Bab 4

1588 Kata
"Oh ya? Berarti diantara kita yang dua belas orang ini yang bakalan menempati posisi itu?" tanya Anna dengan penasaran. "Iya, begitulah kira-kira," jawab Anwar. "Kira-kira siapa yang bakalan jadi kepala divisi, ya?" tanya Tiari lagi. "Yang jelas bukan kamu, Tiari. Kamu paling junior di sini," jawab Anwar lagi dengan sewot. Tiari dan Anwar pun langsung menempati kubikel-nya masing-masing. hanya Adi yang masih berdiri mengamati Anna. Lelaki yang lebih tua tiga tahun dari Anna itu menelisik wajah Anna dengan seksama, selama ini dia tahu jika pak Rangga sangat suka dengan kinerja gadis ini, siapa tahu nanti pak Rangga merekomendasikan gadis ini sebagai kepala divisinya, Adi harus berbaik-baik hati dan pintar-pintar mengambil muka kepada Anna, Adi yang sudah berumah tangga dan memiliki satu anak ini sekarang sedang banyak urusan karena istrinya akan melahirkan anak keduanya, jika dekat dengan Anna siapa tahu kalau dia jadi kepala divisi bisa banyak memberi ijin setelah istrinya melahirkan nanti. "Anna, kamu selalu datang paling pagi, apa kamu sudah sarapan?" tanya Adi berbasa-basi. "Sudah, Bang." Anna menjawab pertanyaan Adi dengan kening mengerut, tumben banget orang ini menanyakan dia sudah sarapan atau belum, selama ini Adi rekan kerjanya yang paling cuek, menyapanya saja tidak pernah. "Bagus kalau sudah sarapan, jangan lupa sarapan kalau gak mau kena penyakit mag." "Iya, Bang," jawab Anna dengan canggung. lima belas menit kemudian semua rekan kerjanya sudah menempati ruangan, Rania menjadi karyawan di divisi ini yang datang paling terlambat, untuk tidak sampai sampai lewat jam delapan pagi. Ketika tengah serius bekerja, pintu ruangan diketuk, semua orang menoleh ke arah pintu, karena jika yang mau masuk orang satu ruangan maka tidak akan mengetuk pintu, pasti langsung masuk tanpa permisi. Pintu dibuka dengan pelan, menyembul wajah seorang pemuda tampan dengan penampilan kasual di pintu. Anna yang melihat siapa orangnya langsung terkejut, tiba-tiba napasnya terasa sesak, jantung juga berdebar dengan kencang. "Permisi, saya akan bertemu sama Mbak Anna sebentar," kata pemuda itu tersenyum memperlihatkan dua lubang dalam di pipinya. Anna langsung berdiri menghampiri pemuda itu, sementara rekan yang lain berdehem menggoda, bahkan Anwar sempat bercuit-cuit. Rania bahkan memainkan matanya menggoda Anna. Anna yang melihat respon rekan-rekannya hanya tersenyum jengah dan merasa risih. "Ada apa, Ham?" tanya Anna dengan canggung. "Ini, Mbak. Saya akan mengembalikan kotak bekal Mbak Anna, nasi gorengnya sangat enak. Makasih ya, Mbak." Ilham mengulurkan kotak bekal yang sudah dicuci bersih itu ke hadapan Anna. "Oh, iya." Anna masih juga merasa canggung. "Kalau gitu aku pergi dulu ya, Mbak. Aku mau ke cabang di kabupaten, mengecek komputer di minimarket di sana, jadi harus berangkat cepat." "Oh ya, hati-hati, Ham." "Mari, Mbak .. sampai jumpa lagi." Ilham melangkahkan kaki dengan tergesa, dia hanya melambai sekali kepada Anna. "Ilham!" Tiba-tiba Anna ingat sesuatu, sesuatu yang harusnya sangat penting, yang sudah dipersiapkan olehnya dari pagi buta, untung saja Ilham belum mencapai lift. "Iya, kenapa Mbak?" Ilham spontan berhenti mendengar panggilan Anna yang cukup keras itu. "Sebentar, tunggu di situ sebentar, ada sesuatu untukmu!" teriak Anna. Ilham hanya berdiri mematung, dia melihat Anna pergi dengan tergesa, beberapa saat kemudian gadis itu kembali menghampirinya dengan membawa kantung plastik. "Ini untuk kamu, Ham. Kebetulan aku membawa bekal lebih, ini ada sarapan dan makan siang, di sana pasti lama, kamu akan kerepotan mencari makan." Anna menjulurkan kantong plastik itu ke hadapan pemuda itu, Ilham menatap manik mata wanita di hadapannya dengan binar yang berbeda. "Wah, jadi ngerepotin ini, Mbak. Terima kasih banyak, Loh." "Tidak apa-apa, jika kamu suka, aku gak keberatan membawakan untukmu tiap hari," ujar Anna Ilham mengintip isi kantong plastik itu dengan takjub, siapa yang akan menolak memakan masakan yang begitu enak? terus terang, nasi goreng buatan Anna kemarin sangat enak sekali, apalagi Ilham memakannya dalam keadaan yang sangat lapar, sehingga kenikmatannya sepuluh kali lipat. "Yang ini saya terima ya, Mbak. Saya nggak mau ngerepotin Mbak untuk dibawakan bekal tiap hari, gak tahu diri itu namanya. Besok kotak bekalnya saya antar lagi, ya Mbak. sekali lagi terima kasih." Ilham tersenyum malu mendapat perlakuan istimewa seperti ini dari Anna, gadis paling rajin yang berparas cantik dan manis, Anna juga tipe gadis baik hati dan rajin salat yang selama ini Ilham tahu, benar-benar tipe wanita idaman. Namun Ilham tidak boleh ke-GR-an dulu, mungkin saja Anna berbuat baik seperti ini kepada semua orang. ***** Anna kembali ke kubikel-nya dengan langkah perlahan, bibirnya menyunggingkan senyum malu-malu, binar matanya sudah menjelaskan semua, bagaimana gadis ini tengah kasmaran. "Ehem, sepertinya ada yang bakal nyusul aku nih, ke pelaminan," ledek Anwar yang belum sebulan menikah. "Ih, mbak Anna ... kok bisa sih dapat cowok kinclong begitu," seru Tiari dengan kekepoan yang cukup tinggi. "Cie ... cie ...." Rania meledek Anna dengan kerlingan matanya. Anna langsung mencubit Rania dengan manja membuat wanita itu tertawa gembira. Di divisi mereka hanya Anna dan Tiari yang belum pernah menikah, Grace seorang janda cerai dengan satu anak dan Jonathan, seorang duda yang istrinya sudah meninggal lima tahun yang lalu. Grace dan Jonathan sering dijodoh-jodohin cuma Jonathan tidak pernah memperdulikannya, walaupun Grace singel, tetapi karena tiap hari ketemu, Jonathan sudah tahu sifat asli Grace jadi enggan mendekatinya. "Sepertinya teknisi itu seumuran Tiari ya, kayak gak pantas gitu kalau sama Anna, masih brondong, cocoknya ya sama seumuran seperti Tiari." Ucapan Grace spontan menusuk ulu hati Anna, janda judes itu kalau ngomong memang nyelekit dan suka membuat orang sakit hati. "Emang kenapa kalau lebih muda? kalau mereka sama-sama suka kok kamu yang ngatur," cebik Rania. Rania juga kalau ngomong suka blak-blakan, apalagi ini menyangkut Anna sahabatnya, bagaimana mungkin Rania tidak membelanya. "Siapa yang ngatur? aku cuma ngasih penilainan," ketus Grace. "Aduh ... maaf, maaf ya ini Bu Grace, jangan bawa-bawa nama saya, walaupun saya memuji teman prianya mbak Anna, saya gak niat mau jadi pacarnya, saya hanya mengagumi mereka berdua sebagai pasangan. Maaf ya Mbak Anna," ujar Tiari dengan tidak enak hati. "Ah, nggak apa-apa, aku sama Ilham cuma berteman, kalau memang jodoh ya nggak bakal ke mana. Kami masih tahap pdkt aja kok, santai saja ...," kata Anna sambil kembali berkutat di meja kerjanya. Drama seperti ini memang kerap terjadi di divisinya, selama ini sebenarnya soal pekerjaan yang sering menjadi rasa iri-irian diantara mereka, Anna sering sekali menjadi sasaran iri hati rekan kerjanya, karena dia selalu diberi pekerjaan strategis oleh pak Rangga, namun ketika melihat pekerjaan Anna yang banyak dan tidak diberi bonus, mereka menertawakan dengan senang. Anna hanya bisa berlaku acuh tak acuh walaupun terkadang ketika tekanan pekerjaan tengah menghimpitnya dia akan membalas ucapan siapapun yang julid kepadanya. Hari sudah menjelang siang ketika pak Rangga datang ke divisi mereka, Pak Rangga mengucapkan kata perpisahan karena dia akan dipindahkan ke cabang di kota kelahirannya, dia ternyata sangat senang karena bisa lebih dekat dengan orang tuanya. Pak Rangga meminta semua karyawan di divisinya untuk menghadiri makan malam di sebuah restoran selepas kerja sebagai salam perpisahan. Setelah jam pulang, kedua belas karyawan di bawah pimpinan Pak Rangga sudah meluncur ke restauran yang di maksud. Suasana sangat meriah dan penuh keakraban, mereka juga sangat sedih karena selama lima tahun pak Rangga jadi pimpinan mereka, Pak Rangga termasuk orang baik dan tidak pernah kasar dengan bawahannya. Pak Rangga membawa istrinya, karena kepindahannya sudah dimulai lusa, dia hanya bisa mentraktir makan malam sederhana seperti ini. "Menurut kabar, ada beberapa divisi yang akan direkrut pimpinannya dari pegawai internal," ujar Pak Rangga. Semua pegawai mendengarkan perkataan Pak Rangga dengan khidmat walaupun sambil makan. "Manager perencanaan, manager pemasaran akan diganti dari internal, kalau divisi banyak yang dari internal, termasuk divisi kita, kalian siap-siap akan ada penilaian kinerja selama satu bulan ini ya? untuk sementara saya akan digantikan dari orang personalia," lanjut Pak Rangga. "Kesempatan terbuka buat siapa saja, jadi tunjukkan kinerja terbaik kalian. Karena kalau kalian naik jabatan, gaji, bonus dan tunjangan pasti juga naik." Anna menegakkan kepala ketika Pak Rangga menyebutkan tentang gaji, bonus dan tunjangan. Yah, apalagi yang ditunggu? Anna membutuhkan dana besar demi keluarganya, biaya kuliah Kenzo yang mengambil jurusan teknik sipil bukanlah sedikit, belum lagi sebentar lagi Kiara juga kuliah, belum lagi cita-citanya untuk menghajikan ibunya ke tanah suci, semua itu bukan dana yang sedikit. Anna bertekad akan bekerja lebih baik lagi sebulan ke depan, bukannya dia silau akan jabatan, tetapi sungguh dia tertarik pada uang, uang yang tentunya dihasilkannya secara halal, andai menjadi kepala divisi bisa meningkatkan pendapatannya, why not? ***** Anna buru-buru ingin segera pergi ke kantor, dia bahkan berteriak pada Kiara agar cepat, soalnya dia harus tiba di kantor tepat pukul tujuh pagi. Akibatnya Kiara juga terburu-buru hingga tidak sempat sarapan, Anna hanya memberinya uang jajan lebih agar adiknya itu bisa sarapan di kantin sekolah. Bukan tanpa sebab Anna begitu buru-buru dan bersemangat ke kantor lebih cepat dari biasanya hari ini, pasalnya dia tadi malam mendapat pesan WA dari seseorang yang menjadi gebetannya sekarang, siapa lagi kalau bukan Ilham. Entah darimana Ilham tahu nomor WA Anna, selama ini mereka belum sempat tukeran nomor hp. Ilham memang pemuda yang tahu diri dan tahu malu, dia sudah dua kami memakan bekal gratis dari Anna, lelaki itu tentu saja Idak enak hati jika Anna akan memberikan bekal kembali tanpa sekalipun dia memberi sesuatu kepada wanita yang menurutnya sangat cantik jiwa raganya itu. Ketika tanpa sengaja bertemu dengan Rania di minimarket di dekat perumahan Rania, lelaki yang tengah bertugas mengecek komputer kasir yang bermasalah tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan meminta nomor WA Anna. Ilham tentu tidak mau dicap sebagai cowok yang suka manfaatin cewek, makanya dia mengirim pesan lewat WA jika Anna bersedia dia akan mentraktirnya sarapan pagi di warung sarapan langganannya di dekat kantor. Gayung bersambut, Anna tentu saja sangat girang mendengar ajakan Ilham, dia sudah memimpikan kesempatan itu, jalan bareng Ilham walau itu hanya sekedar makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN