05. Kaka Sold Out

1358 Kata
Untuk sejenak, Kaka menatap lurus langit-langit kamarnya. Kamar berukuran besar yang didominasi warna putih ini hampir sehening dan setenang kamar rumah sakit. Masih dalam keadaan berbaring, Kaka memejamkan mata. Menikmati momen tenang ini dengan tubuh atas tanpa busana. Sepersekian detik, matanya kembali terbuka. Ingatannya kembali pada dua hari yang lalu, saat tiba-tiba gadis yang tak dia kenal menyatakan cinta padanya, dan dengan cepatnya dia menerimanya. Aurara. Kaka mencoba mengingat nama asing itu. Entah apa yang akan terjadi padanya dan Aurara. Yang jelas Kaka tidak ingin memikirkannya untuk sekarang. Tok tok tok Kaka menoleh, mendapati perempuan yang masih saja terlihat cantik meski usianya sudah menginjak 42 tahun berdiri di ambang pintu. Selita, wanita berambut panjang itu langsung masuk ke kamar Kaka setelah mengetuk pintu. Kaka beringsut duduk, menatap sang Bunda dengan senyuman lebar. "Kenapa, Bunda?" Selita tersenyum, dia mengelus kepala Kaka penuh sayang. "Ayo turun, makan malam." "Berangkat!" Kaka mengalungkan lengannya pada pundak Selita. Selita terkekeh pelan, Kaka kecilnya sekarang sudah tumbuh dewasa. Bahkan, tingginya jauh di atasnya. Selita sangat bersyukur, kebahagiaannya sudah lengkap. Dia mempunyai sang suami yang baik dan sabar dalam menghadapi berbagai permintaannya. Ada Suri, anak perempuan yang akan selalu menemaninya. Dan ada Kaka, pelindung keduanya. Saat sudah menuruni tangga, di meja makan sudah ada sang Ayah dan kakaknya. Kaka memilih duduk tepat di samping Suri. Suri mendengkus. "Pake segala peluk-peluk Bunda. Dasar jomlo karatan," cibirnya ketus. "Oh." Sembari berucap itu, Kaka bergerak memeluk Suri, lalu menepuk-nepuk kepala Suri cukup keras. Suri memberontak. Dia memukul lengan Kaka yang berada di pundaknya. Setelah pelukan Kaka terlepas, Suri menatap Kaka sengit. Dia berkacak pinggang. "Lo kalo peluk gue lagi, gue potong kaki lo biar gak tinggi lagi!" Kaka menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya lo ngomong gitu biar gue peluk juga?" "Dih, ogah banget gue dipeluk jomlo karatan, besi aja kalah," serunya sewot. "Kak, percuma aja menunggu jika pada akhirnya rindumu tak berujung temu." Kaka mengambil nasi dan juga lauk, lalu mulai memakannya santai. Tak mempedulikan reaksi Suri yang langsung terdiam. Padahal Kaka hanya berbicara asal tadi. Tapi kenapa reaksi Suri begitu? Suri menggeleng, mencoba mengenyahkan perkataan sang Adik dari kepalanya. Dia kemudian beralih menatap bunda yang tengah terkekeh. "Bunda kenapa? Rambut Suri bercabang? Apa Suri kurang cewek?" tanyanya. "Dari dulu lo bukan cewek," sahut Kaka cepat. Suri menoleh sinis, lalu kembali pada sang bunda. "Bunda, kenapa sih?" Selita tersenyum. "Nggak apa-apa. Bunda seneng lihat kalian berantem." Suri seketika tersedak ayam goreng yang tengah asik dikunyahnya. Kaka langsung memberikan minum, dan dengan cepat Suri menenggaknya habis. "Jadi, aku harus berantem terus sama dia biar Bunda seneng? Kalo iya, dengan senang hati Suri bakal lakuin. Suri juga belum pernah, kan tonjok Kaka," ucap Suri bersemangat. "Permaisuri." Suara Ayah terdengar untuk pertama kalinya dalam obrolan makan malam ini. Garis wajah yang terlihat sangat tenang dan tubuh tegap yang terkesan kurus itu sangat mirip dengan Kaka. Rajasa menatap Suri lurus. "Ayah nggak suka anak Ayah yang nakal," ucapnya tegas. Suri nyengir kuda. Dia menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya. "Maaf, Suri khilaf. Suri sayaaaang banget kok sama adik Suri satu-satunya ini. Suri nggak bakalan tega kok, Yah nonjok dia. Paling-paling juga nendang dikit hehehe." "Kamu itu perempuan, Suri. Kamu harus berperilaku lemah lembut, jangan kayak cowok gitu," ucap Rajasa. Dia menatap penampilan anak perempuannya ini. Rambut yang dikuncir tinggi, baju hitam bergambar tengkorak, dan celana jeans selutut. Rajasa bisa tahu karena kaki Suri naik ke atas kursi. "Ayah, kita, kan udah ngobrolin ini. Aku akan merasa mendzolimi diri aku sendiri kalau aku pake rok, Yah," jelas Suri. Dia menatap Ayah memohon. Rajasa menghela napas berat. "Turunin kaki kamu, nggak sopan!" perintahnya. Suri menurut. Sementara Kaka menatap perdebatan Ayah dan kakaknya tanpa ekspresi. Dia masih saja asik melahap makan malamnya. Tak peduli. Ini sudah topik setia di kala makan bersama. Kefemininan Suri selalu menjadi bahan protes Rajasa. "Suri, setidaknya, kamu harus pintar masak kayak Bunda. Bunda itu udah pintar masak, lemah lembut pula. Kamu harus niru Bunda," suara Rajasa kembali terdengar. Kali ini dia tersenyum menatap sang istri, dan dengan lembut Rajasa mengelus punggung tangan Selita. Selita balas tersenyum. Suri yang menyaksikan adegan itu sontak membuang muka. "Ayah Bunda, tolong, disini masih ada aku sama Kaka yang kebetulan jomlo, jangan menampilkan adegan dewasa seperti itu," protes Suri. Rajasa dan Selita tertawa. Suri memang paling pandai mencairkan suasana. Kedua anaknya itu sangat bertolak belakang. Suri dengan segala tingkah konyolnya yang mampu membuat mereka tertawa, dan Kaka yang terkesan tak peduli yang mampu membuat mereka kadang tak percaya jika itu anak mereka. "Kaka udah punya pacar," ucap Kaka tiba-tiba. Bosan juga dikatai jomlo. Refleks, ketiga orang itu menoleh dan menatap Kaka terkejut. Bahkan, Suri ternganga lebar hingga akan meneteskan air liurnya. "Alhamdulillah! Adik Suri bukan homo." Suri berseru heboh. Sementara Rajasa dan Selita geleng-geleng. "Dari dulu gue doyan cewek, Sur," ucap Kaka setengah sabar. "Kakanda," tegur Rajata. "Maaf, Yah. Maksud Kaka Kak Suri." "Halah bullshit. Kalo lo beneran udah punya pacar, coba bawa ke rumah," tantang Suri. Dia tersenyum mengejek. *** Kaka yang baru saja melepas helmnya dikejutkan dengan kehadiran Aurara yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Pagi ini Kaka datang lebih awal, malas sekali jika harus berdebat dengan Pak Joko demi diizinkan masuk gerbang sekolah jika terlambat. "Halo, selamat pagi Kak pacar," ucap Aurara heboh. Senyuman lebarnya tak sama sekali pudar dari bibir mungilnya. "Pagi," jawab Kaka singkat. "Tumben udah dateng?" tanya Aurara. Mereka bejalan beriringan keluar dari parkiran. "Emang gue biasanya dateng jam berapa?" Kaka balik bertanya. Dia memasukkan kedua tangannya pada saku hoodie putihnya. "Biasanya suka telat," jelas Aurara. "Nggak juga," cetus Kaka menaikkan bahu. "Kak Kaka," panggil Aurara menoleh, bukannya langsung berhadapan dengan wajah Kaka, irisnya justru bertubrukan dengan bahu Kaka. "Kaka aja," ujar Kaka. Mereka sekarang sudah sampai di setengah jalan menuju kelas mereka masing-masing. Koridor sekolah pun mulai ramai oleh siswa-siswa yang baru datang seperti mereka. "Kenapa gitu? Aku kalo manggil orang yang lebih tua pake kakak, mbak, mas. Dan kalo sama yang lebih muda pake nama aja, gitu," jelas Aurara. "Tapi sebenernya panggil beb atau sayang aku juga bisa banget, sih," lanjutnya nyengir. Kaka melirik setelah Aurara menyelesaikan ucapannya. "Kaka aja," ulangnya sarat enggan dibantah. Aurara mengerjap, tak ayal mengangguk patuh. "Kaka tau nggak? Yang ngikutin kamu waktu kamu telat itu aku." Dengan cepat, Aurara sudah melompat ke topik lain. "Oh ya?" Kali ini, sepertinya Kaka tertarik dengan topik itu. Aurara mengangguk antusias. Dia terkikik geli sebelum mulai bercerita. "Aku kan telat juga ya. Biasanya kalo telat aku langsung lewat belakang. Eh tapi berhubung liat ada cowok yang telat juga, yauda deh aku ikutin. Biar kalo ketauan aku ga dihukum sendiri gitu. Eh ternyata itu Kak Kaka," ceritanya panjang lebar. Setelahnya Aurara menyengir, mendongak menatap wajah Kaka yang konsisten menatap ke depan. "Diliat lebih deket, ternyata lebih ganteng!" Kaka akhirnya menoleh, lebih tepatnya menunduk. "Makasih," ucapnya kelewat tenang. Tidak menunjukkan raut salting ataupun pede. Mungkin sudah bosan kali ya dipuji ganteng. "Kembali kasih," jawab Aurara tak lupa dengan cengirannya. Mereka kini telah tiba di koridor dimana papan mading berada. Beberapa siswa tampak berdiri di sana. Entah untuk melihat karya anak jurnalistik ataupun melihat apakah ada pengumuman baru. Tiba-tiba saja Aurara berjinjit, mengangkat tangan membandingkan tingginya dengan tinggi Kaka. Membuat Kaka mau tak mau menoleh. "Apa?" tanyanya mulai sedikit pusing. Ada-ada saja tingkah gadis satu ini. "Kamu kenapa tinggi banget?" tanya Aurara sembari menampakkan wajah serius. Yang benar saja, Aurara hanya sebatas ketek Kaka. "Biasa aja. Lonya aja yang pendek," jawab Kaka acuh tak acuh. Aurara mengangguk-angguk. Tak merasa tersinggung. "Tips tinggi, dong Kak Kaka." Kaka menghentikan langkahnya, kini mereka sudah tiba di lorong pemisah antar kelas. Kaka menghadap Aurara, menyorot badan mungil Aurara beberapa detik untuk kemudian berbicara. "Nggak ada. Ini udah takdir." Aurara menggeleng tegas. "Aku serius," protesnya yang membuat Kaka menghela napas pelan. "Minum s**u yang banyak," jawab Kaka seadanya. Aurara mengerjap. "Gitu doang, kah?" tanyanya. Kaka mengangguk. "Tapi aku nggak suka susu." Kaka melirik arloji di tangan kirinya, menggerakkan tangan kanannya menepuk puncak kepala Aurara. "Dipaksa mau." Setelah mengucapkan itu Kaka langsung melangkah meninggalkan Aurara menuju kelasnya. Tak tahu jika karena perbuatannya, Aurara membeku di tempatnya berdiri. Yang ditepuk puncak kepala, yang berantakan hatinya. *** Kalau ada typo atau sesuatu yang nggak nyambung, boleh tulis dicomment dong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN