Mendengar kata-kata pecat, spontan bibir Anna mengatup dengan rapat. Indra tersenyum penuh kemenangan, sebagai atasan, kata pecat adalah kata keramat yang menjadi senjata cukup tajam untuk mengendalikan bawahannya.
Anna sendiri menyadari kedudukannya, dia tidak ingin egonya menghancurkan segalanya, pekerjaaan ini adalah penyambung nyawa di keluarganya, bagaimana nasib adik-adik dan ibunya jika dia dipecat dari pekerjaan, untuk mencari pekerjaan baru juga zaman sekarang sangat sulit terbukti selepas kuliah, dia harus menganggur dulu selama satu tahun.
"Sekarang, cepat buatkan saya kopi, kepala saya penat ini!" perintah Indra, lelaki itu duduk di kursi kebesarannya dengan pongah.
"Saya bukan OB, Pak. Saya masih banyak pekerjaan ini."
Mendengar itu, spontan mata Indra mendelik dengan tajam, Anna yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah, dia sudah berjanji dalam hati barusan demi pekerjaan ini untuk tidak membantah lelaki arogan di depannya, tetapi kenapa mulutnya sulit untuk dikendalikan.
"Kau? apa kau benar-benar mau dipecat?" kata Indra dengan nada geram.
"Iya, iya, Pak ... saya buatkan."
Tidak perlu menunggu lama Anna langsung pergi dengan secepat kilat, malas berlama-lama melihat lelaki itu. Anna menghela napas panjang meredakan emosinya, kenapa atasannya musti lelaki seperti itu, dikit-dikit pecat, dikit-dikit ngancam pecat, Anna kan jadi takut kalau begini.
Anna langsung menuju pantry di kantornya, dia tidak perlu ke ruang OB yang ada di lantai satu, di lantai tiga ini juga ada pantry kecil dekat dengan toilet, gadis itu segera memanaskan air dengan panci kecil. Di keluarganya dulu, dialah yang selalu membuatkan kopi untuk ayah sambungnya, hanya sosok ayah Najib yang melekat di ingatannya, sosok ayah kandungnya yang kata ibunya bernama Amir Hamzah, dia tidak ingat sama sekali, soalnya setelah kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan dua orang adik perempuannya, Anna tidak ingat lagi dengan masa lalunya, dia benar-benar telah hilang ingatan total.
Ayah Najib selalu memuji kopi buatannya, kopi robusta yang memang menjadi favorit Anna, entah darimana dia mempelajari keahliannya membuat kopi. Apalagi kopi s**u yang memakai gula merah, karena ayah Najib memiliki riwayat diabetes, maka Anna selalu memakai gula merah aren sebagai pemanisnya.
Anna kembali ke mejanya, mengambil gula aren bubuk yang dia simpan di laci mejanya jika dia ingin membuat kopi, juga mengambil s**u bubuk sachetan sebagai pelengkapnya. Langkahnya yang buru-buru membuat heran Rania, tetapi wanita itu hanya bisa memandang Anna yang sibuk mondar-mandir tanpa berani bertanya takut suaranya mengganggu rekannya yang sedang bekerja.
Secangkir kopi panas sudah berada di nampan kecil, Anna mengetuk pintu atasannya terlebih dahulu sebelum masuk, setelah suara bas Indra terdengar, dia baru membuka pintu dan membawa secangkir kopi ke meja lelaki itu.
"Ini, Pak. Kopinya."
Anna yang bermaksud langsung pergi setelah mengantar kopi berhenti ketika suara Indra terdengar mengintrupsi.
"Mau ke mana?"
"Mau lanjut kerja, Pak."
"Sebentar, saya belum nyicip kopi buatan kamu, siapa tahu saya tidak suka kan, jadi kamu buatin lagi."
"Ya, cepat cicip, Pak. Hati-hati masih panas__"
Belum selesai Anna memperingatkan, Indra sudah menyemburkan kopi di mulutnya, lidahnya terasa kebakar.
"Tuh kan, saya bilang kan masih panas," cicit Anna.
"Kamu bisa bikin kopi nggak sih? Kok panas banget gini," semprot Indra.
"Kopi itu enaknya memang dibuat dalam keadaan panas, airnya bahkan mendidih, kalau tidak ya kopinya jadi gak enak, makanya minumnya pelan-pelan, itu saya sediain sendok kecil buat ngambil dikit-dikit, diseruput dulu, kalau perlu nikmati dulu aromanya, diendus-endus__"
"Stop! Cerewet banget sih, kamu. Saya juga tahu bagaimana menikmati kopi, itu tadi saya pikir sudah agak dingin, tahunya masih panas membara. Ya, sudah ... Kamu kembali lagi sana bekerja, ketik nomor HP kamu di sini."
Indra menyodorkan HP-nya, Anna hanya bengong menatap handphone lelaki itu, ketika lelaki itu menggoyangkan HP-nya, Anna segera mengambilnya dan mengetik nomornya di ponsel lelaki itu.
"Jangan abaikan panggilan saya, sekarang kerja sana!"
Anna segera pergi dari ruangan Indra secepatnya, tidak Sudi dia berlama-lama di situ. Kepergian Anna yang terburu-buru membuat bibir Indra melengkung ke atas, lelaki itu menatap handphone-nya dengan tatapan berbinar, di sana sudah tertera nomor telepon yang diketuk gadis itu, segera dia simpan, mau dinamai apa ya? Indra berpikir sebentar sebelum mengetik sebuah nama 'my future wife'
Sambil tersenyum sumringah, Indra menyesap kopi buatan Anna.
"Hmm, unik banget rasanya, enak, unik, bikin nagih, kayak yang bikin. Ha ... ha ... ha ...."
Sungguh, Indra merasakan kebahagiaan yang dalam belum juga sehari dua bekerja di sini, sepertinya suasananya akan selalu membuatnya senang dan berdebar.
*****
Sudah dua Minggu Indra bekerja di divisi ini, selama dua Minggu ini, dia selalu menyesap kopi buatan Anna, dia hanya mau kopi buatan Anna, membuat gadis itu memiliki kerja tambahan yang membuatnya sedikit jengkel.
Kadang Indra memanggil Anna ke ruangannya hanya ingin melihat gadis itu, bukan karena perkara penting. Kadang Indra akan menyuruh Anna membuat laporan yang sedikit rumit agar gadis itu pulang terakhir dan bisa dia godain, Indra selalu membujuk Anna untuk mengantar pulang, untung saja gadis itu membawa motor sendiri sehingga Indra tidak bisa mencari sela untuk mengantarnya.
Hari itu ketika Indra melewati parkir kendaraan roda dua, dia melihat motor Anna yang terparkir manis di tempat biasanya.
"Hmmm, gara-gara kamu, motor Vario! Anna selalu menolak kalau kuantar pulang__" gumam Indra.
Spontan pikiran licik lelaki itu bermain, dia mengedarkan pandangan, basemen tampak begitu sepi, tidak ada satu manusia pun kecuali dia. Indra segera melakukan aksinya dengan cepat, setelah selesai dia menepuk kedua tangannya dengan perasaan puas, hari ini dia optimis bisa mengantar Anna pulang.
Sepanjang waktu kerja, Indra masih sama seperti kemarin, memanggil Anna lewat pesan wa.
[Mana kopi saya?]
[Sebentar, Pak]
Untung Anna sudah mengantisipasi, setelah dia datang, dia langsung membuat kopi dan menaruhnya di termos kecil, ketika Indra datang, dia langsung menuang kopi itu ke gelas dan mengantar ke ruangan Indra.
"Kok cepet banget?"
"Ini, Pak. Saya benar-benar banyak kerjaan."
Anna langsung pergi sebelum Indra mengajaknya bicara, tetapi lelaki itu hanya tersenyum penuh misteri.
'Menghindar aja terus, Anna ... Nanti sore kita bakal menghabiskan waktu lama berduaan.'
*****
Pas jam makan siang, Anna seperti biasanya makan di Kafetaria kantor di lantai satu bersama Rania. Teman baiknya itu selalu saja tidak bisa diam jika menyangkut hubungan asmara Anna. Rania sangat geregetan melihat lambatnya perjalanan pdkt temannya itu dengan Ilham.
"Jadi setelah sarapan bareng dulu, kamu dan Ilham gak pernah jalan bareng?" tanya Rania.
"Ilham sibuk membimbing operasional komputer kasir di kabupaten-kabupaten, dia bahkan dua Minggu ini bahkan belum ke kantor pusat."
"Tapi kamu masih aktif berkomunikasi dengan dia, kan?"
"Iya, hanya sekedar nanya kabar, nanya sedang apa? sudah makan belum? sudah so___"
Tring ...
Sebuah notifikasi terdengar dari HP Anna.
"Nah, ini dia ...."
Anna memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Ilham, Rania langsung merebut ponsel Anna dan membaca pesan itu.
[Assalamualaikum, Mbak Anna ... sudah waktunya istirahat makan siang, Mbak. Sudah makan apa belum?]
"Ini dia masih manggil kamu 'Mbak?" Rania mengernyit ke arah Anna.
"Iya, aku belum seakrab itu sampai harus panggil nama, lagipula dia kan memang lebih muda dari aku," jawab Anna.
"Kamu mau cari suami apa cari adik ipar, sih? ya dari panggilan itu harus sudah akrab, kalau gak bisa punya nama kesayangan ya panggil nama saja sudah cukup harusnya," keluh Rania melihat kebodohan temannya ini.
"Iya, deh. Sini HP-nya biar kubalas pesan dia." Anna segera merebut ponselnya.
"Secepatnya kau harus mengatakan perasaanmu. Secepatnya, An. Aku dengar dari Nani, temanku yang kerja di minimarket cabang, Ilham itu digemari sama para kasir di sana, bahkan ada kasir yang sengaja merusak komputer agar didatangi oleh Ilham," ujar Rania.
"Kalau gitu malah bagus dong, aku sekalian menguji seperti apa dia kalau berhadapan sama cewek lain, setia apa nggak? jangan sampai aku dapat pacar kayak si Ivan lagi, amit-amit ... amit-amit."
"Cowok kayak Ilham itu, kita yang harus agresif, tahu sendiri dia itu orangnya sungkan, kayaknya dia akan sulit mengajak kencan duluan."
"Kalau gitu, kapan aku bisa jadian, aku juga orangnya gengsian."
"Ya, cepat balas pesannya, ajak ngobrol bareng, kalau sudah yakin, baru ajak ngomong perasaan kamu dengan serius."
"Ya, kayaknya aku yang harus nekad ya."
"Benar, ayo semangat! ngomong-ngomong, kau akan pergi ke pesta pernikahan Ivan?" tanya Rania
"Aish, gak Sudi aku."
"Jangan gitu, kau harus pergi, tunjukan kalau kau tidak terpengaruh mau dia kawin sampai berapa kali. Kalau perlu kau ajak Ilham, tunjukan kalau kau bisa move on."
"Benar juga ya? jadi sebelum Ivan menikah, aku harus sudah jadian sama Ilham."
"Kau tahu siapa calon istri Ivan?"
"Nggak?"
"Aku dengar-dengar dia menikah dengan anak jajaran direksi di sini, makanya karirnya langsung melejit, sekarang dia menjabat jadi manager perencanaan."
"Oh ya? Pantesan si Rita ditinggalin, emang dasar cowok matre! Aku harus membawa Ilham sebagai pasanganku nanti."
"Iya, cepat tembak dong, balas pesannya, ajak ketemuan."
Anna segera membalas pesan Ilham, dia juga sengaja mengajak Ilham ketemuan setelah pulang dari kantor, ketemuan di kafe dekat kantor.
*****
Setelah pulang kantor, Indra masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia lupa jam pulang kantor sudah lewat sepuluh menit, biasanya Anna memang pulang terakhir, namun karena hari ini ada janjian dengan Ilham, dia pulang tepat waktu.
Ketika memindai isi kantor, dia hanya melihat pak Jonathan yang masih berkutat pada pekerjaannya, dia memang harus lembur karena besok pagi dia harus menyelesaikan laporan untuk rapat dengan manager keuangan.
"Pak Jo, mana Anna?" tanya Indra.
"Oh, Pak Indra. Anna sudah pulang setelah jam kerja selesai, Pak."
"Aih, sial. Bagaimana aku akan mengantar anna pulang jika dia sudah turun duluan?" Indra bermonolog sendirian.
Lelaki itu langsung berlari menuju lift dan langsung ke basemen. Setelah tiba di basemen, senyum Indra merekah tatkala melihat Anna yang masih berkutat dengan motornya yang rodanya kempes. Dengan langkah santai, Indra mendekati Anna yang parkir cukup jauh.
Namun langkah Indra tiba-tiba berhenti, ketika ada motor Yamaha Vixion berhenti tepat di samping Anna. Anna tersenyum. cerah pada lelaki muda yang membuka kaca helm-nya, gadis itu segera menyerahkan kunci motor pada seorang pemuda yang datang bersama pengendara motor Vixion, Anna dengan lincah menaiki motor gede itu, membonceng di belakang sambil tangannya memegang jaket pemuda itu dengan erat.