Bab 3 : Fakultas Hukum

1385 Kata
Gina Chandiramani tidak pernah membayangkan dirinya duduk lagi di ruang kuliah. Bangku kayu itu sempit. AC terlalu dingin. Dan suara dosen terdengar seperti gema dari masa lalu yang seharusnya sudah ia tinggalkan. Di sekelilingnya, wajah-wajah muda menatap layar ponsel dengan ringan seolah hidup belum sempat memberi mereka alasan untuk takut. Gina duduk diam. Tasnya rapi. Catatannya kosong. Ia resmi menjadi mahasiswa baru Fakultas Hukum. Dan anehnya, ia merasa seperti penyusup. “Ini FH, kan?” Suara itu datang dari sebelahnya. Seorang laki-laki dengan jaket hitam dan senyum canggung berdiri sambil memastikan nomor kelas. Usianya terlihat tidak jauh berbeda dari Gina cukup dewasa untuk tahu hidup tidak selalu adil, cukup muda untuk tetap mencoba. “Iya,” jawab Gina singkat. “Oh syukurlah,” katanya sambil duduk. “Aku kira salah gedung.” Ia mengulurkan tangan. “Arma. Arma Dwijaya.” “Gina,” jawabnya. “Gina Chandiramani.” Mereka tidak langsung bicara panjang. Keduanya sama-sama terlalu sadar akan posisi masing-masing. Terlalu asing dengan peran baru ini. Dosen mulai masuk. Perkenalan dimulai. Tentang kontrak perkuliahan. Tentang aturan. Tentang betapa beratnya perjalanan yang akan mereka tempuh. Di tengah penjelasan itu, Arma berbisik pelan, “Kamu kelihatan tenang.” Gina hampir tertawa. “Aku hanya sudah terlalu lelah untuk panik.” Arma menoleh. Tidak bertanya lebih jauh. Saat kelas berakhir, sebagian mahasiswa langsung berkelompok. Gina tetap duduk, membereskan catatannya dengan rapi, seolah keteraturan bisa menenangkan sesuatu di dadanya. “Kamu langsung pulang?” tanya Arma. Gina menggeleng. “Aku mau duduk sebentar.” Arma mengangguk. Ia ikut duduk kembali. “Aneh ya,” katanya pelan, “kita di sini karena alasan yang beda, tapi duduk di bangku yang sama.” Gina menatap papan tulis yang belum sempat dihapus. “Aku ke sini karena aku tidak tahu harus ke mana lagi.” Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa sensor. Arma terdiam sejenak. “Aku ke sini,” katanya kemudian, “karena aku akhirnya tahu ke mana harus pergi.” Kalimat itu sederhana. Namun bagi Gina, terasa seperti dua sisi jalan yang bertemu di satu titik. Mereka mulai bertukar cerita. Tentang masa lalu yang tidak lurus. Tentang keputusan yang tidak selalu didukung. Tidak ada yang mengeluh. Hanya mengakui. “Aku dulu kerja di kantor akuntan,” kata Gina akhirnya. “Semua terukur. Tapi aku hilang.” Arma mengangguk. “Aku lama belajar menerima ketidakadilan. Sekarang aku ingin melawannya.” Gina menoleh. “Tanpa marah?” “Tanpa kehilangan diri,” jawab Arma. Kalimat itu membuat Gina terdiam lama. Ia teringat kelas menjahit, benang yang ditarik terlalu keras akan putus. Teringat kelas bahasa, kalimat yang jujur tidak harus sempurna. Dan kini, di bangku hukum ini, ia mulai melihat benang-benang itu terhubung. Mungkin hukum bukan tentang memenangkan argumen. Mungkin ini tentang menjaga diri agar tidak hilang saat memperjuangkan sesuatu. Saat mereka berdiri untuk pergi, Arma berkata, “Kalau nanti kamu merasa tersesat lagi… duduk saja di bangku yang sama.” Gina tersenyum tipis. “Kalau kamu?” “Aku akan ada,” jawabnya sederhana. Hari itu berakhir tanpa keputusan besar. Tanpa janji dramatis. Namun Gina pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi sendirian di jalan yang baru. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak ingin melarikan diri dari hidupnya. Ia ingin mempelajarinya. ⸻ Semester baru dimulai tanpa tanda apa pun yang istimewa. Jadwal berubah. Dosen berganti. Ruang kelas berpindah lantai. Gina datang lebih awal, seperti biasa, memilih bangku yang sama baris tengah, dekat jendela. Ia menoleh ke kursi di sebelahnya. Kosong. Awalnya, ia tidak berpikir apa-apa. Banyak mahasiswa terlambat di minggu pertama. Ada yang masih salah jadwal. Ada yang menyerah sebelum benar-benar mulai. Namun hingga kelas berakhir, kursi itu tetap kosong. Hari berikutnya, lalu minggu berikutnya. Nama Arma Dwijaya tidak pernah dipanggil saat presensi. Tidak ada suara yang memastikan nomor kelas. Tidak ada bisikan singkat yang terdengar jujur. Gina tidak bertanya. Ia sudah belajar bahwa tidak semua kehilangan perlu dikonfirmasi. Di sela-sela kesibukan kuliah, ia membuka i********: tanpa tujuan jelas. Nama Arma masih ada di daftar mutual. Foto terakhirnya sudah lama, potret jalanan dengan caption singkat, tanpa penjelasan. Gina menggulir sebentar, lalu berhenti. Jarinya ragu di atas tombol message. Ia tahu betul bagaimana rasanya menerima pesan yang tidak siap ia jawab. Ia tidak ingin menjadi beban, atau sekadar pengingat dari sesuatu yang sedang ditinggalkan seseorang. Mereka tidak cukup akrab untuk saling menuntut kabar. Tapi juga tidak cukup asing untuk sepenuhnya tidak peduli. Di kelas, Gina mulai terbiasa belajar sendiri. Ia aktif berdiskusi, mencatat dengan rapi, mengajukan pertanyaan tanpa menoleh ke samping. Namun setiap kali ia memahami sesuatu yang sulit, refleks pertamanya selalu sama menoleh ke kursi kosong itu. Seolah Arma masih di sana. Suatu sore, setelah kelas Hukum Perdata, Gina duduk sendirian di kantin kampus. Ia membuka ponsel lagi, bukan karena bosan, melainkan karena pikirannya terlalu penuh. Ia membuka draft message. Mengetik satu kalimat. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Apa kabar? terasa terlalu dekat. Kamu masih kuliah? terdengar menilai. Semoga kamu baik-baik saja terasa berlebihan untuk seseorang yang nyaris tidak ia kenal. Akhirnya, ia menutup aplikasi itu. Gina menyadari sesuatu yang tidak nyaman: ia merindukan seseorang bukan karena hubungan yang sudah terjalin, melainkan karena potensi yang belum sempat terjadi. Malam itu, ia menulis di catatannya sendiri: Tidak semua yang pergi meninggalkan luka. Ada yang meninggalkan ruang kosong, dan kita tidak tahu harus mengisinya atau menjaganya tetap kosong. Semester berjalan. Gina semakin kuat berdiri sendiri. Ia belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti bertanya. Kadang, keberanian adalah menerima bahwa tidak semua pertemuan berakhir dengan kelanjutan. Namun jauh di dalam dirinya, Gina tahu satu hal: jika suatu hari Arma kembali duduk di bangku itu, ia tidak akan berpura-pura bahwa kursi itu tidak pernah kosong. ⸻ Gina tahu kabar itu bahkan sebelum ia merasa perlu tahu. Nama Devi Pradipta muncul dari percakapan ringan di kelas, dokter gigi yang memutuskan kuliah lagi di Fakultas Hukum. Perempuan itu cerdas, rapi, dan mudah disukai. Cara bicaranya tenang, senyumnya tidak berlebihan. Seseorang yang tampak tahu ke mana ia melangkah. Dan Arma sering terlihat bersamanya. Gina tidak merasa terganggu. Tidak ada rasa cemburu yang perlu disangkal. Tidak ada ruang untuk itu sejak awal. Ia sudah menikah dan ia memegang keputusan itu dengan penuh kesadaran, bukan sebagai status, melainkan sebagai batas. Arma baginya bukan kemungkinan. Ia adalah tempat aman untuk bicara. Beberapa kali sebelum semester berganti, mereka duduk di tangga gedung lama setelah kelas. Tidak pernah lama. Tidak pernah terlalu dekat. Percakapan mereka berputar pada hal-hal yang tidak bisa Gina bicarakan di rumah, bukan karena rumahnya buruk, melainkan karena tidak semua kegelisahan perlu dibawa pulang. “Aku merasa telat,” kata Gina suatu sore. “Semua orang sudah melaju. Aku baru mulai lagi.” Arma tidak menenangkannya dengan kalimat klise. “Kamu tidak telat,” katanya. “Kamu berhenti sebentar untuk bernapas.” Ia juga bercerita. Tentang tekanan keluarga. Tentang keputusannya kuliah lagi yang tidak semua orang pahami. Tentang Devi bukan dengan nada pamer, melainkan jujur. “Dia baik,” kata Arma. “Dan hidupnya tertata. Aku… masih berantakan.” Gina tersenyum kecil. “Kerapian bukan syarat untuk layak dicintai.” Kalimat itu keluar tanpa maksud apa pun. Dan Arma tidak membacanya lebih jauh dari yang seharusnya. Di antara mereka, ada pemahaman yang tidak perlu dijelaskan: ini bukan ruang yang abu-abu. Gina pulang ke rumah dengan tenang setiap kali. Ia tidak membawa cerita Arma sebagai rahasia yang berat. Ia menyimpannya sebagai kepercayaan yang tidak perlu diumbar, tapi juga tidak disesali. Justru karena ia sudah menikah, Gina tahu persis batasnya. Ia tidak mencari sandaran. Ia mencari kejujuran. Dan Arma memberinya itu, tanpa menuntut apa pun. Saat semester berikutnya dimulai dan Arma tidak lagi muncul di kelas, Gina tidak panik. Ia tidak merasa ditinggalkan sebagai sesuatu yang setengah jadi. Ia hanya menyadari bahwa satu ruang aman di hidupnya sementara menutup pintu. Ia membuka i********: dan melihat Devi sekali lagi. Foto dengan buku hukum di kafe. Senyum yang tetap tenang. Gina berharap dalam hati dengan tulus semoga Arma baik-baik saja. Karena peran Arma di hidupnya tidak pernah rumit. Ia adalah pengingat bahwa kedekatan bisa ada tanpa melanggar batas. Bahwa teman curhat tidak harus menjadi cerita cinta. Dan bahwa perempuan yang sudah menikah tetap berhak memiliki ruang aman tanpa rasa bersalah. Gina menutup ponselnya. Ia tidak mengirim pesan. Ia juga tidak menyesal. Beberapa hubungan hadir bukan untuk dimiliki, melainkan untuk menjaga seseorang tetap waras di satu fase hidup. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN