"Sekarang keluar sana! Kerjakan tugasmu dengan baik!"
Anna sebenarnya cukup keder juga mendengar bentakan atasannya itu, lelaki yang terlihat klimis dan berpenampilan rapi tersebut ternyata bermulut tajam juga. Mata elang dengan sedikit menyipit itu menatap Anna dengan tajam, Anna merasa ditelanjangi, tak sanggup menatap balik atasannya itu.
"Kalau begitu saya pamit, Pak."
Tak perlu lama-lama lagi di ruangan ini, setelah mendengar nada usiran dari lelaki itu, Anna bergegas kabur dengan langkah yang terburu-buru, kakinya bahkan sempat tersandung ujung pintu yang membuatnya mengaduh kesakitan.
Setelah Anna pergi, Indra menatap pintu yang sudah ditutup dengan pelan oleh wanita itu, senyuman tersungging dari bibirnya, matanya yang tadi tajam tiba-tiba berbinar, dia segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja mencari sebuah nomor dan melakukan panggilan.
"Apalagi sih, Bro? mau ngeluh lagi kalau tempat kerjamu yang baru itu nggak asyik? gak ada makhluk indah sebagai cuci mata? tenang aja sih, kamu cuma sebulan aja di situ, nanti kalau Pak Amir menejer PT NH kontraktor itu pensiun, kata Pak Dirut, kamu yang akan menggantikannya, Pak Amir itu tinggal sebulan lagi," ujar suara di seberang telpon.
"Eh, siapa bilang gue gak betah di sini? gue nelpon elu tujuannya biar gak dipindah dari sini, biarlah gue di sini aja gak perlu dipindah-pindah."
"Hei, apa maksud lu, Bro? Bukannya barusan elu nelpon gue ngeluh pengen cepet-cepet dipindah? Elu bilang di tempat elu sekarang gak kayak tempat lama lu? di sana elu bilang banyak cewek-cewek bening? di situ cuma ada tante-tante doang, sekali ada cewek cuma satu biasa aja penampilannya, malah cenderung tomboy, gimana sih elu, Bro?"
"Sabar dong, menejer Arif, ternyata Tuhan masih menyisakan satu bidadari di sini dan asli bidadari, aku bakalan betah di sini, ini tantangan baru, sepertinya dia bakal sulit aku taklukkan."
"Eh, Busyet lu, Dra. Elu demi cewek rela kehilangan jabatan sebagai menejer di perusahaan kontraktor? di sana uang, jabatan udah nunggu elu, Dra. Kalau elu udah banyak uang cewek manapun bakalan gampang elu taklukan."
"Ogah, Ah. Sepertinya gue menikmati momen jadi atasan dia, lagipula aku ini kuliah di jurusan keuangan, gak cocok jadi menejer perusahaan kontruksi, harusnya yang jadi menejer di sana jurusan manajemen, teknik sipil atau teknik bangunan. Gue cocoknya jadi menejer keuangan, sudahlah elu aja yang ke sana, gue gantiin elu aja jadi menejer keuangan."
"Gila aja, jurusan gue juga akuntansi. Elu gak apa-apa jadi anak buah gue terus? kita ini seangkatan loh, baik kuliah atau masuk perusahaan ini, harusnya kita punya jabatan yang selevel juga."
"Jabatan bagi gue gak penting, Rif. Yang penting bagi gue sekarang adalah mengejar wanita itu."
"Gue jadi penasaran, siapa sih wanita itu?"
"Eh, pernah dengar kalau di divisi 6 ini ada perempuan yang suka datang paling duluan?"
"Pernah sih, dulu Pak Rangga pernah cerita tentang hal itu, apa itu cewek yang membuat seorang Indra Ardiansyah sang Playboy kawakan ini bertekuk lutut?"
"Penghinaan banget elu bilang gue bertekuk lutut? cewek itulah yang harus bertekuk lutut."
Terdengar tawa membahana di seberang telepon, Arif Rahman Hakim sang menejer keuangan yang baru itu sungguh takjub mendengar perkataan sahabatnya, sahabat yang mereka bina dari masa kuliah dulu, Arif tahu jelas sepak terjang Indra sebagai player, makanya sudah usia tiga puluh lima lelaki itu masih betah melajang, karena urusan ranjang sudah dipenuhi kebutuhannya.
Arif jadi benar-benar penasaran bagaimana sosok Anna yang selalu dibangga-banggakan oleh pak Rangga itu, jika memang Anna gadis baik-baik tentu Arif akan menasehati sahabatnya untuk tidak mempermainkan gadis itu, Arif berharap Indra akan serius menjalin hubungan saat ini, namun jika Indra hanya main-main, hmmm ... tidak ada salahnya Arif pun ikut maju, Arif cukup tertarik juga mendengar karakter gadis itu yang sering diceritakan oleh Rangga, sebagai seorang duda yang sudah tiga tahun ditinggal meninggal dunia oleh almarhumah istrinya, Arif juga tengah mencari istri dan sosok ibu yang baik bagi putri kecilnya yang masih berusia lima tahun.
*****
Setelah keluar dari ruangan Indra, Anna langsung menuju kubikel-nya. Teman-teman yang bertanya tentang pemanggilannya hanya dijawab aman saja. Gadis itu mulai menekuni beberapa berkas dan memindahkan data ke komputernya dengan serius, masalah keuangan bukan hal main-main salah mengetik satu angka saja masalahnya akan sangat vital.
Indra keluar dari ruangannya dan menatap anak buahnya yang sedang serius bekerja hingga tidak ada satupun yang bercakap-cakap. Ini kantor pusat, divisinya menangani keuangan minimarket yang memiliki ratusan cabang, karena sudah dibangun hingga ke desa dan kecamatan walau masih bernaung di satu provinsi, tahun depan tim perencanaan akan mengembangkan minimarket ini hingga ke luar provinsi.
Masalah keuangan kompleks sekali yang ditangani dan sangat vital, keberhasilan sebuah perusahaan dapat dilihat dari uang. Makanya mereka di sini menghitung modal, omset, data barang yang dibeli, daftar barang yang dijual dan yang paling penting menghitung laba. Harus sesuai perhitungan dengan jumlah uang yang tersedia, jika melenceng sedikit saja, mereka harus memeriksa berulang-ulang dimana letak kesalahan mereka.
Fokus Indra sekarang mengarah pada wanita yang memakai blazer abu-abu dengan celana kulot dengan warna yang sama. Jilbab pink soft yang membalut kepalanya terlihat sangat cantik seperti bunga sakura yang sedang mekar. Wajah wanita yang tengah serius mengetik di depan komputernya itu menghipnotis mata Indra, membuatnya semakin terpikat.
Entah apa yang dilihat Indra dari gadis itu, wajah gadis itu memang cantik alami, wajahnya begitu mungil, dengan bola mata yang besar dan bibir yang kecil, hidungnya tidak mancung juga tidak pesek, sangat pas dengan kontur wajahnya, alisnya yang tumbuh alami itu begitu rapi, memanjang seperti semut beriringan. Bibirnya tidak ada polesan warna, hanya memakai pelembab bibir sehingga warna alaminya terlihat begitu ranum.
Indra tersenyum misterius, gadis itu tidak genit sama sekali, sikapnya bahkan tegas dan galak, tetapi kenapa Indra malah semakin tergoda? Dia belum pernah menemukan seorang wanita yang tidak bersikap manis kepadanya, selain wanita ini.
Para wanita yang sudah menikah dan dipanggil olehnya tadi untuk menghadapnya juga bersikap begitu manis, tersenyum memperlihatkan sisi baiknya, namun si Anna ini ... dia bahkan tidak mau bertatapan dengannya, memalingkan muka darinya, bersikap datar dan bahkan memarahinya terakhir kali, menarik sekali ....
Indra tidak menyangka dia akan tertarik oleh wanita seperti ini, di hari pertamanya bekerja di divisi ini, dia sudah bersemangat seperti ini, dan dia hanya tertarik dengan satu orang.
"Hmm!" gumam Indra mengalihkan fokus Anna.
Gila, gadis ini tidak terpengaruh sama sekali, padahal Indra berdehem di dekat meja kerjanya. Boro-boro menoleh padanya, gadis itu seolah tenggelam di dunianya sendiri, asyik mengetik angka-angka di komputernya.
"Anna!" akhirnya Indra terpaksa memanggil gadis ini.
Tetapi Anna tidak juga menghiraukannya, hal itu tentu saja membuat Indra semakin keki. Akhirnya Indra terpaksa menyentuh bahu gadis itu dan memanggilnya dengan suara sedikit keras.
"Anna!"
"Astagfirullah hal azdim!" pekik Anna merespon aksi Indra.
"Bapak kenapa ngejutin gitu sih, Pak? lihat itu saya jadi salah ketik! aduh sampai mana tadi hitungan saya? Gara-gara Bapak ini, saya jadi harus menghitungnya dari awal!"
Indra hanya melongo menatap wanita di depannya, dia ini atasan gadis ini loh ya, tapi kenapa malah dia yang dimarahin? Aduh, kelewatan ini. Mendengar suara Anna yang kesal, semua pegawai mengarahkan pandangan ke arah mereka, Indra jadi sedikit malu, tatapan para pegawai itu terlihat sangat tidak mengenakkan di mata Indra.
"Kenapa kalian malah melihat ke sini? cepat fokus bekerja!" perintahnya dengan rasa jengah.
"Anna? ikut saya ke ruangan saya!"
Indra menuju ruangannya dengan perasaan gondok, maksud hati ingin menggoda gadis itu malah kena damprat.
Anna bangkit dari tempat duduknya dengan malas-malasan, dia memang dongkol karena ulah atasannya itu, kerja kerasnya hari ini jadi sia-sia. Semua rekan kerjanya sudah paham bagaimana cara kerja rekannya yang lain. Anna jika sudah bekerja, dia akan fokus sampai bunyi alarmnya terdengar yaitu tepat pukul sepuluh pagi, saat jam Coffie break dimulai, dia juga menonaktifkan nada dering ya beralih pada nada getar, karena HP berada di hadapannya makanya dia bisa melihat jika handphone-nya berpendar.
"Ada apa?" tanya Rania dengan suara pelan walau sangat penasaran.
"Tau, tuh?"
Anna hanya mengedikkan bahu dan melangkah dengan malas.
"Dipanggil lama banget, sih?" seru Indra ketika Anna sudah masuk ruangan.
"Ada apa sih, Pak? Sampai mengganggu saya bekerja," ujar Anna dengan nada tak suka.
Wanita ini? benar-benar ... huh, Indra terpaksa menghela napas menahan amarah dan bersikap sedikit sabar, walau biasanya dia adalah orang yang suka tersulut emosinya.
"Bicara yang sopan kamu! kamu itu anak buah saya, saya berhak mengganggu kamu, jangan bersikap sok seperti itu."
Indra harus berkata tegas dengan gadis ini, dia laki-laki, dia juga atasannya, pantang dimarah-marahi seperti ini, tunjukan siapa bos-nya di sini.
"Tapi ini kantor keuangan, Pak. Bukan pemasaran atau perencanaan. Di sini lebih banyak tangan dan otak yang bekerja, bukan mulut. Sesama karyawan dilarang mengganggu jika rekannya sedang bekerja, nanti bisa hilang fokus sehingga terjadi typo dan kekeliruan satu angka saja bisa menyebabkan kerugian yang sangat besar, harusnya bapak tahu soal ini. Bapak lihat kan? Di kantor ini begitu sepi saat jam kerja? Pada saat rapat baru waktunya berdiskusi!"
Indra menatap gadis itu tak percaya, dia dimarahi bawahannya? what? berani benar gadis ini. Indra tahu betul ini kantor keuangan, gak perlu dia dikasih tahu begitu, sungguh ... harga diri Indra seolah runtuh seketika.
"Hei, aku juga tahu kalau ini kantor keuangan, berani benar kau bicara begitu padaku! Aku ini atasanmu, mudah bagiku memecatmu." Ego Indra tidak mau kalah.