"Sial!" umpat Indra ketika melihat Anna sudah pergi dengan motor Vixion itu.
Indra benar-benar kesal, gara-gara pekerjaannya yang terlambat di selesaikan, dia juga jadi terlambat menghampiri Anna, eh tunggu! Anna juga biasanya pulang paling akhir, kenapa sekarang pulang duluan? apa Anna sudah janjian dengan anak muda itu?
Indra segera menghampiri lelaki yang tengah mendorong motor Anna.
"Mas, kenapa motornya? loh ini motornya Anna kan?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Iya, benar, Pak. Ini motornya mbak Anna, sepertinya bocor, akan saya tamball dulu," jawab lelaki itu.
"Anda siapanya anna?" tanya Indra masih penasaran.
"Saya yang punya bengkel tambal ban di ujung jalan, tadi saya dijemput sama mas Ilham untuk menambal ban motor ini," jawabnya
"Ilham? siapa Ilham?" tanya Indra lagi tambah kepo, oh ... lelaki yang membawa motor Vixion itu namanya Ilham?
"Mas Ilham, langganan di bengkel saya, dia juga kerja di kantor ini, kalau gak salah bagian teknisi komputer."
Indra semakin penasaran, sialan ... sepertinya dia sudah keduluan ditikung orang. Anna memang gadis menarik, harusnya Indra sadar jika gadis itu juga banyak diminati pria lain. Indra harus memiliki siasat, mulai sekarang dia harus menguntit Anna kemanapun siapa tahu bisa mengetahui kelemahan dan pemikiran gadis itu.
*****
Keesokan harinya, Indra masih bersikap seperti biasanya kepada Anna, minta dibuatin kopi dan masih mengganggunya dengan pekerjaan yang tidak penting, Anna yang sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh atasannya selama ini merasa sudah kebal dan biasa, dia bersikap acuh saja seolah lelaki itu tidak mempengaruhinya. Hal ini cukup membuat Indra jengkel.
"Ini, Pak. Kopinya."
"Kamu nanti pulang kantor ada acara, nggak?" tanya Indra sambil menatap perempuan di depannya intens.
"Memangnya kenapa, Pak?"
"Kalau ditanya itu coba jawab, bukannya balik nanya!"
"Oh, iya ... saya ada acara, Pak."
"Acara apa?"
"Kenapa sih? Kok Bapak kayak kepo gitu dengan urusan saya?"
"Anna!" Indra geram dengan mulut pedas perempuan di depannya, membuatnya semakin gemas.
"Mulutmu itu loh, kalau ngomong suka nyablak, saya cium baru nyaho!"
"Bapak! jaga sopan santun, Bapak! yang nyablak di sini siapa? kenapa bapak nanya-nanya saya ada acara apa nggak?"
Anna tak kalah geram dengan ceplas-ceplos atasannya ini, mau nyium katanya? berani nyium kutabok sekalian!
"Saya mau ngajak kamu meeting di luar!"
"Saya harus ikut ya?"
"Iya! pulang kantor tunggu saya, saya akan ngajak kamu meeting!"
"Ini urusan kantor, kan?"
"Ya iyalah, apa lagi?"
"Ya, baiklah kalau gitu, tapi dihitung lembur ya? soalnya diluar jam kantor."
"Iya, bawel. Sana kerja lagi!"
Indra hanya tersenyum penuh misterius setelah Anna pergi, gak papalah interaksi diantara mereka selalu diwarnai pertengkaran, jika sehari saja tidak berdebat dengan perempuan itu, perasaan Indra ada yang kurang. Walau selalu berdebat, namun Anna menjadi candu buat Indra, apalagi nanti kalau bermesraan, uhuy ...
Indra menggelengkan membayangkan Anna bicara dengannya dengan nada manis dan manja, pasti menggemaskan pengen ditelan.
*****
Pada saat jam makan siang, Anna makan siang seperti biasanya dengan Rania di kafetaria perusahaan. Makanan di kafetaria disediakan gratis oleh perusahaan untuk makan siang, makanannya juga enak dan bergizi, sehingga hampir semua karyawan makan di Kafetaria, tempatnya yang luas, cukup menampung semua karyawan.
"Gimana kemarin, jadi jalan sama Ilham?" tanya Rania antusias.
"Jadi."
"Terus?"
"Terus, kenapa?"
"Ya, ampun ini anak! Ya, ceritain dong. Apa aja yang kalian bahas, sudah jadian apa belum?" todong Rania dengan wajah jengkel.
Anna hanya terkekeh melihat sahabatnya itu keki, dia menyeruput es teh dan mengaduk-aduknya.
"Belum jadian lah, masih berproses. Kemarin aku cuma hunting kuliner, makan-makan sambil ngobrol-ngobrol ringan. Banyaknya yang dibahas masalah keluarga sih, dia itu anak pertama di keluarganya sama seperti aku, adiknya ada dua juga, lelaki sama perempuan. Cuma yang perempuan yang masih kuliah, yang laki-laki masih SMA."
"Duh, kapan mau kenalan sama keluarganya?"
"Aduh, itu masih jauh lah, Non."
"Emang gak ada nyerempet-nyerempet masalah perasaan kalian, gitu?"
"Gimana ya? Aku saja grogi menatap matanya, dia juga kayaknya gitu juga, cuma dia bilang mau ketemu lagi nanti, kalau dia sudah selesai pekerjaannya di kabupaten."
"Pertemuan berikutnya harusnya kau sudah clear mengungkapkan perasaan, ayo gerak cepat, jangan tunda lagi, nanti malah gak jadi, bahaya kan?" Rania menatap mata sahabatnya dengan serius membuat Anna juga sedikit se-Riau menyikapinya.
"Apa harus kau dulu yang ngungkapin perasaan ya?"
"Sebaiknya gitu, nunggu dia entah kapan?"
"Aku takut ditolak, kan malu!"
"Lebih baik ditolak sekarang, jadi kamu bisa mengambil sikap untuk menjauhinya dan bisa menata hati kembali mencari yang lain."
"Iya, ya. Aku juga sudah cukup umur untuk berumah tangga, jadi gak usah ditunda-tunda."
"Jadi, apa rencanamu?"
"Tiga hari lagi kan ada rapat besar untuk pengukuhan jabatan di semua divisi dan manajerial, acaranya kan malam ya?"
"Iya, terus?"
"Aku dengar acaranya di aula lantai tujuh, aku akan meminta Ilham pergi ke rooftop, aku akan mengungkapkan perasaanku di sana, Ilham bilang dia akan datang pas acara pengukuhan itu."
"Pengumuman resminya besok kayaknya di situs perusahaan, semua karyawan wajib hadir, Ilham pasti datang. Lagipula kepala teknisi juga akan diganti, jadi pasti dia datang."
"Iya, aku akan mengirim pesan untuk menemuiku di rooftop."
"Good luck, semoga berhasil, ya?"
"thanks you!"
Kedua wanita muda itu tertawa dan tersenyum sumringah membahas rencana mereka, Anna bahkan membayangkan bagaimana nanti mempersiapkan rencananya, bagaimana caranya dia menembak lelaki idamannya itu.
Ketika kedua wanita itu dalam mode senang dan was-was, tidak mereka sadari di belakang mereka seseorang sedang menguping pembicaraannya, mata lelaki itu berkilat mendengar rencana Anna. Oh? jadi gadis ini naksir sama lelaki yang bernama Ilham itu? hmm, teruslah bermimpi Anna, mimpimu itu tidak akan terwujud, hanya aku yang akan memiliki dirimu.
Senyum sinis dan tatapan mata tajam itu sudah dipenuhi dengan berbagai rencana di kepalanya. tiga hari lagi, ya? kupastikan lelaki itu tidak akan datang menemuimu!
*****
Tidak disangka waktu tiga hari itu cepat sekali datangnya bagi sebagian orang, namun bagi Anna sangat lama. Gadis itu sudah mengirim pesan pada Ilham dari pagi-pagi buta selepas salat subuh.
[Assalamualaikum, Ham]
[Walaikumsalam, Mbak Anna.]
[Nanti malam datang ke acara pengukuhan jabatan?]
[Insyaallah, Mbak]
[Bisa nggak, temui aku nanti di rooftop jam 7 malam. Ada hal penting yang ingin kusampaikan]
Membaca pesan Anna, Ilham terdiam sejenak, hal penting apa? tiba-tiba d**a lelaki muda itu berdebar-debar hingga napasnya terasa sesak, mungkinkah? tangan Ilham bahkan sedikit gemetar membalas pesan dari gadis itu.
[Iya, Mbak. Insyaallah, saya akan datang.]
[Baiklah, saya tunggu ya, Ham. See you to night]
[See you to]
Senyum Ilham mengembang dengan sempurna, dia sudah memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan perasaan yang terpendam selama ini, apa yang akan Anna sampaikan? jika gadis itu tidak menyampaikan sesuatu yang dia rasakan, maka Ilham bertekad, dialah yang akan mengungkapkannya nanti malam.
Anna yang membaca balasan pesan dari Ilham juga tidak kalah berdebar, dia bahkan berteriak senang sambil menutup mulutnya, baru membayangkan apa yang akan dia katakan nanti malam saja dia sudah berdebar, bagaimana jika dia mengatakannya nanti? ah, tidak kebayang ....
*****
Anna masuk kantor dengan wajah sumringah, senyumnya mengembang dengan sempurna, beberapa orang sangat terpesona dengan senyumannya yang memang sudah manis dari sananya. Suasana hatinya yang berbunga-bunga jelas tercetak dari aura tubuh dan pancaran cahaya di wajahnya.
Bahkan ketika Anna menyajikan kopi ke meja Indra, senyumnya yang cerah itu menjadi pemandangan langka buat atasannya itu, biasanya Anna akan menyajikan kopi itu dengan wajah datar, bahkan wajah yang ditekuk dan cemberut.
"Tumben kayaknya kamu lagi senang, dari tadi senyum-senyum sendiri kayak orang gila," ujar Indra.
"Bapak! ngerusak suasana saja!"
"Ya, terus apa? apa kamu menang undian berhadiah? atau menang lotre?"
"Aish, kepo!"
Anna bergegas pergi setelah mengatakan itu, dengan sedikit kesal dia keluar dari ruangan atasannya itu. Indra hanya tersenyum smirk melihat gadis yang diam-diam mencuri perhatiannya itu bertingkah seperti itu, sebelah bibirnya terangkat dengan tatapan yang rumit.
'Kau pikir aku tidak tahu? kalau kau sedang kasmaran sekarang, Anna? tunggu saja nanti malam, sorry bukannya aku suka melihatmu sedih dan kecewa, aku hanya tidak suka kalau kau bahagia dengan lelaki lain.'
*****
Acara malam ini sudah dipersiapkan dari seminggu yang lalu oleh panitia, sebagian karyawan ada yang pulang dulu ketika jam kantor usai, ada juga yang tetap berada di kantor karena merasa tanggung untuk pulang karena rumahnya jauh, Anna termasuk karyawan yang tidak pulang, dia sudah membawa baju ganti untuk pesta, sebuah gaun berwarna soft pink dan jilbab senada, gaun polos yang menutupi seluruh tubuh dan sepatu high heel lima cm berwarna merah maroon.
Sebelum acara dimulai, Anna keluar menuju toko bunga tak jauh dari kantornya, toko bunga yang sudah menjadi langganan perusahaan besar di sana untuk acara-acara perusahaan. Anna hanya membeli setangkai bunga mawar merah, hanya itu yang dia butuhkan untuk acara pribadinya.
Acara kantornya memang dimulai pukul tujuh malam, namun dia bisa bolos sebentar dan memasuki aula setelah urusannya selesai dengan Ilham. tak terasa hari sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Anna bergegas menaiki tangga dari lantai tujuh menuju rooftop, untuk menuju rooftop tidak di sediakan lift.
Suasana temaram di rooftop menambah kesyahduan suasana, cahaya bintang yang berkelipan di langit dan cahaya lampu yang menghiasi pemandangan di sekitarnya membuat hati Anna semakin merasakan suasana yang romantis, sehingga dadanya bergetar dengan hebat. Anna mematung ketika melihat seorang lelaki sudah berdiri di bibir rooftop yang diberi pagar sepinggang orang dewasa.
Dengan langkah sedikit goyah karena gemetar, Anna melangkahkan kaki menemui lelaki itu, setelah jarak mereka tinggal dua langkah lagi, gadis itu menghentikan langkahnya, mengatur irama hatinya yang berdegup tidak karuan, memantapkan hati untuk bicara, walaupun bicaranya terbata-bata.
"Maaf ... Aku memintamu datang ke sini, aku ... Aku memberanikan diri, menahan malu dan menguatkan hati untuk berbicara empat mata denganmu. Aku ... Maafkan aku, jika apa yang kukatakan ini membuatmu tidak nyaman. Aku ... Aku menyukaimu ... aku hanya mengungkapkan isi hatiku, tidak mengapa jika kau tidak bisa membalas perasaanku ini. Tolong ambillah bunga mawar ini jika memang kau menerima perasaanku, jika kau tidak menyukaiku, kau boleh pergi tanpa mengambil bunga ini."
Anna memejamkan matanya dengan kedua tangan menggenggam sekuntum mawar merah yang diulurkan kearah lelaki yang tengah berdiri membelakanginya itu.
Dengan d**a berdebar dan lutut gemetaran, Anna menunggu respon lelaki di hadapannya, lelaki dengan tinggi di atas rata-rata dan kemeja putih yang digulung setengah lengan memperlihatkan otot lengannya yang kuat , lelaki itu berdiri menghadap pemandangan malam dari atas rooftop, dengan pemandangan kota yang penuh lampu kerlap-kerlip.
"Aku terima!"
Anna spontan membuka matanya setelah mendengar suara bariton yang tegas di depannya, suara yang baru pertama kali dia dengar, suara yang sangat asing di telinganya.
Mata Anna membelalak, dia sungguh terkejut melihat lelaki asing di depannya, lelaki itu sudah memegang mawar yang tadi disodorkannya, mendekatkan bunga cantik itu ke hidungnya.
"Si ... Siapa kau?" tanyanya dengan gugup.