Selama kuliah, Gina Chandiramani tidak pernah benar-benar berhenti menjadi akuntan.
Ia hanya berhenti berada di satu tempat.
Gina bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) secara per project. Tidak rutin, tidak tetap, namun cukup untuk membuatnya tetap merasa berguna. Ia membantu merapikan modul, menelaah standar, dan menyesuaikan bahasa teknis agar bisa dipahami oleh mereka yang baru masuk dunia akuntansi.
Pekerjaan itu tidak menuntut kehadiran fisik setiap hari. Ia dinilai dari hasil, bukan jam duduk. Dan itu memberinya ruang untuk kuliah, untuk berpikir, untuk bernapas.
Selain itu, Gina juga menerima proyek dari komunitas Chindo. Bisnis keluarga, kemitraan lintas generasi, dan kesepakatan yang lebih banyak disimpan di kepala daripada di atas kertas. Gina hadir sebagai penghubung antara angka, kepercayaan, dan kebutuhan hukum yang mulai terasa mendesak.
Ia tidak mengubah apa pun secara drastis. Ia hanya menata.
Dan sering kali, penataan kecil itu mencegah konflik besar.
Di rumah, perannya lebih sunyi namun tidak kalah penting.
Gina mengurus bisnis keluarga bersama suaminya. Mereka berbagi tugas tanpa perlu pembagian yang kaku. Ada hari-hari ketika Gina lebih banyak di belakang layar, ada hari-hari ketika suaminya mengambil alih. Tidak ada siapa lebih tinggi hanya siapa yang sedang lebih kuat hari itu.
Pernikahan mereka tidak penuh dialog panjang tentang mimpi. Namun di antara mereka ada kesepahaman: Gina boleh bertumbuh, tanpa harus menjelaskan setiap langkah.
Malam hari, setelah semua peran selesai, Gina sering duduk sendiri dengan catatan kuliah terbuka. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun penting, bekerja membuatnya merasa hadir di dunia nyata, sementara belajar memberinya bahasa untuk memahami dunia itu.
Sesekali, ia mendengar nama Arma disebut oleh teman sekelas. Tidak dengan nada khusus. Tidak pula sering. Gina mendengarnya tanpa gelombang apa pun di dadanya.
Ia tahu fase itu sudah berlalu.
Kini hidupnya tidak lagi berpusat pada satu sosok, melainkan pada ritme yang ia bangun sendiri. Kuliah, proyek, rumah semuanya tidak sempurna, namun cukup seimbang untuk membuatnya bertahan.
Gina tidak lagi mencari tempat untuk melarikan diri.
Ia sedang membangun tempat untuk berpijak.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memilih antara siapa dirinya dulu dan siapa dirinya sekarang.
Keduanya hidup berdampingan.
⸻
Email dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) masuk di pagi hari, dengan subjek yang terdengar teknis: Penelaahan Dokumen Kepatuhan. Gina membacanya sambil menyesap kopi, mengira ini akan seperti proyek-proyek sebelumnya rapi, tertib, dan selesai tepat waktu.
Namun sejak halaman pertama, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Kasusnya sederhana di permukaan: sebuah badan usaha kecil yang diaudit internal, dengan laporan keuangan yang tampak patuh. Angkanya seimbang. Rasio aman. Tidak ada selisih mencolok.
Terlalu rapi.
Gina menandai beberapa bagian dengan pensil. Pengakuan pendapatan yang dipercepat. Beban yang ditunda. Bukan kesalahan fatal, tapi cukup untuk mengubah gambaran kesehatan perusahaan.
Secara akuntansi, ini wilayah abu-abu.
Secara hukum, ini bisa menjadi masalah.
Gina membuka Undang-Undang yang baru saja ia pelajari di kelas. Pasal demi pasal terasa berbeda ketika tidak lagi sekadar bahan ujian. Ia membaca bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai seseorang yang tahu dampaknya jika ini dibiarkan.
Di ruang diskusi daring proyek itu, sebagian rekan memilih pendekatan aman.
“Ini masih bisa ditoleransi,” kata salah satu senior.
“Selama tidak ada pihak yang dirugikan secara langsung.”
Gina menahan diri sebelum berbicara.
“Belum ada,” katanya akhirnya.
“Tapi potensi kerugiannya ada. Dan itu cukup.”
Suasana hening beberapa detik.
Ia tahu posisinya rentan. Ia bukan pengambil keputusan. Ia hanya tenaga proyek. Namun pengalaman di EY mengajarkannya satu hal: masalah besar jarang dimulai dari pelanggaran terang-terangan.
Sering kali, ia dimulai dari pembiaran kecil.
Gina menuliskan catatan tambahan dalam laporan bahasa netral, tanpa tuduhan. Ia menyebutkan risiko hukum yang mungkin timbul jika praktik ini berlanjut. Tidak menyimpulkan. Tidak menuduh.
Namun kalimat itu cukup untuk mengubah arah diskusi.
Seorang rekan menghubunginya secara pribadi.
“Kamu yakin mau sejelas itu?”
Gina membaca pesan itu lama. Ia teringat alasan ia masuk Fakultas Hukum bukan untuk menang, melainkan untuk berani berkata ini tidak tepat.
“Aku yakin,” balasnya.
“Kalau tidak sekarang, nanti dampaknya lebih besar.”
Laporan itu akhirnya diserahkan dengan catatan rekomendasi tambahan. Tidak semua orang setuju. Namun tidak ada yang mencoretnya.
Malam itu, Gina pulang dengan perasaan campur aduk. Ia tahu tindakannya tidak heroik. Tidak ada sorotan. Tidak ada pujian.
Namun di meja makan, saat ia menceritakan garis besarnya kepada suaminya, ia merasa dadanya lebih ringan.
“Jadi kamu melakukan yang menurutmu benar?” tanya suaminya.
Gina mengangguk.
“Ya,” jawabnya.
“Dan aku tidak ingin mengoreksinya lagi.”
Itulah malam pertama Gina menyadari:
belajar hukum bukan hanya memberinya bahasa,
tetapi memberinya keberanian untuk berdiri di tengah tekanan profesional.
Angka tetap diam.
Namun kali ini, Gina tidak.
⸻
Beberapa hari pertama setelah laporan diserahkan, tidak ada apa-apa. Tidak ada email lanjutan. Tidak ada klarifikasi. Proyek berjalan seperti biasa setidaknya di permukaan.
Namun Gina mulai merasakan perubahan yang halus.
Di grup kerja, balasan terhadap pesannya menjadi lebih singkat. Beberapa diskusi teknis berlangsung tanpa melibatkannya. Bukan pengucilan terang-terangan, melainkan jarak yang disengaja.
Ia mengenali pola itu.
Ia pernah melihatnya di EY.
Resistensi jarang hadir dalam bentuk penolakan.
Ia lebih sering muncul sebagai diam.
Suatu sore, seorang rekan lama IAI menghubunginya secara pribadi.
“Kamu benar soal risikonya,” tulisnya.
“Cuma… tidak semua orang siap membukanya sekarang.”
Gina membaca pesan itu tanpa defensif. Ia tahu keberanian punya harga dan harga itu sering kali adalah ketidaknyamanan orang lain.
Namun tidak semua reaksi datang dari arah yang sama.
Seminggu kemudian, sebuah email masuk dengan subjek baru: Permintaan Penelaahan Tambahan. Proyek berbeda. Tim lebih kecil. Akses dokumen lebih luas.
Di akhir email, ada satu kalimat yang membuat Gina berhenti bernapas sejenak:
Kami membutuhkan sudut pandang yang berani namun rapi.
Tidak ada nama pengirim yang menjelaskan lebih jauh. Namun Gina tahu, catatan kecil itu telah dibaca oleh orang yang tepat.
Risikonya pun nyata.
Ia mulai menyadari bahwa reputasi yang ia bangun bukan reputasi yang aman. Ia bukan lagi “tenaga bantu yang patuh”. Ia menjadi seseorang yang akan dipanggil saat situasi rumit dan itu berarti ia juga akan disalahkan jika hasilnya tidak menyenangkan.
Suaminya mengingatkannya malam itu,
“Kamu tidak harus selalu maju.”
Gina mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga tidak ingin mundur ke tempat yang membuatku hilang.”
Di kampus, pelajaran hukum terasa berbeda setelah kasus itu. Setiap pasal kini punya wajah. Setiap teori punya potensi dampak nyata. Gina tidak lagi menghafal. Ia menimbang.
Ia menyadari sesuatu yang tidak ia duga:
menjadi jujur secara profesional membuatnya lebih sendirian
namun juga lebih utuh.
Kepercayaan baru datang perlahan. Tidak dengan tepuk tangan. Melainkan dengan tugas yang lebih sunyi dan lebih berat. Dengan orang-orang yang menghubunginya diam-diam, meminta pendapat sebelum melangkah terlalu jauh.
Dan di sela semua itu, Gina belajar menerima satu kenyataan:
ia tidak bisa lagi hanya menjadi pengamat.
Sekali ia memilih bersuara,
dunia akan mengingatnya sebagai seseorang yang mungkin tidak nyaman
tapi bisa diandalkan.
Malam itu, Gina menutup laptopnya dengan rasa lelah yang jujur.
Ia tidak tahu ke mana jalan ini akan membawanya.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada risikonya.
Karena hidupnya akhirnya tidak lagi berada di luar neraca.
Ia berdiri di dalamnya dengan sadar.