Dua Puluh Delapan Ingin sekali Dira berlari sejauh mungkin menghindar dari tempatnya saat ini, rasanya sangat canggung dan juga risi karena sekarang Akhtar berdiri di sampingnya. Dira yang sedang mencuci tangan sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya ataupun hanya melirik ke arah samping. "Dir," Dengan leher kaku Dira melirik Akhtar yang baru saja memanggil namanya. "Hm." Hanya suara deheman yang bisa lolos dari mulut Dira, entah kenapa sangat sulit baginya untuk sekedar mengeluarkan suara dan menjawab panggilan. "Apa kabar Dir?" Tanya Akhtar dengan suara lirih. sekuat tenaga dia menahan gejolak di dalam dadanya yang semakin membuncah. "Baik Mas," sahut Dira datar. "Mas sendiri apa kabar?" "Alhamdulillah tidak terlalu buruk!" Jawab Akhtar jujur. Keadaan dirinya memang tidak te

