Aurara menghela napas berat. Menyandarkan punggung ke tembok dan menatap gamang lorong rumah sakit yang terlihat lengang. Kejadian hari ini sungguh tidak pernah Aurara pikirkan akan terjadi di waktu yang bersamaan. Aurara harus rela menanggung sebuah akibat dari apa yang bukan dia perbuat. Aurara juga harus rela meninggalkan orang yang sejujurnya masih dia sayang. Hati dan pikiran Aurara tidak bisa tenang. Bernapas pun rasanya sesak. Sungguh banyak yang dia pikirkan. Namun Aurara bukanlah tipe orang yang gampang menyesali sesuatu. Saat memutuskan sesuatu, Aurara akan memikirkannya matang-matang. Ya meskipun terkadang merasakan sakit yang mendalam karena tidak siap menghadapi risikonya. Lamunan Aurara terpecah saat tepukan di bahunya menyadarkannya. Aurara mendongak, didapatinya Ismail

