33. Cuma Teman

2124 Kata

Aurara mondar-mandir dengan gelisah. Alisnya berkerut samar disertai bibir yang digigit dalam. Di tangannya teregegam dua lembar uang berwarna merah. "Mau sampe kapan lo mondar-mandir kayak gitu?" Nimas yang sedari tadi duduk manis membaca novel mendongak. Pusing melihat temannya itu mondar-mandir tanpa henti. Aurara menoleh pada Nimas. Dia mengerang frustasi. "Sampe gue nemu ide gimana caranya balikin duit Kaka tanpa nemuin dia, Nim." "Emangnya kenapa, sih kalo nemuin Kak Kaka langsung? Lo takut dibully lagi pas di jalan?" tanya Nimas kemudian menghela napas berat. Mengingat tidak mudahnya perjalanan mereka menuju perpustakaan beberapa menit lalu. Aurara terdiam. Dia berbalik dan berakhir duduk di sebelah Nimas. Jujur saja, Aurara tidak siap saat di sepanjang perjalanan dia harus di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN