Sampai di parkiran, ternyata Ilham sudah menunggu di atas motor tunggangannya di dekat tempat Anna memarkir vario-nya. Tanpa menunggu lama, setelah memarkirkan motor kesayangannya, Anna langsung bergegas naik ke boncengan motor Ilham dengan wajah yang sumringah. Anna sendiri tidak menyadari situasi saat itu, fokusnya hanya pada Ilham tanpa menyadari tempat parkir sudah penuh sesak dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
"Mbak mau sarapan di mana?" tanya Ilham ketika di atas motor.
"Ke mana saja, kau kan yang mengajakku, aku tidak masalah di mana saja," jawab Anna.
"Sarapan di pinggir jalan mau, Mbak?"
"Mau, di pinggir jalan makanannya enak-enak juga kok selain itu harganya juga terjangkau."
Jawaban Anna membuat Ilham tersenyum sumringah, tidak salah lagi, Anna memang gadis yang tidak pemilih dan tidak manja, gadis yang bisa diajak menghadapi kesulitan dalam hidup, gadis yang memang tipe yang Ilham suka.
Ilham menghentikan motornya di depan warung pinggir jalan yang menjual ketoprak, Anna turun dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya.
"Kau suka makan ketoprak, Ham?"
"Iya, Mbak."
"Wah, selera kita kok bisa samaan ya? aku penggemar berat makanan saos kacang seperti ini."
"Iya, kok bisa sama ya? pokoknya makanan berbahan kuah kacang itu kegemaran aku banget, Mbak. Entah itu gado-gado, pecel, lotek, ketoprak, karedok, apalagi ya?" ujar Ilham sambil memasuki tenda dan duduk di bangku plastik.
"Em, siomay, batagor, rujak buah, rujak cingur, sate madura, sate ayam ...," timpal Anna.
"Wah, ternyata banyak juga ya makanan yang berkuah kacang, besok-besok kita harus cobain makanan ini satu-satu sampai ketemu tempat favorit kita," ujar Ilham dengan wajah ceria.
"Hem, maksudmu ... apakah kau sedang mengajakku hang out bareng, Ham?" tanya Anna ragu-ragu.
"Oh, bisa di bilang begitu," jawab Ilham dengan telinga yang memerah.
Entah kenapa Ilham merasa gugup sekarang, dalam hati dia ingin mengatakan bukan hang out, Anna. Tetapi nge-date. Namun bibirnya sulit digerakkan. Ilham baru kali ini makan berdua dengan seorang gadis, walaupun pembawaannya ramah dan hangat, namun Ilham seorang anak yang terlalu fokus dengan kuliahnya, dia begitu menggemari komputer hingga tidak tertarik berkencan dengan para gadis, baginya semua itu hanya membuang waktu dan uang. Kebiasaannya itu terbawa hingga ke dunia kerja seperti saat ini.
"Baiklah, aku menanti kapan kamu punya waktu luang, Ham," ujar Anna memecahkan suasana kikuk diantara mereka.
"Iya, Mbak, Nanti saya hubungi ya, kalau mau ngajak jalan bareng."
'Ham ... bisa nggak kamu memanggil aku gak pakai mbak, aku merasa tengah berjalan dengan Kenzo saja.' Anna ingin sekali mengatakan semua itu, namun entah mengapa perasaan malu selalu menguasainya, bagaimana mereka akan jadi pasangan kalau Ilham masih memanggilnya mbak, serasa dia begitu tua untuk lelaki itu.
Akhirnya tanpa banyak percakapan mereka menyelesaikan sarapan dan langsung bergegas kembali ke kantor, namun Anna yang kebetulan melewati toko roti langganannya meminta Ilham untuk mampir, aroma roti yang dipanggang di oven itu sungguh menggoda penciumannya. Namun ketika dia masuk toko roti, hari masih terlalu pagi dan roti belum ada yang matang, mereka terpaksa menunggu sekitar lima belas menit lagi, merasa masih cukup waktu hingga jam delapan, Anna akhirnya bersabar untuk menunggu.
Ketika waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, Anna memasuki ruangan kantor sambil menjinjing kotak roti, wajah gadis itu tampak berseri bahagia, bagaimana tidak bahagia, ini adalah hari perdana dia jalan bareng dengan Ilham. Anna sangat optimis, jika keadaan seperti ini terus, tidak akan lama lagi dia yakin jika Ilham akan menjadi kekasihnya, mungkin bisa juga akan menjadi kekasih halalnya secara sah.
Tanpa gadis itu sadari dia tersenyum sendirian, bahkan tertawa terkikik ketika mengingat bagaimana Ilham menurunkannya di carport menuju lobi, pemuda itu tidak langsung pergi ketika Anna melangkah ke arah lobi, ketika Anna beberapa kali menoleh ke belakang, pemuda itu malah tersenyum sambil melambaikan tangannya. Merasa begitu diperhatikan, Anna menjadi berbunga-bunga, hingga senyumnya merekah sampai ke dalam kantor divisinya.
"Heh, tumben banget datangnya telat?" seru Anwar yang melihat Anna duluan membuka pintu.
"Aduh, Nona Anna, kondisi genting gini kok malah datangnya telat? padahal biasanya kamu itu yang suka membuka pintu kantor ini pertama kali," geram Rania yang menyongsong sahabatnya.
Rania tambah dongkol melihat reaksi gadis di depannya yang malah semakin tersenyum bahagia, dia jelas melihat sorot mata sahabatnya itu yang berbinar-binar.
"Hei, kenapa si kamu? Kayak kerasukan senyum-senyum begitu." Rania mengguncang tubuh Anna dengan gemas.
"Aduh, bestie ... aku gak telat kok, aku datang seperti biasanya, tapi aku mampir dulu di bawah untuk sarapan. Ini ... kubawakan roti kesukaanku, aku beli banyak."
"Aih, Roti ... bagi dong, aku belum sarapan!" pekik Anwar.
Bukan hanya Anwar yang datang, Tiari dan Adi juga ikut nimbrung, mengambil roti yang masih hangat dari kotak.
"Ini sudah mau jam delapan, apa baru kalian saja yang datang?" tanya Anna.
Dia memindai seluruh ruangan, memang hanya ada mereka berempat di ruangan itu.
"Ya ampun, Mbak Anna ... yang terakhir datang ke ruangan ini cuma Mba Anna, tahu nggak?" jawab Tiari.
"Loh, yang lain lagi ke mana emang?" tanya Anna heran bercampur penasaran.
"Kami semua datang dari jam setengah tujuh, memangnya kau tidak membaca pengumuman di grup WA?" tanya Anwar dengan gemas.
Mendengar perkataan teman-temannya, Anna bingung sendiri, dia segera mengambil ponsel di tas dan melihat obrolan di grup kantornya. Ada ratusan pesan yang belum dia baca, obrolan di grup kelihatannya sangat heboh, dia harus men-scroll ke atas chat di grup tersebut, hingga di chat paling atas, matanya melotot dan begitu terkejut.
"Astagfirullah ... Oh my God! chat sepenting ini kenapa aku abaikan?" pekik Anna dengan wajah yang entah sudah seperti apa.
"Jadi ... jadi apakah bos baru kita sudah datang?" tanyanya dengan nada kuatir.
"Sudah, satu jam yang lalu. Hanya kau saja yang tidak ada di sini menyambutnya." Adi menatap Anna dengan pandangan sinis.
Semua teman-teman Anna menatapnya dengan tatapan yang entah, ada rasa gemas, kasihan, kesal semua campur aduk.
"Oh, Baby ... Ada apa denganmu? Biasanya kau datang paling pagi, kenapa justru ada hal sepenting ini kau malah datang kesiangan?" tanya Rania dengan wajah penuh penyesalan.
"Sekarang di .. di mana bos kita itu?" tanya Anna dengan gugup.
"Dia sedang di ruangannya, memberi arahan pada yang lain, setelah giliran mereka, kami baru akan dipanggil," jawab Anwar.
"Anu, Mbak Anna ... kata bos kita tadi, Mbak Anna akan dipanggil sendiri nanti, mungkin setelah giliran kami berempat," ujar Tiari dengan tatapan merasa tidak enak terhadap Anna.
"Yah, sudahlah ... Aku memang salah, mau bagaimana lagi. Apakah kepala divisi kita itu orangnya galak?"
"Sepertinya begitu Mbak, tadi aja mukanya datar aja gak ada senyum-senyumnya," bisik Tiari gadis itu juga takut kalau bos mereka mendengar pembicaraan ini.
Anna menghembuskan napas berat setelah duduk di meja kerjanya, roti yang masih hangat kini tidak lagi menggoda seleranya, pikirannya sedikit cemas, selama ini dia berusaha rajin karena memang itulah kebiasaannya, benar kata Rania, dia memang sungguh apes, kini giliran momen penting untuk datang pagi dia malah pergi dengan Ilham.
Sekitar lima belas menit semua rekan kerja yang berada di ruangan Bos keluar membuat Anna makin gelisah.
"Eh, Anna! kau sudah datang? Kata Pak Indra kalau kau sudah datang langsung ke ruangannya," ujar Grace dengan semangat.
Bagaimana Grace tidak semangat? Orang yang menjadi saingan terbesarnya dalam merebut jabatan kepala divisi adalah Anna, gadis yang sok rajin itu. Bagaiman Dewi Fortuna bisa berpihak padanya hari ini karena gadis yang diam-diam menjadi rivalnya itu malah datang terlambat. Hal ini tentu saja menambah poin untuk Grace, dia semakin optimis dan semangat jika dia yang mampu menjadi kepala divisi selanjutnya.
Anna melangkahkan kaki menuju ruang kepala divisi dengan lesu, diikuti dengan tatapan sinis Grace yang meremehkannya.
Tok ... tok ... tok ...
Anna mengetuk pintu dengan pelan, dia sangat enggan masuk ke ruangan itu, selama ini kinerjanya sangat bagus dan mulus, kenapa bos barunya baru saja datang, Anna malah membuat masalah.
"Masuk!" sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam.
Anna membuka pintu dan melongok ke dalam, di sana berdiri di dekat jendela menghadap pemandangan di luar, seorang lelaki dengan tinggi sedang, memakai baju kemeja biru muda dan celana bahan berwarna biru Dongker, lelaki itu sepertinya tengah menelpon dengan serius.
Anna berjalan perlahan menghampiri meja kerja atasan barunya itu, lelaki itu menoleh sekilas pada Anna dan segera mengakhiri percakapannya di telpon.
"Duduk!" perintah lelaki itu.
Anna segera mengambil tempat duduk di hadapan lelaki yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Maaf, Pak ... Saya__"
"Kamu pasti Anna, kan? saya tidak melihatmu tadi," potong lelaki itu.
"Benar, Pak."
Anna menahan napas sesak, dia memberanikan diri menatap manik mata lelaki di hadapannya, namun dia segera memutus kontak mata setelah didapati tatapan setajam elang lelaki itu.
"Saya pernah dengar gosip kalau Anna di divisi 6 adalah orang yang selalu datang duluan dari pegawai lain."
"Ah, itu cuma gosip, Pak. Saya memang sering datang duluan, tetapi tidak selalu. Tapi saya tidak pernah datang terlambat jika tidak ada kepentingan yang sangat urgent."
"Tidak terlambat? Lah ini apa? apa hari ini kamu punya kepentingan yang urgent?" ujar lelaki itu dengan suara meninggi.
"Siapa yang terlambat, Pak? Batas terakhir finger print itu jam delapan tepat, saya tadi absen jam delapan kurang lima belas menit, terlambat dari mananya?" Anna terpancing juga dengan perkataan atasan barunya ini, hingga nada bicaranya juga mengimbangi lelaki itu.
Anna sedikit menyesal ketika mendapati tatapan lelaki itu mengernyit tidak suka, sebagai bawahan dia tidak pantas ikut-ikutan marah seperti itu, tapi masalah ini kan harus diluruskan, jangan sampai atasannya itu sesuka hatinya menetapkan jam kantor, kan sudah ada SOP perusahaan.
"Sekarang keluar sana! Kerjakan tugasmu dengan baik!"