitu. Saya hanya akan mengetes kalian saja. Untuk bab baru ini, saya ingin tahu sampai mana batas kalian memahami atau pernah tau tentang materi yang akan kita bahas ini. Atau bahkan ada yang relate dengan kondisi kondisi yang ada saat ini. Yang mana berkaitan erat dengan keadaan sekitar kita. Apalagi kalau sampai ternyata ada yang sudah membaca dan mempelajari materi sebelumnya.” Pak yono dengan suara beratnya dan dengan kumisnya yang bergerak gerak, menjelaskan maksudnya dengan intonasi yang pelan dan bernada sabar seperti biasanya.               Niatnya mungkin untuk menenangkan dan tidak membuat anak anak panik. Namun, aku tetap saja khawatir. Aku tidak pernah belajar ppkn. Jangankan belajar sebelum materinya dimulai. Mengingat apa yang telah kupelajari sebelumnya saja hamper tidak mungkin. Dan sekarang, beliau ingin mengetes kami? Jantungku berdebar debar, membayangkan apakah pak yono akan menunjuk kami satu per satu untuk menjawab pertanyaannya, atau bahkan menyuruh kami ke depan untuk menjelaskan sesuatu yang tengah ia bahas. Sesuatu yang mungkin dekat berita berita yang setiap pagi atau setiap sore ditonton oleh papa melalui tv atau beliau baca di surat kabar.               Sesuatu yang aku nggak ngerti sama sekali. Yang biasanya saat menonton tv, aku bisa saja kompak dengan mama untuk mengganti saluran televisi yang menggemari tayangan sinetron remaja atau percintaan sepertiku, alih alih menyukai tontonan serius yang bicara soal masalah negara seperti yang disukai bapak bapak seperti papa, dan sekarang mungkin yang akan dibahas pak yono.               Aku meremat tanganku yang tanpa sadar berkeringat. Kalau sedang gugup, rasanya aku sering sekali berkeringat seperti ini. Namun, mungkin aku lebih sering menyembunyikan agar tidak menjadi sorotan. Kak bagas bahkan tidak terlalu menyadari karena aku sering sekali atau hamper selalu menyediakan tisu atau sapu tangan mengelap keringatku sebelum terlalu membasahi telapak tanganku.               Saat aku masih menerka nerka apa yang akan dilakukan pak yono, tiba tiba pak yono menyuarakan pertanyaannya.               “apa pendapat kalian tentang tawuran anak sekolah yang terjadi sekarang? Kemudian, apa hubungannya dengan salah satu sila dari Pancasila yang kita anut sebagai dasar negara kita?” pak yono bertanya dengan suara cukup bersemangat.               Seketika suasana kelas berubah menjadi hening. Seperti biasa saat guru melemparkan pertanyaan untuk dijawab oleh satu anak saja, yang terjadi hamper selalu seperti ini. Saling diam dan menunggu volunteer untuk menjawab. Beruntung kalo setelah menjawab, relawan itu diberi penghargaan dengan bertepuk tangan atau pujian, tanpa menghujat atau menertawakan, bahkan menatap dengan padangan sinis seolah apa yang ada di otak mereka lebih oke dan lebih layak disuarakan dari pada yang sudah disuarakan oleh seorang anak yang berani mengutarakan pendapatnya tadi.               Hello, kalau memang jawaban kamu lebih oke, kenapa nggak jawab aja sendiri?               Maka, karena terbentuk oleh kebiasaan dan mindset seperti itu, aku pun enggan menjawab. Memilih menunggu saja. Toh anggota kelas ini juga banyak, yaitu setidaknya hamper mencapai angka empat puluh. Jadi, satu banding tiga puluh Sembilan bukan? Masa dari siswa sebanyak ini tidak ada sama sekali yang mempunyai nyali untuk menjawab. Apalagi yang kemarin berambisi untuk menjadi salah satu anggota osis, dan bangga banget mendapat panggilan pertama dari test kelolosan untuk menjadi salah satu anggota organisasi paling bergengsi di sekolah itu.               Harusnya, jika ada isu isu seperti ini, mereka bukan? Yang harusnya peduli dan memiliki semangat tinggi untuk beropini? Bukannya melempem seperti kerupuk kadaluarsa di warung tetangga. Eh, tetangga aku nggak buka warung ding. Komplek rumahku kan tergolong komplek perumahan elit. Jadi warganya jarang sekali ada berjualan ala kecil kecilan. Hamper semua penghuni komplek adalah pekerja kantoran atau pemilik usaha di tempat yang memang sudah lumayan besar.               Selanjutnya, aku menatap sekeliling menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari apakah ada tanda tanda adanya jawaban yang akan diutarakan oleh teman temanku untuk menjawab pertanyaan sederhana dari pak yono tadi. Namun ternyata, sampai beberapa menit berlalu pun, belum ada satu pun yang berniat menjawab. Aku menoleh ke arah hasbi, si ketua kelas yang selain cukup berambisi menjadi seorang pemimpin dengan mulai aktif di kegiatan pramuka atau kegiatan kegiatan lainnya. Namun, tidak menemukan hilal anak itu akan bersuara.               Lalu, aku menoleh kea rah Tiara. Salah satu anak perempuan yang cukup aktif. Dia juga dikabarkan masuk sekolah ini karena nilai akademis dan testnya yang cukup fantastis, didukung pula dengan prestasinya semasa SMP yang sangat gemilang. Sehingga masih kelas sepuluh saja, namanya sudah cukup dikenal oleh guru guru karena sering wira wiri kantor guru dan perpus, untuk pembinaan mengikuti lomba.               Kemudian yang terakhir, mataku tidak bisa menghindar kala berpaku pada sosok devan yang hanya terdiam. Terdiam dan menunduk biasa, tidak berlaga seperti sedang berpikir layaknya anak anak lain. Untuk beberapa detik, pandanganku terpusat di sana. Hingga tiba tiba aku mendengar suara cukup berat.               “Yang duduk nomor tiga dari belakang, sebelah kanan dekat jendela, coba. Bapak ingin tahu apakah kamu punya pendapat soal ini.” Aku hanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok siapakah yang dimaksud. Hingga seseorang menoel punggungku dari belakang.               Aku pun menoleh ke belakang, dan menatap jengkel Gisal yang baru saja mencolek punggungku dengan ujung bolpoin birunya. “apa sih?” semburuku, di sampingku, Hana juga ikut menoleh ke belakang.               Membalas pertanyaanku, Gisel menaikkan dagunya, kemudian menunjuk ke arah depan. Yap, arah pak yono berdiri. Aku, yang tidak paham, menaikkan kedua alis, untuk lebih mendapat penjelasan dari maksudnya menggangguku. Kemudian, alih alih mendapatkan jawaban dari gisel, yang meski aku sudah mengisyaratkan ketidakmengertianku atas maksudnya, aku justru merasakan colekan lagi di tubuhku. Colekan yang berujung menjadi tabokan di pahaku.               Bukan dari depan atau belakang. Melainkan dari arah samping. Dimana selain jendela dan dinding di samping kananku, hanya ada Hana yang duduk di sampingku untuk menjadi teman sebangku. “Tam… tami! Elo yang dimaksud sama pak yono!” ucap Hana sembari mengoyak ngonyak pahaku.               Aku, yang mendapat jawaban dari Hana, maka tanpa babibu lagu segera menghadap ke depan. Namun, mungkin saking terkejutnya atau apa, aku tidak hanya menatap pak yono, melainkan aku juga menanggapinya dengan begitu antusias, yakni sampai berdiri segala.               “Ya? Siap pak!” seruku lantang, yang langsung mendapat balasan tatapan dari seantero kelas. Entah mereka kaget atau asing atau apa dengan responsku yang seperti ini.               Setelah mungkin menatapku dengan keterkejutan selama sepersekian detik, mereka tertawa terbahak bahak begitu keras. Seolah aku sedang melawak. Well, aku nggak baper sih meski dikira sedang melawak. Aku pun secara intuitif  mengedarkan pandanganku ke sekliling, namun tidak lama karena aku merasa risih dilihatin seperti itu begitu lama, maka aku menunduk lalu duduk lagi. “Ayo, coba perkenalkan dulu namanya. Bapak tidak terlalu hafal anak kelas sepuluh,” kata pak yono. Maka aku pun mendongak, setengah mengangguk. Aku tahu sekeliling kelas masih menatapku dengan tatapan yang beragam. Lalu aku pun menghela napas kemudian mencoba berkenalan terlebih dahulu. Sekaligus narsis narsis dikit, siapa tahu nanti jawabanku oke dan direcord untuk diabadikan dan diunggah menjadi konten t****k. Mengingat apa pun di sini bisa viral. “Baik pak. Perkenalkan nama saya tami.” Aku memperkenalkan diri kepada pak yono yang mungkin belum sepenuhnya menghafal nama murid muridnya, terutama murid baru yang notabene duduk di bangku kelas sepuluh. Dan mungkin sebagian besar guru guru hanya sebatas mengenal ketua kelas saja, atau yang paling cantik atau pun yang paling ganteng. Jadi karena aku sadar diri aku nggak terlalu cantik, pintar, atau bermasalah, maka aku berjaga jaga agar pak yono tidak bertanya lagi, jadi aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Terima kaish atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara, mengutarakan apa yang ada di benak saya ketika memikirkan pertanyaan tersebut.” Pak yono tersenyum, sementara anak anak yang lain, aku tidak berani menatap mata mereka karena mereka memandangiku begitu intens seperti tidak berkedip dan seperti mengintimidasi. Aku menarik napas dalam dalam. Kemudian berupaya merangkai kalimat sebaik mungkin. “Menurut saya, soal tawuran dan kaitannya dengan dasar negara kita adalah… yang pertama, tawuran sendiri biasanya dipicu oleh kejadian kejadian yang sebenarnya bisa saja dibicarakan dengan baik baik, atau bisa diselesaikan secara prosedur tertentu. Atau bahkan dipicu oleh adanya provokator dan pihak yang memanas manasi. Dampak tawuran ini tentunya bermacam macam. Mulai dari yang kecil hingga besar. Mulai dari diri kita sendiri, pihak lawan, maupun orang orang lain. Dari yang kecil, kita bisa kehilangan waktu untuk belajar. Kehilangan empati terhadap sesame siswa, kehilangan pula peluang untuk berhubungan baik dengan sesame pelajar. Kita yang semestinya menjalin hubungan baik untuk sama sama belajar dan mengeksplor banyak tentang banyak bakat dan peminatan kita, justru terpicu oleh adanya konflik yang memperkeruh rasa benci dan permusuhan sejak dini. Hal ini bisa saja berdampak pada cara berpikir kita selanjutnya saat dewasa nanti, bahwa kita nantinya, jika terlibat masalah dikit langsung diselesaikan dengan gontok gontokan dan emosi. Pada akhirnya menjadi individu dan bangsa yang mudah dikendalikan oleh yang lain, karena pemikiran tidak terlatih untuk bijak dalam menyikapi masalah, melainkan hanya berlandaskan amarah saja.” Aku menelan ludah untuk membasahi kerongkongan, mengingat ternyata aku bisa menyampaikan kalimat sepanjang ini. Dan saat iseng menoleh ke sekeliling, rupanya teman teman yang lain sedang memperhatikanku dengan saksama. “Jika yang sudah saya sampaikan berkaitan dengan pendewasaan dan berisifat psikis, selanjutnya ada pula dampak dari tawuran secara fisik. Yaitu melukai seseorang, luka luka, cacat kecil atau bahkan permanen, dan bahkan sampai berujung kematian. Hal ini tentu berdampak pada kesedihan. Kesedihan yang dirasakan kita yang terlibat, teman teman yang tidak terlibat, bahkan keluarga dan kerabat, jika ada dari pelaku mana pun dari dua kubu yang sampai meregang nyawa dan akhirnya meninggalkan kita semua.” Aku mengambil napas lagi, bersiap menyampaikan penutup dan kesimpulan. “Dan kaitannya dengan ideologi kita yaitu Pancasila, adalah bahwa hal ini dapat m*****i ikrar kita yaitu persatuan Indonesia, serta peri kemanusian. Bahwa kita seharusnya sebagai sesame manusia harus memiliki tenggang rasa terhadap orang lain dan saling mengasihi satu sama lain. Dan suatu pertengkaran seperti tawuran ini, kita m*****i nilai nilai Pancasila terutama sila ke tiga. Yaitu persatuan Indonesia, di mana kita sebagai sesama warga Indonesia, yang seharusnya Bersatu padu untuk meraih satu kesatuan yang utuh agar tidak mudah tergoyah, malah bersikap seperti perang yaitu perang saudara. Kita tahu di sejarah kerajaan kerajaan kita, bahkan kerajaan sebesar majapahit saja, runtuh karena adanya perang saudara. Sehingga hal hal seperti ini sangat mudah dimanfaatkan oleh musuh, sehingga dipergunakan sebagai celah untuk menjatuhkan suatu bangsa atau negeri. Maka, perselisihan antar saudara sangatlah berdampak besar dan mengkhawatirkan bagi masa depan kita, apalagi dalam hal ini tawuran pelajar dilakukan oleh remaja yang sejatinya merupakan generasi muda, penerus bangsa, yang membawa harapan harapan besar dari pendahulu bangsa dan tentunya orang tua kita, yang sudah bersusah payah mencari nafkah untuk menyekolahkan kita sehingga kita mendapat kecukupan Pendidikan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kiranya demikian yang dapa saya sampaikan terkait pendapat saya tentang pertanyaan bapak. Mungkin dari teman teman ada tambahan, atau ada feedback dari pak yono sendiri. Terima kasih,” ucapku, menyudahi ocehan panjang lebar ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN