"Cek! Cek satu dua tiga dicoba." Bima mengetukkan telunjuk ke standing mic. Kemudian satu petikan gitar untuk mengecek bunyinya. Sempurna. Keduanya sudah siap. "Udah sip, kan Bim?" "Sip Ra. Lo udah siap belom?" Bima balik bertanya. Aurara mengangguk mantap. "Tapi tunggu dia dateng dulu." "Loh? Lo suruh ke sini?" "Enggak. Tapi gue yakin dia abis ini lewat sini." "Nyanyi! Nyanyi! Ayo mulai Ra!" Teriakan heboh teman sekelas mereka menginterupsi percakapan. Aurara memberikan kedua jempol pada mereka. Tepat saat itu juga, yang dia tunggu pun akhirnya datang. "Sekarang Bim." Mendengar itu Bima mengangguk. Lantas duduk dan memosisikan gitarnya dan mulai memetiknya. Aurara pun berdiri tegak di belakang standing mic. Tatapannya tepat pada dua mata hitam seseorang yang berdiri tak jauh dari

