"Kakak kenapa?" tanya Renal yang sudah menunggu sang kakak di halte bus. "Nggak apa-apa," jawab Uli. Ia mengusap matanya berulang-ulang kali. "Kakak habis nangis?" Uli menggeleng. "Kena debu," jelasnya. Uli mencari-cari alasan, padahal ia memang menangis. Sekuat apapun Uli, ia sudah terlanjur memiliki perasaan yang tidak bisa kepada Enver. Apa ini dinamakan patah hati? Rasanya lebih sakit daripada Uli memutuskan untuk membatalkan semua niat baik Enver kepada dirinya. Jujur saja, Uli terkesan tidak tahu malu. Dia yang sudah mencampakkan Enver tanpa memikirkan perasaan Enver dan sekarang ia malah mengharapkan Enver kembali. Uli terkesan egois, ia seharusnya tidak bisa bersikap seperti ini. "Pakai kacamata deh, Kak." Renal khawatir, apalagi semenjak bekerja di perusahaan TCI sang kakak s

