EPISODE 11

1774 Kata
Untung saja saat sampai di rumah, Kak Rere sedang bersama Kak Dewi, jadi aku nggak begitu dimarahin karena Kak Dewi adalah calon ibu yang baik. Malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak di temani teman baru di kasurku, My Big Bear. Tapi sebelum tidur juga banyak pekerjaan yang aku lakukan. Mandi, ganti baju, menelepon Karin agar besok di sekolah tidak terjadi kesalah pahaman, cuci kaki dan Zzz.. Pagi ini, aku bangun pagi, menyiapkan segala sesuatu yang aku butuhkan, sarapan dan memantapkan hati untuk berangkat sekolah bersama Devan yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Kami berdua berjalan melewati gerbang utama sekolah yang masih banyak sampah yang berserakan dan sisa-sisa ban bekas yang sudah terbakar. “waw! Kemarin benar-benar menakjubkan” Devan melirikku dan memegangi luka di dahinya yang sudah terplester rapi. Aku tertawa jika mengingat-ingat kembali kejadian tergokil yang pernah aku alami. “kenapa ketawa? Aneh ya wajah ku hari ini?” Devan memegangi mata kanannya yang sedikit bengkak. “lucu aja, kemaren kita kayak anak akur ya, kita kompak banget!” pagi ini aku memang sangat bersemangat dalam hal apapun. Devan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. “oh, ya, denger-denger Kak Bagas memang satu-satunya murid SMA Angkasa yang ikut tawuran kemarin lho” aku mendengar gossip dari Hana saat aku meneleponnya tadi malam. “jauhin Kak Bagas” Devan terus berjalan tanpa memandangku. Aku melirik Devan meminta pertanggung jawaban dari omongannya itu. “sepertinya dia bukan cowok baik-baik” lanjut Devan yang kali ini menatap mataku. “tapi aku kenal Kak Bagas, dia baik sama aku. aku nggak peduli orang lain ngomong apa, yang penting Kak Bagas baik sama aku. Kamu sebagai sahabat harusnya mendukung apapun pilihanku” aku memandang mata Devan yang nampak kecewa dengan jawabanku. Kami berpisah saat kami memasuki ruangan kelas, aku menuju bangku ku dan Devan menuju bangkunya yang berada di belakang (padahal orang pinter itu biasanya memilih bangku paling depan dan tepat di depan meja guru, berbeda seratus delapan puluh derajat sama orang pinter versi Devan). “kamu nggak apa-apa?” Hana menyambutku dengan kata-kata yang paling sering aku dengar dari mulutnya, benar-benar sahabat paling perhatian di dunia. “nggak apa kok” aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. Aku sangat memahami pelajaran kimia hari ini, mungkin karena aku mengawali hari dengan senyuman dan semangat, jadi semua pelajaran bisa nyantol dengan mudah di otakku. Bel istirahat pun berbunyi, pelajaran serasa berlalu begitu cepat. Padahal biasanya aku sangat menantikan jam istirahat seperti ini. Kali ini aku mengajak serta Devan bersama ku dan Hana, ini salah satu misi mendekatkan mereka berdua. Aku berjalan mendahului Hana dan Devan yang sepertinya asyik mengobrol. Aku menuju kantin melewati lapangan basket, sehingga memutar dari jalan yang sesungguhnya. Tapi mereka berdua sepertinya menikmati saja, malah aku sekarang jadi obat nyamuk. Nggak apa deh demi sahabat. Di tengah lapangan basket nampak gerombolan murid kelas dua belas yang membentuk lingkaran, aku memerhatikan gerombolan aneh itu. Tiba-tiba Kak Bagas muncul dari gerombolan aneh itu. Aku yang melihatnya penuh dengan keanehan, aku pun terus berjalan di depan Hana dan Devan yang sekarang malah berhenti dan melihat Kak Bagas dan gerombolannya. Aku pun berhenti dan mengahadap kewajah Hana yang sanyam-senyum nggak jelas sedangkan Devan yang tanpa ekspresi apapun. Aku semakin bingung saat Kak Bagas semakin menghampiriku, aku menoleh ke belakangku, mungkin saja aku hanya ke-GR-an. Namun aku nggak menemukan seorang pun di belakangku. “kenapa kamu nggak pernah menghubungi nomor yang aku kasih beberapa hari yang lalu?” Kak Bagas sekarang sudah berada di depanku. Aku nggak bisa menjawab pertanyaan Kak Bagas, aku hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Tiba-tiba Kak Bagas berlutut di depanku dan menunjukkan beruang putih besar yang ia sembunyikan di balik badannya. “aku suka kamu” HAA? Itu kata-kata yang paling aku tunggu dari mulut Kak Bagas. Kak Bagas menjulurkan tangan kanannya dan memberikan beruang putih itu kepadaku. Aku serasa beku di tempat, kaget bercampur senang yang nggak bisa aku ungkapkan. “maukah kamu jadi soulmate ku?” Aku menoleh ke belakang meminta bantuan pada Hana dan Devan yang sekarang juga sedang juga membeku disana. Hana masih saja dengan senyumnya yang seakan mengatakan ‘terimaa!!’ sedangkan Devan tanpa ekspresi, nggak tau deh gimana ini! Kak Bagas mengerutkan keningnya seakan sangat menginginkan jawabanku. “aku memiliki perasaan yang sama dengan kakak” aku mengatakan itu spontan saja sambil menunduk, aku tidak berani menatap mata Kak Bagas. Terdengar keriuhan setelah aku menjawab pernyataan cinta dari orang yang benar-benar aku sayangi. Kak Bagas langsung berdiri sambil tersenyum dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. Aku melirik kearah Hana dan Devan berdiri, tapi mereka berdua mengerti situasi. Mereka meninggalkanku yang semakin panas dingin berdiri di tengah lapangan basket. “ayo!” Kak Bagas menjulurkan tangannya kepadaku, aku menggandeng tangan Kak Bagas masih dengan canggung dan malu-malu. Kak Bagas membawaku ke tempat di mana kami pertama kali bertemu. Ingat? Ruang pembinaan, begitu banyak kenangan disana. Saat ini ruang pembinaan sangat sepi alias nggak ada seorang pun di dalamnya. “gimana?” tiba-tiba Kak Bagas mengajukan pertanyaan nggak jelas. Aku hanya mengerutkan keningku. “gimana aku dimata kamu?” Ha? Jantungku berdebar sangat kencang. Degdeg.. deg.. degdeg.. degdeg.. deg.. deg.. “Kak Bagas orangnya baik, selalu ngejagain aku” kali ini aku benar-benar menatap mata Kak Bagas yang juga menatap mataku. “aku dimata kakak?” lanjutku. Kak Bagas tersenyum, mungkin karena mendengar pertanyaanku yang nggak kreatif itu. “kamu itu beda” aku mengerutkan keningku, benar-benar tidak mengerti jawaban singkat Kak Bagas. “aku nggak pernah nemuin cewek kayak kamu, kamu itu unik, beda daripada yang lain dan aku suka kepribadanmu itu” aku tersenyum mendengar jawaban berwawasan dari Kak Bagas. Hari ini benar-benar membuatku tersenyum. ** “Hey” kata sesorang dari luar kelas, aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Kak Bagas. “jangan lupa!” Kak Bagas mengacungkan jari jempol dan kelingkingnya kemudian menempelkan di dekat telinganya saat menghampiriku dikelas saat bel pulang telah berdering, bahkan Bu Diah guru matematika ku baru saja meninggalkan ruangan kelas. Aku tersenyum melihat kelakuan aneh pacar baruku itu yang kemudian berlari meninggalkan kelas. “makin asik aja pasangan baru?” Hana menyenggol-nyenggol tanganku sambil senyum-senyum genit. “biarin, week” aku segera pergi meninggalkan Hana yang masih mengemasi buku-bukunya. Hari ini aku memutuskan tidak pulang bersama Devan yang masih ekskul futsal terlebih dahulu. “Hana, Devan aku pulang dulu. Kalian yang akur ya.. haha” teriakku saat aku berdiri di depan pintu kelas dan segera berlari menuju halte bus. Kenapa tadi nggak minta anter Kak Bagas aja ya? Kan enak bisa ngirit ongkos plus bisa sekalian berduaan. Aku memikirkan hal aneh itu di dalam bus yang berjalan sangat pelan. Aku jadi teringat kata-kata Kak Bagas yang meminta untuk segera menghubunginya. Aku mengeluarkan Hp dari ransel merahku. 1 Message Devan Bodo!! Aku segera membuka pesan singkat dari Devan. From : Devan Bodo!! Knp km trma k’ bzma? Knp km g’ nuruti kta2ku? Apaan sih Devan ini, ngerusak perasaanku yang sedang seneng aja! Send : Knp km g’ ngedukung aku? yg ngejalanin hub ini kn aku! tp mkasih sblumnya atas saran atau kritiknya! Sahabat macam apa sih Devan itu? Barusaja aku menuruni bus, Hp ku yang masih berada di genggaman tanganku bergetar. Aku segera membuka pesan itu. From : Devan Bodo!! Ak jg mksih atas smw-nya! Bye. Maksud Devan apa sih? tapi kok jadi gini? Aku dapat pasangan yang benar-benar aku sayang, tapi aku kehilangan sahabat yang juga benar-benar aku sayang. Aku nggak mau lagi membahas Devan yang sikapnya kayak anak kecil. Gerbang rumahku terkunci, sedangkan aku nggak bawa kunci. Gimana sih Kak Rere ini, kalo mau pergi nggak bilang-bilang. Akhirnya aku terpaksa duduk di depan gerbang rumahku sendiri. Pip pippip. Send : Kak Bagas? Drrt.. drrt.. you’ll be the prince and I’ll be the princes drrt.. drrtdrrt.. Aku menatap layar Hpku. K’ Bagas  calling.. Aku segera mengangkat telepon dari Kak Bagas untuk pertama kalinya. “halo?” aku bingung mau ngomong apa dulu. “Tami? Kamu sekarang udah pulang? Udah nyampe’ rumah?” “udah nyampe’ rumah, tapi gerbang rumahku di gembok. Nggak bisa masuk deh” aku mengatakannya dengan sedikit nada sedih. Tuutt.. tuutt.. Kak Bagas mematikan teleponnya. Aku benar-benar kaget, aku mengira Kak Bagas merasa bosan denganku. Air mata sudah terkumpul di pelupuk mataku, barusaja aku meneteskan air mataku, Kak Bagas sudah berdiri tegak di depanku dengan wajah bingung. Aku kaget melihat Kak Bagas yang seperti hantu langsung berada di depanku, Kak Bagas langsung jongkok didepanku dan mengusap air mataku. “lho lho, kamu kenapa nangis?” Kak Bagas memang terlihat bingung dan khawatir. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar kepada Kak Bagas. “kakak cepet banget ada di sini?” “iya dong, kan kita sehati” kata-kata itu saja sangat membuatku semakin tersenyum senang. “kamu kenapa nangis? Ada yang ngejahatin kamu?” Aku menggelengkan kepala. Kak Bagas nggak menanyakan hal itu lagi kepadaku, mungkin dia bisa mengerti perasaanku. Kami saling menceritakan kenapa kami memiliki perasaan yang sama saling mengungkapkan keburukan dan kebaikan masing-masing. Tiinn.. tiinn.. Tiba-tiba Kak Rere datang dengan menekan klakson sepeda motornya saat aku dan Kak Bagas masih duduk di depan gerbang. “kalian pacaran? Yakin bakal bertahan lama?” Kak Rere mengatakan itu dengan nada menyindir. “aku pulang dulu” bisik Kak Bagas tepat di telingaku, kemudian meninggalkanku pergi tanpa menoleh kearah Kak Rere sedikitpun. Kenapa sih Kak Rere datang pada waktu yang nggak tepat dan menarikku secara paksa, sangat memalukan. “apa-apaan sih kak!” bentakku kepada Kak Rere yang masih kayak anak kecil. Kak Rere tidak menjawab pertanyaanku, malah langsung membuka gerbang dan memasukkan sepeda motornya kedalam garasi. “aku nggak suka kamu deket-deket dengan cowok berandalan macam dia” tiba-tiba Kak Rere ngomong nggak jelas saat melemparkan tasnya ke sofa ruang tamu kami. Aku menoleh kearah Kak Rere sambil mengerutkn keningku. “dia itu bukan cowok baik-baik” lanjutnya enteng. “yang penting Kak Bagas baik ke aku, aku nggak peduli orang mau bilang apa. Termasuk kakak” aku mengacungkan jari telunjukku tepat di depan mata Kak Rere. “nggak usah nyampurin masalah pribadi ku deh” lanjutku sambil berjalan menuju kamarku yang terletak di lantai dua. Kenapa semua orang bilang gitu sih ke aku? padahal yang lebih tau tentang Kak Bagas kan aku! bukan mereka! Aku merebahkan tubuhku di kasur empuk dan melihat beruang cokelatku yang sedang kesepian. Setiap aku melihat beruang cokelatku, aku selalu mengingat wajah menjengkelkan Devan. Mungkin karena aku mendapat beruang besarku dengan uang Devan aja, nggak lebih dari itu. Kemudian aku mengeluarkan beruang putih dari Kak Bagas dan aku Tamuh diatas kasurku. Beruang, apa Kak Bagas orang seburuk yang orang lain kira? Apa Kak Bagas benar-benar seperti itu? Kalo aku sih nggak percaya kalo kamu? Pasti sependapat denganku kan? Air mata mengalir dipelupuk mataku hingga membasahi pipiku. Aku benar-benar tidak mengerti Kak Bagas yang sesungguhnya. Tapi kenapa aku harus pusing-pusing dengan pemikiran orang lain tentang Kak Bagas? Tapi menurutku Kak Bagas adalah seorang pasangan dan juga kakak yang baik untukku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN