EPISODE 12

1979 Kata
Tak terasa, bulan demi bulan aku menjalani perjalanan cintaku tanpa masalah besar yang membelit. Namun banyak terdengar di kupingku keburukan-keburukan Kak Bagas yang tentu saja nggak semudah itu aku percaya. Jelas dong! Yang pacarnya kan aku. Jadi aku lebih tau soal Kak Bagas. “Hana, kita harus ikut pendaftaran osis, sekarang udah di buka lho. aku yakin kalo kamu bakalan di terima, soalnya Kak Bagas juga jadi panitianya” Hana penuh semangat mengatakan hal nggak penting itu di kantin sekolah kami saat jam istirahat pertama. “aku nggak tertarik ikut osis Han, ajak Devan aja tuh. Lagian kamu kan udah deket juga sama dia”, kataku. Memang, semenjak aku jadian dengan Kak Bagas Devan seakan menghindar dari kehidupanku. Well, aku nggak merasa terganggu sih dengan sikap dia yang kayak gitu. Biarin aja, emangnya aku butuh sama Devan? NGGAK BUTUH!! Cuman ya…. sebel aja. Gitu deh. “udah aku ajak kok, tapi kan nggak asik kalo nggak ada kamu. Mau ya ya?” Hana memelas dengan wajah aneh sehingga aku nggak bisa nolak ajakannya. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku sambil menyeruput minuman andalanku (es teh manis). “Devan bilang ke aku tentang Kak Bagas..” kata Hana sambil menyeruput coffe cream yang sepertinya enak. Emang aku nggak pernah punya duit sih buat beli yang enak-enak. “tapi aku nggak akan cerita di sini” kata Hana dengan suara pelan. “terlalu ramai” bisiknya dengan volume suara yang sangat pelan. Aku hanya menganggukkan kepala, tapi aku sangat penasaran dengan maksud . Aku segera menarik Hana menuju kamar mandi yang paling dekat dengan kantin yaitu kamar mandi di dekat ruang pembinaan. Aku dan Hana sama-sama masuk kedalam satu kamar mandi yang sama, untung saja saat kami masuk sepertinya tidak ada orang yang melihat. “apaan sih, kita ngapain ke sini?” Hana masih bingung kenapa dia aku bawa ke kamar mandi. Aku membungkam mulutnya yang nggak bisa berhenti ngomong itu. “katanya mau cerita, di sini kan sepi?” aku melepaskan tangan ku yang menempel pada mulut Hana. Hana melirikku sambil menggelengkan kepalanya. “iya, tapi nggak gini juga kan? Ntar deh pulang sekolah aku ke rumah kamu” Hana langsung menarikku keluar dari kamar mandi. Saat kami sudah keluar dari kamar mandi Hana masih terus menarik tanganku, sepertinya dia menarikku menuju loby utama sekolah. Tanpa ngomong apa-apa Hana mengambil tiga kertas dari kotak formulir pendafTamin osis dan memberikan satu kertas kepadaku. Tanpa ngomong lagi, Hana telah menarikku menuju kelas. Hana mampir ke meja Devan dulu dan memberikan satu kertas lagi kepada Devan. Hana ngomong sesuatu dengan Devan yang nggak bisa aku dengar, kemudian Devan berdiri dan berjalan bersama Hana menuju bangku ku. “kita ngisi formulir pendaftaran bareng-bareng di sini aja Tam, biar kita semua sama-sama lolos dan bisa jadi panitia osis!” kata Hana, terlihat sekali ia sangat bersemangat dalam perkara ini. Ia pun menarik kursinya dan duduk di sampingku, sedangkan Devan duduk di depan Hana. “aku nggak minat” aku menyodorkan kertas formulir pendaftaran itu ke meja Hana dan berdiri dari kursiku. Tapi Hana menahanku, dan malah mendudukkanku dengan sabar dan hati-hati. Aku menatap Hana yang memang sedang serius menatap mataku. “kamu nggak mau bareng aku? berjuang bareng? Seneng bareng? Susah bareng?” Karin menampak wajah melas yang membuatku semakin muak dengan tingkah lakunya yang semakin kayak anak kecebong. Aku berdiri lagi dan berniat untuk menemui Kak Bagas di kelasnya, tapi aku malah ketemu Kak Bagas di depan kelasku. Jangan – jangan dia….mau nemuin aku? Hehe, nggak apa apa lah GR. “lho, Kak Bagas mau ke mana?” tanyaku. “mau nemuin kamu, untung deh kamunya udah keluar” jawabnya riang sambil memamerkan deretan giginya yang rapi, membuatku tersipu. Tuh kan, benar feelingku. “aku juga mau ke kelas kakak lho. kita duduk di sini deh” aku mengajak Kak Bagas duduk di kursi panjang di depan kelasku. Saat aku menoleh ke pintu kelas, Hana berusaha mengejarku namun berhenti. Mungkin karena aku sedang bersama Kak Bagas dan Hana nggak mau mengganggu. “kamu mau ngomong apa?” Kak Bagas menoleh kearahku dengan pertanyaan nggak jelas. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. “katanya tadi mau ke kelas ku? Trus kalo udah ke kelasku mau ngapain?” Kak Bagas menjelaskan kepadaku seperti menjelaskan kepada anak yang mau masuk taman kanak-kanak. “oh, aku di paksa sama Hana biar ngikut pendaftaran osis” “emang kenapa? Osis itu asik lho” jawabnya. Aku lupa kalo Kak Bagas adalah salah satu panitia osis. “osis itu organisasi sekolah, jika kita ngikut osis kita semakin punya banyak teman, kan asik tuh, trus kita juga bisa keliling-keliling mencari dana untuk kegiatan sekolah, itu mengasikkan banget lho. trus apa yang ngebuat kamu ragu ikutan osisi?” Kak Bagas menjelaskan dengan sangat jelas, aku tersenyum melihat Kak Bagas yang menanti jawabanku. “aku males aja, soalnya Hana itu ngajak Devan” Aku mengatakan hal itu dengan muka jengkel. Kemudian Kak Bagas mengerutkan keningnya, sepertinya dia masih belum mengerti. “Aku nggak suka aja sama dia, dia suka nasehatin aku tentang masalah pribadiku, bahkan Kak Bagas pernah jadi bahan omongannya. Aku kan nggak suka dia masuk kedalam privasi ku. Trus, waktu kita udah jadian, dia kayak ngejauhin aku gitu, aku kan jadi males. Kakak tau Devan kan?” aku menoleh kearah Kak Bagas yang sedang melamun. Aku melambaikan tanganku di depan mata Kak Bagas. “eh, kamu ngomong apa tadi?” tanya Kak Bagas yang terbangun dari lamunannya. Aku menggeelengkan kepala dengan jengkel. “maaf maaf, kakak sedang ada masalah keluarga, jadinya nggak konsen terus” mata Kak Bagas seakan mengatakan memang benar-benar ada masalah. Aku memegang tangan Kak Bagas dan menatap mata hitamnya. “kenapa kakak nggak ngomong ke aku kalo ada masalah? Kenapa kakak masih nggak terbuka sama aku?” aku masih menatap matanya. Kak Bagas menundukkan kepala. “aku nggak mau kamu sedih” “tapi aku juga nggak mau Kak Bagas sedih sendirian. Aku ada disini kak, disamping kakak. Kakak cerita aja ke aku..” sela ku saat mengetahui wajah Kak Bagas sudah mulai murung. Kak Bagas menatap matakuuntuk kesekian kalinya, dan kali ini sinar matanya muncul lagi. Sepertinya Kak Bagas tidak terlalu sedih lagi. Krriingg.. krriingg.. krriingg.. Bel masuk pelajaran ketiga berbunyi. Menggangguku saja. Kak Bagas kemudian berdiri dan membisikkan “terima kasih” tepat di telingaku. Aku tersenyum sambil memegang tangan Kak Bagas, aku menatap matanya lagi. “ada aku disini kak” kataku, kemudian masuk kedalam kelas sambil senyam-senyum. Hana yang melihat perubahan ekspresi wajahku nampak mengerutkan keningnya. “mana?” kataku sambil menjulurkan tangan. “mana apanya?” “formulir pendafTaminnya lah” sobatku yang satu ini memang agak lama kalo di suruh mikir. “bukannya kamu nggak mau ikut?” Hana mengeluarkan satu lembar formulir pendaftaran osis masih dengan tampang bingung. “mau kok, siapa bilang aku nggak mau ikut” aku mengambil formulir pendafTamin osis dari tangan Hana. ** Untuk pertama kalinya dalam bulan ini aku menuju balkon kamarku. Aku memang sudah lama tidak berada di balkon kamarku sejak Devan tidak menyapaku. Tapi, setiap malam aku mendengar suara gitar dari balkon rumah Devan. Tapi yang aku tau Devan tidak bisa memainkan satu pun alat musik, dia memang lemah pada pelajaran musik. Anehnya, nada dari gitarnya setiap malam selalu sama. Aku nggak berani melihat keluar kalau malam. Takut yang main gitar nggak berwujud, soalnya main gitarnya selalu pukul sebelas malam. Sepi~ Aku nggak melihat Devan yang biasanya berdiri di dekat pagar balkon rumahnya atau yang sedang tertidur di kursi empuk yang masih berdiri disana. Aku kangen Devan yang biasanya ngerjain aku, yang mengolok-olok aku, yang ngasih aku semangat, yang lucu, yang nyebelin, yang kadang baik. Kamu memang ada, tapi bukan seperti Devan yang dulu! Bukan seperti Devan yang aku kenal! kamu berubah! Cklekk’ Suara pintu dari balkon rumah Devan. Aku melirik pintu yang sedikit terbuka dan Devan keluar dari dalam rumahnya dengan tatapan kaget melihat kearahku. Devan menenteng gitar coklat yang sudah tertutupi banyak sticker. “lama nggak ngeliat kamu” tiba-tiba perkataan Devan mengagetkanku. Aku mengerutkan keningku dan masih terus memperhatikan gitar yang di bawa Devan. “bukan gitarku” katanya lagi, kemudian duduk di kursi empuk dan menaruh gitar di sampingnya. “kenapa nggak kamu mainin?” aku bertanya hati-hati, sekarang aku menjadi kikuk jika berbicara dengan Devan. Karena memang baru kali ini aku berbicara berdua dengan Devan setelah lama dia tidak menyapaku. “belum waktunya” kata Devan, kemudian melirik jam tangan di tangan kirinya. “kurang lima belas menit lagi” lanjutnya tanpa melihat kearahku. Aku melihat waktu di Hp ku menunjukkan jam sebelas kurang lima belas menit. Oh, berarti Devan yang selama ini main gitar setiap jam sebelas malam. Tapi aku masih nggak mengerti kenapa harus tepat pukul sbelas malam. “kenapa kamu nggak pernah ngomong denganku?” “karena kamu nggak pernah dengerin kata-kata ku” jawab Devan singkat, masih tidak menatapku. Aku tidak menjawab pernyataan Devan yang semakin mebingungkanku. Aku masih menatap Devan dengan perasaan bingung bercaampur sedih. Devan mengambil gitarnya dengan menatapku. Aku melihat layar Hpku yang menunjukkan tepat pukul sebelas. Devan mulai memetik gitarnya, memang benar suara gitar itu adalah suara yang selalu aku dengar setiap jam sebelas malam. Tapi, ternyata Devan juga menyanyikan lagu That Should Be Me-nya Justin Bieber. Every body is laughing in my mind Rumor spreading about this other guy Do you do what you did what you did with me Does he love you the way I can Do you forget all the palns that you made with me Cause Baby, I didn’t That should be me holding your hand That should be me making you laugh That should be me this is so sad That should be me.. That should be me.. Aku mendengarkan suara Devan dengan tercengang, Devan terus memetik gitarnya dengan memejamkan matanya. That should be me feeling your kiss That should be me buying you gifts This is so wrong I can’t go on Till you believe That that should be me.. Kali ini suara Devan bergetar, perasaanku semakin nggak karuan. Dari petikan gitarnya memang suara ini yang selalu aku dengarkan setiap malam. Tapi aku tidak pernah mendengar nyanyian Devan. Aku masuk ke dalam kamar, memang hanya terdengar petikan gitarnya saja. Aku keluar dari kamarku lagi sambil membawa beruang cokelatku yang selama ini aku Tamuh di dalam lemari. Banyak alasan yang membuat aku menaruh beruang besarku di dalam lemari. Pertama, setiap aku melihat beruang besarku, aku selalu ingat wajah Devan dan kejadian yang pernah aku alami dengannya. Kedua, aku sudah punya beruang besar lainnya namun berwarna putih yang di berikan Kak Bagas kepadaku, dan beruang putih ini yang menggantikan posisi beruang cokelat di atas kasurku. Saat aku sudah duduk di kursi balkon dengan memeluk beruang cokelatku, Devan masih terhanyut dalam petikan gitar dan suaranya. That should be me giving you flower That should be me.. That should be me That should be me.. Devan sudah mengkhiri lagunya dengan petikan gitar yang sangat lembut. Kemudian dia membuka mata besarnya dan menaruh gitar di samping kursi empuknya. Devan melihatku memeluk beruang cokelat yang di dapat dari permainan geme zone beberapa bulan yang lalu. “masih ingat sama beruang itu?” Devan mengatakan itu dengan senyuman sinis. “aku nggak bisa lupa dengan kenangannya” aku menundukkan kepala dengan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk mataku. Aku nggak berani menatap wajah Devan yang sepertinya tau bahwa beruang cokelat ini aku Tamuh di dalam lemari dan aku kunci rapat-rapat agar tidak mengingat kembali kenangannya. “bukankah ada pengganti beruang cokelat itu?” tanya Devan lagi yang tak menhiraukan aku sedang menagis. Aku menatap Devan dan mengusap air mataku dengan cepat agar Devan tidak mengetahui jika aku sedang menangis. Aku berdiri mendekati pagar balkonku dan menjulurkan beruang cokelatku kepada Devan. “makasih, makasih Ris untuk semuanya. Makasih juga untuk kenangan manis yang pernah kamu berikan untuk aku. Aku cuma mau balikin ini ke kamu. Sepertinya aku udah nggak ngebutuhin ini lagi, karena udah ada penggantinya” air mataku mengalir dengan deras di pipi ku, aku sangat terpaksa mengatakan hal itu karena Devan yang membuat perasaaku semakin nggak jelas arahnya. “aku juga nggak butuh itu” kata Devan dengan enteng kemudian berdiri mendekati pagar balkon rumahnya. “buang aja kalo emang nggak butuh!” lanjutnya dengan suara meninggi, kemudian masuk kedalam rumahnya tanpa menoleh sedikit pun kearahku. Aku nggak menyangka jika akhirnya akan jadi seperti ini. Aku kehilangan satu sahabat terbaikku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN