Episode 6

1188 Kata
Setelah tiga hari Rara dirawat ahirnya diperbolehkan pulang karena keadaanya sudah membaik. Saat ini Rara diruang rawat sendirian dia membereskan pakaian miliknya kedalam tas, sedangkan Hendra dia mengurus administrasi. Sesampainya mansion Rara ditinggal oleh Hendra, karena dia belum hafal ruangan-ruangan yang ada di mansion milik Hendra, Rara memutuskan untuk lari mengejar langkah Hendra yang lebar itu. Karena Rara mengikuti Hendra sampai kamar Rara juga masuk kamar tapi dicegah oleh Hendra karena itu kamar milik dia dan tidak boleh sembarangan orang masuk "Kenapa kamu ikut masuk kekamar saya?" tanya Hendra geram "Memangnya suami istri kalo tidur harus sendiri-sendiri ya tuan ?" tanya Rara dengan raut wajah bingung "Iya kita harus pisah kamar karena ini kamar saya jadi kamu nggak boleh masuk" ucap Hendra ketus "Terus saya tidur dimana tuan ?" tanya Rara dengan wajah polosnya "Sini kamu ikut saya, saya akan tunjukkan kamar yang pantas untuk kamu" ucap Hendra sambil jalan menuju mansion bagian belakang. "disini kamu akan tidur" lanjut ucap Hendra sambil menunjuk kearah pintu yang sudah agak usang dan tempat ruangan tersebut berada dibelakang bapian pojok, sehingga seakan – akan itu ruangan angker dan banyak penunggunya. "Tempatnya kok serem sih tuan" ucap Rara pelan tapi masih didengar oleh Hendra "Iya ini adalah gudang, kamu memang pantas untuk tidur disini bich" setelah berbicara seperti itu Hendra langsung meninggalkan Rara yang diam mematung "Yatuhan aku seperti istri yang tidak dianggap sama sekali keberadaanya kecuali untuk memuaskan kebutuhan biologis suaminya. Kuatkanlah hati hamba yaallah" ucap Rara dalam hati Krek Suara pintu terbuka, Rara cukup tercengang karena keadaan gudang begitu banyak debu dan banyak barang yang berserakan tidak tertata rapi, bahkan sesekali tikus berseliweran,saling kejar – kejaran seperti anak kecil yang main lari – lari dengan temannya. “Mulai sekarang gudang ini adalah tempatmu untuk tidur, alias kamar mu’’ jelas Hendra “ Tapi tuan, tempat ini sangat kotor ‘’ ucap Rara penuh ketakutan “Sudah gak usah lebay, masih untung kamu aku kasih tempat tinggal. Kalo buka karena mama udah aku usir kamu biar jadi gelandangan’’ ucap Hendra ketus “ sudah gak usah banyak komen terima aja semua fasilitas yang kamu dapat’’ lanjut Hendra “Baik tuan” ucap Rara sambil menundukkan kepalanya Sepeninggal Hendra Rara langsung masuk kedalam gudang tersebut "Apa disini jarang dibersihkan" batin Rara "Lebih baik sekarang aku bersihkan tempat ini agar aku bisa tidur dengan nyenyak" lanjut Rara Tak terasa sudah 2 jam Rara membersihkan gudang tersebut, sekarang keadaan gudang sudah tertata rapi, dan bersih. Karena sudah malam Rara memutuskan untuk tidur. Dia menumpuk kardus yang tidak terpakai digudang setinggi 7 cm agar tidak kedinginan dan dilapisi seprei dan ada bantal yang sudah tidak terpakai karena sudah ditaruh di almari gudang, walaupun bantalnya sudah ditaruh digudang tapi kondisinya masih lumayanbagus. Sebelum tidur Rara memutuskan untuk solat dan berdoa agar hati Hendra bisa luluh dan bisa menerima dia sebagai istri secara utuh dan tulus mencintainya. "Yallah bukalah hati mas Hendra agar dia bisa menerima hamba sebagai istri seutuhnya " selesai solat Rara memutuskan untuk rebahan dikasur, ups maksudnya di kardus. "Ahirnya bisa tidur juga, nggak masalah tidur diatas kardus yang penting bisa tidur nyenyak karena tidak diganggu oleh mas Hendra" ucap Rara Teriknya matahari menyelinap masuk, telah menarik tidur Rara yang nyenyak membawa kedunia nyata Rara menguap pelan. Dilihatnya jendela sebelah kiri Rara yang sudah terang menandakan ini sudah siang " Ternyata sudah siang" katanya sambil beranjak dari duduknya dan mengambil handuk yang ditaruh dialmari yang sudah tidak terpakai, lalu pergi kebelakang untuk mandi Selesai mandi dan merias diri, Rara segera menuju kedapur untuk makan karena sejak tadi malam Rara belum makan sama sekali, sampainya disana makanan sudah habis karena Rara bangun kesiangan jadi jatahnya dimakan oleh pekerja yang ada disana. "Bik apakah masih ada makanan ?" Tanya Rara kepada seorang pelayan yang bernama Jesi " wah enak banget ya jam 7 baru bangun, udah seperti nyonya aja padahal kedudukanmu lebih tinggi dari pembantu, dan satu lagi jangan panggil aku bik, karena aku bukan pembantu anda. Panggil aku Jesi" ucap Jesi dengan angkuh "Makanan disini sudah habis" lanjutnya dengan nada yang seakan – akan dia adalah nyonya pemilik mansion Karena tidak ada makanan Rara memutuskan untuk memasak mie instan yang ada didapur. Rara telah memotong sawi, sosis dan cabai biar tambah pedas. Setelah 8 menit memasak mie ahirnya Rara memakan mie tersebut dengan lahap. Setelah selesai makan rara memutuskan untuk kekamarnya yaitu gudang untuk istirahat karena keadaanya yang belum sehat betul, tapi saat mau meninggalkan dapur lagi-lagi Jesi memanggilnya untuk mencuci baju milik Hendra. Dengan berat hati ahirnya Rara menuruti perintah Jesi karena disini dia boleh disuruh siapa saja, sesuai dengan perintah Hendra saat Rara baru sampai dimansion ini. Sudah 1 jam Rara menyuci baju milik Hendra yang banyak dengan tangan, Rara mengerjakan pekerjaan itu dengan ikhlas, tapi saat menjemur baju Rara dikejutkan dengan kemeja Hendra yang terkena pemutih, padahal Rara saat nyuci tidak menggunakan pemutih sekalipun. Jesi yang tahu baju Hendra kena pemutih ahirnya Jesi melaporkan kejadiaan itu kepada Hendra Tok, Tok, Tok "Masuk" balas Hendra didalam ruang kerja "Tuan saya mau melapor, baju kemeja kesayangan tuan terkena pemutih" ucap Jesi takut karena wajah Hendra sudah merah padam "Siapa yang sudah melakukan itu kepada kemeja milik saya " ucap Hendra marah "Rara tuan" ucap Jesi ketakutan "Berani - beraninya dia merusak barang milik ku" ucap Hendra sambil berdiri dengan emosi yang membuncah "sekarang tunjukkan dimana Rara biar saya beri pelajaran kepada dia agar lebih hati- hati saat mencuci baju" lanjutnya "Baik tua, mari saya tunjukkan " ucap Jesi sambil menunjukkan arah dimana keberadaan Rara. Sesampainya Hendra dan Jesi ditempat cuci, Hendra langsung menyeret Rara kedalam kamar untuk melakukan penyiksaan kepada Rara. "Sakit tuan" rintih Rara karena cengkraman Hendra pada pergelangan tangan "Masuk" ucap Hendra dengan mendorong Rara kedalam kamar mandi Lalu Hendra membuka pakaian yang Rara gunakan dengan kasar, Hendra membuka sabuk yang melingkar dipinggangnya untuk menyiksa Rara. "Nikmatilah bicth" ucap Hendra dengan penuh penekanan. Hendra tersenyum dengan licik lalu mencambuk Rara dengan brutal "Akh......akh, sakit tuan" ucap Rara menangis "Diam, jangan keluarkan suara jelekmu lagi" ucap Hendra sambiil mencambuk Rara dengan kejam Rara menahan jeritanya dengan menutup mulutnya dengan tangannya. Rara tau jika dia menjerit dia akan terkena cambukan yang cukup kencang. Rasanya tubuh Rara sangan sakit karena kemarin baru keluar dari rumah sakit terus sekarang dia disiksa seperti ini rasanya Rara mau pingsan saja. "Enak ?, Hem... enak apa nggak ?, jawab dong jangan diam aja" ucap Hendra sambil menarik Rara dibawah sower dan dihidupkan sowernya sehingga mengguyur tubuh Rara yang penuh dengan luka cambuk dan sedikit darah yang keluar akibat dari cambukan tersebut. “Kamu tau kesalahan kamu ?’’ tanya Hendra sambil mengangkat dagu Rara agar menarapnya saat berbicara “Saya tidak tau tuan’’ ucap Rara dengan takut – takut “ Belum tau kesalahan mu, kamu sudah merusak kemeja kesayangan ku. Kamu tau kemeja itu hadiah dari Fiona sebelum dia meninggalkan aku untuk melanjutkan karirnya diluar negeri, dan sampai sekarang diabelum kembali, tapi kenapa kamumalaha merusaknya ’’ ucap Hendra murka Untuk melempiaskan kemarahannya Hendra mencambuk tubuh Rara dibawah guyuranair sower. Hendra keluar dari kamar mandi dengan suasana hati bahagia karena telah menyiksa orang yang sudah membuat Hendra menghianati cintanya kepada kekasihnya yaitu fiona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN