06. Boncengan Perdana

1242 Kata
Tak seperti biasanya, kali ini motor sport hitam milik Kaka akan dinaiki tak lagi satu orang saja, melainkan oleh dua orang. Kaka enggan sebenernya membiarkan motor kesayangannya akan membawa orang lain selain dirinya. Namun orang yang hendak nebeng itu sangat memaksa ingin diantarkan pulang oleh Kaka. "Abis ini, kamu harus beliin aku helm juga, ya? Kan, aku bakal jadi penumpang tetap motor kamu. Kalo nggak pake helm nanti dimarahin Pak Polisi, dimintain duit nanti," cerocos Aurara di tengah perjalanan menuju parkiran. "Iya," jawab Kaka singkat. "Nah, kalo udah beli helm, nanti kita jalan-jalan, ya? Ke mall, taman, ancol, kebun binatang juga boleh, jenguk temennya Spongebob." Aurara nyengir lebar. Kening Kaka berkerut. "Siapa?" "Itu loh, tupai yang pake bikini, Sendy. Cuma dia tupai yang bisa hidup dalem air, keren. Tapi aku nggak suka sama dia, masa dia pake bikini? Kan, nggak sopan," jelas Aurara disertai gerutuan. "Hm?" Kaka menaikkan alis bingung. "Ya seenggaknya pake singlet gitu kek, biar lebih sopan dikit. Lagian ya, ngapain coba dia hidup dalam air? Dia jadi bisa sewaktu-waktu mati, kan? Orang daratan masih banyak kenapa dia milih hidup dalam air?" Aurara menyuarakan pendapatnya. Pertanyaan paling pertama di saat menonton kartun itu. Lorong sekolah masih belum cukup sepi, sehingga banyak pasang mata yang menatap mereka sembari berbisik-bisik. Masih saja, status baru Kakanda menjadi bahan gosip satu sekolahan. Semua orang cukup terkejut saat mendengar kabar bahwa seorang Kakanda yang jomlo sejak lama tiba-tiba menerima pernyataan cinta seorang cewek, dan terlebih lagi ternyata cewek itu adalah Aurara. Kaka manggut-manggut, dia menoleh lalu menatap Aurara yang sibuk mengerutkan dahi berpikir. "Lo emang suka mikirin hal-hal nggak penting kaya gini?" Aurara sontak berkedip-kedip. "Emang itu nggak penting, ya?" tanyanya menjadi bingung sendiri. Kaka mengangguk sebagai jawaban. "Kok menurut aku masih penting-penting aja, ya, Kaka?" Aurara bertanya lagi. Masih keukeuh ingin menemukan jawaban soal si tupai itu. Aurara sudah mulai membiasakan diri untuk memanggil Kaka tanpa embel-embel kak. Kaka memejamkan sejenak matanya. Merasa lelah meladeni cewek ini mengoceh. "Terserah. Semerdeka lo aja," jawabnya akhirnya. Mereka pun sudah sampai di parkiran. Mata Aurara berseri-seri saat melihat motor Kaka. Dengan cepat dia menghampiri motor itu lalu dia elus-elus. "Hitam, gue izin jadi penumpang tetap lo, ya? Janji deh nggak bakal bikin lecet, nggak bakal bikin kotor. Gue cewek manis nan kalem kok, jadi nggak bakal aneh-aneh," gumamnya seolah sedang berbicara empat mata. Kaka memperhatikan dalam diam tingkah aneh Aurara. Aurara tiba-tiba menoleh, dia nyengir lebar. "Kata motornya, dia seneng punya penumpang baru kayak aku. Aku cantik dan manis katanya. Dia juga bilang, kamu pinter cari pacar." "Bisa ngomong sama motor?" "Bisa dong. Mau lihat?" tanya Aurara antusias. Kaka mengangguk saja. Aurara mempertipis jaraknya dengan motor Kaka, lalu dia diam beberapa saat, lantas kemudian tiba-tiba manggut-manggut dan memberikan ibu jarinya pada si motor. Kaka mengangkat alis bertanya. "Udah?" "Katanya, dia seneng punya penumpang baru setelah sekian lama cuma bawa kamu aja. Katanya lagi, kamu belum pernah bawa cewek naik motor ini, ya?" tanya Aurara. Kaka mengambil helm full facenya, menatap motor kesayangannya itu. "Gue nggak suka motor gue bawa orang lain selain gue." Mendengarnya seketika Aurara mengepalkan tangannya. Berseru yes! "Aku jadi yang pertama, kan? Asiikk. Senengnyaaa," cerocosnya terlihat sangat bahagia. "Ayo pulang," ajak Kaka yang langsung disahuti anggukan semangat dari Aurara. Kaka memakai helm fullface-nya. Lalu naik ke atas motor dan menghidupkan mesin motornya. Dia menoleh saat tak merasakan beban di belakangnya. "Kenapa?" Aurara cemberut. "Nggak bisa naik, ini tinggi." "Dasar cebol," ejek Kaka datar. "Ih, Kaka kok jahat gitu!" Aurara merengek marah. "Kaka nggak sayang aku banget!" Dengan enteng Kaka menjawab, "Ya emang." "Terus kenapa mau jadi pacar aku?" tanya Aurara lesu. "Suka-suka gue." "Dari kemarin jawabnya nggak pasti gitu! Kapan sayang akunya?" Aurara bersungut-sungut manja. "Entah." Kaka mengedikkan bahu. "Yaudah deh, aku pastiin Kaka suka akunya segera," ucap Aurara kembali semangat. Sementara Kaka hanya merespon dengan kedikan bahu. "Kenapa lagi?" tanya Kaka saat menyadari Aurara tak kunjung naik. "Ini aku naiknya gimana?" tanya Aurara putus asa. Kaka menghela napas. Menguji kesabaran sekali cewek satu ini. "Sini tangan lo," pintanya. Aurara memberi tangan kirinya. Masih membelakangi Aurara, tangan kiri Kaka menggenggam tangan Aurara. "Naik." Aurara mengangguk. Dia sedikit takut saat mulai naik. Aurara memejamkan mata, takut-takut kalau jatuh. Tangan kanannya dia gunakan untuk memegang bahu Kaka. Dan akhirnya dia sudah bisa naik. "Udah?" tanya Kaka memastikan. "Iya Kaka udah." "Jangan macem-macem atau bakal gue turunin." Sebelum Kaka melajukan motornya keluar sekolah, Kaka memperingati dengan nada serius. Membuat Aurara langsung ambil posisi anteng di atas motor. *** Masih setengah perjalanan, motor Kaka tiba-tiba tak begitu terkendali, tumpangannya menjadi tidak seenak sebelumnya. Membuat Kaka menghentikan laju di pinggir jalanan yang tampak cukup sepi. "Eh, kenapa, Kaka?" Aurara yang tak tahu menahu dan tak merasakan keanaehan pun melontarkan tanya. Ikut turun ketika Kaka turun dan membungkuk mengecek bagian bawah motor. Aurara ikut membungkuk. Menoleh menatap wajah Kaka. "Kaka aku kan daritadi diem. Masa diturunin di sini, sih?" protesnya. Dari tadi Aurara paling banter cuma ngajak Kaka ngobrol, kok. Itupun tidak berlangsung lancar karena Kaka hanya menjawab tidak atau iya. Terdengar helaan napas berat Kaka. Cowok itu balas menatap Aurara yang masih menatapnya memelas. "Bannya bocor." Jawaban singkat Kaka seketika membuat Aurara mengerjap. Malu sendiri telah mengira Kaka akan tega menurunkannya. "Rumah lo masih jauh dari sini?" tanya Kaka menyapu pandang sekeliling. Daerah ini asing baginya. "Masih jauh, Kaka." Kaka meilirik arlojinya, lantas memegang setir motornya dan mulai mendorong motor hitam kesayangannya ini. "Kita cari tambal ban," ucapnya yang langsung membuat Aurara segera berlari kecil menyamai langkahnya. Entah tambal ban itu dekat atau jauh, mau tak mau Kaka harus segera membawanya ke sana. Agar dia cepat pulang. Hari ini Kaka tidak ada izin ke Bunda untuk pulang terlambat. Jadi pasti kalau tidak pulang-pulang dan ketika sampai di rumah, Kaka akan diberondong dengan banyak pertanyaan. "Kok bisa ya ban motor kamu bocor di sini?" Baru enam langkah mereka berjalan, sebuah pertanyaan sudah Aurara lontarkan. Cewek itu berjalan di samping Kaka, hanya menemani bukannya berada di belakang untuk membantu. Syukur-syukur sih Aurara nggak naik terus Kaka sibuk dorong. Tanpa menoleh, Kaka menjawab, "Gara-gara bawa lo." Seketika itu juga Aurara mencebik. Dengan kesal memukul motor Kaka yang tidak salah apa-apa. "Dasar motor ngeselin! Bawa cewe cantik aja mleyot," umpatnya bersungut-sungut. Hingga sepuluh menit mendorong dengan penuh drama, akhirnya bangunan lusuh bertuliskan Tambal Ban pun mereka temukan. Kaka segera menempatkan motornya di depan bangunan itu, berbicara singkat kepada sang pemilik lalu menyusul Aurara yang sudah duduk duluan di sebuah kursi kayu panjang. Cewek itu berpeluh, seolah dialah yang sudah susah payah mendorong motor Kaka. "Capek banget, ih. Mana panas banget," keluh Aurara menyeka peluh di dahi dengan tissue yang dia bawa di ransel. Aurara kemudian menoleh, menemukan wajah dan leher Kaka juga berkeringat. Dengan refleks, Aurara menyekanya dengan sorot kasihan. Membuat Kaka seketika menoleh. Cowok itu tidak protes ataupun meminta Aurara untuk menghentikan perbuatannya. Justru Kaka menatap intens wajah cantik di depannya. "Lo laper?" tanya Kaka dengan suara baritonnya. Aurara yang semula fokus pada kegiatannya pun seketika mendongak, mengulum senyum lalu menggeleng. "Makasih udah perhatian. Tapi aku beneran nggak laper, kok Kaka," jawabnya tak mau lebih merepotkan Kaka lagi. "Kamu malah yang laper dan haus, kan? Udah dorong jauh, panas banget juga cuacanya. Mau aku beliin minum sama makan?" Kaka menggeleng kecil. "Jangan kemana-mana. Di luar panas." Jawaban singkat namun bagi Aurara begitu berarti. Bahwa se-apatis apapun Kaka pada sekitar, se-cuek apapun Kaka pada mahluk bernama perempuan, Kaka tetaplah manusia yang memiliki sisi kepedulian. Kaka hanya tumbuh di masalalu yang kurang tepat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN