Adinda melangkah ragu memasuki rumah dosennya tersebut, namun rasa penasaran dan liar dari dalam dirinya membutakan segala sisi waras yang dinda miliki.
Ia menatap Pak Dony yang mempersilahkannya masuk. Ruangan dirumah ini begitu maskulin dan minimalis.
Adinda terpana menatap sebuah foto besar tergantung didinding. Foto itu memperlihatkan Pak Dony dan wanita cantik, Adinda begitu kagum melihat kecantikannya yang begitu sempurna.
“Din.. kamu kok serius banget ngeliatinnya?” Tegur Pak Dony, yang membuyarkan kekaguman dinda di foto tersebut.
“Anu pak.. ceweknya cantik banget, siapa bapak sih ?” Tanya dinda penasaran, matanya masih menatap ke foto itu.
“Ohh.. itu tunangan saya dinda, namanya Renata, yah beda 2 tahun lah sama kamu. Dia sekarang lagi kuliah di singapore” jelas Pak Dony sambil mempersilahkan dinda duduk.
“LDR dong pak ???hehehe” canda dinda iseng.
“Iya sih dind, tapi kita awet aja sih.. saya sama dia udah jalan 2 tahun nih”
“Lama pak ya...”
“Iyaa din..dia anaknya baik, rame dan dewasa sih”
Dinda hanya tersenyum mendengarnya, ia jadi mengetahui bahwa seorang Pak Dony pun tak sembarang memilih wanita untuk dirinya.
“Loh pak kok rumahnya sepi banget, pembantu bapak tidur ya...?” Tanya Adinda menatap ke sekeliling. Ia tak menemukan siapa pun.
“Oh iya dinda.. dia minta izin ternyata, nih sms nya baru masuk.. saya lupa bawa ponsel yang satunya” jawab Pak dony sembari menunjukan pesan dari pembantunya itu.
Dinda pun mendadak diam dan membuat Pak Dony merasa tak enak.
“Adinda.. maaf ya.. bapak juga ga tau nih..” ucap pak dony menunjukan raut wajah yang bersalah.
“Hahaha gak papa pak.. santai aja” sahut dinda tertawa, ia hanya agak merasa gugup. Berdua dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari fantasinya.
“Sekali lagi maaf ya..oya kamu istirahat aja, itu kamarnya di ujung. Didalam ada kamar mandinya kok” tunjuk pak dony kekamar diujung sana.
Dinda pun mengangguk dan berpamitan dengan dosennya itu.
Kamar ini luas dan terasa nyaman, nampaknya ini kamar tamu. Karena barang didalam sini serba baru dan sangat bersih.
Adinda barus aja bersiap untuk membersihkan dirinya, namun ketukan pelan di pintu kamar terdengar.
Dinda membukanya dan terlihat Pak Dony tersenyum sembari mengulurkan sebuah baju dan handuk bersih padanya.
“Maaf dinda.. kamu pasti ga punya baju ganti kan? Ini pakai aja.. itu baju punya saya sih.. kalau celana saya ga punya” jelas Pak dony dengan senyumannya yang selalu membuat wanita takluk.
“Ah terimakasih pak.. saya punya rok kok buat dipake pak”
“Yaudah.. selamat istirahat ya dinda..”
Pak Dony pun berlalu, dinda kembali melanjutkan keinginannya untuk mandi tadi.
Adinda merasa begitu segar dan bersih, ia memakai baju Pak Dony yang begitu kedodoran ditubuhnya. Piyaman ini berwarna navy polos.
Dinda pun memakai rok dan panty baru. Ia selalu membawa panty cadangan. Tanpa bra pastinya.
Adinda mengeringkan rambut basahnya, ia jadi penasaran apa Pak Dony sudah tidur. Kenapa pria itu tak mengajaknya ngobrol atau apalah. Mungkin benar pak dony hanya ingin ia menginap tanpa ingin yang lain.
Perasaan haus dan kering terasa dilehernya, dinda pun berniat untuk keluar kamar dan menuju dapur. Ia membuka pintu pelan dan melangkah selembut mungkin.
Namun betapa terkejutnya ia melihat Pak Dony malah duduk manis di sofa tanpa memakai baju, ia hanya mengenakan celana pendeknya.
Pak Dony tak sadar dinda ada dibelakangnya, sampai suara cengukan dinda terdengar ia pun menoleh. Pak dony pun terkejut menatap dinda disana.
“Aahh... Maaf dinda saya kira kamu sudah tidur” ia pun panik mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
Dinda hanya menatap terpaku melihat betapa proposional tubuh Pak Dony, bahu dan dadanya yang begitu bidang. Jangan lupa betapa mengkagumkan Abs yang ia punya.
Sempurna !
Itu yang dinda katakan untuk Pak Dony, tubuhnya serupawan wajahnya. Tiada cela didirinya..
“Saya juga minta maaf pak, saya mau ambil minum” dinda pun menunduk dan menuju untuk mengambil minum.
Cengukannya masih terdengar nyaring. Pak Dony pun menghampirnya, kini tubuh kekar itu tertampang sempurna didepan mata dinda.
Ia berusaha keras untuk menahan tangannya yang ingin sekali meraba perut kotak-kotak Pak Dony.
“Dinda kalau cegukan katanya makan gula, nih coba telan 1 sendok” Pak Dony pun memberikannya sendok berisi gula tersebut.
Dengan cepat dinda menelannya dan tak lama cegukannya hilang. Pak Dony tersenyum caranya berhasil. Dinda pun mengucap terimakasih dan ia mengikuti Pak Dony yang duduk disofa.
“Bapak nonton apa ??” Tanya dinda iseng, ia masih berdiri menatap ke layar TV.
“Oh random aja nih din, saya ga bisa tidur jadi dibawa nonton aja sambil liatin paper tugas kalian” jawab Pak dony.
“Oh gitu pak, eh ini film bagus loh pak” seru dinda ketika ia melihat sebuah film yang pernah ia tonton.
“Seriusan ?? Kamu mau ikut nonton ga ?” Tawar Pak Dony..
Dinda pun mengangguk senang dan duduk disebelah pak Dony yang masih dengan tubuh tanpa bajunya itu.
Mereka pun larut dalam heningnya malam dan mata mereka tertuju ke layar TV. Walaupun berkali-kali Pak Dony mencuri pandang ke arah Dinda. Gadis itu begitu menarik perhatiannya, perasaan yang sama ketika ia melihat Renata pertama kalinya.
Namun ada yang begitu menggoda mata dan hasratnya, yaitu baju yang dinda kenakan membuatnya terlihat jelas sangat seksi sekaligus cute.
Apalagi kedua putingnya tercetak jelas disana, ia baru sadar dinda tak memakai bra nya malam ini. Gadis ini begitu menggoda sisi waras Pak Dony yang masih tersisa.
Adinda tahu jika sedari tadi ia di amati oleh pak dony, maka dengan sengaja Adinda meposisikan tubuhnya dengan sangat menggoda.
“Dinda kok pakai kaus kaki ?” Tanya Pak Dony heran melihat kaus kaki berwarna abu-abu pink dikaki gadis itu.
“Oh.. tadi abis mandi dingin banget pak kaki saya”
“Ohh pantas.. tapi imut banget sih kamu make gituan haha”

Dinda ikut tertawa mendengar pujian dari Pak Dony. Ia malah duduk dengan bertumpu dikedua lututnya, sehingga paha dinda tertampang nyata dan polos di hadapan Pak Dony. Membuat pria itu menelan ludah dan menarik nafas berat.
Namun ia masih menahan diri untuk tidak berbuat diluar batas, rasanya memang sulit. Apalagi Dinda semakin duduk didekatnya. Suara gadis itu tak terdengar lagi namun hembusan nafas lembutnya terdengar.
Nampaknya dinda mulai terlelap, berkali-kali kepalanya seperti terjatuh kedepan. Pak Dony pun menahannya dan menyenderkan kesampingnya.Lalu menepuk lembut pipi dinda untuk meminta gadis itu bangun dan tidur dikamar.
“Dinda.. bangun yuk tidur dikamar aja” ucap Pak dony.
Namun gadis itu malah meggesekan kepalanya di pundak Pak Dony dan menggerang pelan. Wajah mereka begitu dekat dan pak dony menatap lama wajah dinda yang begitu menggodanya.
Tanpa sadar ia mengelus lembut pipi dinda dan mendekatkan bibirnya ke wajah gadis itu. Kecupan singgah dibibir dinda, terasa begitu hangat dan lembut.
Dinda masih belum bereaksi ia hanya diam. Pak Dony pun menarik cepat bibirnya, ia menyumpah dirinya sendiri, kenapa bisa begitu lupa diri seperti ini.
Namun tangan gadis itu terasa merangkul lembut di lengannya, tapi mata dinda masih tertutup. Hanya saja bibirnya kembali terbuka sedikit dan begitu merekah menggoda.
Sekuat apapun pak dony menahannya namun percuma, ia kembali mengecup bibir ranum itu.
Kini ia bisa melumatnya perlahan dan menghisapnya lembut. Tangan pak dony memegang sisi leher dinda, ia mengelusnya perlahan.
Mata dinda pun terbuka dan ia melihat wajah pak dony yang begitu dekat dan bibirnya sibuk melumat pelan bibirnya.
Dinda mendorong pelan tubuh pria itu dan membuat pak dony sadar dan meminta maaf.
“Dinda maaf... Saya khilaf.. maaf dinda” ucapanya dengan mata yang penuh rasa bersalah.
“Bapak suka sama saya ? Atau tubuh saya ?” Tanya dinda tanpa basa-basi..
Pak Dony menatapnya bingung dan terdiam.
“Kalau bapak suka sama saya..tolong jangan dilanjut, tapi jika bapak hanya ingin tubuh saya mari silahkan pak teruskan” lanjut dinda ambigu.
“Maksud kamu ??” Pak Dony menatapnya heran.
“Jangan ada saling menaruh perasaan pak, kita nikmati saja.. sama-sama mencari kepuasaan” jelas dinda .. sembari mendekati pak dony.
Pria itu hanya mengangguk, pikirannya benar-benar kacau oleh hasratnya sendiri.
Kini dinda dengan sadar mencium bibir pak dony, lumatan dan pagutan itu semakin dalam terjadi. Pak dony merasakan dinda yang agresif, bukan lagi dinda yang polos.
Permainan bibir gadis ini begitu liar dan membuatnya candu. Ia menarik pelan tubuh dinda dan gadis itu duduk dipangkuannya masih dengan bibir yang saling melumat.
Nafas mereka berdua semakin memburu, kini lidah pak dony mencoba menggelitik rongga mulut dinda. Lidahnya pun menerima balasan dari lidah dinda. Gadis itu mendesah begitu lembut dan membuat sesuatu dibawah sana bergolak.
Tangannya pak dony menyusuri wajah dinda hingga ke leher dan turun di kedua p******a dinda. Ia meremasnya dengan lembut dan gadis itu merintih didalam lumatan bibirnya.
Pak dony semakin berani bermain jauh dari ini. Tangannya membuka satu persatu kancing piyama dinda hingga ia menemukan kedua benda bulat dan padat itu.
Remasan lembut pak dony membuat dinda begitu melayang dan mendesah penuh kenikmatan. Gadis itu meremas kuat rambut pak dony menunjukan betapa ia menikmati ini semua.
Jari jemari pak dony memilin lembut p****g dinda. Terkadang menariknya perlahan dan membuat erangan dinda semakin menjadi.
Pak dony lalu melepas ciumannya dan berbisik pelan ditelinga dinda..
“Lanjut dikamar yaa dinda...”
Ia pun menggendong tubuh dinda dan membawanya kekamar tamu tadi.
Dinda hanya menikmatinya, ia sudah terbuai dengan sentuhan pria ini.
Mereka melupakan semua batasan yang mereka miliki..
Malam ini adalah milik hasrat mereka....
Memuaskan dan dipuaskan.
(Bersambung)